|
“TETES DARAHKU AKAN MENERIAKKAN KASIH ITU”
Suatu kali ada seorang penjahat yang
menodongkan pisaunya kepada seorang wanita, sesungguhnya wanita itu adalah
seorang penginjil. Penjahat itu meminta dengan paksa tas yang dibawa oleh
penginjil itu, namun ternyata didalam tas itu hanya berisi Alkitab, penjahat
itu menjadi gusar dan membentak-bentak wanita tersebut.
Walaupun penginjil itu
dicekam ketakutan, namun ia teringat pahwa penjahat itu pun dikasihi oleh
Yesus, maka ia berkata “Aku tidak punya uang, tapi aku mau memberitahukan
kepada kamu, bahwa ada satu orang yang sangat mengasihi kamu dan sangat
menyayangi kamu, namaNya dalah Yesus Kristus maukah kau mengenalNya? Merasa
dipermainkan oleh wanita itu penjahat itu menghunus pisaunya dan mengancam
wanita itu untuk segera tutup mulut. Tetapi penginjil it uterus berkata “Aku
harus berkata bahwa Kristus sangat mengasihi kamu, sadarlah!”
Penjahat itu semakin
berang, “Diam atau aku akan mencincangmu!” Penginjil wanita itu tercekik,
dia terdiam tiba-tiba ada air mata menetes dimatanya, tersedu-sedu ia
berbisik “Saudaraku, Kristus sangat mengasihimu, sadarlah! Pisaumu akan
menutup mulutmu tetapi tiap tetes darahku akan meneriakkan kaqsih itu”
Penjahat itu menjadi berang dan sangat benci dengan wanita itu, kemudian ia
menghujamkan pisaunya berkali-kali ketubuh wanita itu. Sesekali terdengar
seruan “Kristus sangat mengasihimu!Dia mengasihimu” Sampai akhirnya suara
itu melemah dan lenyap.
Beberapa minggu setelah
kejadian tersebut seorang pria bersaksi di Greja “Saya benci mendengar
perkataannya. Saya muak mendengar suaranya dan matanya yang menatap tajam,
saya puas saat dia mati. Tetapi perkataan itu masih terngiang-ngiang
ditelinga saya.”Sadarlah Kristus sangat mengasihimu, sadarlah Kristus sangat
mengasihimu.” Sungguh saya tidak bermaksud membunuh dia. Saya tidak dapat
melupakan ingatan itu. Saya tidak tahan, saya ingin melarikan diri, saya
ingin bebas, saya ingin diampuni, TOLONG SAYA! Ruang Gereja menjadi sunyi
sepi. Jemaat yang mendengarkan hal itu ikut meneteskan air mata.
Akhirnya penjahat itu
menerima Kristus. Dia selamat, walaupun kemudian polisi menangkapnya dan
memasukkannya ke penjara, tetapi jiwanya telah lepas dari penjara dosa.
Kiriman : Budi Prayetno Rante, Makassar |