PERNIKAHAN: Pandangan 'polos' dari mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komputer
tulisan pertama dari rangkaian tiga tulisan (Trilogi menggapai masa depan)
[catatan]:
Tulisan tentang bagaimana pernikahan, bagaimana menjaga agar pernikahan tetap langgeng sudah sangat banyak, pakar-pakar hubungan pernikahan di Indonesia juga cukup banyak dari yang menggunakan perspektif agama seperti yang sering disaksikan ditelevisi, perspektif rasionalitas, psikologi(baca: perasaan) atau bahkan liberalisme seperti Amerika yang dalam statistik seperti pernah saya tulis bahwa 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian.
Tulisan ini hanya sebagai pelengkap dari banyak buku petunjuk menuju pernikahan, dan semoga dapat dijadikan refleksi bagi kita semua bagaimana mengarungi samudra kehidupan ini. Penulis menyadari bahwa pluralitas dari peserta milis ini dan mengharapkan masukan serta kritik terhadap tulisan ini.
Introduction
Pertanyaan ini adalah pertanyaan besar yang menghantui perasaan penulis selama 4 tahun belakangan ini. Hal ini bisa dimengerti selain kisah cintanya yang penuh liku selama berkuliah dikampus yang konon mahasiswanya ndeso (bayangkan, UGM aja yang ndeso ngecap mahasiswa MIPA ndeso, jadi se-ndeso apakah kita ini) dan pengalaman-pengalaman dan tekanan-tekanan batin yang dialami penulis selama dikampus ini.
Penulis ingin bercerita sedikit tentang pengalaman 'masa suram' disebuah SMU dimana jumlah wanita hanya 20% dari seluruh siswa (dari 300 hanya 70 perempuan) Sehingga waktu itu penulis termasuk golongan kaum-kaum jomblo yang ga tertarik ma mahluk bernama perempuan karena memang populasi perempuan waktu itu sangat sedikit. Bukan karena tidak mampu bersaing lho, dicatat bukan karena tidak mampu, ingat cinta tidak hanya terjadi karena ada niat, tapi juga kesempatan
Situasinya berubah ketika penulis berkesempatan berkuliah dikampus ini, mulai menumbuhkan percaya diri bahwa ternyata 'duit' emang perlu, 'penampilan' emang penting sehingga mau ga mau namanya "image processing" jelas perlu dikembangkan. Lha wong orang lain mau kenal kita gimana kalo ga' ada referensi.
Sejak saat itu, dimulailah perburuan untuk menjawab "Cinta itu apa?" dimulai, dan ternyata perjuangan untuk kearah situ tidaklah mudah. Penulis menjumpai beberapa rekan yang juga putus asa, putus semangat dalam perjuangan menemukan cintanya. Dalam beberapa kasus yang ditemui bahkan ada yang mengajukan permohonan "bunuh diri". Bayangkan dijaman internet ini masih ada orang yang bersumpah atas nama cinta booo.
#Cinta itu apa?
Makna cinta akan sangat sulit ditemukan, dalam buletin board friendster, masing-masing orang ternyata mampu mendefinisikan cinta dalam berbagai bahasa yang universal dan 'benar'
#Bagaimana mahasiswa IT memandang pernikahan
Bayangan kerja programmer yang tidak kenal lelah, begadang bermalam menghantui perasaan para calon istri. Gimana nanti kalau sang pujaan hati ternyata lebih mementingkan untuk memijat mouse setiap malang, atau bermesraan online.
(Profesi pekerja IT adalah profesi yang 'unik')
dalam artian
#Kapan nikah nih?
[best practice dari beberapa alumni ilmu komputer yang berhasil diwawancarai]
beberapa dari alumni ikom mengakhiri masa lajangnya dengan cepat, sebutlah Mas Yoyok(98) dan Mba Sari(98)nya, Mas Mekom(97) dengan Mba..., Mas Joko(97) dan Mba Ita(99), contoh lebih heboh mas Syarif(92) dengan mba Dina(9*), Mas Dedi(97) dengan Mba Kusrini(97)adalah sebagian kecil contoh alumni kita yang memilih menikah sebagai
#Ga kecepatan nih mas?
Anak kemaren sore ngomongin visi tentang pernikahan, sementara dirinya masih single adalah hal yang konyol. Beberapa dari rekan penulis mengutarakan hal ini saat dimintai pendapat mengenai pernikahan.
#What i can do today?
Apa yang bisa dikerjakan saat ini, apa permasalahan yang paling sering menghantui masing-masing orang?
versi 0.0.1( 6 Juli 2004 19.00)
masih draft nih...lagi bingung kapan mau nyelesaiin, butuh banyak masukan, dan perlu banyak wawancara lagi