Hendaklah Kamu Membaca Al Quran
Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada
manusia melalui Nabi Muhammad s.a.w., sebagai salah satu rahmat yang tidak ada
taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul Wahyu Ilahi yang menjadi
petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta
mengamalkannya. Bukan itu saja, Al Quran itu adalah Kitab Suci yang penghabisan
diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat
di dalamKitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang
yang mempercayai Al Quran, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk
membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta untuk mengamalkan dan
mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.
Setiap Mukmin wajib yakin, bahwa membaca Al Quran saja
sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat
ganda. Sebab, yang dibacanya itu adalah Kitab Suci Ilahi. Al Quran adalah
bacaan yang paling baik bagi seorang Mukmin. Baik dikala senang maupun susah;
di kala gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran itu bukan saja menjadi
amal dan ibadah, tetapi juga menjadi ubat dan penawar bagi orang yang gelisah
jiwanya.
Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullah
saw yang bernama Ibnu Mas'ud r.a. meminta nasehat, katanya: " Wahai Ibnu
Mas'ud, berilah nasehat yang dapat kujadikan ubat bagi jiwaku yang sedang
gelisah. Dalam beberapa hari ini, aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan
fikiranku kusut; makan tak enak, tidur tak nyenyak."
Maka Ibnu Mas'ud menasehatinya, katanya:" Kalau
penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu
ketempat orang membaca Al Quran, engkau baca Al Quran atau engkau dengar
baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke pengajian yang
mengingatkan hati kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi,
di sana engkau berkhalwat menyembah Allah, umpama di waktu tengah malam buta,
di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan syalat malam,
meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketenteraman fikiran dan
kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terubat dengan cara ini, engkau
minta kepada Allah, agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu,
bukan lagi hatimu."
Setelah orang itu kembali kerumahnya, diamalkannyalah
nasihat Ibnu Mas'ud r.a. itu. Dia pergi mengambil wuduk kemudian diambilnya Al
Quran, terus dia baca dengan hati yang khusyuk. Selesai membaca Al Quran,
berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tenteram, fikirannya
tenang, kegelisahannya hilang sama sekali.
Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al Quran,
Rasulullah telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim, yang maksdunya demikian:" Ada dua golongan manusia yang
sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah
Kitab Suci Al Quran ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi
Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala
sesuatu yang diridhai Allah."
Di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim pula, Rasulullah saw menyatakan tentang kelebihan martabat dan
keutamaan orang membaca Al Quran, demikian maksudnya:" Perumpamaan orang
Mukmin yang membaca Al Quran, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan
rasanya lazat; orang Mukmin yang tak suka membaca Al Quran, adalah seperti buah
kurma, baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya; orang munafiq yang
membaca Al Quran ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan
orang munafiq yang tidak membaca Al Quran, tak ubahnya seperti buah hanzalah,
tidak berbau dan rasanya pahit sekali."
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw juga menerangkan
bagaimana besarnya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca Al Quran di
rumah-rumah peribadatan (masjid, surau, mushalla dan lain-lain). Hal ini
dikuatkan oleh sebuah hadits yang masyur lagi sahih yang berbunyi sebagai
berikut:" Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah peribadatan, membaca
Al Quran secara bergiliran dan ajar megajarkannya terhadap sesamanya, akan
turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan berlimpah kepadanya rahmat
dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka"
(diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah).
Dengan hadis di atas nyatalah, bahwa membaca Al Quran, baik
mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal soleh dan
memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam
hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada
keluarga rumah tangga tempat Al Quran itu dibaca. Di dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a. Rasulullah saw bersabda :
"Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan
dengan membaca Al Quran."
Di dalam hadis yang lain lagi, Rasulullah saw menyatakan
tentang memberi cahaya rumah tangga dengan membaca Al Quran itu. Dalam hadis
yang diriwayatkan oleh Daru Quthi dari Anas r.a. Rasulullah saw memerintahkan :
"Perbanyaklah membaca Al Quran di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah
yang tak ada orang membaca Al Quran, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di
rumah itu, dan akan banyak kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit
dan susah."
Mengenai pahala membaca Al Quran, Ali bin Abi Thalib
mengatakan bahwa, tiap-tiap orang yang membaca Al Quran dalam sembahyang, akan
mendapat pahala lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya;
membaca Al Quran di luar sembahyang dengan berwuduk, pahalanya dua puluh lima
kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya; dan membaca Al Quran di luar
sembahyang dengan tidak berwuduk, pahalanya sepuluh kali kebajikan bagi
tiap-tiap huruf yang diucapkannya.
Mendengarkan Bacaan Al Quran
Di dalam ajaran Islam, bukan membaca Al Quran saja yang
menjadi ibadah dan amal yang mendapat pahala dan rahmat, tetapi mendengarkan Al
Quran pun begitu pula. Malahan sebagian ulama mengatakan, bahwa mendengarkan
orang membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya.
Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran dengan
jelas dalam surat Al A'raaf (7) ayat 204 disebutkan sebagai berikut:
"Dan apabila dibacakan Al Quran, maka
dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat".
Mendengarkan
bacaan Al Quran dengan baik, dapat menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa
yang gelisah dan melunakkan hati yang keras, serta mendatangkan petunjuk.
Itulah yang dimaksudkan dengan Rahmat Allah, yang diberikan kepada orang yang
mendengarkan bacaan Al Quran dengan baik. Demikian besar mukjizat Al Quran
sebagai Wahyu Ilahi, yang tak bosan-bosan orang membaca dan mendengarkannya.
Malahan semakin sering orang membaca dan mendengarkannya, semakin terpikat
hatinya kepada Al Quran itu; bila Al Quran itu dibaca dengan lidah yang fasih,
dengan suara yang baik dan merdu akan memberikan pengaruh kepada jiwa orang
yang mendengarkannya, sehingga seolah-olah yang mendengarnya sudah ada di alam
ghaib, bertemu langsung dengan Khaliknya. Bagaimana keadaan orang Mukmin tatkala
mendengarkan bacaan Al Quran itu, digambarkan oleh firman Allah sebagai
berikut:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu,
hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka
karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Al Anfaal QS:8:2)
Diriwayatkan
bahwa suatu malam, Nabi Muhammad s.a.w. mendengarkan Abu Musa Al Asy'ari
membaca Al Quran sampai jauh malam. Sepulang beliau di rumah, beliau ditanya oleh
isteri beliau Aisyah r.a., apa sebabnya pulang sampai jauh malam. Rasulullah
menjawab, bahwa beliau terpikat oleh kemerduan suara Abu Musa Al Asy'ari
membaca Al Quran, seperti merdunya suara Nabi Daud a.s.
Di
dalam riwayat, banyak sekali diceritakan, betapa pengaruh bacaan Al Quran pada
masa Rasulullah saw terhadap hati orang-orang kafir yang setelah mendengarkan
bacaan Al Quran itu, tidak sedikit hati yang pada mulanya keras dan marah
kepada Muhammad s.a.w. serta pengikut-pengikutnya, berbalik menjadi lunak dan
mau mengikuti ajaran Islam.
Rasulullah
sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al Quran dari orang lain. Dalam sebuah
hadits, yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan, bahwa Abdullah Ibnu Mas'ud
menceritakan sebagai berikut : Rasulullah saw berkata kepadaku: "Hai Ibnu
Mas'ud, bacakanlah Al Quran untukku!". Lalu aku menjawab: "Apakah aku
pula yang membacakan Al Quran untukmu, ya Rasulullah, padahal Al Quran itu
diturunkan Tuhan kepadamu?". Rasulullah menjawab : "Aku senang
mendengarkan bacaan Al Quran itu dari orang lain."
Kemudian
Ibnu Mas'ud membacakan beberapa ayat dari surat An Nisaa'. Maka tatkala bacaan
Ibnu Mas'ud itu sampai kepada ayat ke-41 yang berbunyi:
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir
nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul dan nabi) dari tiap-tiap
umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu
(umatmu)."
ayat
itu sangat mengharukan hati Rasulullah saw, lalu beliau berkata: "Cukuplah
sekian saja, ya Ibnu Mas'ud!". Ibnu Mas'ud melihat Rasulullah saw
meneteskan air matanya serta menundukkan kepalanya.
Membaca Al Quran Sampai Khatam
Bagi
seorang Mukmin, membaca Al Quran telah menjadi kecintaannya. Pada waktu membaca
Al Quran, ia sudah merasa seolah-olah jiwanya menghadap ke hadirat Allah Yang
Maha Kuasa; menerima amanat dan hikmat suci, memohon limpah karunia serta
rahmat dan pertolongan-Nya. membaca Al Quran telah menjadi kebiasaannya yang
tertentu, baik siang ataupun malam. Dibacanya sehalaman demi sehalaman, sesurat
demi sesurat, dan se juz demi se juz, akhirnya samapi khatam (tamat). Tidak ada
suatu kebahagiaan di dalam hati seseorang Mukmin melainkan bila dia dapat
membaca Al Quran sampai khatam. Bila sudah khatam, itulah puncak dari segala
kebahagiaan hatinya.
Di
dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali mencatat beberapa hadits dan
riwayat mengenai pembacaan Al Qur'an sampai khatam. Digambarkannya bagaimana
para sahabat, dengan keimanan dan keikhlasan hati, berlomba-lomba membaca Al
Quran sampai khatam, ada yang khatam dalam sehari semalam saja, bahkan ada yang
khatam dua kali dalam sehari semalam dan seterusnya. Di dalam sebuah hadits
yang shahih, Rasulullah saw menyuruh Abdullah bin Umar, supaya mengkhatamkan Al
Quran sekali dalam seminggu. Begitulah para sahabat seperti Uthman, Zaid bin
Tsabit, Ibnu Mas'ud dan Ubaiyy bin Ka'ab, telah menjadi wiridnya untuk
mengkhatamkan Al Quran pada tiap-tiap hari Jumaat.
Adapun
mereka yang mengkhatam Al Quran sekali seminggu, Al Quran itu dibagi tujuh,
menurut pembagian yang sudah mereka atur. Uthman bin Affan r.a. pada malam
Jumaat, memulai membacanya dari surat Al Baqarah sampai surat Al Maa-idah,
malam Sabtu dari surat Al An'aam sampai surat Hud, malam Ahad dari surat Yusuf
sampai surat Maryam, malam Senin dari surat Thaaha sampai surat Thaasim, malam
Selasa dari surat Ankabuut sampai surat Shaad, malam Rabu dari surat Tanzil
sampai surat Al Rahmaan, dan mengkhatamkan pada malam Kamis. Tetapi Ibnu Mas'ud
lain lagi membaginya, yaitu: hari pertama 3 surat, hari kedua 5 surat, hari
ketiga 7 surat, hari keempat 9 surat, hari kelima 11 surat, hari keenam 13
surat dan hari ketujuh adalah surat yang selebihnya sampai tamat.
Di
samping itu, ada juga di antara para sahabat yang membaca Al Quran sampai
khatam dalam sebulan, untuk memperdalam penyelidikannya mengenai maksud yang
terkandung didalamnya.
Adab Membaca Al Quran
Al
Qura'an sebagai Kitab Suci, Wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi
orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik,
untuk penghormatan dan keagungan Al Quran; tiap-tiap orang harus berpedoman
kepadanya dan mengerjakannya.
Imam
Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah memperinci dengan
sejelas-jelasnya bagaimana hendaknya adab-adab membaca Al Qur'an menjadi adab
yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab yang mengenal batin
itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan
kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ke tingkat memperluas,
memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian, kandungan Al Quran
yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke
dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini adalah adab yang berhubungan dengan
batin, yaitu dengan hati dan jiwa. Sebagai contoh, Imam Al Gazhali menjelaskan,
bagaimana cara hati membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al Qur'an
ketika ia memulainya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dalam hatinya,
betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat itu. Dia harus yakin
dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah
kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam
membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu sendiri.
Sebagaimana yang diriwayatkan, 'Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar hatinya bila
melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran berserak-serak seolah-olah
tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi selembar, sambil
berkata:"Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam Tuhanku, membesarkan
kalam Allah berarti membesarkan Allah."
Adapun
mengenai adab lahir dalam membaca Al Quran, selain didapati di dalam kitab Ihya
Ulumuddin, juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab lainnya. Misalnya dalam
kitab Al Itqan oleh Al Imam Jalaludin As Suyuthu, tantang adab membaca Al Quran
itu diperincinya sampai menjadi beberapa bagian.
Diantara
adab-adab membaca Al Quran, yang terpenting ialah:
1.
Disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang
dibaca adalah wahyu Allah.
2.
Mengambil Al Quran hendaknya dengan tangan kanan; sebaiknya memegangnya dengan
kedua belah tangan.
3.
Disunatkan membaca Al Quran di tempat yang bersih, seperti di rumah, di surau,
di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling
utama ialah di mesjid.
4.
Disunatkan membaca Al Quran menghadap ke Qiblat, membacanya dengan khusyu' dan
tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.
5.
Ketika membaca Al Quran, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan,
sebaiknya sebelum membaca Al Quran mulut dan gigi dibersihkan terlebih dahulu.
6.
Sebelum membaca Al Quran disunatkan membaca ta'awwudz, yang berbunyi:
a'udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca
Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah,
supaya terjauh pengaruh tipu daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap
tenang di waktu membaca Al quran, dijauhi dari gangguan. Biasa juga orang yang
sebelum atau sesudah membaca ta'awwudz itu, berdoa dengan maksud memohon kepada
Alah supaya hatinya menjadi terang. Doa itu berbunyi sebagai berikut.
"Ya
Allah bukakanlah kiranya kepada kami hikmat-Mu, dan taburkanlah kepada kami
rahmat dan khazanah-Mu, ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
7.
Disunatkan membaca Al Quran dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan
dan tenang, sesuai dengan firman Allah dalam surat (73) Al Muzammil ayat 4:
"....Dan bacalah Al Quran itu dengan
tartil".
Membaca
dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa, serta serta
lebihmendatangkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al Quran.
Telah
berkata Ibnu Abbas r.a.:" Aku lebih suka membaca surat Al Baqarah dan Ali
Imran dengan tartil, daripada kubaca seluruh Al Quran dengan cara terburu-buru
dan cepat-cepat."
8.
Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran, disunatkan
membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang
dibacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan seperti inilah yang dikehendaki,
yaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut memperhatikan dan memikirkan
arti dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya. Dengan
demikian, ia akan sampai kepada hakikat yang sebenarnya, yaitu membaca Al Quran
serta mendalami isi yang terkandung di dalamnya.Hal itu akan mendorongnya untuk
mengamalkan isi Al Quran itu. Firman Allah dalam surat (4) An Nisaa ayat 82
berbunyi sebagai berikut:
"Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al
Quran?..."
Bila
membaca Al Quran yang selalu disertai perhatian dan pemikiran arti dan
maksudnya, maka dapat ditentukan ketentuan-ketentuan terhadap ayat-ayat yang
dibacanya. Umpamanya: Bila bacaan sampai kepada ayat tasbih, maka dibacanya
tasbih dan tahmid; Bila sampai pada ayat Doa dan Istighfar, lalu berdoa dan
minta ampun; bila sampai pada ayat azab, lalau meminta perlindungan kepada
Allah; bila sampai kepada ayat rahmat, llau meminta dan memohon rahmat dan
begitu seterusnya. Caranya, boleh diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati
saja. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Ibnu Abbas yang maksudnya
sebagai berikut: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila membaca:
"sabbihissma rabbikal a'la beliau lalu membaca subhanarobbiyal a'la .
Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dan Wa-il binHijr yang maksudnya sebagai
berikut:" Aku dengan Rasulullah membaca surat Al Fatihah , maka Rasulullah
sesudah membaca walad dholliin lalu membaca aamin . Demikian juga disunatkan
sujud, bila membaca ayat-ayat sajadah, dan sujud itu dinamakan sujud tilawah.
Ayat-ayat
sajadah itu terdapat pada 15 tempat yaitu:
1.
alam
surat Al-A'raaf ayat 206
2.
dalam
surat Ar-ra'd ayat 15
3.
dalam
surat An-Nahl ayat 50
4.
dalam
surat Bani Israil ayat 109
5.
dalam
surat Maryam ayat 58
6.
dalam
surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77
7.
dalam
surat Al Furqaan ayat 60
8.
dalam
surat Annaml ayat 26
9.
dalam
surat As-Sajdah ayat 15
10.
dalam
surat As-Shad ayat 24
11.
dalam
surat Haamim ayat 38
12.
dalam
surat An-Najm ayat 62
13.
dalam
surat Al-Insyiqaq ayat 21, dan
14.
dalam
surat Al-'Alaq ayat 19
9.
Dalam membaca Al Quran itu, hendaknya benar-benar diresapkan arti dan
maksudnya, lebih-lebih apabila smapai pada ayat-ayat yang menggambarkan nasib
orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan yang disediakan bagi
mereka. Sehubungan dengan itu, menurut riwayat, para sahabat banyak yang
mencucurkan air matanya di kala membaca dan mendengar ayat-ayat suci Al Quran
yang menggambarkan betapa nasib yang akan diderita oleh orang-orang yang
berdosa.
10.
Disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab suara
yang bagus dan merdu itu menambah keindahan islubnya Al Quran. Rasulullah s.a.w.
telah bersabda:
"Kamu
hiasilah Al Quran itu dengan suaramu yang merdu"
Diriwayatkan,
bahwa pada suatu malam Rasulullah s.a.w. menunggu-nunggu istrinya, Sitti
'Aisyah r.a. yang kebetulan agak terlambat datangnya. Setelah ia datang,
Rasulullah bertanya kepadanya:" Bagaimanakah keadaanmu?" Aisyah
menjawab :"Aku terlambat datang, karena mendengarkan bacaan Al Quran
seseorang yang sangat bagus lagimerdu suaranya. Belum pernah akumendengarkan
suara sebagus itu." Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi mendengarkan
bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. rasulullah kembali dan mengatakan
kepada Aisyah:" Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi Huzaifah.
Puji-pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya merdu seperti
Salim itu sebagai ummatku."
Oleh
sebab itu, melagukan Al Quran dengan suara yang bagus, adalah disunatkan,
asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara membaca sebagaimana
yang telah ditetapkan dalam ilmu qiraat dan tajwid, seperti menjaga madnya,
harakatnya (barisnya) idghamnya dan lain-lainnya. Di dalam kitab zawaidur
raudhah, diterangkan bahwa melagukan Al Quran dengan cara bermain-main serta
melanggar ketentuan-ketentuan seperti tersebut di atas itu, haramlah hukumnya;
orang yang membacanya dianggap fasiq, juga orang yang mendengarkannya turut
berdosa.
11.
Sedapat-dapatnya membaca Al Quran janganlah diputuskan hanya karena hendak
berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas
yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa,
bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang membaca Al Quran.
Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan sewaktu membaca Kitab
Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya.
Itulah
diantara adab-adab yang terpenting yang harus dijaga dan diperhatikan, sehingga
dengan demikian kesucian Al Quran dapat terpelihara menurut arti yang
sebenarnya.
Wassalam