|
Beberapa hari yang lalu penulis merasakan suntuk yang amat sangat karena skripsi yang 'menegangkan'. Selain tekanan dari keluarga, ternyata dosen pembimbing juga memberikan tekanan dalam bentuk yang lain dengan perbaikan yang katanya dengan misi demi pendadaran yang baik. Juga berbagai pertanyaan pertanyaan tentang "kapan lulus?" atau "skripsi sudah sampai mana?" dari rekan-rekan atau adik kelas yang pura-pura ga ngerti atau emang ga ngerti bahwa itu pertanyaan sakral. dan berbagai aktivitas lain membuat penulis merasa hidup segan mati tak mau. Disela-sela suntuk yang amat sangat itu, penulis merasakan bahwa tidak aman jika tetap tinggal dikostan karena cenderung berperilaku desktruktif dan negatif lainnya. Akhirnya penulis memutuskan berkeliling jogja dengan motor seorang diri. Ya seorang diri. Akhirnya perjalanan penulis berhenti pada sebuah warung didaerah pogung lor yang menjual pecel lele. Sambil menikmati pecel lele sendirian sambil melamun kapan ya penulis bisa punya 'pacar' sehingga pecel lele tidak lagi berasa pecel lele (demikian konon orang yang jatuh cinta menafsirkan). Atau lamunan tentang kemana teman-teman penulis dimasa perjuangan dulu. Hampir selesai makan malam penulis, ternyata salah satu rekan penulis menghampiri dan ngajak ngobrol ngalor ngidul. Ternyata rekan penulis tertawa saat melihat penulis makan sendirian sambil bertanya dalam nada sarkasme "Kok makannya sendiri njar". Namun untung tidak terjadi peristiwa pemukulan meski pertanyaan ini sangat menusuk hati penulis. Sebab sebelumnya rekan penulis bercerita bahwa ia juga menemui rekan-rekannnya yang baru aja pulang makan atau beraktifitas dan ternyata sendirian. Dalam hati, penulis bergumam, ternyata banyak juga yang masih jomblo nih heheheh. Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa syndrom kesepian adalah salah satu dari sekian banyak syndrom yang dialami mahasiswa tingkat akhir. Kondisi ini bisa dimaklumi karena rekan-rekan perjuangan terdahulu telah memiliki kesibukan masing-masing, atau sengaja menyibukkan diri dalam persoalannya masing-masing. Seorang rekan penulis, kebetulan putri, yang sangat populer pada eranya, banyak temen dimana aja, kesana kemari ada yang menyapa. Ternyata mengalami syndrom yang sama, yaitu kesepian. Dari beberapa kasus yang ditemui penulis dilapangan ternyata...syndrom ini menimpa hampir semua mahasiswa tingkat 4. Baik orang yang sangat populer seperti ketua Himakom misalnya ataupun mahasiswa biasa yang hidup normal ternyata 'menderita' syndrom ini. Tulisan ini berisi sedikit pendapat penulis tentang apa yang terjadi dengan teman-teman dikampus. Bagaimana ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya.
KENAPA BISA KESEPIAN Kesepian ini merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi. Apalagi bagi mahasiswa, sebenarnya sejak awal mahasiswa memang menjumpai lingkungan yang individual dan kondusif menjadi kesepian, namun karena pada awal-awal karir didunia akademik, mata kuliah dan pembuatan keputusan masih bisa dilakukan rame-rame. Maka situasi tingkat akhir ini dirasakan menjadi sebuah dilema yang panjang. Pada tingkat-tingkat akhir inilah ketika mahasiswa menyadari bahwa banyak hal yang diluar kontrol dirinya. Ia mulai merasakan 'depresi' yang berkepanjangan. Dalam porsi tertentu depresi diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Tapi beberapa kasus yang justru memberikan dampak negatif adalah suatu hal yang tidak diharapkan.
TIPS (MENUNGGU MASUKAN)
2. Sadarilah bahwa kita memiliki tingkat keterbatasan yang berbeda Kalau mau obyektif, meskipun tiap orang sejak lahir dimuka bumi ini memiliki kecenderungan terhadap genre tertentu apakah dia termasuk orang yang rame atau bukan. Dengan proses waktu perubahan-perubahan karakter adalah hal yang sangat mungkin terjadi.
3. Gunakan kesempatan ini untuk menemukan diri Anda. Raja Macedonia ketika ditanya putranya, Alexander, tentang apa itu pemimpin, mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang kesepian. Maka sedikit sekali orang yang mau menjadi pemimpin. Ini adalah contoh bahwa orang yang bisa mengatasi kesepiannya malah bisa menjadi pemimpin besar.
4. Berbagi...berbagi....berbagi
Kasih comment di guestbook:
Anjar Priandoyo |