|
"I AM SENIOR HIGH SCHOOL
STUDENT"
PART I
Ditemani
dengan sinar mentari yang berwarna emas dan awan putih yang menggumpal
membuat pagi hari kota Lahat terlihat indah tuk di pandangi. Sama halnya
Aku, Tuti dan Imas yang lagi berjalan menuju sekolah dengan hati bahagia
menyambut hari pertama kami masuk SMA.
“Hei Tik,
di sekolah baru kita kan banyak extrakulikulernya, ngomong-ngomong kamu
mau pilih ekstrakulikuler apa?” tanya Imas, sambil memasang dasi yang
terus menguras keringatnya.
“Kalau aku.. aku ingin pilih renang sajalah. Kalau kamu,
Mas?” Jawab dan tanya Tuti. Maklum tuti adalah orang yang sangat senang
bermain sama air dan atlet renang se-RT Pagar Agung.
“He.. he.. aku, aku, aku, aku... mau pilih basket!” seru
Imas dengan muka menandakan ada sesuatu yang mencurigakan padanya.
“Biasa, aku pilih basket karena banyak cowok-cowok ganteng dan body
sispect yang bikin hatiku berbunyi, dag, dig, dug”. Penjelasan Imas yang
semakin membuat Tuti mencibirkan bibirnya dan berkata, “Hahaha... Aduh,
Mas,Mas, kamu mau pengembangan diri atau cari sensasi?” dengan muka yang
sok inocent Imas menatap muka Tuti dan menjawab, “dua-duanya”. Huft, ini
membuat tuti mengerutkan jidatnya dan tersenyum lebar.
Tak lama kemudian, “hello, hi, woi, hei, Gisel mau masuk
ekstrakuliler apa nanti?” teriak mereka yang ke enam kalinya dengan dahi
mengerut dan menatap tajam kearahku, heran yang melihatku tak merespon
pertanyaan mereka dan hanya tersenyum-senyum kecil. Akhirnya Imas dengan
sekuat tenaga menepuk pundak kanan ku.
“Plak, hei
Gisel pa sih yang kamu pikirin dari tadi sampai-sampai pertanyaan kami
berdua gak kamu jawab?”
“Oh, maaf
tadi lagi bayangin gimana ya kehidupan SMA itu. By the way, apa ya
pertanyaan kalian tadi?” seruku dengan menahan sakit akibat tepukan Imas
tadi.
“Dong,
dong, aduh lupain aja deh! Nanti kita tanya lagi kalau kami tidak
mengulang pertanyaanya sampai 10 kali. Ayo, kita bergegas ke sekolah
nanti telat kena marah pak kumis tebal!” ketus Imas dan Tuti sambil
menggelengkan kepala dan perlahan-lahan menari-tarik tasku tuk bergegas
ke sekolah.Berbicara tentang Pak kumis tebal Bapak itu adalah pak Satpam
yang sangat ditakuti di sekolah kami dan orang yang khas dengan kumisnya
yang dicukur 3 bulan sekali.
Berjalan
bersama tuti, imas adalah hal yang terbaik dalam hidupku karena meraka
adalah sahabat yang selalu mengerti aku dan tidak saling menjaga egonya
masing-masing dan karena ini juga aku sudah bersahabat dengan mereka
sejak aku duduk di bangku SD. Hmm.. perjalanan menuju sekolah selesai,
kami bertiga sudah memasuki halaman sekolah 15 menit sebelum bel sekolah
berbunyi.
Tapi,
tiba-tiba suara gemuruh dari berbagai sisi sudut kelas sekolah dengan
datangnya tiga orang cowok dengan tangan dimasukkan ke kantong
celananya, tas di bawa satu lengan, rambut rapi, kulit putih dan
potongan rambut yang dibuat seperti gaya-gaya anak “Super Junior” boy
band korea yang lagi ngehit.
“Wow,
Marcel, Alexa, dan Jhy mereka datang”, suara teriakan yang sepertinya
dari kelas XII IPA 1, maklum aku adalah murid baru disini jadi belum tau
benar lokasi setiap kelas.
“Plak,
plak, rrrrrrrrrrr...” suara puluhan sepatu yang berlari menghampiri tiga
cowok yang mungkin terpopuler di sekolah ini.
“Jhy, udah
sarapan pagi belum, kalau belum ni aku bawakan sarapan buat kamu.” Tanya
manja seorang cwek yang aku rasa itu Sheila, dia sambil menyodorkan
sebuah kotak makanan berwarna pink. Sheila merupakan kakak kelas 2 yang
dulu sempat menjadi disiplin squad saat MOS aku dulu.
Dengan
tanpa memperhatikan wajah manja si Sheila dan kotak makanan pink itu,
Jhy langsung berjalan perlahan menuju ke kelas, di tempat kami berdiri
melihat kelakuan anak SMA yang baru kami tempati ini. Sedangkan Marcel
bersama Alexa sibut mengambil pulpen untuk memberikan tanda tangan
mereka. Karena aku terlalu geli melihat kejadian Sheila yang di acuhkan
mentah-mentah oleh Jhy, aku tertawa kecil dan berbisik kepada Tuti dan
Imas “Hahahaaaa... coba kita ulang lagi kejadian di acuhkannya Sheila
oleh Jhy, pasti lucu.”
Sesaat
kemudian, setelah Marcel dan Alexa masuk ke kelas yang sama seperti Jhy
dan gemuruh suara anak sekolah mulai menghilang, serta Imas, Tuti yang
lagi pergi ke kantin sekolah dan meninggalkan aku berdiri di depan kelas
Jhy sendiri sambil menunggu pembagian kelas X, tiba-tiba, tanpa sengaja
ada seorang office boy menabrakku, karena aku lagi banyak membawa buku
di tangan, langsung saja tubuhku terjatuh dan yang aku tau tanganku
terluka saat itu.
“Ma’af ya
mbak, saya nggak sengaja tadi. Mau saya bantu berdiri?” kata office boy
itu dengan rasa ma’af.
“Ya gak
apa-apa kok Pak. Tidak perlu saya bisa berdiri sendiri. Bapak bisa
melanjutkan pekerjaan bapak.”
Office boy
tersebut dengan bergegasnya menghilang dari hadapanku. Dengan menahan
sakit akibat terjatuh, aku mulai berdiri perlahan-lahan akan tetapi
semua usahaku sia-sia.
“Ah,
sepertinya kakiku terkilir.Inilah kalau aku berdiri sembarangan?”,
Sesalku. Tanpa sengaja aku mendengar suara yang tak asing bagiku.
“Sini, ku
bantu berdiri!”. Sambil melambaikan tangan didekatku.
Dengan
hati yang berdebar kencang dan harap cemas, mungkinkah itu suara Pak
kumis tebal. Aduh, bisa celaka ini kalau sampai ini orang adalah Pak
kumis Tebal, bisa-bisa aku dibawa ke rumah sakit, padahal hanya terluka
sedikit. Konon, kata anak-anak yang bersekolah disini, Pak kumis sangat
cemas bila ada anak muridnya terluka, karena itu apabila ada anak yang
terluka, langsung saja beliau membawanya ke rumah sakit.
“Aduh,
gawat, gawat, gawat, celaka ni.” Cemasku dalam hati. Hati sudah cemas,
takut sudah menyelubungiku, akhirnya ku mencoba berusaha lari tapi rasa
kaki ini rasanya, sudah tidak menyatu dengan tulangnya, ya mau tidak mau
aku harus menerima bantuan dia walaupun itu adalah Pak kumis tebal.
Ku arahkan
mataku dengan hati-hati pada seseorang yang melambaikan tangannya padaku
tadi. “Tidak mungkin!” sanggkalku dalam hati sambil menggelengkan
kepala. Ini tidak mungkin terjadi dia bukanlah Pak kumis tebal ataupun
sahabatku, tapi dia adalah J..J...Jhy.
“Hallo,
kamu kenapa bingung? Ayo, ku bantu!”, Jhy langsung memegang tanganku
dan membantuku berdiri. Aku hanya terdiam, tertegun dapat berkomunikasi
dengan Jhy, karena tidak semua orang bisa berkomunikasi sedekat aku dan
Jhy sekarang. Hati berdebar kencang laksana angin di badai topan.
Rasanya aku ingin tersenyum lebar saat dia menolongku.
“Kamu
tidak apa-apa? Kamu anak kelas X kan?” tanya Jhy dengan lembut.
“Hmm..
iy..iya. Aku juga ti..tidak apa-apa. Terimakasih sudah membantuku.”
Sahutku di selingi jantung berdetak sangat kencang.
“Kenapa
kamu bisa terjatuh sampai-sampai tangan dan kakimu terluka?” tanyanya
sambil memberikan selembar sapu tangan, yang menandakan aku harus
membersihkan lukaku ini.
“Iya, tadi
tidak sengaja office boy yang disana menabrakku, dan aku langsung
kehilangan keseimbangan dan jatuh,” jawabku dengan menunjuk ke arah
office boy tersebut dan mengambil sapu tangan itu.
TO BE CONTINUED......
|