Artikel
...
  Saya mau cerita dikit pengalaman saya dengan Program Studi Ilmu Komputer yang saya cintai ini. waktu itu terus terang saya cukup shock dengan keadaan di Ilmu Komputer (Ilkomp) kebetulan saya juga punya banyak teman di Nanyang, bbrp diantaranya juga ambil computer enginering, saya juga punya temen di Wesleyen University US, juga ambil komputer, dan masih ada juga di ITS, ITB, dan UI, bahkan untuk UI ada teman baik saya yang sempat mengambil kuliah di UGM selama 2 tahun. Atau temen2 di Yogyakarta sendiri seperti T.E. UII, UAD, UAJY

Dan kebetulan juga saya pernah bergabung dalam tim pengumpulan data alumni, bareng Gana Komsi 2001, dan Dias Ilkom 2000. Saya sempet bertatap muka langsung dengan alumni ikomp yang sekarang menjadi Kajur di Sanata Dharma, UPN, UII, Stimik A.Yani, Direktur di Akakom, pengelola di Amikom

Terakhir saya sempat melaksanakan kerja praktek di Jakarta, yang kebetulan pula saya sempat berinteraksi dengan alumni2 yang bekerja di bilangan Sudirman, yang menjadi Middle dan Project Manager bbrp perusahaan papan atas.

Saya tidak banyak berbicara panjang lebar mengenai kiprah alumni kita didunia kerja. Anda bisa saja bilang bahwa kemampuan mereka adalah hasil kerja keras mereka sendiri. Sama sekali bukan hasil binaan dari Ilkomp UGM. Kasarnya UGM tidak punya andil sama sekali.

Sekelumit sejarah
  1987 -1997 Sejarah Ilmu Komputer Berbicara tentang Ilmu Komputer UGM, adalah sebuah ironi, gimana tidak. kalo anda mau liat bagaimana rangking kita dilevel UGM sendiri. Ilkomp cukup memiliki nama besar. menduduki peringkat kelima setelah KU, Elektro, Tek. Kimia, Industri dan pernah beberapa periode konon menduduki peringkat kedua setelah KU.

Impian untuk bekerja di bidang Informatika sendiri juga memancing minat pendaftar pada D3 Komputer dan Sistem Informasi yang menduduki peringkat pertama dalam jumlah pendaftar pada program diploma

Dengan fakta dilapangan seperti ini, saya kira kualitas dari input mahasiswa Ilkomp tidak perlu diragukan lagi. Tapi bagaimana dengan kondisi didalamnya. Ilmu Komputer berdiri tahun 1987 tepatnya ketika S.K dikeluarkan oleh pihak UGM. setiap tahun diterima kurang lebih 10-30 mahasiswa. Jumlah ini pun menjadi berlipat ketika tahun 1996 setelah hampir sepuluh tahun menerima sejumlah 60-80 mahasiswa.

Sejak periode itulah, konon dosen2 mulai sibuk menangani mahasiswa yang jumlahnya semakin banyak. Belum lagi isu otonomi kampus membuat UGM mau tidak mau membuat unit-unit 'produktif' seperti program diploma. Membuat kapasitas dan kapabilitas pengajar menjadi pincang. Dosen2 sering menjadi terlalu lelah dalam memberikan pengajaran.

1997 - now : Ada unsur politis kah? Banyak mahasiswa memprotes kebijaksanaan UGM yang terkesan komersil. Banyak tuntutan mulai rasionalisasi, perbaikan fasilitas, tuntutan menjadi jurusan semakin kencang seiring dengan besarnya jumlah mahasiswa, dan tentu saja teknologi komputasi yang luar biasa.

Pada era ini segalanya bergerak begitu cepat. munculnya Himakom, pemisahan dari KMM yang perlahan namun pasti. Munculnya D3 Komsi. dan iklim demokratisasi juga merambah mahasiswa yang dikenal nerd, kutu buku, cuman tau mouse dan keyboard

Dengan banyaknya 'konflik' baik dari internal, seperti pameran Infotech, Seminar Nasional Komputer, hingga pentas musik D3. Semua itu herannya bermuara pada satu hal. Disintegrasi kerennya. semua orang ingin membentuk kelompoknya sendiri, organisasinya

Jurusan sendiri, mulai digelitik dengan pengumpulan tanda tangan bahwa Ilkomp siap menjadi jurusan. Bahkan semua elemen tidak lepas dari suara2 liar... sampai juga pada 'institusi' MIPAnet, suatu warnet mungil di MIPA Utara

Kesimpulannya satu. Segalanya ada unsur politis, kalo kita ga jeli mengamati apa yang terjadi disana. Kenapa Jurusan menyekolahkan beberapa dosen untuk belajar komputer science. kenapa harus ada D3, Otonomi kampus.

Sedikit banyak ini bisa menjawab, mengapa banyaknya protes tentang program studi akhirnya mentok pada tingkat lembar kesepakatan. kita belum terlalu kuat... atau tepatnya kita belum mengatur diri untuk menjadi kuat.

Iklim Ilkomp UGM Menarik sekali tulisan spy-off dalam milis himakom-ugm, tapi saya rasa protes anda tidak jelas ditujukan kepada siapa. Anda cuma bisa mengeksploitasi 'kelemahan' kita. Seharusnya anda bisa tujukan lebih jelas kepada siapa. Lemahnya kurikulum kita, mental kita, fasilitas atau apa... saya coba jawab satu persatu

kurikulum kita Mostly orang akan menyalahkan kenapa kurikulum kita ketinggalan jaman sekali. Saya kurang sepenuhnya setuu dengan hal itu. Mengapa, pernah disatir dalam sebuah wawancara dengan alumni UI yang bekerja di BPPN. Beliau mengatakan bahwa kurikulum di PT tidak harus mengikuti perkembangan 'jaman'. kalau selalu mengikuti perkembangan bisa jadi matakuliah kita akan berantakan. Setiap muncul teknologi baru tidak mesti langsung diadaptasi mentah-mentah

Ingat kita masih bangsa pemakai, belum terlalu siap untuk membangun dalam arti sesungguhnya. Jadi kalau universitas kita menerapkan model seperti itu, hal tersebut tidak bisa disalahkan.

Ujung-ujungnya dengan nada sinis, orang akan bilang. Itu karena kesalahan mbah2 pendiri ikomp. kenapa harus ada dibawah Matematika. Kalau kaya gitu ga' akan selesai. Diluar negeri sekalipun (negara eropa), computer science sering dikelompokkan dalam bidang science.

terkadang kita menuntut lebih tanpa mau melihat dengan mata terbuka lebih dahulu

fasilitas Ini yang jelas sangat ketinggalan, saya ga mau ngomong banyak. Kita jangan jadi orang yang manja. Dengan fasilitas minim, saya liat masih banyak rekan2 yang survive apakah ngajar, kerja di warnet. Justru itu kita bisa ngomong dan bisa menjual bahwa kita punya kemampuan yang lebih dan berbeda. Jangan jadi orang cengeng lah

iklim wong jowo Nah ini sindrom yang menimpa hampir semua alumni UGM. rasa kepemimpinan rendah, mental wirausaha rendah, minderan. Lha wong UGM sendiri mengakui dengan program PPKB berdana 15 milyar pertahun. (yang ga gitu jelas juntrungannya terkadang :(... Tapi kalo kita jeli, justru itu yang harusnya kita bangun

Secara kedewasaan mungkin kita bisa ngaku lebih. Saya pernah ikut bagaimana UI melaksanakan ospek, saya kira rekan2 disini bisa berbangga. mungkin kita sebagian besar dari kalangan middle, and low tapi justru itulah perbedaan kita dengan tidak ketergantungannya dengan orang tua.

Apa sih Universitas lain lakukan
 

Kalau saudara sempat main ke UI.

 

Gimana Kita Mensikapinya
  Dengan kondisi seperti ini, sekarang gimana sih kita mensikapinya.

 

Home - About Me - Student - Writer - Programmer - Challenger - Entrepeneur

Hosted by www.Geocities.ws

1 1