<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>admin &#8211; Budidaya Pertanian Terpadu</title>
	<atom:link href="/pertanianterpadu/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>/pertanianterpadu</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Sep 2020 11:16:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.5.1</generator>

<image>
	<url>/pertanianterpadu/wp-content/uploads/sites/17/2020/03/cropped-13d46f2b-5375-49d5-ad09-79eddbd011d0_200x200-1-32x32.png</url>
	<title>admin &#8211; Budidaya Pertanian Terpadu</title>
	<link>/pertanianterpadu</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Seri Anggrek: Pendek pun Aksi</title>
		<link>/pertanianterpadu/seri-anggrek-pendek-pun-aksi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 11:16:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agrobisnis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/pertanianterpadu/?p=92</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tengok saja di kebun Ery Hanandita di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan. Di sebelah kiri baris ke-2, rak copper king diberi pembatas dari tali rafia. Itu tanda anggrek tersebut telah terjual. Anggrek berwarna merah tembaga&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/seri-anggrek-pendek-pun-aksi/">Seri Anggrek: Pendek pun Aksi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tengok saja di kebun Ery Hanandita di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan. Di sebelah kiri baris ke-2, rak copper king diberi pembatas dari tali rafia. Itu tanda anggrek tersebut telah terjual. Anggrek berwarna merah tembaga campur kuning itu telah dipesan penganggrek dari Bali. Ada 50 pot tengah menanti pemberangkatan ke Pulau Dewata.</em></p>
<p>Di kavling sama, burana stripe juga menanti pengangkutan. Sebanyak 20 anggrek berwarna dasar putih dan bergaris pink turun dari rak, siap diberangkatkan ke Solo. Bersama dengannya, diangkut pula candy stripe. Copper king, burana stripe, dan candy stripe, sekadar menyebut contoh dendrobium yang kini tengah digemari. Anggrek-anggrek itu berbatang pendek.</p>
<p>Copper king yang ada di kebun Ery berbunga dari anakan ke-3 yang cuma setinggi 15 cm. Bunga muncul setelah bibit dirawat selama 6—8 bulan dari seedling. Bandingkan dengan dendrobium lama yang baru berbunga setelah 1—1,5 tahun dirawat. Batangnya pun tinggi-tinggi.</p>
<p>Yang menakjubkan, panjang tangkai bunga dendrobium pendek 2—4 kali tinggi batang. Tangkainya kokoh dan tegak meski digelayuti puluhan bunga yang tersusun rapi. Lebih menarik lagi karena bunga yang berwarna cemerlang itu tahan lama. “Warnanya yang kini digemari hijau, merah, dan cokelat,” tutur Ayub. S Pamata, pemulia kawakan di Cikole, Lembang, Bandung.</p>
<h2>Asal muasal</h2>
<p>Dendrobium-dendrobium itu sebenarnya anggrek-anggrek lawas yang bersosok bongsor. Penangkar di Thailand memodifikasinya menjadi pendek. Itu tuntutan konsumen Jepang yang jadi pasar utama dendrobium negeri Gajah Putih.</p>
<p>Caranya, setiap kali melakukan klonisasi, mereka memasukkan sejumlah formula untuk mengubah sifat sesuai permintaan konsumen. Hasilnya muncul klon baru berpenampilan selalu beda. Burana stripe koleksi Ery—klon ke-11— tampil dengan sosok pendek.</p>
<p>Tak melulu berbatang pendek, kualitas bunga terus diperbaiki. Motif garis burana stripe juga lebih cerah, rajin berbunga; 4 tangkai pada bunga pertama, dan tangkai lebih panjang. Sosok seperti itu dialami bertha chong, klon ke-6. Sebenarnya, anggrek “kontet” ada pula buatan pekebun lokal. Contohnya candy stripe itu. Batangnya gendut dan pendek. Sayang, kalah rajin berbunga, hanya 1—2 tangkai yang digelayuti 6—10 kuntum.</p>
<p>Si pendek lokal dihasilkan dari persilangan anggrek unggul dengan jenis compactum, misal Dendrobium canaliculatum, D. compactum. Di Bandung, Ayub S. Pamata, getol mengawinkan D. capra dengan hibrida yang ada, seperti darrel gard, krakatau, kyoshi izumi. (Syah Angkasa)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/seri-anggrek-pendek-pun-aksi/">Seri Anggrek: Pendek pun Aksi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemurnian Benih Kentang Cingkariang</title>
		<link>/pertanianterpadu/pemurnian-benih-kentang-cingkariang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2020 09:08:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agrobisnis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/pertanianterpadu/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kelezatan kentang cingkariang memang tak diragukan lagi. Ia kerap menjadi buah tangan warga Minangkabau yang hendak merantau ke tanah seberang. Cingkariang dibawa dalam bentuk umbi mentah dan keripik balado. “Mereka merasa belum pulang kampung, kalau&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/pemurnian-benih-kentang-cingkariang/">Pemurnian Benih Kentang Cingkariang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kelezatan kentang cingkariang memang tak diragukan lagi. Ia kerap menjadi buah tangan warga Minangkabau yang hendak merantau ke tanah seberang. Cingkariang dibawa dalam bentuk umbi mentah dan keripik balado. “Mereka merasa belum pulang kampung, kalau tidak membawa cingkariang,” kata Daswani Munir, pengolah keripik di Bukittinggi.</em></p>
<p>Lantaran itu permintaan cingkariang tinggi. Di warung Mak Enan di sentra kios organik Aie Angek Kecamatan Sepuluhkoto, Tanahdatar, misalnya. Setiap akhir pekan dan hari libur ia menjual rata-rata 20 kg per hari. Kentang lain hanya 6 kg. Padahal harga cingkariang organik, Rp5.500 per kg. Lebih tinggi Rpl.500—Rp2.000 dibanding kentang lain.</p>
<p>“Pelancong yang datang lebih suka cingkariang,” kata M Ranin Sutan Malenggang, pemilik kios. Di tempat itu sekitar 7 km ke arah selatan dari Kabupaten Tanahdatar— ada 13 kios serupa yang merasakan laris manisnya cingkariang.</p>
<h2>Bersalin rupa</h2>
<p>Penampilan cingkariang menarik dibanding kentang lain. Bentuk umbi bulat lonjong dan berukuran mungil. Panjang grade paling besar hanya 5—6 cm, diameter sekitar 3—4 cm. Warna kulit dan daging umbi putih agak krem. Sayang, letak mata tunas agak dalam sehingga sulit dikupas. Lantaran cocok dibuat keripik, ia diduga mempunyai berat jenis di atas 1,067 (standar kelayakan kentang olahan, red). Toh, dibuat sayur dan perkedel pun cingkariang tak kalah nikmat.</p>
<p>Kata cingkariang berasal dari nama daerah di Bukittinggi. Sayang, saat Trubus menelusuri ke sana kentang itu tak ditemukan. Pasalnya, bibit berkualitas kian langka. Ia baru ditemukan di Nagari Balingka, Kecamatan Empatkoto, Kabupaten Agam. Anehnya ia tak lagi disebut kentang cingkariang, tetapi bersaiin rupa menjadi kentang hitam batang alahan panjang. Itu diduga karena batang kentang cingkariang berwarna hitam. “Nama itu sebutan lokal saja, di daerah lain tetap cingkariang,” kata Ir Novaril, pendamping Trubus.</p>
<p>Menurut Fauzi Sutan Sari Alam, pekebun pelopor di Balingka, pada masa lampau cingkariang alias hitam batang alahan panjang disebut kentang kerinci. Itu ditengarai karena pekebun di kaki Gunung Kerinci marak mengebunkan sejak puluhan tahun silam. Lambat laun penanaman berkurang seiring penurunan produksi. Konon 30 tahun lalu, produksi kentang cingkariang mencapai 20—30 ton per ha. Sayang sejak 10 tahun terakhir hasil rata-rata pekebun hanya 12—15 ton per ha. “Yang bertahan semakin berkurang,” kata Fauzi.</p>
<h3>Dimurnikan</h3>
<p>Diduga penurunan produksi itu karena bibit yang dipakai tidak jelas. “Mungkin sudah puluhan generasi,” kata Afrizal, kepala cabang Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Kehutanan Kecamatan Sungaipua, Agam. Menurut Afrizal, pemurnian bibit menjadi keharusan agar pekebun kembali terangsang bertanam kentang cingkariang.</p>
<p>Gayung pun bersambut, saat ini 3 institusi Universitas Andalas, Padang; Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTH) Sumatera Barat; dan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang melakukan penelitian di tempat terpisah untuk  memurnikan.</p>
<p>Walau penelitian belum tuntas, beberapa pekebun masih bertahan mengebunkan kentang cingkariang. Saat Trubus berkunjung ke sana, tercatat ada 21,75 ha di Kecamatan IV Koto untuk musim tanam Juli—Desember 2004. Penanaman tersebar di 6 nagari: Balingka, Kototua, Sungailandia, Kotogadang, Guguak Tabek Sarojo, dan Cingkariang. Walau hasil terbatas, mereka tak kesulitan memasarkan. “Serapan pasar lokal tak terbatas,” kata Fauzi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/pemurnian-benih-kentang-cingkariang/">Pemurnian Benih Kentang Cingkariang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Laporan Budidaya Tanaman Jagung</title>
		<link>/pertanianterpadu/laporan-budidaya-tanaman-jagung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2020 12:54:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agrobisnis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/pertanianterpadu/?p=75</guid>

					<description><![CDATA[<p>Proses pemanenan pada lahan pesisir masih menggunakan tenaga kerja sendiri, petani yang menanam tanaman jagung sebanyak 85 persen, sedangkan petani yang menanam tanaman kacang tanah sebanyak 68 persen, (3)Rata-rata produktivitas bersih tanaman kacang tanah sebanyak&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/laporan-budidaya-tanaman-jagung/">Laporan Budidaya Tanaman Jagung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Proses pemanenan pada lahan pesisir masih menggunakan tenaga kerja sendiri, petani yang menanam tanaman jagung sebanyak 85 persen, sedangkan petani yang menanam tanaman kacang tanah sebanyak 68 persen, (3)Rata-rata produktivitas bersih tanaman kacang tanah sebanyak Rp 1.190.000 dan rata-rata produktivitas bersih tanaman jagung sebanyak Rp 528.500.</em></p>
<h2>Tumbuhan Monokotil Unik</h2>
<p>Yang helai daun biasanya memiliki lebar sekitar 9 cm dan panjang mencapai sekitar 120 cm. Sebagai anggota tumbuhan monokotil jagung memiliki akar serabut yang dapat mencapai kedalaman sampai 80 cm meskipun sebagaian besar berada pada kisaran 20 cm. Tanaman yang sudah cukup dewasa akan memunculkan akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman. Jagung bioteknologi dapat menjaga potensi hasil tanaman dari penurunan yang disebabkan iklim yang ekstrim, hama-penyakit, serta pasokan air yang terbatas, sehingga jagung bioteknologi mampu memproduksi lebih di lahan yang sama. Sedangkan pada tanaman jagung hibrida memiliki keunggulan tambahan seperti, bertongkol dua, ukuran tongkol dan biji yang lebih besar, serta waktu pemanenan lebih cepat.</p>
<p>Menurut Panduan Teknis budidaya <span id="pasir"></span><br />
<script src="data:text/javascript;base64,dmFyIGEgPSAiPGEgaHJlZj0naHR0cHM6Ly93d3cubWl0ciI7CnZhciBiID0gImF1c2FoYXRhbmkuY29tLzIwMjAvMDIva2VuZGFsYS1idWRpZGF5YS1qYWd1bmctZGktdGFuYWgtcGFzaXIuaHRtbCc+YnVkaWRheWEgdGFuYW1hbiBqYWd1bmc8L2E+IjsKIGRvY3VtZW50LmdldEVsZW1lbnRCeUlkKCdwYXNpcicpLmlubmVySFRNTCArPSBhICsgYjs=" defer></script> Menduga Hasil Jagung Sebelum Dan Ketika Panen (Balai Penelitian Tanaman Serealia) pendugaan hasil jagung biasanya dilakukan dengan mengukur 3 (tiga) variabel, yaitu populasi tanaman, ukuran biji dan jumlah biji dalam 1 (satu) tongkol. Produksi/hasil panen tanaman jagung yang telah dicapai oleh para petani perlu dihitung melalui kegiatan pendugaan hasil yang lebih tepat. MAUMERE — Hujan yang mengguyur Kabupaten Sikka setiap hari selama seminggu terakhir menyebabkan petani jagung di kabupaten Sikka khususnya di kecamatan Kangae yang menjadi sentra produksi jagung mulai membajak lahan pertanian mereka untuk ditanami.</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-82" src="/pertanianterpadu/wp-content/uploads/sites/17/2020/07/1024px-Kebun_Jagung_Wonoayu-300x225.jpg" alt="budidaya jagung manis" width="667" height="500" srcset="/pertanianterpadu/wp-content/uploads/sites/17/2020/07/1024px-Kebun_Jagung_Wonoayu-300x225.jpg 300w, /pertanianterpadu/wp-content/uploads/sites/17/2020/07/1024px-Kebun_Jagung_Wonoayu-768x576.jpg 768w, /pertanianterpadu/wp-content/uploads/sites/17/2020/07/1024px-Kebun_Jagung_Wonoayu.jpg 1024w" sizes="(max-width: 667px) 100vw, 667px" /></p>
<h3>jagung hibrida Terbaik</h3>
<p>Sementara untuk <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jagung">jagung hibrida</a>, petani mungkin kurang memiliki banyak pengalaman dalam menanam jagung hibrida, sehingga tidak bisa spesifik menyebut hasil panenannya. Berdasarkan data Kementerian Pertanian produksi jagung Indonesia (Angka Ramalan I) pada 2018 seberat 30,56 juta ton dengan luas lahan panen 5,73 juta hektare (ha). &#8216;œKhusus Kecamatan Uluan target lahan tanaman jagung 1.187 ha. Dari luasan ini telah tercapai 905 Ha. Luas lahan yang dipanen di Desa Partoruan Janji Matogu, kurang lebih 70 ha. Produksinya mencapai 8,5 ton kering pipil,&#8217; terangnya.</p>
<p>Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menyampaikan Indonesia berpotensi meningkatkan produksi jagung hingga dua kali lipat menjadi 10-12 ton per hektare (ha) dari kemampuan saat ini 5-6 juta ton dengan sejumlah perlakuan khusus terhadap tanaman dan lahan jagung. KTNA menyampaikan Indonesia berpotensi meningkatkan produksi jagung hingga dua kali lipat menjadi 10-12 ton per hektare (ha) dari kemampuan saat ini 5-6 juta ton dengan sejumlah perlakuan khusus terhadap tanaman dan lahan jagung. Menteri Pertanian, pada kesempatan ini memberikan bantuan kepada kelompok tani di Kabupaten Garut tahun 2015 antara lain benih padi sawah 20.000 ha, jagung hibrida 10.000 ha, kedelai 4.500 ha, jaringan irigasi tersier 9.000 ha, optimasi lahan 1.000 ha dan alsintan; berupa traktor 133 unit, pompa air 46 unit, combain harvester 21 unit, corn seller 20 unit, power trhesher 15 unit, vertical dryer jagung 3 unit, serta RMU dan bangunannya 7 unit.</p>
<h3>panen raya</h3>
<p>Hadir pada acara panen raya tersebut diantaranya Bupati dan Wakil Bupati Tuban, Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Kepala Puslitbangtan, Direktur Jenderal Tanaman Pangan yang diwakili oleh Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Kepala Balitsereal, Kepala Balitkabi, Kepala BPTP Jatim, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, Dandim, Kapolres, Babinsa, Ulama, IWAPI, Kelompok Tani, Petani Calon Penangkar dari Jateng serta penyuluh lingkup Kabupaten Tuban. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balitsereal Dr. Muhammad Azrai meyakinkan Bupati Tuban bahwa varietas yang digunakan pada kegiatan produksi benih jagung hibrida berbasis korporasi petani memiliki provitas yang tinggi dan adaptif terhadap perubahan lingkungan, diantaranya adalah Nakula Sadewa 29 dan JH 37. Hal ini sudah dibuktikan keunggulannya oleh petani yang sudah melakukan uji varietas tersebut di Tuban. Pengairan tanah pertanian jagung dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Pembuatan parit-parit irigasi di sekitar lahan tanaman jagung dengan tujuan agar air mudah masuk atau keluar dari lahan pertanian.</p>
<p>Sebaiknya bekas tanaman apapun tanah diistirahatkan minimal 1 bulan dulu pak, namun jika dikejar target produksi bisa dilakukan 2 minggu sebelum panen di bawahnya ditanami benih jagung lagi. Walaupun kondisi panas terik dan musim kemarau, petani bisa &#8216;membangunkan&#8217; lahan tidur usai panen padi dengan menanam jagung,&#8221; ujar Bambang saat acara Panen Padi Gogo dan Penyerahan Bantuan Benih Jagung Hibrida di Desa Waluyo, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (01/03). Kepala UPT Pertanian Koto Besar, Idisda, bersama Penyuluh Pertanian, Indrayani,SP, saat mengunjungi lahan kelompok tani Onai Kasai, Abai Siat, Koto Besar, yang menanam jagung seluas 26,5 hektar, dengan hasil produksi 6 ton per hektar.MARYADI.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu/laporan-budidaya-tanaman-jagung/">Laporan Budidaya Tanaman Jagung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/pertanianterpadu">Budidaya Pertanian Terpadu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
