|
Skripsi adalah prasyarat kelulusan dari mahasiswa, mau tidak mau tiap mahasiswa yang tidak bisa menulis dan males 'programming' harus menyelesaikan skripsinya. Meskipun ada beberapa kasus seperti diSTIE YKPN dimana mahasiswa dapat lulus tanpa skripsi. Atau diIlmu Komputer UGM seorang mahasiswa dapat lulus tanpa skripsi, tentunya dengan tugas akhir/kerja praktek. Tulisan dibawah ini berisi pandangan penulis tentang bagaimana menyelesaikan skripsi dengan 'tepat', tepat dengan kemampuan, tepat waktu, dan tepat pengharapan. Tulisan ini sangat subyektif tentunya berdasarkan pengalaman penulis menyelesaikan (belum selesai) skripsi dengan judul "Pengembangan Basis Pengetahuan dengan Representasi Bingkai: Studi Kasus Surat Kabar" dengan Dosen Pembimbing Dr Retanyto Wardoyo dan disesuaikan dengan kondisi di Ilmu Komputer UGM, tempat penulis mengambil mata kuliah.
KAPAN SAYA HARUS SKRIPSI? Pertanyaan ini muncul karena saat itu ia dihadapkan pada banyak pilihan, apakah mengambil KKN, mengambil Tugas Akhir/Kerja Praktek (TA/KP) atau Tugas Akhir/Skripsi (TA/Skripsi) atau malah mengulang mata kuliah yang perlu diperbaiki. Bahkan untuk beberapa mahasiswa pilihan ini semakin beragam karena ada beberapa proyek atau parttime job yang ditawarkan.
SARAN: Kalau kita yakin, bisa mendapatkan tempat KP yang 'bagus' dan qualified tentunya kita harus memasukkan KP ini sebagai prioritas utama, baru disusul dengan tuntutan yang lain. Contoh kasus adalah ketika penulis menghadapi pilihan KP di Total Indonesie Balikpapan, ternyata pengajuan bermasalah, sehingga mau tidak mau penulis mengganti pilihan KP ditempat yang lain yaitu Kantor Pusat BRI di Jakarta. Kalau kita merasa kesulitan dengan tempat KP, karena tidak ada link, tidak 'suka' akan pekerjaan yang tersedia. Maka kenapa harus bingung-bingung mencari tempat KP. Ada rekan penulis sebutlah mba "A" yang akhirnya memutuskan untuk fokus dan tidak mengambil KP, karena perusahaan yang dia incar dan sudah terpegang tidak qualified menurut pandangan dia
SAYA BERNIAT SKRIPSI, TAPI TENTANG APA? Judul untuk skripsi bisa datang dari 'langit' misalnya suatu saat kita sedang berjalan dan menemukan ide untuk skripsi. Atau dari konsultasi dengan kakak kelas atau teman dikampus. Atau paling 'praktis' meminta kepada dosen suatu judul tertentu. Tentunya ini dengan konsekuensi tertentu yang bisa jadi malah kontraproduktif
SARAN: Berdasarkan pengalaman teman-teman angkatan 2000. Kita menyempatkan datang kePerpus UII dan UKDQ dengan konsekuensi mbayar, namun langkah penyamaran atau nebeng temen pada beberapa kasus juga berhasil.
SAMPAI BATAS APA SAYA MENULIS SKRIPSI?
SARAN: Ini juga berlaku universal, misalnya kita tertarik dalam bidang sistem pakar. Pastikan dengan 80% pengetahuan yang kita miliki pekerjaan itu bisa selesai. Intinya, jangan mengejar target maksimal tapi turunkan sedikit. Beberapa kasus mahasiswa yang tertunda seringkali karena terlalu tingginya target sehingga ketika dosen 'menuntut' penambahan implementasi si mahasiswa ini kelimpungan.
KAPAN SAYA MENYELESAIKAN SKRIPSI? Karena ada beberapa pihak yang terlibat dalam hal ini, apalagi peraturan baru dimana untuk menulis skripsi, dosen telah ditentukan. Maka waktu 1 semester adalah waktu yang ideal untuk menyelesaikan skripsi walaupun toleransi hingga 12 bulan masih dianggap wajar. OK, jadi first jangan termakan isu/mitos yang justru kontraproduktif. kalo tahun 2000 kita menulis tentang XML atau JAVA itu merupakan suatu tema yang baru tapi kalau saat ini kita menulis hal yang sama tentunya hal ini lebih sulit. Apalagi dosennya sudah terbiasa menguji materi tersebut. Kalau ada yang bisa dalam 1 minggu, coba dengan keadaan, rule dan policy jurusan seperti sekarang, belum tentu akan sama
SARAN: Sekedar ilustrasi Pa Yoyok 'hanya' bisa penulis temui hari rabu dengan tambahan hari sabtu. Selebihnya beliau bisa ada di Medan atau Jakarta. Meskipun beliau tidak seperti Pa Ignatius Purnomo(Alm) yang hanya 2 hari diYogyakarta, menemui dosen dalam keadaan si dosen lelah adalah tidak dianjurkan. Ingat...dosen juga manusia :) perlu istirahat dan punya emosi. Cobalah jalin hubungan baik dengan sang dosen sebelumnya. Karena dengan premis beliau juga manusia tentunya akan mendukung pelaksanaan skripsi kita. Buatlah proyek skripsi layaknya proyek 'professional' dengan selang waktu dan prioritas yang jelas. Jika kita berencana dalam 1 semester, maka usahakanlah proses bimbingan memakan waktu 30-50% dari waktu total. Catatan, tolong bedakan waktu bimbingan dengan waktu kerja. Karena bisa jadi implementasi kita selesaikan sebelumnya.
KENAPA SKRIPSI BISA SANGAT LAMA? Kasus yang agak impossible ini sempat terjadi saat dosen lupa bahwa dia telah memberikan topik ini pada seorang mahasiswa dan kemudian ia memberikan topiknya pada orang lain. Atau kasus agak unik lainnya bahwa dosen membatalkan bimbingan dengan alasan 'saya tidak berkompeten dalam bidang itu'
2. Unpredictable Solving, by student
3. Mental problem, by all and evironment Dalam beberapa kasus, seorang mahasiswa sebutlah "R" yang funky dan tiap malem hobi billiard akan bisa menjawab dengan sangat serius bahwa "Wah ini bukan waktunya lagi saya main-main". So tahap seperti adalah "Personality Complex" Tekanan datang dari sana sini. Sementara mekanisme pertahanan (baca pelampiasan) tidak ada. Belum lagi sindrom kesepian yang menghantui, dan membuat orang jadi sangat sensitif, berita tentang pendadaran rekannya, berita tentang prestasi orang lain bisa menjadi ledakan besar dikepala.
SARAN: Pertimbangkan faktor-faktor 'ketiga' seperti keluarga yang support, dukungan rekan-rekan, ibadah ditingkatkan, puasa senin kamis. Kalau boleh cerita. Abraham Lincoln presiden Amerika ke16 yang dikenal sebagai orator terbaik dalam sejarah Amerika mendapatkan kharismanya ketika ia berhasil melewati masa-masa kesendiriannya di hutan sebagai penebang kayu selama bertahun-tahun
BAGAIMANA MENGEMBANGKAN SKRIPSI LEBIH LANJUT?
SARAN: Atau pengalaman pribadi penulis ketika mencoba menyajikannya dalam sebuah seminar, ternyata menemukan dunia lain. Dunia dimana anak-anak muda dari UKSW, Binus, UPH, Unikom yang memang 'berniat' mengambil dosen dan dunia pendidikan sebagai pilihan hidupnya. Kalau kita sudah meluangkan separuh hidup kita demi skripsi yang baik, atau dalam bahasa sederhana demi kelulusan. Kenapa kita biarkan skripsi kita cuman menumpuk diruang tamu atau pajangan ditempat buku. Gunakan skripsi itu untuk apply beasiswa, meraih posisi, 'menjual' diri dan berbagai kesempatan lain yang bisa jauh lebih bermanfaat Seorang kawan membuat skripsi yang sedikit menyerempet dengan sepakbola, suatu bidang yang memang sangat ia sukai. Seorang kawan membuat skripsi tentang korelasi antara bidang komputer dan pendidikan. Dan ketika ia menyukai apa yang ia kerjakan dan menemukan bahwa bidang yang ia kerjakan akan sangat cemerlang. Saat itulah ia sudah dapat dikatakan seorang pemenang. Dan dengan mental kemenangan itulah kita meraih keberhasilan selanjutnya.
KESIMPULAN Last but not least, ini semua adalah opini penulis yang terhitung 1 Februari 2004 menjalani skripsi bersama Dr. Retantyo Wardoyo hingga sekarang dalam proses perjuangan terengah-engah. Dimana sebelumnya pada 19 Juni 2004 mempresentasikan skripsinya pada Seminar Nasional Teknologi Informasi di Jogjakarta Plaza Hotel. Juga sebelumnya penulis juga melaksanakan kerja praktek di Kantor Pusat BRI Jakarta selama 2 bulan terhitung 15 Sept - 15 Nov 2003. Dan melaksanakan KKN pada SP tahun ketiga (juli-agustus 2003) Saat ini penulis dapat ditemui di SIC (Student Internet Centre) FMIPA UGM, menikmati masa-masa terakhirnya dikampus, menyelamatkan IPK yang saat ini masih 2.83. Menulis dan terus menulis sambil belajar dan terus belajar, untuk mengejar impian-impiannya. Syukur-syukur dapat menemukan pujaan hati secepatnya dan menulis artikel "Bagaimana membangun pernikahan"
Versi 0.0.1 10.00-10.30 Jumat 2 Juli 2004
Versi 0.0.2 Sabtu 3 Juli 2004 |