Fw: 10 Kebohongan Besar Multi Level Marketing
This is unique article, i got from marketing-club mailing list at yahoogroups.
after this article there were great discussion, if you interested check at the discussion
OK :)
From: "Ester Melinda Napitupulu"
Date: Thu May 27, 2004 1:59 pm
Subject: Fw: 10 Kebohongan Besar Multi Level Marketing
ADVERTISEMENT
Sedikit info tentang MLM:
Terlepas dari benar atau tidaknya, paling tidak bisa membuka wawasan:
Kebohongan No. 1:
MLM adalah bisnis yang menawarkan kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan
banyak uang dibandingkan dengan bisnis lain maupun pekerjaan lain.
Kebenaran:
Bagi hampir semua orang yang menanamkan uang, MLM berakhir dengan hilangnya
uang. Kurang dari 1% distributor MLM mendapatkan laba dan mereka yang
mendapatkan pendapatan seumur hidup dalam bisnis ini persentasenya jauh lebih
kecil lagi. Cara pemasaran dan penjualan yang tidak lazim menjadi penyebab utama
kegagalan ini. Namun, kalau toh bisnis ini lebih berkelayakan, perhitungan
matematis pasti akan membatasi terjadinya peluang sukses tersebut. Tipe struktur
bisnis MLM hanya dapat menopang sejumlah kecil pemenang. Jika seseorang
memerlukan downline sejumlah 1000 orang agar dia memperoleh pendapatan seumur
hidup, maka 1000 orang downline tadi akan memerlukan sejuta orang untuk bisa
memperoleh kesempatan yang sama. Jadi, berapa orang yang secara realistis bisa
diajak bergabung? Banyak hal yang tampak sebagai pertumbuhan pada kenyataannya
adalah pengorbanan distributor baru secara terus-menerus. Uang yang masuk ke
kantong elite pemenang berasal dari pendaftaran para pecundang. Dengan tidak
adanya batasan jumlah distributor di suatu daerah dan tidak ada evaluasi tentang
potensi pasar, sistem ini dari dalamnya sudah tidak stabil.
Kebohongan No. 2:
Network marketing (pemasaran mengandalkan jaringan) adalah cara baru yang paling
populer dan efektif untuk membawa produk ke pasar. Konsumen menyukai membeli
produk dengan cara door-to-door.
Kebenaran:
Jika anda mengikuti aktivitas andalan MLM berupa penjualan keanggotaan secara
terus-menerus dan mengamati hukum dasarnya, yakni penjualan eceran satu-satu ke
konsumen, anda akan menemukan sistem penjualan yang tidak produktif dan tidak
praktis. Penjualan eceran satu-satu ke konsumen merupakan cara kuno, bukan trend
masa depan. Penjualan secara langsung satu-satu ke teman atau saudara menuntut
seseorang untuk mengubah kebiasaan belanjanya secara drastis. Seseorang pasti
mendapatkan bahwa pilihannya terbatas, kerap kali membayar lebih mahal untuk
sebuah produk, membeli dengan tidak nyaman, dan dengan kagok mengadakan
transaksi bisnis dengan teman dekat atau saudara. Ketidak-layakan
(unfeasibility) penjualan door-to-door inilah yang menjadi alasan kenapa pada
kenyataannya MLM merupakan bisnis yang terus-terusan menjual kesempatan menjadi
distributor.
Kebohongan No. 3:
Di suatu saat kelak, semua produk akan dijual dengan model MLM. Para pengecer,
mall, katalog, dan sebagian besar pengiklanan akan mati karena MLM.
Kebenaran:
Kurang dari 1% dari keseluruhan penjualan dilakukan melalui MLM dan banyak
volume dari penjualan ini terjadi karena pembelian oleh para distributor baru
yang sebenarnya membayar biaya pendaftaran untuk sebuah bisnis yang selanjutnya
akan dia tinggalkan. MLM tidak akan menggantikan cara-cara pemasaran yang
sekarang ada. MLM sama sekali tidak bisa menyaingi cara-cara pemasaran yang
lain. Namun yang lebih pasti, MLM melambangkan program investasi baru yang
meminjam istilah pemasaran dan produk. Produk MLM yang sesungguhnya adalah
keanggotaan (menjadi distributor) yang dijual dengan cara menyesatkan dan
membesar-besarkan janji mengenai pendapatan. Orang membeli produk guna menjaga
posisinya pada sebuah piramid penjualan. Pendukung MLM senantiasa menekankan
bahwa anda dapat menjadi kaya, jika bukan karena usaha keras anda sendiri maka
kekayaan itu berasal dari seseorang yang tidak anda kenal yang mungkin akan
bergabung dengan downline anda, atau istilah orang MLM "big fish". Pertumbuhan
MLM adalah perwujudan bukan dari nilai tambahnya terhadap ekonomi, konsumen,
maupun distributor, namun lebih merupakan perwujudan dari tingginya ketakutan
ekonomi dan perasaan tidak aman serta meningkatnya impian untuk menjadi kaya
dengan mudah dan cepat. MLM tumbuh dengan cara yang sama dengan tumbuhnya
perjudian dan lotere.
Kebohongan No. 4:
MLM adalah gaya hidup baru yang menawarkan kebahagiaan dan kepuasan. MLM
merupakan cara untuk mendapatkan segala kebaikan dalam hidup.
Kebenaran:
Daya tarik paling menyolok dari industri MLM sebagaimana yang disampaikan lewat
iklan dan presentasi penarikan anggota baru adalah ciri materialismenya.
Perusahaan-perusahaan besar Fortune 100 akan tumbang sebagai akibat dari
janji-janji kekayaan dan kemewahan yang disodorkan oleh penjaja MLM. Janji-janji
ini disajikan sebagai tiket menuju kepuasan diri. Pesona MLM yang berlebihan
mengenai kekayaan dan kemewahan bertentangan dengan aspirasi sebagian besar
manusia berkaitan dengan karya yang bernilai dan memberikan kepuasan untuk
sesuatu yang menjadi bakat dan minatnya. Singkatnya, budaya bisnis MLM
membelokkan banyak orang dari nilai-nilai pribadinya dan membelokkan aspirasi
seseorang untuk mengekspresikan bakatnya.
Kebohongan No. 5:
MLM adalah gerakan spiritual.
Kebenaran:
Peminjaman konsep spiritual (kerokhanian) seperti kesadaran akan kemakmuran dan
visualisasi kreatif untuk mengiklankan keanggotaan MLM, penggunaan kata-kata
seperti "komuni" untuk menggambarkan kelompok penjualan, dan klaim bahwa MLM
merupakan pelaksanaan prinsip-prinsip Kristiani atau ajaran-ajaran Injili adalah
penyesatan besar dari ajaran-ajaran rokhani. Mereka yang memusatkan harapan dan
impiannya pada kekayaan dalam doa-doanya jelas kehilangan pandangan akan
spiritualitas murni sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama yang dianut umat
manusia. Penyalahgunaan ajaran-ajaran spiritual ini pastilah pertanda bahwa
penawaran investasi MLM merupakan penyesatan. Jika sebuah produk dikemas dengan
bendera atau agama tertentu, waspadalah! "Komunitas" dan "dukungan" yang
ditawarkan oleh organisasi MLM kepada anggota baru semata-mata didasarkan pada
belanjanya. Jika pembelanjaan dan pendaftarannya menurun, maka menurun pula
"komuni" tersebut.
Kebohongan No. 6:
Sukses dalam MLM itu mudah. Teman dan saudara adalah prospek. Mereka yang
mencintai dan mendukung anda akan menjadi konsumen anda seumur
hidup.
Kebenaran:
Komersialisasi ikatan keluarga dan persahabatan yang diperlukan bagi jalannya
MLM adalah unsur penghancur dalam masyarakat dan sangat tidak sehat bagi mereka
yang terlibat. Mencari keuntungan dengan memanfaatkan ikatan keluarga dan
kesetiakawanan sahabat akan menghancurkan jiwa sosial seseorang. Kegiatan MLM
menekankan pada hubungan yang mungkin tidak akan bisa mengembalikan pertalian
yang didasarkan atas cinta, kesetiaan, dan dukungan. Selain dari sifatnya yang
menghancurkan, pengalaman menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali orang yang
menyukai atau menghargai suasana dirayu oleh teman atau saudara untuk membeli
produk.
Kebohongan No. 7:
Anda dapat melakukan MLM di waktu luang. Sebagai sebuah bisnis, MLM menawarkan
fleksibilitas dan kebebasan mengatur waktu. Beberapa jam seminggu dapat
menghasilkan tambahan pendapatan yang besar dan dapat berkembang menjadi sangat
besar sehingga kita tidak perlu lagi bekerja yang lain.
Kebenaran:
Pengalaman puluhan tahun yang melibatkan jutaan manusia telah menunjukkan bahwa
mencari uang lewat MLM menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa serta
ketrampilan dan ketabahan yang tinggi. Selain dari kerja keras dan bakat, MLM
juga jelas-jelas menggerogoti lebih banyak wilayah kehidupan pribadi dan lebih
banyak waktu. Dalam MLM, semua orang dianggap prospek. Setiap waktu di luar
tidur adalah potensi untuk memasarkan. Tidak ada batas untuk tempat, orang,
maupun waktu. Akibatnya, tidak ada lagi tempat bebas atau waktu luang begitu
seseorang bergabung dengan MLM. Dibalik selubung mendapatkan uang secara mandiri
dan dilakukan di waktu luang, sistem MLM akhirnya mengendalikan dan mendominasi
kehidupa seseorang dan menuntut penyesuaian yang ketat pada program-programnya.
Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa begitu banyak orang tenggelam begitu
dalam dan akhirnya menjadi tergantung sepenuhnya kepada MLM. Mereka menjadi
terasing dan meninggalkan cara-cara hubungan yang lain.
Kebohongan No. 8:
MLM adalah bisnis baru yang positif dan suportif mendukung) yang memperkuat jiwa
manusia dan kebebasan pribadi.
Kebenaran:
MLM sebagian besar berjalan karena adanya ketakutan. Cara perekrutan selalu
menyebutkan ramalan akan runtuhnya model-model distribusi yang lain, runtuhnya
kekokohan ekonomi Amerika, dan sedikitnya kesempatan di bidang lain (profesi
atau jasa). Profesi, perdagangan, dan usaha konvensional terus-menerus
dikecilkan artinya dan diremehkan karena tidak menjanjikan "penghasilan tak
terbatas". Menjadi karyawan adalah sama dengan perbudakan bagi mereka yang
"kalah". MLM dinyatakan sebagai tumpuan terbaik terakhir bagi banyak orang.
Pendekatan ini, selain menyesatkan kerapkali juga menimbulkan dampak menurunkan
semangat bagi orang yang ingin meraih kesuksesan sesuai visinya sendiri tentang
sukses dan kebahagiaan. Sebuah bisnis yang sehat tidak akan menunjukkan
keunggulannya dengan menyajikan ramalan-ramalan buruk dan peringatan-peringatan
menakutkan.
Kebohongan No. 9:
MLM merupakan pilihan terbaik untuk memiliki bisnis sendiri dan mendapatkan
kemandirian ekonomi yang nyata.
Kebenaran:
MLM bukanlah self-employment (usaha mempekerjakan sendiri) yang sejati.
"Memiliki" keanggotaan distributor MLM hanyalah ilusi. Beberapa perusahaan MLM
melarang anggotanya memiliki keanggotaan MLM lain. Hampir semua kontrak MLM
memungkinkan dilakukannya pemutusan keanggotaan dengan gampang dan cepat. Selain
dari putus kontrak, downline dapat diambil alih dengan berbagai alasan.
Keikutsertaan dalam MLM menuntut orang untuk meniru model yang ada secara ketat,
bukannya kemandirian dan individualitas. Distributor MLM bukanlah pengusaha
(enterpreneur), namun hanya pengikut pada sebuah sistem hirarki yang rumit di
mana mereka hanya punya sedikit kendali.
Kebohongan No. 10:
MLM bukan program piramid karena ada produk (barang) yang dijual.
Kebenaran:
Penjualan produk sama sekali bukan penangkal bagi MLM untuk lolos dari
undang-undang anti program piramid, juga bukan jawaban atas tuduhan tentang
praktek perdagangan yang tidak sehat (unfair) sebagaimana dinyatakan dalam
undang-undang negara bagian maupun federal. MLM bisa menjadi bisnis yang legal
jika sudah memenuhi prasyarat tertentu yang sudah ditetapkan oleh FTC (Federal
Trade Commission) dan Jaksa Agung negara bagian. Banyak MLM jelas-jelas
melanggar ketentuan tersebut dan sementara ini tetap beroperasi karena belum ada
yang menuntut. Ketentuan pengadilan baru-baru ini menetapkan angka 70% untuk
menentukan legalitas MLM. Maksudnya, minimal 70% produk yang dijual MLM harus
dibeli oleh konsumen non-distributor. Ketentuan ini tentu saja akan membuat
hampir semua MLM masuk kategori melanggar hukum. Para pelaksana MLM terbesar
mengakui bahwa mereka hanya menjual 18% produknya ke non-distributor.
10 Kebohongan Besar Multi Level Marketing
Bisnis MLM tumbuh dan perusahan-perusahaan MLP pun bermunculan. Kegiatan
penarikan anggota ada di mana-mana. Akibatnya, terkesan seolah-olah bisnis ini
merupakan gelombang bisnis masa depan, model bisnis yang sedang mendapatkan
momentum, semakin banyak diterima dan diakui secara legal, dan sebagaimana yang
digembar-gemborkan oleh para penggagasnya, MLM akan menggantikan sebagian besar
model pemasaran dan penjualan jenis lain. Banyak orang menjadi percaya dengan
pengakuan bahwa keberhasilan dapat diperoleh siapa saja yang secara setia
mengikuti sistem ini dan menerapkan metode-metodenya, dan bahwa pada akhirnya
semua orang akan menjadi distributor MLM.
Dengan pengalaman selama 14 tahun di bidang konsultan korporat untuk bidang
distribusi dan setelah lebih dari 6 tahun melakukan riset dan menulis mengenai
MLM, saya berhasil mengumpulkan informasi, fakta, dan masukan-masukan yang
menunjukkan bahwa bisnis MLM pada dasarnya adalah kebohongan pasar bebas. Hal
ini bisa dianalogikan dengan menyebut pembelian tiket lotere sebagai "usaha
bisnis" dan memenangkan hadiahnya sebagai " pendapatan seumur hidup bagi siapa
saja". Validitas pernyataan industri MLM tentang potensi pendapatan si
distributor, penjelasannya yang mengagumkan tentang model bisnis jaringan, dan
pengakuannya tentang penguasaan dalam distribusi produk adalah persis seperti
validitas penampakan makhluk UFO.
Legalitas sistem MLM hanya didasarkan pada sebuah keputusan pada tahun 1979
untuk satu perusahaan. Petunjuk pelaksanaan secara legal yang dikemukakan dalam
keputusan tersebut secara terus-menerus diabaikan oleh pelaku industri MLM.
Kurangnya aturan maupun pemantauan oleh pihak yang berwenang juga menjadi sebab
kenapa industri ini tetap bertahan walaupun ada beberapa tuntutan oleh Jaksa
Agung negara bagian maupun Komisi Perdagangan Federal.
Prestasi ekonomi MLM selalu ditandai dengan angka kegagalan yang tinggi dan
kerugian finansial bagi jutaan orang. Struktur MLM, di mana posisi pada rantai
penjualan yang tak berujung dicapai dengan cara menjual atau membeli barang,
secara matematis tidak bisa dipertahankan. Juga, system MLM yang memungkinkan
direkrutnya distributor dalam jumlah tak terbatas dalam suatu kawasan pemasaran
jelas-jelas tidak stabil. Bisnis inti MLM, yakni penjualan langsung, berlawanan
dengan trend dalam teknologi komunikasi yakni distribusi yang cost-effective
(berbiaya rendah), dan ketertarikan membeli pada pihak konsumen. Kegiatan
penjualan secara eceran dalam MLM pada kenyataannya merupakan topeng dari bisnis
utamanya, yaitu menggaet pemilik uang (investor) ke dalam organisasi pyramid
yang menjanjikan pertumbuhan pendapatan yang berlipat-ganda.
Sebagaimana pada semua program piramid, pendapatan para distributor di posisi
puncak dan keuntungan para perusahaan pemberi sponsor berasal dari masuknya para
investor (penanam uang) baru secara terus-menerus di tingkat bawah. Jika dilihat
secara kasar dari segi keuntungan perusahaan dan kekayaan kelompok elite di
posisi puncak, model MLM akan tampak seolah-olah tidak akan ada matinya bagi,
persis seperti program pyramid sebelum akhirnya tumbang atau dituntut oleh pihak
berwenang.
Konstituen atau penopang utama industri MLM bukanlah publik konsumen namun para
penanam uang yang menaruh harapan. Pasar bagi para penanam uang ini tumbuh subur
di saat-saat terjadinya perubahan ekonomi, globalisasi, dan PHK karyawan.
Janji-janji tentang perolehan finansial dengan mudah serta kaitan antara
kekayaan dengan kebahagiaan tertinggi juga berperan besar dalam kondisi pasar
ini. Karenanya, arah pemasaran MLM ditujukan terutama kepada calon (prospek)
distributor, bukannya berupa promosi produk ke para pembeli. Produk MLM yang
sesungguhnya bukanlah jasa SLJJ, vitamin, atau krim kulit, namun program
investasi bagi para distributor yang secara menyesatkan digambarkan dengan
pendapatan tinggi, penggunaan waktu sedikit, modal kecil, dan sukses dalam waktu
singkat.
Ditulis oleh:
Robert L. Fitzpatrick is co-author with Joyce K. Reynolds of the newbook,
False Profits: Seeking Financial and Spiritual Deliverance in
Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes, published by Herald Press in
Charlotte, NC ISBN: 0-9648795-1-4)
OK? so how? give me a comment about that!!!
back to home