Majalah Suara Hidayatullah : Juli 2001    

Alat Penting Ghazwul Fikri

Realitas suguhan acara televisi di negeri ini nyaris semuanya melanggar
syari'ah Islam. Begitu pendapat Abdurrahman Al-Mukaffi dalam bukunya
Kategori Acara TV dan Media Cetak Haram di Indonesia. Celakanya, ummat
yang mayoritas ini seolah tidak berdaya menghadapi sergapan ghazwul
fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan musuh-musuh Islam lewat 'kotak
ajaib' itu. 
Abdurrahman membuat 10 kategori acara televisi dan media cetak yang
merupakan bagian dari strategi ghazwul fikri, dan karenanya haram
ditonton oleh kaum Muslim. 

1. Membius pandangan mata. Banyak disuguhkan wanita-wanita calon
penghuni neraka dari kalangan artis dan pelacur. Mereka menjadikan ruang
redaksi bagaikan rumah bordil yang menggelar zina mata massal. 

2. Pameran aurat. Saluran televisi berlomba-lomba menyajikan
artis-artis, baik dengan pakaian biasa, ketat, pakaian renang, sampai
yang telanjang. Penonton diajak untuk tidak punya rasa malu, hilang
iman, mengikuti panggilan nafsu, dan menghidupkan dunia mimpi. 

3. Membudayakan ikhtilat. Sekumpulan laki-laki dan wanita yang bukan
muhrim, biasa bergumul jadi satu tanpa batas. Tayangan semacam ini tak
ubahnya membuka transaksi zina. 

4. Membudayakan khalwat. Kisah-kisah percintaan bertebaran di berbagai
acara. 

Frekuensi suguhan kisah-kisah pacaran dan kencan makin melegitimasi
budaya khalwat. 

5. Membudayakan tabarruj. Banyak pelaku di layar kaca yang
mempertontonkan bagian tubuhnya yang seharusnya ditutupi, untuk
dinikmati para pemirsa. 

6. Mengalunkan nyanyian dan musik setan. Televisi banyak menyiarkan bait
syair lagu berupa mantera zina yang diiringi alunan alat musik setan. 

7. Menyemarakkan zina. Sajian dari luar negeri maupun lokal yang banyak
menyertakan adegan peluk, cium, dan ranjang membuktikan bahwa televisi
adalah corong zina. Aksi zina yang menyeluruh, baik zina mata, telinga,
hati, lidah, tangan, kaki, dan kemaluan. 

8. Mempromosikan liwath (homoseksual). Para artis dan selebritis yang
mengidap penyakit homoseks dijadikan contoh gaya hidup modern dan high
class. Kaum homo makin bebas berkeliaran dengan berlindung di bawah
payung hak asasi manusia. 

9. Menebarkan syirik. Televisi banyak mengekspos praktik pedukunan,
mistik, ramalan, dan sihir yang dapat menghancurkan aqidah ummat. 

10. Tenggelam dalam laghwun. Acara-acara yang tak ada manfaatnya banyak
disuguhkan untuk pemirsa, misalnya gunjingan tentang kehidupan pribadi
selebriti dan humor berlebihan, sehingga lupa mengerjakan hal-hal yang
justru penting seperti dzikir kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala. 

===

Jagoan-jagoan yang Berbahaya
Sederet bukti bahayanya menyerahkan pengasuhan anak kepada televisi.
Pemecahannya? 
Bocah 4 tahun bernama Ferhat Altinbas itu bergegas menuju balkon
apartemennya. Televisi yang saban hari menemaninya masih menyala,
ditinggal begitu saja. Dalam benak terbayang, sebentar lagi akan jadi
monster hebat seperti Pikachu yang bisa melayang. Begitu sampai di bibir
balkon, tanpa ba..bi..bu.. bocah lelaki ini melompat. Hiyaaaatt! 

Hasilnya? Bukan monster yang hebat, tapi Ferhat masuk rumah sakit di
Mersin, Turki Selatan. Kakinya patah, beberapa bagian tubuhnya luka
cukup parah. Ketika ditanya dokter perihal perbuatannya yang nekad itu,
si kecil Ferhat menjawab enteng, "Saya Pokemon, dan saya melayang
seperti dia." 

Peristiwa yang dilansir harian Radikal Daily Turki edisi 30 Oktober 2000
itu hanyalah salah satu contoh, betapa besar pengaruh tayangan televisi
terhadap anak-anak. Ferhat ingin seperti Pikachu, tokoh serial Pokemon
(Pocket Monster), idolanya. Pikachu adalah monster kucing imut-imut
berwarna kuning yang sakti dan selalu menang dalam pertarungan.
"Anak-anak memang banyak meniru tokoh yang dianggapnya sebagai panutan,
baik itu orang tua, guru, ustadz, atau tokoh film yang disenanginya,"
ujar psikolog Elzim Kosyiyati. 

Konsekuensinya, kalau tokoh yang dicontoh adalah figur yang baik,
niscaya anak-anak akan berlaku baik pula. Begitu pula sebaliknya. Nah,
kalau idolanya adalah Pikachu atau Tinky-Winky, perilaku tokoh itulah
yang terekam di benak anak-anak. Dan tokoh-tokoh semacam inilah yang
sekarang banyak diidolakan. 

Ajaran Kekerasan dan Syirik 

Di mata anak-anak, tokoh-tokoh dalam Pokemon sama tenarnya dengan
Teletubbies. Tayangan animasi dari Jepang ini mulai populer di Indonesia
akhir 1990-an, ditandai dengan munculnya barang-barang memakai bentuk
Pikachu. Tas punggung, peralatan tulis, sapu tangan, lampu meja, sampai
ikat rambut menggunakan tokoh Pikachu. Tak lama kemudian Pokemon
menjamur dalam bentuk VCD, dan akhirnya tersaji dalam siaran televisi. 

Di negeri asalnya, film ini sempat memicu protes keras. Sebabnya,
sebanyak 1523 anak di berbagai kota di Jepang dilaporkan telah terserang
mual-mual, muntah, pusing, dan matanya perih akibat nonton Pokemon
episode Computer Warrior Porigon (1997). Sebanyak 650 anak di antaranya
harus masuk rumah sakit. Menurut analisis medis, itu terjadi akibat
pancaran sinar merah menyilaukan selama 650 kali selama 5 detik dari
mata tokoh Pikachu. Sinar itu menyebabkan gangguan syaraf dan ritme
otak. 

Di Inggris juga menimbulkan kontroversi. Dua orang anak berusia 11 tahun
tega menodong anak usia 8 tahun demi mendapatkan kartu Pokemon.
Persatuan Nasional Guru Inggris menilai tontonan ini menjadi penyulut
kekerasan pada anak-anak (Reuters, 4/2000). 

Adegan dalam film karangan Satoshi Tajiri ini memang didominasi
kekerasan, tema yang tidak sehat bagi perkembangan jiwa anak. "Dalam
psikologi pendidikan, tayangan semacam itu dapat merusak citra diri anak
yang pada fitrahnya tidak menyukai kekerasan, tapi mendambakan kasih
sayang," ujar Elzim Kosyiyati. 

Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan,
ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan
kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak
semakin meningkat. Kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan
semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati, di sini
anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Keempat,
dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau
melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan. 

Di Amerika Serikat, hal tersebut memang terbukti. Sebuah penelitian yang
dilakukan Leonard Eron dan Rowell Huesman menyebutkan, tontonan
kekerasan yang dinikmati pada usia 8 tahun akan mendorong tindak
kriminalitas pada usia 30 tahun (Kompas, 5/2000). 

Sedangkan penelitian yang dilakukan Yale Family Television menyebutkan
anak-anak yang menyaksikan program fantasi kekerasan cenderung kurang
kooperatif, kurang baik dalam bergaul, kurang gembira, kurang
imajinatif, serta angka IQ-nya rendah. Pecandu televisi juga pada
umumnya sering gelisah dan memperlihatkan masalah di sekolah. 

Ajaran kekerasan tak hanya disosialisasikan Pokemon. Lainnya masih
banyak, di antaranya yang ditayangkan RCTI seperti P-Man, Kobo Chan, dan
Panji Millenium, juga SCTV seperti Samurai X, Kungfu Kids. Di TPI ada
Tazmanian Devil dan Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan Power
Rangers Turbo, Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya.
Termasuk tontonan untuk orang dewasa yang akrab dengan anak-anak seperti
Smackdown. Masing-masing mempunyai tokoh utama, dan masing-masing
mempunyai penggemar fanatik. 

"Ayo, Smack Down!", kata Zulfikri (5 th) pada adiknya, Amar. Kontan saja
sang adik terjungkal dengan kepala menyentuh lantai. Amar yang masih
berumur 2,5 tahun itu dibanting dengan gaya menirukan acara Smack Down.
Tentu saja sang adik berteriak menangis. Menurut ibunya, Siti Aminah
(32), Zulfi sudah ketiga kalinya ini membanting sang adik menirukan
pertarungan bohong-bohongan yang sering diputar RCTI tersebut. "Ini
sudah ketiga kali lho, kalau diulangi lagi saya hukum kamu," kata sang
ibu menasehati Zulfi. 

Menurut sang ibu, Zulfi kerap menonton acara gulat tersebut di TV
tetangga pada hari minggu. "Padahal saya juga nggak punya TV", kata
ibunya. Sejak ketiga kali kasus membanting sang adik, Zulfi memang sudah
jarang mengulangi 'smack down' pada Amar. Tapi diam-diam, masih sering
mempraktekkannya dengan teman sebayanya bila datang bermain ke rumahnya. 

Yang lebih berbahaya, tontonan kekerasan kebanyakan bersinergi dengan
ajaran syirik dan klenik. Di mata da'i Khairu Ummah Ustadz Ihsan
Tandjung, figur-figur Pokemon layaknya representasi dunia jin yang
mempengaruhi anak kita. "Fenomena semacam itu adalah perbuatan syirik,
dosa besar mempersekutukan Allah Swt yang tak terampuni," ujar mubaligh
yang kerap muncul di layar kaca ini. 

Ihsan menunjuk beberapa slogan yang kuasa membuat anak 'menuhankan'.
Misalnya 'Selamat datang di dunia Pokemon, dunia khusus di mana orang
seperti Anda dapat dilatih menjadi Master Pokemon nomor wahid di dunia.'
Atau, 'Bawalah Pokemonmu dalam saku dan kau siap untuk apa saja. Kau
punya kekuatan dalam genggamanmu, gunakanlah!' 

Jangan heran bila Komite Tertinggi Riset Ilmiah dan Hukum Islam Arab
Saudi mengeluarkan fatwa haram, Maret lalu. Alasannya, Pokemon telah
berubah menjadi 'tuhan' yang membuat anak-anak lupa mengerjakan shalat.
Selain itu juga mensosialisasikan Teori Evolusi Darwin, mengusung gambar
bintang Daud segi lima yang menjadi simbol zionisme, dan mendorong
perjudian. Fatwa haram ini akhirnya juga berlaku di semua negeri Timur
Tengah. "Semua produknya, baik VCD maupun asesorisnya, dimusnahkan dan
dibakar ramai-ramai," ujar Burhanudin Malik, warga Bogor yang kini
tinggal di Kuwait. 

Pemerintah Turki juga melarang penayangan film animasi yang pernah
memakan korban ini. Begitu pula Amerika Serikat, Inggris, dan Slovakia.
Sebuah gereja Kristen di Meksiko bahkan menyebut permainan Pokemon
sebagai iblis. 

Di negeri yang bernama Indonesia, justru sedang berkibar-kibar. "Saat
ini Pokemon dan Doraemon paling laris," tutur Hadi, karyawan Gramedia
Matraman, Jakarta. Di toko ini, buku dan komik terjemahan dari Jepang
yang didominasi kekerasan dan syirik rata-rata terjual 1.250 buku per
hari. 

Film dan sinetron berbau klenik juga eksis di televisi. Misalnya
Doraemon, Magic Girls, Mak Lampir, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun,
Bidadari, dan banyak lagi. "Tayangan yang penuh takhyul dan khurafat
leluasa masuk ke dalam pikiran anak-anak kita," ujar Ihsan Tanjung. 

Zina dan Durhaka 

Berbicara tentang tontonan untuk anak, tentu tak lengkap tanpa
menyinggung Crayon Shinchan. Film animasi yang diputar RCTI ini begitu
dikenal anak-anak. Ratingnya cukup tinggi, yakni 9 hingga 11. Artinya,
ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton. Namun
seperti halnya tayangan lain, efek negatiflah yang lebih mengemuka.
"Film itu jorok, tak bagus ditonton anak-anak," ujar Slamet, warga
Cibubur yang juga ayah 2 anak. 

Mau tahu contohnya? Dalam versi komik volume 1, digambarkan orang tua
Shinchan sedang (maaf) menyalurkan hubungan biologis tanpa mengunci
pintu kamar. Shinchan yang terbangun mau buang air kecil, tanpa sengaja
masuk ke kamar orang tuanya dan melihat adegan itu. "Main gulat
diam-diam saja, saya juga mau," kata anak yang konon berusia 5 tahun
ini. "Iya, ini main gulat," sang ibu terpaksa membohongi anaknya demi
menghindari malu. 

Shinchan juga sering berkomentar seputar pantat, dada, dan bahkan
kemaluan (diri dan orang lain). Hal-hal semacam itu tersaji sebab
sebenarnya Crayon Shinchan memang untuk konsumsi orang dewasa. Pertama
kali film animasi karangan Yoshita Usui ini dipublikasikan dalam Shukan
Manga Action (Agustus 1992), majalah komik untuk orang dewasa. Namun
karena berupa kartun, anak-anak pun akhirnya suka. Orang tua terkecoh.
Kenapa? Menurut pengamatan psikolog Seto Mulyadi, orang tua sering
keliru menganggap bahwa film kartun hanya untuk konsumsi anak-anak.
"Padahal tidak selalu demikian," ujarnya seperti dikutip sebuah mingguan
ibukota. 

Tontonan televisi untuk orang dewasa namun ditayangkan pada jam
anak-anak, cukup banyak. Tayangan ini didominasi oleh sinetron dan
telenovela. Karena tersaji di depan mata, anak-anak pun begitu lahap
mengkonsumsinya. Tahun lalu Kompas pernah melakukan survei tentang hal
ini. Hasilnya, 77% anak suka mengobrolkan acara televisi, 40% di
antaranya adalah film orang dewasa yang menyajikan kekerasan, intrik
rumah tangga, serta pelecehan seksual. 

Pada kesempatan lain, survei membuktikan bahwa anak-anak dalam seminggu
menghabiskan waktunya sekitar 68 jam untuk menonton televisi. Padahal
program anak yang tersedia di televisi hanya 32 jam. Artinya, setiap
anak Indonesia menghabiskan waktu 36 jam untuk menonton tayangan
televisi yang dipersembahkan bagi orang dewasa. 

Shinchan tak hanya mengajarkan pornografi, tapi juga kebandelan dan
berani kepada orang tua. Tujuh tahun lalu, ibu-ibu rumah tangga di
Jepang ramai-ramai protes. Alasannya, di samping tolol dan
menjengkelkan, Shinchan juga sering menjadikan ibunya sebagai sasaran
kebandelan. Dia tak segan menyebut ibunya dengan istilah 'nenek kejam'
atau melecehkannya dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan anak-anak
kepada orang tua. Misalnya, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit
ikan hiu." 

Kendali Orang Tua 

Psikolog Jane Healey dalam buku Endangered Minds secara tegas mengatakan
bahwa televisi adalah perusak pikiran anak-anak. Sementara Mary Winn
menyamakan televisi dengan obat bius dan alkohol yang bisa menyebabkan
orang ketagihan. Neil Postman, profesor psikologi dari Universitas New
York, dalam Amusing Ourselves to Death membuat pernyataan lebih ekstrim,
yakni kecanduan itu akan berujung pada kematian. 

Bila kita merujuk pada berbagai kasus yang ada, pernyataan di atas tak
salah. Namun, begitu burukkah tayangan televisi untuk anak-anak? Tentu
saja tidak. Banyak yang cukup baik. Menurut pengamatan Elzim Kosyiyati,
film seperti Teletubbies, di samping mengusung nilai negatif, sebenarnya
mampu membimbing anak dalam hal pengenalan warna, menghitung, dan
menyayangi alam. 

Elzim juga menunjuk sinetron Keluarga Cemara sebagai tayangan yang
mendidik. "Anak-anak diajak melihat realitas, kerja keras, menghormati
orang tua, dan kasih sayang di antara anggota keluarga. Fitrah anak-anak
memang kasih sayang," ujarnya. 

Bagaimana dengan berbagai pengaruh negatif di atas? Ibu dua anak ini
mengajak orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam menonton.
Televisi adalah realitas sehari-hari anak masa kini, sehingga tak
mungkin anak-anak dilarang agar tidak menonton sama sekali. Yang perlu
dilakukan adalah memberi penjelasan tentang berbagai adegan yang tersaji
di layar kaca. "Beri pengarahan saat itu juga, jangan tunda-tunda sampai
hari esok. Apa yang dilihat anak-anak akan sangat melekat dalam
pikirannya." 

Tips untuk menghadapi teve 

Majalah Intisari menurunkan tips untuk menjaga anak dari pengaruh buruk
televisi. Pertama, sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada
dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala
lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton
televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang
tua bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada
banyak cara beraktivitas selain menonton televisi. 

Kedua, usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan
hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk
bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan
istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga.
Sebenarnya, anak-anak secara umum senang belajar dengan melakukan
berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya. 

Ketiga, mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa,
kapan, dan seberapa banyak acara yang ditonton. Tujuannya, agar anak
menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan, bukan
kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu video kaset bisa
berguna, rekam acara yang disukai lalu tonton kembali bersama-sama pada
saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya
menyaksikan apa yang ada di rekaman itu. 

Keempat, cermati jenis program yang ditonton. Ini penting, sebab
menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap
muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi
pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau
adegan seperti pacaran, rayuan yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka
sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak
dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua
sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang
menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan 'saru'. Masalah
bahasa memang perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata
kurang sopan untuk ditiru. 

Kelima, waktu. Kapan dan berapa lama anak boleh menonton televisi, semua
itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka
bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau
justru sore hari. Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya
hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut
Jane Murphy dan Karen Tucker produser acara TV anak-anak dan penulis
sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer
dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal
orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak. 

Sekalipun anak-anak cuma berjumlah 16% dari populasi dunia, tapi mereka
adalah 100% pemimpin masa depan. (akbar, hidayaturrahman, pambudi) 

==

Kampanye Homoseks Teletubbies
Seorang Pendeta terkemuka di Amerika menguraikan misi homoseks di balik
tayangan lucu Teletubbies. Kontroversi meluas. Singapura melarang
penayangannya. Indonesia? 
"Suka nonton Teletubbies?" Bila pertanyaan itu dilontarkan kepada
anak-anak, niscaya akan dijawab 'ya'. "Bagus sih. Lain sama Pokemon atau
Shinchan yang jorok," kata Eki, murid kelas IV sebuah SD di Rawamangun,
Jakarta. 

Saat ini, tontonan yang diputar hampir saban hari di Indosiar itu memang
sedang digandrungi anak-anak. Television in the tummy of the babies
(disingkat Teletubbies, televisi di perut para bocah) adalah film yang
menampilkan empat tokoh boneka gendut (tubby) dan lucu bernama
Tinky-Winky (berwarna ungu), Dipsy (hijau), Laa-Laa (kuning), dan Po
(merah). Di kepala empat sekawan itu ada antena, yang menandakan bahwa
televisi memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi anak-anak.
Rumahnya berupa lapangan golf yang hijau dan sejuk, disebut
Teletubbyland. Di situ ada kincir angin, televisi, kelinci, pancuran
air, yang selalu disinari matahari berwajah bayi imut-imut. 

Film rekaan Anne Woods dan Andrew Davenport yang pertama kali muncul di
Inggris tahun 1995 itu tak sekadar nongol di televisi. Pernik-perniknya
juga membanjir di toko mainan, toko buku, mal, pasar, sampai perempatan
lampu merah. Bentuknya bisa komik, kartu, boneka, VCD, gantungan kunci,
stiker, sikat gigi, tempat nasi, handuk, pigura, dan berbagai asesoris
peralatan sekolah. Bahkan kini telah terbit majalah Teletubbies.
Pendeknya, sang idola itu bisa menyapa anak-anak di mana saja, kapan
saja. Tak mengherankan bila anak-anak begitu akrab. 

Cuma, ada satu hal yang agaknya sulit dikenali anak-anak pada umumnya,
yakni jenis kelaminnya. Sebab, kostumnya sama, aktivitasnya pun tak
berbeda. Robbi Mighfari dan Balivia Andi Permata, murid-murid sebuah TK
di Surabaya, mempunyai jawaban berbeda ketika ditanya mana dari anggota
Teletubbies yang perempuan. Robbi menjawab Po. "Sebab Po kan warnanya
merah," alasannya. Tapi menurut Balivia justru Tinky-Winki-lah, si ungu,
yang perempuan. 

Bagi Eki, yang paling membingungkan adalah sosok Tinky-Winky, anggota
Teletubbies yang paling besar. "Dia itu laki-laki, tapi kadang
tingkahnya kayak cewek. Suka mbawa tas dan bunga. Kayak orang banci,'
ujarnya. 

Di Barat identitas Teletubbies memang sempat menjadi perdebatan heboh.
Bermula dari pendapat Pendeta Jerry Falwell dalam sebuah tulisan di
National Liberty Journal (Februari 1999) yang menilai Teletubbies
membawa misi homoseksualitas lewat tokoh Tinky-Winky. Alasannya?
"Tinky-Winky berwarna ungu warna kebanggaan kaum gay dan mempunyai
antena segitiga terbalik di kepalanya simbol kebanggaan gay," kata
Falwell. 

Majalah Time edisi 12 Oktober 1998 juga menyatakan hal yang sama. Di
situ dilaporkan bahwa Tinky Winky yang membawa tas/dompet merah
merupakan ikon kaum gay di Inggris. Identitas tokoh-tokoh Teletubbies
memang tidak jelas. Perbedaan gender hanya digambarkan secara samar
dengan suara dan pilihan warna: ungu dan hijau muda untuk laki-laki,
merah dan kuning untuk perempuan. Dan di mata Falwell, ini dianggap
sebagai pembenaran terhadap aktivitas homoseksual dan biseksual. 

Kalangan rohaniwan Kristen menilai, indoktrinasi dini terhadap anak
batita (di bawah tiga tahun) lewat Teletubbies akan menyebabkan anak tak
bisa membedakan mana laki-laki mana perempuan. Lebih berbahaya lagi
kalau anak sudah dicekoki nilai: boleh saja laki-laki sekali-sekali
menjadi perempuan, dan sebaliknya. "Diluncurkannya Teletubbies adalah
khusus untuk berkomunikasi dengan balita guna memasukkan nilai
homoseksualitas. Dengan cerita berbahasa bayi, digambarkan bahwa
perilaku homo dan biseks adalah wajar," masih kata Falwell. 

Menurut psikolog pendidikan Elzim Khosyiyati, ketidakjelasan identitas
ini berbahaya bagi perkembangan psikis anak-anak. "Itu sama dengan
mengaburkan esensi dari nilai pendidikan anak yang harus jelas dan
tegas," ujar Elzim yang juga aktivis Lembaga Pendidikan Islam Dwi Matra,
Surabaya. 

Hal senada ditulis Berit Kjos di situs Edutainment. Menurutnya, secara
tidak disadari, anak-anak dibentuk Teletubbies untuk bisa menerima
kelainan-kelainan perilaku seksual seperti biseksual, homoseksual, dan
lesbian sebagai sesuatu yang wajar. Juga, anak-anak dibentuk untuk
menjadikan televisi sebagai dunia mereka. Pendapat Kjos ini sama dengan
pandangan umum kaum ibu di Inggris yang menilai Teletubbies
mensosialisasikan televisi kepada anak-anak dalam usia terlalu dini. 

Tuduhan bahwa Teletubbies membawa misi gay segera ditentang keras oleh
Ragdoll Productions dan koleganya, produser film ini. Juru bicara untuk
Itsy Bitsy Entertainment Co., pemegang lisensi Teletubbies di AS,
berdalih bahwa dompet Tinky Winky adalah tas ajaib. "Sebenarnya yang
dibawa tak menunjukkan dia gay. Ini adalah pertunjukan anak-anak,
cerita," kata Steve Rice seperti dikutip Associated Press (1999). 

Yang paling keras menentang Falwell tentu saja kalangan gay. Dalam
sebuah wawancara diCBS, Joan Garry yang mewakili Aliansi Gay dan
Lesbian, dengan nada cemooh menganggap Falwell sebagai penuduh yang
pandir. Sedangkan Michael Colton di harian New York Observer menganggap
tuduhan itu sebagai hal yang terlampau aneh dan mengerikan. Stan Yann
dalam The Voice malah balik menuduh Falwell sebagai pendeta gemuk
seperti Teletubby (tubby= gemuk) yang bodoh. 

Namun pendapat Falwell tidak salah bila kita cermat melihat adegan film
Teletubbies. Tingkah laku si Ungu memang seperti seorang gay. Dia suka
bunga, membawa dompet warna merah, gerak tariannya dan nada nyanyiannya.
Sebuah kebiasaan orang perempuan. Padahal keterangan resmi yang
dikeluarkan sebuah produsen acara teve anak-anak PBS kids, jenis kelamin
Tinky Winky adalah male (laki-laki). 

Tinky Winky juga tak segan-segan berebut rok dengan Po. Saat rebutan itu
terjadi, 'dewa'-nya Teletubbies matahari bermuka bayi lucu lalu mengatur
agar yang berebut rok itu memakainya secara bergantian. Dewa bayi itu
seolah menjadi 'tuhan' yang menganjurkan perilaku seks menyimpang. 

Kalangan orang tua juga mesti waspada dengan adegan 'berpelukan' yang
selalu dilakukan empat sekawan itu di akhir acara. Menurut Elzim,
pelukan di antara anggota keluarga wajar, dan baik baik. Namun efek
adegan berpelukan Teletubbies sangat didasari kebudayaan Barat. Ibu dua
anak ini sekarang kerap menjumpai kecenderungan anak-anak di sekolah
yang gandrung Teletubbies sering melakukan pelukan kepada kawan
perempuan maupun lelaki, baik berlawanan jenis maupun tidak. "Di satu
sisi memang bisa mengakrabkan, tapi di sisi lain bila perilaku ini
terus-menerus dilakukan bisa fatal akibatnya. Anak-anak akan terbiasa
melakukan pelukan dan ciuman dengan siapa saja tanpa pandang bulu." 

Dampak lebih jauh, bila yang gandrung adalah anak laki-laki, akan
berbahaya. "Anak laki-laki yang suka boneka Teletubbies akan terpengaruh
seperti jiwa anak perempuan, bahkan bisa saja kemudian hari
memperlakukan dirinya seperti perempuan atau waria," jelas Elzim. 

Tidak hanya ajaran gay. Cara bicara tokoh Teletubbies yang cedal pun
banyak diprotes kalangan ibu-ibu di Inggris. Misalnya pelafalan kata
'Halo' menjadi 'Ee-o'. Menurut Elzim Khosyiyati, bahasa cadel semacam
itu tidak baik bagi proses pembelajaran kemampuan verbal anak. "Kita
seharusnya mengajarkan pesan verbal secara tegas dan jelas kepada anak,"
ujarnya. 

Meski penuh kontroversi, Teletubbies terus melaju tinggi. Ia telah
mendatangkan keuntungan 80-an juta poundsterling bagi Ragdoll
Productions dan BBC Worldwide, produsernya. Kini 45 negara di dunia
menyiarkan serial anak-anak yang ternyata mengusung misi kaum Nabi Luth
ini, dan menjadi terpopuler di dunia. 

Bagi negeri yang peduli terhadap anak-anak, Teletubbies dilarang. Di
Singapura, serial Tinky-Winky dan kawan-kawan ini tidak ditayangkan
karena dianggapberpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa anak.
Bagaimana di Indonesia yang mayoritas beragama Islam? (akbar, pambudi)


Hosted by www.Geocities.ws

1