GERAKAN MUDA SEPANJANG MASA
Mahendra Hadi Kesuma
Kasihan petani-petani kita. Tak ubahnya seperti petani dijaman julius caesar miskin, bodoh, penuh sakwasangka. Sementara itu, dewan-dewan perwakilan penuh sesak dgn wakil-wakil rakyat, yang matanya bukan mengawasi jalannya pemerintahan, melainkan bagaimana bisa dapat uang suap dari perusahaan-perusahaan besar. Akan halnay pajak-pajak yang masuk paling sedikit seperempatnya siasia, habis dicuri, tau lenyap lewat cara akal bulus lainnya. Dan yang namanya orang-orang pemerintahan yang masyur, pada hakekatnya adalah mereka yang kerjanya merampas negri orang lain, persetujuan demi kepentingan sekelompok kecil orang. Begitulah tulis Philip Wylie.
Ungkapan ini sebenarnya tidak layak dibaca. Sebab, kita sama sekali tidak tergolong "generasi bejat ". Konon pula generasi mudanya. Jangankan menjadi bejat, menjadi apatis saja tidak diperkenankan. Kita diharapkan mewarisi nilai-nilai luhur yang di tinggalkan orang-orang tua, hasil kreasi mereka yang abadi. Kalau toh ada kurang-kurang sedikit, sudah jamaknya. Harus dicari jalan bagaimana menutup yang kurang. Lewat tukar pikiran di website http://pramuka-usu.tk.
Ngomong-ngomong masalah generasi muda, misalnya, siapa saja yang layak disebut "genarasi muda". Menurut takaran umurkah, atau apa. Apabila ukuran umur yang menjadi takaran, banyak orang tua renta yang masih menunjukkan kemampuan luar biasa. Sehingga tanpa mereka yang muda-muda malahan hidup berantakan, seperti kapal tanpa kapten.
Tentu, bukan maksud saya disini berpusing-pusing membingungkan diri sendiri. Yang namanya "generasi muda" ya kurang lebih seperti kita inilah. Anak kecil bukan dan orang tua juga bukan, disatu pihak jadi tumpuan harapan tapi dilain pihak tak punya kuasa apa-apa. Pendek kata, tak lain tak buka merupakan orang-orang kepalang tanggung yang puluhan juta banyaknya, penuh kecewa tapi romantik, cemas-cemas harap melihat masa sekarang, lebih-lebih masa depan. Seraya minta maaf dan maturnuon kepada para orang tua, saya bependapat, pembinaan terbaik untuk diri kita adalah oleh kita sendiri, paling tidak sebagian pokoknya. Ini bukan sombong justru ini sikap historis karna sejarah memberi petunjuk yang jelas kepada kita, kenerhasilan suatu cita-cita perbaikan lebih banyak ditentukan oleh inisiatif yang dipegang oleh "generasi muda" dan bukan atas hasil pembinaan generasi pendahulunya, contohnya: lengsernya kakek kita presiden Soeharto, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan "generasi muda".
Bukan maksud saya disini mendudukkan suatu generasi dengan generasi yang lainnya dalam posisi yang antagonis. Sebab tidak selamanya keduanya mesti berhadap-hadapan saling membelalak dan menyerang, pola-pola kontinuitas senantiasa bisa saja terjadi, sebab sejarah pun pada hakekatnya, sampai batas tertentu merupakan serangkaian kreasi yang sambung menyambung, yang satu menunjang yang lain. Jangan dikira mentang-mentang "generasi muda" lantang merasa punya seribu alasan untuk melakukan penantangan. Tidak sedikit tindak penentangan semata-mata didorong oleh hasrat "asal menentang" saja tanpa sebab yang jelas bahkan tanpa tujuan yang terang.
Apabila sudah disepakati bahwasannya generasi mudalah terletak tanggung jawab unutk membina diri sendiri, tinggallah bagi kita untuk memastikan dalam segi-segi apa saja ketimpangan-ketimpangan telah terjadi, sebab kalau tidak ada ketimpangan perbuatan pembinanan hanyalah yang dicari-cari.
Jadi dimasa pra-reformasi, "generasi muda" pembinaan diarahkan kepada perataan faham nasionalisme, karna lewat paham inilah kekuatan melawan dominasi asing bisa terkosolidir.***penulis adalah alumni UKM Pers Mahasiswa Suara USU & Ketua PMII Koms USU.
Mahendra Hadi Kesuma