| |
Nabi
Musa as dan Nabi Harun as
Nabi
Musa A.S. adalah seorang bayi yang dilahirkan dikalangan Bani
Isra'il yang pada ketika itu dikuasai oleh Raja Fir'aun yang
bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi
bin Ya'qub adalah beribukan Yukabad.Setelah meningkat dewasa
Nabi Musa telah beristerikan dengan puteri Nabi Syu'aib yaitu
Shafura.Dalam perjalanan hidup Nabi Musa untuk menegakkan Islam
dalam penyebaran risalah yang telah diutuskan oleh Allah
kepadanya ia telah diketemukan beberapa orang nabi diantaranya
ialah bapa mertuanya Nabi Syu'aib, Nabi Harun dan Nabi Khidhir.
Di sini juga diceritakan tentang perlibatan beberapa orang nabi
yang lain di antaranya Nabi Somu'il serta Nabi Daud
Catatan :~
Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang Syu'aib, mentua
Nabi Musa. Sebahagia besar berpendapat bahwa ia adalah Nabi
Syu'aib A.S. yang diutuskan sebagai rasul kepada kaum Madyan,
sedang yang lain berpendapat bahwa ia adalah orang lain yaitu
yang dianggap adalah satu kebetulan namanya Syu'aib juga.
Wallahu A'lam bisshawab
Kelahiran Musa Dan Pengasuhnya
Raja
Fir'aun yang memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa,
adalah seorang raja yang zalim, kejam dan tidak
berperikemanusiaan. Ia memerintah negaranya dengan kekerasan,
penindasan dan melakukan sesuatu dengan sewenang-wenangnya.
Rakyatnya hidup dalam ketakutan dan rasa tidak aman tentang jiwa
dan harta benda mereka, terutama Bani Isra'il yang menjadi hamba
kekejaman, kezaliman dan bertindak sewenang-wenangnya dari raja
dan orang-orangnya. Mereka merasa tidak tenteram dan selalu
dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah mereka
sendiri. Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan
dengan seorang hamba raja dan berdebar hati mereka karena
ketakutan bila kedengaran suara pegawai-pegawai kerajaan lalu di
sekitar rumah mrk, apalagi bunyi kasut mrk sudah terdengar di
depan pintu.
Raja Fir'aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas itu,
bergelimpangan dalam kenikmatan dan kesenangan duniawi yang
tiada taranya, bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang
harus disembah oleh rakyatnya. Pd suatu hari beliau telah
terkejut oleh ramalan oleh seorang ahli nujum kerajaan yang
dengan tiba-tiba dtg menghadap raja dan memberitahu bahwa
menurut firasatnya falaknya, seorang bayi lelaki akan dilahirkan
dari kalangan Bani Isra'il yang kelak akan menjadi musuh
kerajaan dan bahkan akan membinasakannya.
Raja Fir'aun segera mengeluarkan perintah agar semua bayi lelaki
yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh dan
agar diadakan pengusutan yang teliti sehingga tiada seorang pun
dari bayi lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu.
Maka dilaksanakanlah perintah raja oleh para pengawal dan
tenteranya. Setiap rumah dimasuki dan diselidiki dan setiap
perempuan hamil menjadi perhatian mereka pada saat melahirkan
bayinya.
Raja Fir'aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang
kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota
kerajaannya, bahwa wilayah kerajaannya telah menjadi bersih dan
tidak seorang pun dari bayi laki-laki yang masih hidup. Ia tidak
mengetahui bahwa kehendak Allah tidak dpt dibendung dan bahwa
takdirnya bila sudah difirman "Kun" pasti akan wujud
dan menjadi kenyataan "Fayakun". Tidak sesuatu
kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan bagaimana hebatnya
dapat menghalangi atau mengagalkannya.
Raja Fir'aun sesekali tidak terlintas dalam fikirannya yang
kejam dan zalim itu bahwa kerajaannya yang megah, menurut apa
yang telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan oleh
seorang bayi yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam
istananya sendiri akan diwarisi kelak oleh umat Bani Isra'il
yang dimusuhi, dihina, ditindas dan disekat kebebasannya. Bayi
asuhnya itu ialah laksana bunga mawar yang tumbuh di antara
duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing
dari tengah kegelapan yang mencekam.
Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub sedang duduk
seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti dtgnya seorang
bidan yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi
dari dalam kandungannya itu.
Bidan dtg dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama
sembilan bulan dalam keadaan selamat, segar dan sihat afiat.
Dengan lahirnya bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar
biasa dirasai oleh setiap perempuan yang melahirkan namun
setelah diketahui oleh Yukabad bahwa bayinya adalah lelaki maka
ia merasa takut kembali. Ia merasa sedih dan khuatir bahwa
bayinya yang sgt disayangi itu akan dibunuh oleh orang-orang
Fir'aun. Ia mengharapkan agar bidan itu merahsiakan kelahiran
bayi itu dari sesiapa pun. Bidan yang merasa simpati terhadap
bayi yang lucu dan bagus itu serta merasa betapa sedih hati
seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan
memberi kesanggupan dan berjanji akan merahsiakan kelahiran bayi
itu.
Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak merasa tenang
dan selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap
keselamatan bayinya. Allah memberi ilham kepadanya agar
menyembunyikan bayinya di dalam sebuah peti yang tertutup rapat,
kemudian membiarkan peti yang berisi bayinya itu terapung di
atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih dan cemas ke atas
keselamatan bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan
bayi itu kepadanya bahkan akan mengutuskannya sebagai salah
seorang rasul.
Dengan bertawakkal kepada Allah dan kepercayaan penuh terhadap
jaminan Illahi, mak dilepaskannya peti bayi oleh Yukabad,
setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung
dipermukaan air sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya
untuk mengawasi dan mengikuti peti rahsia itu agar diketahui di
mana ia berlabuh dan ditangan siapa akan jatuh peti yang
mengandungi erti yang sgt besar bagi perjalanan sejarah umat
manusia.
Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika melihat dari jauh
bahwa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang
kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa
dayangnya dan dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan
kepada ibunya, isteri Fir'aun. Yukabad yang segera diberitahu
oleh anak perempuannya tentang nasib peti itu, menjadi kosonglah
hatinya karena sedih dan cepat serta hampir saja membuka rahsia
peti itu, andai kata Allah tidak meneguhkan hatinya dan
menguatkan hanya kepada jaminan Allah yang telah dinerikan
kepadanya.
Raja Fir'aun ketika diberitahu oleh Aisah, isterinya, tentang
bayi laki-laki yang ditemui di dalam peti yang terapung di atas
permukaan sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu
seraya berkata kepada isterinya: "Aku khuatir bahwa inilah
bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab
kesedihan kami dan akan membinasakan kerajaan kami y besar
ini." Akan tetapi isteri Fir'aun yang sudah terlanjur
menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis
itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah bayi yang tidak
berdosa ini dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami
ambil dia sebagai anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan
bermanfaat bagi kami. Hatiku sgt tertarik kepadanya dan ia akan
menjadi kesayanganku dan kesayangmu". Demikianlah jika
Allah Yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu maka dilincinkanlah
jalan bagi terlaksananya takdir itu. Dan selamatlah nyawa putera
Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi
rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya
yang sudah sesat.
Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu oleh keluarga
Fir'aun, bererti air dan pohon {Mu=air , Sa=pohon} sesuai dengan
tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke
istana beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi
setiap inang yang mencuba dan memberi air susunya ditolak oleh
bayi yang enggan menyedut dari setiap tetk yang diletakkan ke
bibirnya. Dalam keadaan isteri Fir'aun lagi bingung memikirkan
bayi pungutnya yang enggan menetek dari sekian banyak inang yang
didatangkan ke istana, datanglah kakak Musa menawarkan seorang
inang lain yang mungkin diterima oleh bayi itu.
Atas pertanyaan keluarga Fir'aun, kalau-kalau ia mengenal
keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa: "Aku tidak
mengenal siapakah keluarga dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin
menunjukkan satu keluarga yang baik dan selalu rajin mengasuh
anak, kalau-kalau bayi itu dpt menerima air susu ibu keluarga
itu".
Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir'aun dan seketika itu
jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka
begitu bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air
susu ibu kandungnya itu dengan sgt lahapnya. Kemudian diserahkan
Musa kepada Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menetek
dengan imbalan upah yang besar. Maka dengan demikian
terlaksanalah janji Allah kepada Yukabad bahwa ia akan menerima
kembali puteranya itu.
Setelah selesai masa meneteknya, dikembalikan Musa oleh ibunya
ke istana, di mana ia di asuh, dibesar dan dididik sebagaimana
anak-anak raja yang lain. Ia mengenderai kenderaan Fir'aun dan
berpakaian sesuai dengan cara-cara Fir'aun berpakaian sehingga
ia dikenal orang sebagai Musa bin Fir'aun.
Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam Al-Quran dari
ayat 4 hingga ayat 13 dalam surah "Al-Qashash" sebagai
berikut :~
"4.~ Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di
muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan
menindas segolongan dari mrk, menyembelih anak lelaki mrk dan
membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya
Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.5.~ Dan Kami
hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi
{Mesir} itu dan hendak menjadi mrk pemimpin dan menjadikan mrk
orang-orang yang mewarisi {bumi}.6.~ Dan Kami akan teguhkan
kedudukan mrk di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada
Fir'aun dan Haman berserta tenteranya apa yang selalu mereka
khuatirkan dari mereka itu.7.~ Dan Kami ilhamkan kepada ibu
Musa,"susukanlah dia, dan apabila kamu khuatir terhadapnya,
maka jatuhkan dia ke dalam sungai {Nil}. Dan janganlah kamu
khuatir dan janganlah pula bersedih hati, karena sesungguhnya
Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya {salah
seorang} dari para rasul.8.~ Maka pungutlah ia oleh keluarga
Fir'aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman berserta tenteranya
adalah orang-orang yang bersalah.9.~ Dan berkatalah isteri
Fir'aun: "Ia {Musa} biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah
kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau
kita ambil ia menjadi anak," sedang mrk tiada
menyedari.10.~ Dan menjadi kekosongan hait ibu Musa, seandainya
Kami tidak teguhkan hatinya, spy ia termasuk orang-orang yang
percaya {kepada janji Allah}.11.~ Dan berkatalah ibu Musa kepada
saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia". Maka
kelihatan olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak
mengetahuinya.12.~ Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada
perempuan-perempuan yang nahu menyusukannya sebelum itu, maka
berkatalah saudara Musa: "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada
kamu ahlul-bait yang akan memeliharakannya utkmu dan mrk dpt
berlaku baik kepadanya?"13.~ Maka Kami kembalikan Musa
kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan
supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi
manusia kebanyakan tidak mengetahuinya." { Al-Qashash : 4 ~
13 }
Musa keluar dari Mesir
Sejak
ia dikembali ke istana oleh ibunya setelah disusui, Musa hidup
sebagai slah seorang drp keluarga kerajaan hingga mencapai usia
dewasanya, dimana ia memperolehi asuhan dan pendidikan sesuai
dengan tradisi istana. Allah mengurniakannya hikmah dan
pengetahuan sebagai persiapan tugas kenabian dan risalah yang
diwahyukan kepadanya. Di samping kesempurnaan dan kekuatan
rohani, ia dikurniai oleh Allah kesempurnaan tubuh dan kekuatan
jasmani.
Musa mengetahui dan sedar bahwa ia hanya seorang anak pungut di
istana dan tidak setitik darah Fir'aun pun mengalir di dalam
tubuhnya dan bahwa ia adalah keturunan Bani Isra'il tg ditindas
dan diperlakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Fir'aun. Karenanya
ia berjanji kepada dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya
yang tertindas dan menjadi pelindung bagi golongan yang lemah
yang menjadi sasaran kezaliman dan keganasan para penguasa.
Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada
orang-orang yang madhlum dan teraniaya, terjadilah suatu
peristiwa yang menyebabkan ia terpaksa meninggalkan istana dan
keluar dari Mesir.
Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang berjalan-jalan di
sebuah lorong di waktu tengahari di mana keadaan kota sunyi sepi
ketika penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua
berkelahi seorang dari golongan Bani Isra'il bernama Samiri dan
seorang lagi dari kaum Fir'aun bernama Fa'tun. Musa yang
mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan pertolongannya
terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lenih besar itu, segera
melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fatun yang seketika
itu jatuh rebah an menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Musa terkejut melihat Fatun, orang Fir'aun itu mati karena
tumbukannya yang tidak disengajakan dn tidak akan mengharapkan
membunuhnya. Ia merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah
memohon ampun diatas perbuatannya yang tidak sengaja, telah
melayang nyawa salah seorang drp hamba-hamba-Nya.
Peristiwa matinya Fatun menjadi perbualan ramai dan menarik para
penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti orang-orang
Isra'illah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar
pelakunya diberi hukuman yang berat , bila ia tertangkap.
Anggota dan pasukan keamanan negara di hantarkan ke seluruh
pelusuk kota mencari jejak orang yang telah membunuh Fatun, yang
sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Musa shj. akan
tetapi, walaupun tidak orang ketiga yang menyaksikan peristiwa
itu, Musa merasa cemas dan takut dan berada dalam keadaan
bersedia menghadapi akibat perbuatannya itu bila sampai tercium
oleh pihak penguasa.
Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup berhati-hati
menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia pembunuhan yang ia
lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam suatu
perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai
pembunuh yang dicari. Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah
ditolongnya melawan Fatun, juga dalam keadaan berkelahi untuk
kali keduanya dengan salah seorang dari kaum Fir'aun. Melihat
Musa berteriaklah Samiri meminta pertolongannya. Musa
menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya berkata menegur
Samiri: " Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah
sesat."
Samiri menyangkal bahwa Musa akan membunuhnya ketika ia
mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata: "Apakah
engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh
seorang kelmarin? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang
sewenang-wenang di negeri ini dan bukan orang yang mengadilkan
kedamaian".
Kata-kata Samiri itu segera tertangkap orang-orang Fir'aun, yang
dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa yang memang
sedang mencari jejaknya. Maka berundinglah para pembesar dan
penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa
dan membunuhnya sebagai balasan terhadap matinya seorang dari
kalangan kaum Fir'aun.
Selagi orang-orang Fir'aun mengatur rancangan penangkapan Musa,
seorang lelaki slah satu daripada sahabatnya datang dari hujung
kota memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera
meninggalkan Mesir, karena para penguasa Mesir telah memutuskan
untuk membunuhnya apabila ia ditangkap. lalu keluarlah Musa
terburu-buru meninggalkan Mesir, ssebelum anggota polis sempat
menutup serta menyekat pintu-pintu gerbangnya.
Tentang isi cerita ini, ada terdapat dalam al-Quran yang
boleh di baca di dalam surah "Al-Qashshas" ayat 14
sehingga ayat 21 sebagaimana berikut :~
"14.~ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya,
Kami berikannya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.15.~ Dan
Musa masuk ke kota {Memphis} ketika penduduknya sedang tidur,
maka didapatinya di dalam kota itu dua orang lelaki sedang
bergaduh, yang seorangnya dari golongannya {Bani Isra'il} dan
seorang lagi dari musuhnya {Kaum Fir'aun}. Maka orang dari
golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan
orang dari musuhnya, lalu Musa menumbuknya dan matilah musuhnya
itu. Musa berkta; "Ini adalah perbuatan syaitan,
sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi
nyata {permusuhannya}.16.~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu
ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya
Allah Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.17.~ Musa
berkata : "Ya Tuhanku demi nikmat Engkau anugerahkan
kepadaku, aku sesekali tiada akan menjadi penolong bagi
orang-orang yang berdosa".18.~ Karena itu jadilah Musa di
kota itu merasa takut menunggu dengan khuatir {akibat
perbuatannya} maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongannya
kelmarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata
kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat,
yang nyata {kesesatannya}.19.~ Maka tatkala Musa hendak memegang
dengan kuat orang yang menjadi musuh keduanya, berkata {seorang
drp mereka}: "Hai Musa apakah engkau bermaksud hendak
membunuhku, sebagaimana kamu kelmarin telah membunuh seorang
manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang
yang berbuat sewenang-wenang di negeri {ini}, dan tiadalah kamu
bermaksud menjadi salah seorang dari orang yang mengadakan
perdamaian".20.~ Dan datanglah seorang laki-laki dari
hujung kota bergegas-gegas, seraya berkata: "Hai Musa,
sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentangmu, untuk
membunuhmu oleh itu keluarlah {dari kota ini}. Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.21.~ Mak
keluarlah Musa dari kota ini dengan rasa takut menunggu-nunggu
dengan khuatir. Dia berdoa: "Ya Tuhanku selamatkanlah dari
orang-orang yang zalim itu." { Al-Qashash : 14 ~ 21 }
Musa bertemu Jodoh di kota Madyan
Dengan
berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari
segala tipu daya orang-orang yang zalim" keluarlah Nabi
Musa dari kota Mesir seorang diri, tiada pembantu selain
inayahnya Allah tiada kawan selain cahaya Allah dan tiada bekal
kecuali bekal iman dan takwa kepada Allah. Penghibur
satu-satunya bagi hatinya yang sedih karena meninggalkan tanahi
airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah dari buruan
kaum fir'aun yang ganas dan kejam itu.
Setelah menjalani perjalanan selama lapan hari lapan malam
dengan berkaki ayam {tidak berkasut} sampai terkupas kedua kulit
tapak kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi
Syu'aib yang terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di
selatan Palestin.
Nabi Musa beristirehat di bawah sebuah pokok yang rendang bagi
menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan yang jauh, berdiam
seorang diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas anggota
istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia
tidak tahu ke mana ia harus pergi dan kepada siapa ia harus
bertamu, di tempat di mana ia tidak mengenal dan dikenal orang,
tiada sahabat dan saudara. Dalam keadaan demikian terlihatlah
olehnya sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi
sebuah sumber air bagi memberi minum ternakannya masing-masing,
sedang tidak jauh dari tempat sumber air itu berdiri dua orang
gadis yang menantikan giliran untuk memberi minuman kepada
ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah selesai
dengan tugasnya.
Musa merasa kasihan melihat kepada dua orang gadis itu yang
sedang menanti lalu dihampirinya dan ditanya : "Gerangan
apakah yang kamu tunggu di sini?" Kedua gadis itu menjawab:
"Kami hendak mengambil air dan memberi minum ternakan kami
namun kami tidak dapat berdesak dengan lelaki yang masih berada
di situ. Kami menunggu sehingga mereka selesai memberi minum
ternakan mereka. Kami harus lakukan sendiri pekerjaan ini karena
ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat berdiri, jangan
lagi datang ke mari". Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata
dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa dan
sejurus kemudian dikembalikannya kepada mrk setelah terisi air
penuh sedang sekeliling sumber air itu masih padat di keliling
para pengembala.
Setibanya kedua gadis itu di rumah berceritalah keduanya kepada
ayah mrk tentang pengalamannya dengan Nabi Musa yang karena
pertolongannya yangbtidak diminta itu mrk dapat lebih cepat
kembali ke rumah drp biasa. Ayah kedua gadis yang bernama
Syu'aib itu tertarik dengan cerita kedua puterinya. Ia ingin
berkenalan dengan orang yang baik hati itu yang telah memberi
pertolongan tanpa diminta kepada kedua puterinya dan sekaligus
menytakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh salah seorang dari
puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan mengundangnya datang
ke rumah.
Dengan malu-malu pergilah puteri Syu'aib menemui Musa yang masih
berada di bawah pohon yang masih melamun. Dalam keadaan letih
dan lapar Musa berdoa: "Ya Tuhanku aku sangat memerlukan
belas kasihmu dan memerlukan kebaikan sedikit brg makanan yang
Engkau turunkan kepadaku."
Berkatalah gadis itu kepada Musa memotong lamunannya:
"Ayahku mengharapkan kedatanganmu ke rumah untuk berkenalan
dengan engkau serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu
menolong kami mendapatkan air bagi kami dan ternakan kami."
Musa sebagai perantau yang masih asing di negeri itu, tiada
mengenal dan dikenali orang tanpa berfikir panjang menerima
undangan gadis itu dengan senang hati. Ia lalu mengikuti gadis
itu dari belakang menuju ke rumah ayahnya yang bersedia
menerimanya dengan penuh ramah-tamah, hormat dan mengucapkan
terimakasihnya.
Dalam berbincang-bincang dab bercakap-cakap dengan Syu'aib ayah
kedua gadis yang sudah lanjut usianya itu Musa mengisahkan
kepadanya peristiwa yang terjadi pd dirinya di Mesri sehingga
terpaksa ia melarikan diri dan keluar meninggalkan tanah airnya
bagi mengelakkan hukuman penyembelihan yang telah direncanakan
oleh kaum Fir'aun terhadap dirinya.
Berkata Syu'aib setelah mendengar kisah tamunya: "Engkau
telah lepas dari pengejaran dari orang-orang yang zalim dan
ganas itu adalah berkat rahmat Tuhan dan pertolongan-Nya. Dan
engkau sudah berada di sebuah tempat yang aman di rumah kami
ini, di man engkau akan tinggallah dengan tenang dan tenteram
selama engkau suka."
Dalam pergaulan sehari-hari selama ia tinggal di rumah Syu'aib
sebagai tamu yang dihormati dan disegani Musa telah dapat
menawan hati keluarga tuan rumah yang merasa kagum akan
keberaniannya, kecerdasannya, kekuatan jasmaninya, perilakunya
yang lemah lembut, budi perkertinya yang halus serta akhlaknya
yang luhur. Hal mana telah menimbulkan idea di dalam hati salah
seorang dari kedua puteri Syu'aib untuk mempekerjakan Musa
sebagai pembantu mereka. Berkatalah gadis itu kepada ayahnya:
"wahai ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu kami menguruskan
urusan rumahtangga dan penternakan kami. Ia adalah seorang yang
kuat badannya, luhur budi perkertinya, baik hatinya dan boleh
dipercayai."
Saranan gadis itu disepakati dan diterima baik oleh ayahnya yang
memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa tinggal bersamanya
di rumah, menunjukkan sikap bergaul yang manis perilaku yang
hormat dab sopan serta tangan yang ringan suka bekerja, suka
menolong tanpa diminta.
Diajaklah Musa berunding oleh Syu'aib dan berkatalah kepadanya:
"Wahai Musa! Tertarik oleh sikapmu yang manis dan cara
pergaulanmu yang sopan serta akhlak dan budi perkertimu yang
luhur, selama engkau berada di rumah ini kami dan mengingat akan
usiaku yang makin hari makin lanjut, maka aku ingin sekali
mengambilmu sebagai menantu, mengahwinkan engkau dengan salah
seorang dari kedua gadisku ini. Jika engkau dengan senang hati
menerima tawaranku ini, maka sebagai maskahwinnya, aku minta
engkau bekerja sebagai pembantu kami selama lapan tahun
menguruskan penternakan kami dan soal-soal rumahtangga yang
memerlukan tenagamu. Dan aku sangat berterima kasih kepada mu
bila engkau secara suka rela mahu menambah dua tahun di atas
lapan tahun yang menjadi syarat mutlak itu."
Nabi Musa sebagai buruan yang lari dari tanah tumpah darahnya
dan berada di negeri orang sebagai perantau, tada sanak saudara,
tiada sahabat telah menerima tawaran Syu'aib iut sebagai
kurniaan dari Tuhan yang akan mengisi kekosongan hidupnya selaku
seorang bujang yang memerlukan teman hidup untuk menyekutunya
menanggung beban penghidupan dengan segala duka dan dukanya. Ia
segera tanpa berfikir panjang berkata kepada Syu'aib: "Aku
merasa sgt bahagia, bahwa pakcik berkenan menerimaku sebagai
menantu, semuga aku tidak menghampakan harapan pakcik yang telah
berjasa kepada diriku sebagai tamu yang diterima dengan penuh
hormat dan ramah tamah, kemudian dijadikannya sebagai menantu,
suami kepada anak puterinya. Syarat kerja yang pakcik kemukakan
sebagai maskahwin, aku setujui dengan penuh tanggungjawab dab
dengan senang hati."
Setelah masa lapan tahun bekerja sebagai pembantu Syu'aib
ditambah dengan suka rela dilampaui oleh Musa, dikahwinkanlah ia
dengan puterinya yang bernama Shafura. Dan sebagai hadiah
perkahwinan diberinyalah pasangan penganti baru itu oleh Syu'aib
beberapa ekor kambing untuk dijadikan modal pertama bagi
hidupnya yang baru sebagai suami-isteri. Pemberian beberpa ekor
kambing itu juga merupakan tanda terimaksih Syu'aib kepada Musa
yang selama ini di bawah pengurusannya, penternakan Syu'aib
menjadi berkembang biak dengan cepatnya dan memberi hasil serta
keuntungan yang berlipat ganda.
Bacalah tentang isi cerita yang terurai ini di dalm ayat 22
sehingga ayat 28, surah "Al-Qashash" juz 20 yang
berbunyi sebagai berikut :~
"22.~ Dan tatkala ia menghadap ke negeri Madyan, ia berdoa
{lagi}: "Mudah-mudahan Tuhanku menimpaiku ke jalan yang
benar."23.~ Dan tatkala ia sampai di sumber air di negeri
Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang
memberi minum {ternakannya} dan ia menjumpai di belakang orang
ramai itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternakannya.
Musa berkata: "Apakah maksudmu {dengan berbuat
begitu}?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat
meminumkan {ternakan kami} sebelum pengembala-pengembala itu
memulangkan {ternakkannya} sedang bapa kami orang tua yang telah
lanjut umurnya."24.~ Maka Musa memberi minum ternakan itu
{utk menolong} keduanya, kemudian kembali ke tempat yang teduh,
lalu berdoa: " Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku memerlukan
sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."25.~
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang daripada kedua
wanita itu dengan malu-malu ia berkata: "Sesungguhnya
bapaku memanggilmu agar ia memberi pembalasan {kebaikanmu}
memberi minum {ternakan} kami." Maka tatkala Musa
mendatangi bapanya {Syu'aib} dan menceritakan kepadanya cerita
{mengenai dirinya}. Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut,
kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu."26.~
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapaku,
ambil ia sebagai orang yang bekerja {dengan kita}. karena
sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk
bekerja {dengan kita} ialah orang yang kuat lagi dpt
dipercayai."27.~ Berkatalah dia {Syu'aib}: "
Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang
dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku
lapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun itu adalah dari
kemahuanmu, maka aku tidak mahu memberati kamu. Dan kamu
insya-Allah kelak akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
baik."28.~ Dia berkata: "Itulah {perjanjian} antara
aku dan kamu, mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku
sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku
{lagi}. Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan."
{ Al-Qashash : 22 ~ 28 }
Musa A.S. pulang ke Mesir dan menerima Wahyu
Sepuluh
tahun lebih Musa meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia
melarikan diri dari buruan kaum Fir'aun. Suatu waktu yang cukup
lama bagi seseorang dpt bertahan menyimpan rasa rindunya kepada
tanah air, tempat tumpah darahnya , walaupun ia tidak pernah
merasakan kebahagiaan hidup di dalam tanah airnya sendiri. Apa
lagi seorang seperti Musa yang mempunyai kenang-kenangan hidup
yang seronok dan indah selama ia berada di tanah airnya sendiri
selaku seorang dari keluarga kerajaan yang megah dan mewah, maka
wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah tumpah darahnya dan
ingin pulang kembali setelah ia beristerikan Shafura, puteri
Syu'aib.
Bergegas-gegaslah Musa berserta isterinya mengemaskan barang dan
menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari orang tuanya dan
bertolaklah menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya
tidak diketahui oleh orang-orang Fir'aun yang masih mencarinya.
Setibanya di "Thur Sina" tersesatlah Musa kehilangan
pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan
demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas
lereng sebuah bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu
seraya berkata kepada isterinya: "Tinggallah kamu disini
menantiku. Aku pergi melihat api yang menyala di atas bukit itu
dan segera aku kembali. Mudah-mudahan aku dapat membawa satu
berita kepadamu dari tempat api itu atau setidak-tidaknya
membawa sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang sedang
menggigil kesejukan."
Tatkala Musa sampai ke tempat api itu terdengar oleh dia suara
seruan kepadanya datang dari sebatang pohon kayu di pinggir
lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkahi Allah.
Suara seruan yang didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai
Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua
terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa.
Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah Allah tiada
Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk
mengingat akan Aku."
Itulah wahyu yang pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa
sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan oleh
Allah sebagai rasul dan nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam
kesempatan bercakap langsung dengan allah di atas bukit Thur
Sina itu telah diberi bekal oleh Allah yang Maha Kuasa dua jenis
mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap kaum Fir'aun yang
sombong dan zalim itu.
Bertanyalah Allah kepada Musa: "Apakah itu yang engkau
pegang dengan tangan kananmu hai Musa!" Suatu pertanyaan
yang mengadungi erti yang lebih dalam dari apa yang sepintas
lalu dapat ditangkap oleh Nabi Musa dengan jawapannya yang
sederhana. "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan pdnya dan
aku pukul daun dengannya untuk makanan kambingku. Selain itu aku
dapat pula menggunakan tongkatku untuk keperluan-keperluan lain
yang penting bagiku."
Maksud dan erti dari pertanyaan Allah yang nampak sederhana itu
baru dimegertikan dan diselami oleh Musa setelah Allah
memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas
tanah, lalu menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap
dengan cepat sehingga menjadikan Musa lari ketakutan. Allah
berseru kepadanya: "Peganglah ular itu dan jangan takut.
Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asal."
Maka begitu ular yang sedang merayap itu ditangkap dan dipegang
oleh Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia terima dari
Syu'aib, mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan.
Sebagai mukjizat yang kedua, Allah memerintahkan kepada Musa
agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata setelah
dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang
tanpa cacat atau penyakit.
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah
"Thaahaa" ayat 9 sehingga 23 juz 16 sebagai berikut :~
"9.~ Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 10.~ Ketika
itu melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:
"Tinggallah kamu {di sini} sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu
atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu." 11.~
Mak ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: "Hai
Musa, 12.~ Sesungguhnya Aku ini adalah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci Thuwa. 13.~ Dan aku telah memilih kamu, maka
dengarkanlah apa yang akan diwahyukan {kepadamu}. 14.~
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingati Aku.
15.~ Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan
{waktunya} agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa
yang diusahakannya. 16.~ Maka sesekali janagnlah kamu
dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan
kamu menjadi binasa." 17.~ Apakah itu yang ditangan
kananmu, hai Musa?" 18.~ Berkata Musa: "Ini adalah
tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku memukul {daun}
dengannya untuk kambingku dan bagiku ada lagi keperluan yang
lain padanya." 19.~ Allah berfirman: "Lemparkanlah ia,
hai Musa!" 20.~ Lalu dilemparkanlah tongkat itu, maka
tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. 21.~
Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan
mengembalikannya kepada keadaan asalnya." 22.~ Dan
kepitkanlah tanganmu di ketiakmu, nescaya ia keluar menjadi
putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain {pula}.
23.~ untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda
kekuasaan Kami yang sangat besar." {Thaahaa : 9 ~ 23 }
Musa diperintahkan berdakwah kepada Fir'aun
Raja
Fir'aun yang telah berkuasa di Mesir telah lama menjalankan
pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri
dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan bangsa
Isra'il yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana
penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.
Tindakan sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan
terutamanya ditujukan kepada Bani Isra'il yang tidak diberinya
kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja
paksa dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak
dikenakan terhadap penduduk bangsa Egypt, bangsa Fir'aun
sendiri.
Selain kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang
ditimpakan oleh Fir'aun atas rakyatnya, terutama kaum Bani
Isra'il. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah
dan dipuja. Dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya
ke jalan yang sesat tanpa pendoman tauhid dan iman, sehingga
makin dalamlah mereka terjerumus ke lembah kemaksiatan dan
kerusakan moral dan akhlak.
Maka dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina
itu diperintahkanlah Musa oleh Allah untuk pergi ke Fir'aun
sebagai Rasul-Nya, mengajakkan beriman kepada Allah, menyedarkan
dirinya bahwa ia adalah makhluk Allah sebagaimana lain-lain
rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang menyembahnya
sebagi tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib disembah olehnya dan
oleh semua manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang telah
menciptakan alam semesta ini.
Nabi Musa dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah
meninggalkan Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan kalau-kalua
peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan sepuluh tahun yang
lalu itu, belum terlupakan dan masih belum hilang dari ingatan
para pembesar kerajaan Fir'aun. Ia tidak mengabaikan kemungkinan
bahwa mrk akan melakukan pembalasan terhadap perbuatan yang ia
tidak sengaja itu dengan hukuman pembunuhan atas dirinya bila ia
sudah berada di tengah-tengah mereka. Ia hanya terdorong rasa
rindunya yang sangat kepada tanah tumpah darahnya dengan
memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibat
yang mungkin akan dihadapi.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama perjalannya ke
Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan pembalasan
Fir'aun, Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya :~
"Pergilah engkau ke Fir'aun, sesungguhnya ia telah
melampaui batas, segala bayangan itu dilempar jauh-jauh dari
fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah
menghadapi Fir'aun apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya
untuk menenterankan hatinya berucaplah Musa kepada Allah:
"Aku telah membunuh seorang drp mereka , maka aku khuatir
mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu
dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku
dalam melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku
menghadapi orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu
lebih petah {lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku
untuk berdebat dan bermujadalah."
Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka digerakkanlah
hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi
menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke
istana Fir'aun dengan diiringi firman Allah: "Janganlah
kamu berdua takut dan khuatir akan disiksa oleh Fir'aun. Aku
menyertai kamu berdua dan Aku mendengar serta melihat dan
mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan Fir'aun.
Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut
sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan
bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya
kalau-kalau dengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua
ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan takut akan akibat
kesombongan dan kebonmgkakannya."
Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam ayat 33 sehingga
ayat 35 surah "Al-Qashash" dan ayat 42 sehingga ayat
47 surah "Thaha" sebagai berikut :~
"33.~ Musa berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah membunuh seseorang manusia dari golongan mereka, maka aku
takut mereka akan membunuhku, 34.~ dan saudaraku Harun dia lebih
petah lidahnya drpku, maka utuslah dia bersamaku sebagai
pembantu untuk membenarkan {perkataan} ku sesungguhnya aku
khuatir mereka akan mendustakan aku." 35.~ Allah berfirman:
"Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami berikan
kepadamu kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat
mencapaimu {berangkat kami berdua} dengan membawa mukjizat Kami,
kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan
menang." { Al-Qashash : 33 ~ 35 }
"42.~ Pergilah kamu berserta saudara kamu dengan membawa
ayat-ayat-Ku dan janganlah kamu berdua lalai dalam
memngingat-Ku. 43.~ Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun,
sesungguhnya dia telah melewati batas. 44.~ maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia akan ingat atau takut" 45.~ Berkatalah
mereka berdua: "Ya Tuhan kami sesungguhnya kami khuatir
bahwa ia segera menyeksa kami atau akan bertambah melewati batas
46.~ allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khuatir,
sesungguhnya Aku berserta kamu berdua, Aku mendengar dan
melihat". 47.~ Maka datanglah kamu berdua kepadanya
{Fir'aun} dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah
utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra'il bersama kami dan
janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang
kepadamu dengan membawa bukti {atas kerasulan kami} dari
Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang
mengikuti petunjuk." { Thaha : 42 ~ 47 }
Mujadalah (dialog) antara Musa dengan Fir'aun
Diperolehi
kesempatan oleh Musa dan Harun, menemui raja Fir'aun yang
menyatakan dirinya sebagai tuhan itu, setelah menempuh beberapa
rintangan yang lazim dilampaui oleh orang yang ingin bertemu
dengan raja pd waktu itu. Pertemuan Musa dan Harun dengan
Fir'aun dihadiri pula oleh beberapa anggota pemerintahan dan
para penasihatnya.
Bertanya Fir'aun kepada mereka berdua:: "Siapakah kamu
berdua ini?"
Musa menjawab: "Kami, Musa dan Harun adalah pesuruh Allah
kepadamu agar engkau membebaskan Bani Isra'il dari perhambaan
dan penindasanmu dan menyerahkan meeka kepada kami agar menyebah
kepada Allah dengan leluasa dan menghindari seksaanmu."
Fir'aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya:
"Bukankah engkau adalah Musa yang telah kami mengasuhmu
sejak masa bayimu dan tinggal bersama kami dalam istana sampai
mencapai usia remajamu, mendapat pendidikan dan pengajaran yang
menjadikan engkau pandai? Dan bukankah engkau yang melakukan
pembunuhan terhadap diriseorang drp golongan kami? Sudahkah
engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa
kami kepada kamu?"
Musa menjawab: "Bahwasanya engkau telah memeliharakan aku
sejak masa bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau
banggakan. Karena jatuhnya aku ke dalam tangan mu adalah akibat
kekejaman dan kezalimanmu tatkala engkau memerintah agar
orang-orangmu menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir,
sehingga ibu terpaksa membiarkan aku terapung di permukaan
sungai Nil di dalamsebuah peti yang kemudian dipungut oleh
isterimu dan selamatlah aku dari penyembelihan yang engkau
perintahkan. Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan
itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun
peristiwa itu akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang
terselubung bagiku. Sebab dalam perantauanku setelah aku
melarikan diri dari negerimu, Allah mengurniakan aku dengan
hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan
pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku sebagai Rasul datanglah
aku kepadamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau dan
kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan
penindasanmu terhadap Bani Isra'il."
Fir'aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut-sebut
itu, hai Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini selain aku yang
patut di sembah dan dipuja?"
Musa menjawab: "Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu
serta Tuhan seru sekalian alam."
Tanya Fir'aun: "Siapakah Tuhan seru sekali alam itu?"
Musa menjawab: "Ialah Tuhan langit dan bumi dan segala apa
yang ada antara langit dan bumi."
Berkata Fir'aun kepada para penasihatnya dan pembesar-pembesar
kerajaan yang berada disekitarnya. Sesungguhnya Rasul yang
diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila kemudia ia
balik bertanya kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu
berdua?"
Musa menjawab: "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah
memberikan kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya,
kemudian memberi petunjuk kepadanya."
Fir'aun bertanya: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang
dahulu yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan
malahan menyembah berhala dan patung-patung?"
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi
Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan seksanya di atas
mereka maka itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta
keengganan mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda
azab dan seksa mereka hingga hari kiamat, maka itu adalah
kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum mengetahuinya. Allah
telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan seksanya adalah
jalan yang benar."
Rif'aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa
yang diucapkan secara tegas dan berani merasa tersinggung
kehormatannya sebagai raja yang telah mempertuhankan dirinya
lalu menujukan amarahnya dan berkata kepada Musa secara
mengancam: "Hai Musa! jika engkau mengakui tuhan selain
aku, maka pasti engkau akan kumasukkan ke dalam penjara."
Musa menjawab: "Apakah engkau akan memenjarakan aku
walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda yang
membuktikan kebenaran dakwahku?"
Fir'aun menentang dengan berkata: "Datanglah tanda-tanda
dan bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan kebenaran
kata-katamu jika engkau benar-benar tiak berdusta."
Dialog {mujadalah} antara Musa dan Fir'aun sebagaimana
dihuraikan di atas dpt dibaca dalam surah
"Asy-Syu'ara" ayat 18 hingga ayat 31 juz 19 sebagimana
berikut :~
"18.~ Fir'aun berkata: "Bukankah kami telah mengasuhmu
diantara {keluarga} kami diwaktu kamu masih kanak-kanak dan kamu
tinggal diantara {keluarga} kami beberapa tahun dari umurmu.
19.~ dan kamu telah berbuat sesuatu perbuatan yang telah kamu
lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak
membalas jasa." 20.~ Berkata Musa: "Aku telah
melakukannya sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang
khilaf. 21.~ Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut
kepada kamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia
menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. 22.~ Budi
yang kamu limpahkan kepada ku ini adalah {disebabkan} perhambaan
darimu terhadap Bani Isra'il." 23.~ Fir'aun bertanya:
"Apa Tuhan semesta alam itu?"24.~ Musa menjawab:
"Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang diantara
keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu sekalian {orang-orang}
mempercayainya". 25.~ Berkata Fir'aun kepada orang-orang
sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". 26.~
Musa berkata: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu
yang dahulu" 27.~ Fir'aun berkata: "Sesungguhnya
Rasulmu yang diutuskan kepada kamu sekalian benar-benar orang
gila". 28.~ Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur
dan barat dan apa yang ada di antara keduanya {itulah Tuhanmu}
jika kamu mempergunakan akal". 29.~ Fir'aun berkata:
"Sungguh jika kamu menyenbah Tuhan selain aku benar-benar
aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".
30.~ Musa berkata: "Dan apakah kamu {akan melakukan itu}
walaupun aku tunjukkan kepadamu sesuatu {keterangan} yang nyata
jika kamu adlah termasuk orang-orang yang benar." {
Asy-Syura : 18 ~ 31 }
Musa mempertunjukkan dua mukjizat kepada Fir'aun
Menjawab
tentangan Fir'aun yang menuntut bukti atas kebenarannya Musa
dengan serta-merta meletakkan tongkat mukjizatnya di atas yang
segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata menghala
ke Fir'aun. Karena ketakutan melompat lari dari singgahsananya
melarikan diri seraya berseru kepada Musa: " Hai Musa demi
asuhanku kepadamu selama delapan belas tahun panggillah kembali
ularmu itu." Kemudian dipeganglah ular itu oleh Musa dan
kembali menjadi tongkat biasa.
Berkata Fir'aun kepada Musa setelah hilang dari rasa heran dan
takutnya: "Adakah bukti yang dapat engkau tunjukkan
kepadaku?"
"Ya, lihatlah." Musa menjawab serta memasukkan
tangannya ke dalam saku bajunya. Kemudian tatkala tangannya
dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu
menyilaukan mata Fir'aun itu dan orang-orang yang sedang berada
disekelilingnya.
Fir'aun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu
tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak
pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat.
Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan
terpengaruh oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya
adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan Harun adalah ahli
sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir dan
para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.
Fir'aun dianjurkan oleh penasihatnya yang dikepalai oleh Haman
agar mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan mengumpulkan
ahli-ahli sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk
bertanding melawan Musa dan Harun. Anjuran mana disetujui oleh
Fir'aun yang merasa itu adalah fikiran yang tepat dan jalan yang
terbaik untuk melumpuhkan kedua mukjizat Allah yang oleh mereka
dianggapnya sebagai sihir. Anjuran itu lalu ditawarkan kepada
Musa yang seketika tanpa ragu-ragu sedikit pun menerima
tentangan Fir'aun untuk beradu dan bertanding melawan ahli-ahli
sihir. Musa berkeyakinan penuh bahwa dengan perlindung Allah ia
akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu, pertandingan
antara perbuatan sihir yang diilham oleh syaitan melawan
mukjizat yang dikurniakan oleh Allah.
Pada suatu hari raya kerajaan telah bersetuju untuk mengadakan
hari pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah penduduk kota
menuju ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan
perlumbaan kepandaian menyihir yang buat pertama kalinya
diadakan di kota Mesir. Juga sudah berada di tempat ahli-ahli
sihhir yang terpandai yang telah dikumpulkan dari seluruh
wilayah kerajaan masing-masing membawa tongkat , tali dan
lain-lain alat sihirnya. Mrk cukup bersemangat dan akan berusaha
sepenuh kepandaian mrk untuk memenangi pertandingan. Mrk telah
memperolhi janji dari Fir'aun akan diberi hadiah dan wang dalam
jumlah yang besar bila berhasil mengalahkan Musa dengan
mematahkan daya sihirnya.
Setelah segala sesuatu selesai disiapkan dan masing-masing
pembesar negeri sudah mengambil tempatnya mengelilingi raja
Fir'aun yang telah duduk di atas kursi singgahsananya maka
dinyatakanlah pertandingan dimulai. Kemudian atas persetujuan
Musa dipersilakan para lawannya beraksi lebih dahulu
mempertujukan kepandai sihirnya.
Segeralah ahli-ahli sihir Fir'aun menujukan aksinya melemparkan
tongkat dan tali-temali mrk ke tengah-tengah lapangan . Musa
merasa takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat
dan tali-tali itu seakan-akan ular-ular yang merayap cepat.
Namun Allah tidak mebiarkan hamba utusan-Nya berkecil hati
menghadapi tipu-daya orang-orang kafir itu. Allah berfirman
kepada Musa disaat ia merasa cemas itu: "Janganlah engkau
merasa takut dan cemas hai Musa! engkau adalah yang lebih unggul
dan akan menang dalam pertandingan ini. Lemparkanlah yang ada
ditanganmu segera."
Para ahli-ahli sihir yang pandai dalam bidangnya itu tercengang
ketika melihat ular besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa
dan menelan ular-ular dan segala apa yang terbayangsebagai hasil
tipu sihir mrk. Mrk segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud
{kepada Allah} dihadapan Musa seraya berkata: "Itu bukanlah
perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan
tetapi sesuatu yang digerakkan oleh kekuatan ghaib yang
mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun maka tidak ada
alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka dn
beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan
saksikan dengan mata kepala kami sendiri."
Fir'aun raja yang congkak dan sombong yang menuntut persembahan
dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda
marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat
menyerah kalah kepada Musa bahkan menyatakan beriman kepada
Tuhannya dan kepada kenabiannya serta menjadi
pengikut-pengikutnya. Tindakan mereka itu dianggapnya sebagai
pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap
ketuhanannya dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta
prestasinya. Ia berkata kepada mrk: "Adakah kamu berani
beriman kepada Musa dan menyerah kepada keputusannya sebelum aku
izinkan kepada kamu?" Bukankah ini suatu persekongkolan drp
kamu terhadapku? Musa dpt mengalah kamu sebab ia mungkin guru
dan pembesar yang telah mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu
telah mengatur bersama-samanya tindakan yang kamu sandiwarakan
di depanku hari ini. Aku tidak akan tinggal diam menghadapi
tindakan khianatmu ini. Akanku potong tangan-tangan dan
kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal pohon
kurma sebagai hukuman dan balasan bagi tindakan khianatmu
ini."
Ancaman Fir'aun itu disambut mrk dengan sikap dingin dan acuh
tak acuh. Karena Allah telah membuka mata hati mereka dengan
cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata
kebathilan yang menyesatkan atau ancaman Fir'aun yang
menakutkan. Mrk sebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan
seni sihir dpt membedakan yang mana satu sihir dan yang mana
bukan. Maka sekali mrk diyakinkan dengan mukjizat Nabi Musa yang
membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah keyakinan itu akan
dpt digoyahkan oleh ancaman apa pun. Berkata mereka kepada
Fir'aun menanggapi ancamannya: "Kami telah memdpat
bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan kenyataan
itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan
berjalan terus megikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai
pesuruh oleh yang benar. Maka terserah kepadamu untuk memutuskan
apa yang engkau hendak putuskan terhadap diri kami. Keputusan
kamu hanya berlaku di dunia ini sedang kami mengharapkan pahala
Allah di akhirat yang kekal dan abadi."
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah
"Asy-Syu'ara" ayat 32 sehingga ayat 51 juz 19 sebagai
berikut :~
"32~ Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba
tongkat itu {menjadi ular}. 33~ Dan ia menarik tangannya {dr
dalam saku bajunya} maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih
{bersinar} bagi orang-orang yang melihatnya. 34~ Fir'aun berkata
pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya:
"Sesungguhnya Musa itu benar-benar seorang ahli sihir yang
pandai, 35~ ia hendak mengusir kamu dari negeri kamu sendiri
dengan sihirnya maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?"
36~ Mrk menjawab: "Tundalah {urusan} dia dan saudaranya dan
kirimlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan
{ahli sihir}, 37~ nescaya mereka akan mendatangkan semua ahli
sihir yang pandai kepadamu". 38~ Lalu dikumpulkanlah
ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang maklum,
39~ dan dikatakan kepada orang ramai: "Berkumpullah kamu
sekalian, 40~ semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir, jika mereka
adalah orang-orang yang menang". 41~ Maka tatkala ahli-ahli
sihir dtg , mrk pun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami
sungguh-sungguh mendpt upah yang besar jika kami adalah
orang-orang yang menang?" 42~ Fir'aun menjawab: "Ya,
kalu demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan
menjadi orang yang didekatkan {kepadaku}". 43~ Berkatalah
Musa kepada mrk: "Jatuhkalah apa yang kamu hendak
jatuhkan". 44~ Lalu mrk menjatuhkan tali-temali dan
tongkat-tongkat mereka lalu berkata: " Demi kekuasaan
Fir'aun, sesungguhnya kami akan benar-benar akan menang".
45~ kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia
menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. 46~ Maka
tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud {kepada Allah},
47~ mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam
, 48~ yaitu Tuhan Musa dan Harun". 49~ Fir'aun berkata:
"Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelumaku
memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu
yang mengajar sihir kepadamu, maka kamu nanti pasti benar-benar
akan mengetahui {akibat perbuatanmu}, sesungguhnya aku akan
memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan
menyalibmu semuanya". 50~ Mereka berkata: "Tidak ada
kemudharatan {kepada kami}, sesungguhnya kami akan kembali
kepada Tuhan kami, 51~ sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa
Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah
orang-orang yang pertama sekali beriman." {Asy-Syu'ara : 32
~ 51 }
Fir'aun tetap keras kepala dan semakin bingung
Nabi
Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli sihir dengan kedua
mukjizatnya makin meluas pengaruhnya, sedan Fir'aun dengan
kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan
kehormatannya menurun. ia khuatir jika gerakan Musa tidak segera
dipatahkan akan mengancam keselamatan kerajaannya serta
kekekalan mahkotanya. Para penasihat dan pembantu-pembantu
terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa kecemasan dan
kekhuatirannya, tetapi mereka sebaliknya makin membakar dadanya
dan makin menakutu-nakutinya. Mrk berkata kepadanya:
"Apakah engkau akan terus membiarkan Musa dan kaumnya
bergerak secara bebas dan meracuni rakyat dengan amcam-macam
kepercayaan dan ajaran-ajaran yang menyimpang dari apa yang
telah kita warisi dari nenek-moyang kita? Tidakkah engkau sedar
bahwa rakyat kita makin lama makin terpengaruh oleh
hasutan-hasutan Musa. sehingga lama-kelamaan nescaya kita dan
tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada
akhirnya akan hancur binasalah negara dan kerajaanmu yang megah
ini."
Fir'aun menjawab: "Apa yang kamu huraikan itu sudah menjadi
perhatiku sejak dikalahkannya ahli-ahli sihir kita oleh Musa.
Dan memang kalau kita membiarkan Musa terus melebarkan sayapnya
dan meluaskan pengaruhnya di kalangan pengikut-pengikutnya yang
makin lama makin bertambah jumlahnya, pasti pada akhirnya akan
merusakkan adab hidup masyarakat negara kita serta membawa
kehancuran dan kebinasaan bagi kerajaan kita yang megah ini.
karenanya aku telah merancang akan bertindak terhadap Bani
Isra'il dengan membunuh setiap orang lelaki dan hanya wanita
sahaja akanku biarkan hidup."
Rancangan jahat fir'aun diterapkan oleh pegawai dan kaki tangan
kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan macam-macam tindakan kejam
ditimpakan atas Bani Isra'il yang memang menurut anggapan
masyarakat, mereka itu adalah rakyat kelas kambing dalam
kerajaan Fir'aun yang zalim itu. Dengan makin meningkatnya
kezaliman dan penindasan yang mereka terima dari alat-alat
kerajaan Fir'aun, datanglah Bani Isra'il kepada Nabi Musa,
mengharapkan pertolongan dan perlindungannya. Nabi Musa tidak
dpt berbuat byk pada masa itu bagi Bani Isra'il yang tertindas
dan teraniaya. Ia hanya menenteramkan hati mereka, bahwa akan
tiba saatnya kelak,di mana mrk akan dibebaskan oleh Allah dari
segala penderitaan yang mrk alami. Dianjurkan oleh Nabi Musa
agar mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah
agar Allah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya karena
Allah telah menjanjikan akan mewariskan bumi-Nya kepada
hamba-hamba-Nya yang soleh, sabar dan bertakwa!
Fir'aun bertujuan melemahkan kedudukan Nabi Musa dengan tindakan
kejamnya terhadap Bani Isra'il yang merupakan kaumnya, bahkan
tulang belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah Nabi Musa
tidak sedikit pun terhambat oleh tindakan Fir'aun itu. Demikian
pula tidak seorang pun drp pengikut-pengikutnya yang terpengaruh
dengan tindakan Fir'aun itu. Sehingga tidak menjadi luntur iman
dan keyakinan mrk yang sudah bulat terhadap risalah Musa.
Karena sasaran yang dituju dengan tindakan kekejaman yang tidak
berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak dpt menerima
dakwah Nabi Musa dan para pengikutnya, yang dilhatnya bahkan
semakin bersemangat menyiarkan ajaran iman dan tauhid, maka
Fir'aun tidak mempunyai pilihan selain harus menyingkirkan orang
yang menjadi pengikutnya, yaitu dengan membunuh Nabi Musa.
Fir'aun memanggil para penasihat dan pembesar-pembesar
kerajaannya untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa. Di
antara mereka yang di undang itu terdapat seorang mukmin dari
Keluarga Fir'aun yang merahsiakan imannya.
Di tengah-tengah perdebatan dan perundingan yang berlangsung
dalam pertemuan yang diadakan oleh Fir'aun untuk membincangkan
cara pembunuhan Nabi Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu
mengucapkan pembelaannya terhadap Nabi Musa dan nasihat serta
tuntunan bagi mereka yang hadir. Ia berkata: "Apakah kamu
akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa, hanya berkata
bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan
kepercayaannya itu kepada kamu bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia
telah mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti yang nyata untuk
menyakinkan kamu akan kebenaran ajarannya. Jika andainya dia
seorang pendusta, maka dia sendirilah yang akan menanggung dosa
akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam kata-katanya,
maka nescaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang telah
dijanjikan olehnya. Dan dalam keadaan yang demikian siapakah
yang akan menolong kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan
itu?"
Fir'aun memotong pidato orang mukmin itu dengan berkata:
"Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku
tidak mengemukan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik
dan aku tidak menunjukkan kepadamu melainkan jalan yang benar,
jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan negara."
Berucap orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu melanjutkan:
"Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap berkeras kepala
dan enggan menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para
nabi-nabi, bahwa kamu akan ditimpa azab dan seksa yang
membinasakan , sebagaimana telah dialami oleh kaum Nuh, kaum
Aad, kaum Tsamud dan umat-umat yang datang sesudah mereka. Apa
yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah akibat kecongkakan
dan kesombongan mereka karena Allah tidak menghendaki berbuat
kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya".
Mukmin itu meneruskan nasihatnya:"Wahai kaumku!
Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima seksa dan azab Tuhan
di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling kebelakang,
tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamu itu dari seksa
Allah. Hai kaum ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan
bagimu dan mengajak kamu ke jalan yang benar. Ketahuilah bahwa
kehidupan di dunia ini hanya merupakan kesenangan sementara,
sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal adalah di
akhirat kelak."
Orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu tidak dpt mengubah sikap
Fir'aun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah berusaha
dengan menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan
kata-katanya yang rapi, lengkap dengan contoh-contoh dari
sejarah umat-umat yang terdahulu yang telah dibinasakan oleh
Allah karena perbuatan dan pembangkangan mereka sendiri.
Fir'aun dan pengikut-pengikutnya bahkan menganjurkan kepada
orang mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela Musa
dan menyetujui rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk
melepaskan pendiriannya yang pro Musa dan mengabungkan diri
dalam barisan mereka menentang Musa dan segala ajarannya. Ia
diancam dengan dikenakan tindakan kekerasan bila ia tidak mahu
mengubah sikap pro kepada Musa secara suka rela.
Berkata orang mukmin itu menanggapi anjuran Fir'aun: "Wahai
kaumku, sgt aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku berseru
kepada kamu untuk kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru
kepadaku untuk berkufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya
dengan apa yang aku tidak ketahui, sedang aku berseru kepadamu
untuk beriman kepada Allah, Tuhan YAng Maha Esa, Maha Perkasa,
lagi Maha Pengampun. Sudah pasti dan tidak dapat diragukan lagi,
bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak akan menolongku
dari murka dan seksa Allah di dunia mahupun di akhirat. Dan
sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada Allah yang akan
memberi pahala syurga bagi orang-orang yang soleh, bertakwa dan
beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas
akan diberi ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku perhatikanlah
nasihat dan peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran
kata-kataku ini kelak bila sudah tidak berguna lagi orang
menyesal atau merasa susah karena perbuatan yang telah
dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan nasibku kepada
Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat perbuatan
dan kelakuan hamba-hamba-Nya."
Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah
"Al-A'raaf" ayat 127 sehingga ayat 129 juz 9 dan surah
"Al-Mukmin" ayat 28 sehingga ayat 33 dan ayat 38
sehingga ayat 45 juz 24 sebagai berikut :~
"127~ Berkata pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun {kepada
Fir'aun}: "Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya
untuk membuat kerusakkan di negeri ini {Mesir} dan meninggalkan
kamu serta tuhan-tuhanmu?" Fir'aun menjawab: "Akan
kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup
perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh
ke atas mereka". 128~ Musa berkata kepada kaumnya:
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah
sesungguhnya bumi {ini} kepunyaan Allah dipusakakannya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesusahan
yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". 129~ Kaum
Musa berkata: "Kami telah ditindas {oleh Fir'aun} sebelum
kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang." Musa
menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh-musuh
kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi{-Nya} maka Allah akan
melihat bagaimana perbuatanmu." { Al-A'raaf : 127 ~ 129 }
"28~ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara
pengikut-pengikut Fir'aun yang mneyembunyikan imannya berkata:
"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia
menyatakan "Tuhanku ialah Allah" padahal dia telah
datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari
Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta, maka dialah yang
menanggung {dosa} dustanya itu dan jika dia seorang yang benar,
nescaya sebahagia {bencana} yang diancamkannya kepadamu akan
menimpamu." Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang
yang melampaui batas lagi pendusta. 29~ Hai kaumku utkmulah
kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah
yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa
kita?" Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan
kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak
menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." 30~ Dan
orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku sesungguhnya
aku khuatir kamu akan ditimpa {bencana} seperti peristiwa
{kehancuran} golongan yang bersekutu, 31~ {yakni} seperti
keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang
sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman
terhadap hamba-hamba-Nya. 32~ HAi kaumku, sesungguhnya aku
khuatir terhadapmu akan seksaan hari panggil-memanggil. 33~
{yaitu} hari {ketika} kamu {lari} berpaling kebelakang, tidak
ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari {azab}
Allah dan siapa yang disesatkan Allah nescaya tidak ada baginya
seorang pun yang akan memberi petunjuk." { Al-Mukmin : 28 ~
33 }
"38~ Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku
ikutilah aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. 39~ Hai
kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan
{sementara} dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.
40~ Barabg siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak
akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan
barang siapa yang mengerja amal yang soleh baik laki-laki
mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka
akan masuk syurga, mereka diberi rezeki didalamnya tanpa hisab.
41~ Hai kaumku! Bagaiman kamu ini, aku menyeru kamu kepada
keselamatan tetapi kamu menyeru aku ke neraka? 42~ {kenapa} kamu
menyerukan supaya kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya
dengan apa yang tidakku ketahui padahal aku menyeru kamu
{beriman} kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?"
43~ Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku {beriman}
kepadanya tidak dpt memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia
mahu pun di akhirat. Dan sesungguhnya kembali kita adalah kepada
Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mrk
itulah penghuni neraka. 44~ Kelak kamu akan ingat kepada apa
yang aku katakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusan aku
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya. 45~ Maka Allah memeliharanya dari kejahatan
tipu daya mereka dan Fir'aun berserta kaumnya dikepung oleh azab
yang amat buruk." { Al-Mukmin : 38 ~ 45 }
Fir'aun menghina dan mengejek Musa
Selain
tindakan kekerasan yang ditimpakan ke atas Bani Isra'il kaumnya
Nabi Musa, Fir'aun melontarkan penghinaan dan kata-kata ejekan
terhadap Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung
pengaruh Nabi Musa yang semakin beertambah semenjak ia keluar
sebagai pemenang dalam pertandingan melawan tukang-tukang sihir
kaum Fir'aun.
Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya:
"Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah ia memohon dari
Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana
ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia
membuktikan kebenaran kata-kata, bahwa Tuhannya akan
melindunginya dari segala tipu daya musuh-musuhnya."
Dalam lain kesempatan Fir'aun berkata kepada rakyatnya yang
sudah diperhambakan jiwanya, terbiasa memuja-mujanya, mengiakan
kata-katanya dan mengaminkan segala perintahnya: "Hai
rakyatku! Tidakkah kamu melihat bahwa aku memiliki kerajaan
Mesir yang megah dan besar ini di mana sungai-sungai mengalir
dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang memberi kemakmuran
hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku? Dan tidakkah kamu
melihat kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang bulat
kepadaku? Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa yang
hina-dina itu yang tidak cekap menguraikan isi hatinya dan
menerangkan maksud tujuannya. Megapa Tuhannya tidak memakaikan
gelang emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat
menjadi raja, pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak
diiringi oleh malaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan
bukti kebenarannya bahwa ia adalah pesuruh Tuhannya?"
Kelompok orang yang mendengar kata-kata Fir'aun itu dengan
serta-merta mengiyakan dan membenarkan kata-kata rajanya serta
menyatakan kepatuhan yang bulat kepada segala titah dan
perintahnya sebagai warga yang setia kepada rajanya, namun zalim
dan fasiq terhadap Tuhannya.
Dalam pd itu kesabaran Nabi Musa sampai pd puncaknya, melihat
Fir'aun dan pembantu-pambantunya tetap berkeras kepala menentang
dakwahnya, mendustakan risalahnya dan makin memperhebatkan
tindakan kejamnya terhadap kaum Bani Isra'il terutama para
pengikutnya yang menyembunyikan imannya karena ketakutan
daripada kejaran Fir'aun dan pembalasannya yang kejam dan tidak
berperikemanusiaan. Maka disampaikan oleh Nabi Musa kepada mrk
bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka terus-menerus melakukan
kekejaman, kezaliman dan penindasan terhamba-hamba-Nya dan
berkufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan ditimpakan oleh Allah
kepada mereka bila tetap tidak mahu sedar dan beriman
kepada-Nya, bermacam azb dan seksa di dunia semasa hidup mereka
sebagai pembalasan yang nyata!
Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah: "Ya Tuhan kami,
engkau telah memberi kepada Fir'aun dan kaum kerabatnya
kemewahan hidup, harta kekayaan yang meluap-luap dan kenikmatan
duniawi, yang kesemua itu mengakibatkan mereka menyesatkan
manusia, hamba-hamba-Mu, dari jalan yang Engkau redhai dan
tuntunan yang Engkau berikan. Ya Tuhan kami, binasakanlah
harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mrk tidak akan
beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat
seksaan-Mu yang pedih."
Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang diperkenankan oleh
Allah, maka dilandakanlah kerajaan Fir'aun oleh krisis kewangan
dan makanan, yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga
tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping
serangan hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum
yang sudah menguning dan siap untuk diketam.
Belumlagi krisis kewangan dan makanan teratasi datang menyusul
bala banjir yang besar disebabkan oleh hujan yang turun dengan
derasnya, sehingga menghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung dan
membinasakan binatang-binatang ternak. Dan sebagai akibat dari
banjir itu berjangkitlah bermacam-macam wabak dan penyakit yang
merisaukan masyarakat seperti hidung berdarah dan lain-lain.
Kemudian datanglah barisan kutu-kutu busuk dan katak-katak yang
menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman
hidup mereka,menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur,
disebabkan menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam
tempat-tempat tidur, hidangan makanan dan di antara sela-sela
pakaian mereka.
Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu sedang melanda
berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya demi
kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala itu
dari atas mereka dengan perjanjian bahwa mrk akan beriman dan
menyerahkan Bani Isra'il kepada Nabi Musa sekirannya mereka dpt
ditolong dan terhindar dari azab bala itu.
Akan tetapi begitu bala-bala itu tercabut dari atas mrk dan
hilanglah gangguan yang diakibatkan olehnya, mrk mengingkari
janji mereka dan kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi
Musa, seolah-olah apa yang terjadi bukanlah karena doa dan
permohonan Musa kepada Allah tetapi karena hasil usaha mrk
sendiri.
Bacalah tentang isi cerita di atas ayat 26 dari surah
"Al-Mukmin" ; ayat 51 sehingga ayat 54 surah
"Az-Zukhruf" ; ayat 88 dan 89 surah "Yunus"
dan ayat 130 sehingga ayat 135 surah "Al-A'raaf"
sebagimana berikut :~
"Dan berkata Fir'aun {kepada pembesar-pembesarnya}
"Biarlah aku membunuh Musa, dan hendaklah ia memohon kepada
Tuhannya, karena sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agama
atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." { Al-Mukmin : 26
}
"Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya {seraya} berkata:
"Hai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan
{bukankah} sungai-sungai ini mengalir dibawahku, maa apakah yang
kamu tidak melihatnya? 52~ Bukankah aku lebih baik dari orang
yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan
{perkataannya}? 53~ Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang
emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk
mengiringkannya." 54~ Mak Fir'aun mempergaruhi kaumnya
{dengan perkataan itu} lalu mereka patuh kepadanya kerana
sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasiq." {
Az-Zukhruf : 51 ~ 54 }
"88~ Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau
telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan
dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami,
akibatnya mereka menyesatkan {manusia} dari jalan Engkau. Ya
Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah
hati mereka maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat
seksaan yang pedih." 89~ Allah berfirman:
"Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua
sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan
janganlah sesekali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak
mengetahui." { Yunus : 88 sehingga 89 }
"130~ Dan sesungguhnya Kami telah menghukum {Fir'aun dan}
kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan
kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pengajaran 131~
Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata:
"Ini adalah kerana {usaha} kami." Dan jika mereka
ditimpa kesusahan mrk lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa
dan orang-orang yang berserta dengannya. Ketahuilah sesungguhnya
kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi
kebanyakkan mereka tidak mengetahui. 132~ Mrk berkata kepada
Musa: Bagaiman kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk
menyihir kami dengan keterangan itu, maka sesekali kami tidak
akan beriman kepadamu." 133.~ Maka Kami {Allah} kirimkan
kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai
bukti yang jelas tetapi mrk tetap menyombong diri dan mrk adalah
kaum yang berdosa. 134~ Dan ketika mrk ditimpa azab {yang telah
diterangkan itu} mereka pun berkata: " Hai Musa,
mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan {perantaraan}
kenabian yang diketahui oleh Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya
jika kamu dapat menghilangkan azab itu drp kami pasti kami akan
beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Isra'il pergi
bersamamu." 135~ Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari
mrk hingga batas waktu yang mrk sampai kepadanya, tiba-tiba mrk
mengingkarinya." { Al-A'raaf : 130 ~ 135 }
Bani
Isra'il keluar dari Mesir
Bani
Isra'il yang cukup menderita akibat tindasan Fir'aun dan kaumnya
cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam ketakutan di bawah
pemerintahan Fir'aun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya
sedar bahwa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allah untuk
membebaskan mereka dari cengkaman Fir'aun dan kaumnya. Maka
berduyun-duyunlah mereka datang kepada Nabi Musa memohon
pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir.
Kemudian bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il di bawah
pimpinan Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis.
Dengan berjalan kaki dengan cepat karena takut tertangkap oleh
Fir'aun dan bala tenteranya yang mengejar mereka dari belakang
akhirnya tibalah mereka pada waktu fajar di tepi lautan merah
setelah selama semalam suntuk dapat melewati padang pasir yang
luas.
Rasa cemas dan takut makin mencekam hati para pengikut Nabi Musa
dan Bani Isra'il ketika melihat laut terbentang di depan mereka
sedang dari belakang mrk dikejar oleh Fir'aun dan bala
tenteranya yang akan berusaha mengembalikan mereka ke Mesir.
Mereka tidak meragukan lagi bahwa bila mrk tertangkap, maka
hukuman matilah yang akan mereka terima dari Fir'aun yang zalim
itu.
Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha'
bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh
berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan
kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus
kami perbuat untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan
kaumnya?"
Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas,
perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan
Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami
dari cengkaman musuh yang zalim itu."
Pada saat yang kritis itu, di mana para pengikut Nabi Musa
berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi Musa yang
kelihatan tenang sahaja, turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya
dengan perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka
dengan izin Allah terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan
seperti gunung yang besar. Di antara kedua belahan air laut itu
terbentang dasar laut yang sudah mengering yang segera di bawah
pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Isra'il menuju ke
tepi timurnya.
Setelah mrk sudah berada di bahagian tepi timur dalam keadaan
selamat terlihatlah oleh mereka Fir'aun dan bala tenteranya
menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung
air itu. Kembali rasa cemas dan takut mengganggu hati mereka
seraya memandang kepada Nabi Musa seolah-olah bertanya apa yang
hendak dia lakukan selanjutnya. Dalam pada itu Nabi Musa telah
diilhamkan oleh Allah agar bertenang menanti Fir'aun dan bala
tenteranya turun semua ke dasar laut. Karena takdir Allah tela
mendahului bahwa mrk akan menjadi bala tentera yang tenggelam.
Berkatalah Fir'aun kepada kaumnya tatkala melihat jalan terbuka
bagi mereka di antara dua belah gunung air itu: "Lihat
bagaimana lautan terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami
untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu. Mrk mengira
bahwa mrk akan dpt melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mrk
tidak mengetahui bahwa perintahku berlaku dan ditaati oleh laut,
jgn lagi oleh manusia. Tidakkah ini semuanya membuktikan bahwa
aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?" Maka
dengan rasa bangga dan sikap sombongnya turunlah Fir'aun dan
bala tenteranya ke dasar laut yang sudah mengering itu melakukan
gerak-cepatnya untuk menyusul Musa dan Bani Isra'il yang sudah
berada di tepi bahagian timur sambil menanti hukuman Allah yang
telah ditakdirkan terhamba-hamba-Nya yang kafir itu.
Demikianlah maka setelah Fir'aun dan bala tenteranya berada di
tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua
tepinya, tibalah perintah Allah dan kembalilah air yang
menggunung itu menutupi jalur jalan yang terbuka di mana Fir'aun
dengan sombongnya sedang memimpin barisan tenteranya mengejar
Musa dan Bani Isra'il. Terpendamlah mrk hidup-hidup di dalam
perut laut dan berakhirlah riwayat hidup Fir'aun dan kaumnya
untuk menjadi kenangan sejarah dan ibrah bagi generasi- akan
datang.
Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang untuk
menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan matanya,
berkatalah Fir'aun: "Aku percaya bahwa tiada tuhan selain
Tuhan Musa dan Tuhan Bani Isra'il. Aku beriman pada Tuhan mereka
dan berserah diri kepada-Nya sebagai salah seorang muslim."
Berfirmanlah Allah kepada Fir'aun yang sedang menghadapi
sakaratul-maut: "Baru sekarangkah engkau berkata beriman
kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku? Tidakkah kekuasaan
ketuhananmu dpt menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah
engkau sedar dan percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat,
melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku dan
berbuat-sewenang-wenang, merusak akhlak dan aqidah
manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu. Terimalah
sekarang pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi
orang-orang yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh
kasarmu untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan
akan kekuasaan-Ku."
Bani Isra'il pengikut-pengikut Nabi Musa masih meragukan
kematian Fir'aun. Mrk masih terpengaruh dengan kenyataan yang
ditanamkan oleh Fir'aun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa
dia adalah manusia luar biasa lain drp yang lain dan bahwa dia
akan hidup kekal sebagai tuhan dan tidak akan mati. Khayalan
yang masih melekat pd fikiran mrk menjadikan mrk tidak mahu
percaya bahwa dengan tenggelamnya, Fir'aun sudah mati. Mrk
menyatakan kepada Musa bahwa Fir'aun mungkin masih hidup namun
di alam lain.
Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahwa apa yang terfikir
oleh mrk tentang Fir'aun adalah suatu khayalan belaka dan bahwa
Fir'aun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat
pembalasan Allah atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah
mendustakan Nabi Musa dan menindaskan serta memperhambakan Bani
Isra'il. Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri,
tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya terapung-apung di
permukaan air, hilanglah segala tahayul mrk tentang Fir'aun dan
kesaktiannya.
Menurut catatan sejarah, bahwa mayat Fir'aun yang terdampar di
pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga
utuh sampai sekarang, sebagai mana dpt dilihat di muzium Mesir.
Tentang isi cerita yang terurai di atas dapat di baca dalam
surah "Thaha" ayat 77 sehingga 79 ; surah
"Asy-Syua'ra" ayat 60 sehingga 68 ; surah
"Yunus" ayat 90 sehingga 92 sebagaimana berikut :~
"77~ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa:
"Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku {Bani Isra'il} di
malam hari, maka buatklah untuk mrk jalan yang kering di laut
itu, kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut
{akan tenggelam}." 78~ Maka Fir'aun dengan bala tenteranya
mengejar mrk, lalu mrk ditutup oleh laut yang menenggelamkan
mrk. 79~ Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi
peetunjuk." { Thaha : 77 ~ 79 }
"60~ Maka Fir'aun dan bala tenteranya dpt menyusuli mrk di
waktu matahari terbit. 61~ Maka setelah kedua golongan itu
saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa:
"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul; sesungguhnya
Tuhanku bersertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
63~ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan
tiap-tiap belahan itu adalah seperti golongan yang lain. 65~ Dan
Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersertanya semuanya.
66~ Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. 67~
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu
tanda yang besar {mukjizat} dan kebanyakkan mrk tidak beriman.
68~ Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mulia
Perkasa lai Maha Penyayang." { Asy-Syu'ara : 60 ~ 68 }
"90~ Dan Kami memungkinkan Bani Isra'il melintasi lau, lalu
mrk diikiti oleh Fir'aun dan bala tenteranya, karena hendak
menganiaya dan menindas {mereka} hingga bila Fir'aun itu telah
hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak
ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra'il dan
saya termasuk orang-orang yang berserah diri {kepada
Allah}." 91~ Apakah sekarang {baru kamu percaya} padahal
sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk
orang-orang yang berbuat kerusakkan. 92~ Maka pada hari ini Kami
akan selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pengajaran
bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya
kebanyakkan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan
Kami." { Yunus : 90 ~ 92 }
Nabi Musa A.S. dan Bani Isra'il setelah keluar dari Mesir
Dalam
perjalanan menuju Thur Sina setelah melintasi lautan di bahagian
utara dari Laut Merah dan setelah mereka merasa aman dari
kejaran Fir'aun dan kaumnya. Bani Isra'il yang dipimpin oleh
Nabi Musa itu melihat sekelompok orang-orang yang sedang
menyembah berhala dengan tekunnya. Berkatalah mrk kepada Nabi
Musa: "Wahai Musa, buatlah untuk kamu sebuah tuhan berhala
sebagaimana mrk mempunyai berhala-berhala yang disembah sebagai
tuhan." Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah
orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat. Persembahan
mereka itu kepada berhala adalah perbuatan yang sesat dan bathil
serta pasti akan dihancurkan oleh Allah. Patutkah aku mencari
tuhan untuk kamu selain Allah yang telah memberikan kurnia
kepada kamu, dengan menyelamatkan kamu dari Fir'aun, melepaskan
kamu dari perhambaannya dan penindasannya serta memberikan kamu
kelebihan di atas umat-umat yang lain.Sesungguhnya suatu
permintaan yang aneh drp kamu, bahwa kamu akan mencari tuhan
selain Allah yang demikian besar nikmatnya atas kamu, Allah
pencipta langit dan bumi serta alam semesta. Allah yang baru
saja kamu saksikan kekuasaan-Nya dengan ditenggelamkannya
Fir'aun berserta bala tenteranya untuk keselamatan dan
kelangsungan hidupmu."
Perjalanan Nabi Musa dan Bani Isra'il dilanjutkan ke Gurun Sinai
di mana panas matahari sgt teriknya dan sunyi dari pohon-pohon
atau bangunan di mana orang dpt berteduh di bawahnya. Atas
permohonan Nabi Musa yang didesak oleh kaumnya yang sedang
kepanasan diturunkan oleh Allah di atas mereka awan yang tebal
untuk mrk bernaung dan berteduh di bawahnya dari panas teriknya
matahari. Di samping itu tatkala bekalan makanan dan minuman
mereka sudah berkurangan dan tidak mencukupi keperluan. Allah
menurunkan hidangan makanan "manna" - sejenis makanan
yang manis sebagai madu dan "salwa" - burung sebangsa
puyuh dengan diiringi firman-Nya: "Makanlah Kami dari
makanan-makanan yang baik yang Kami telah turunkan bagimu."
Demikian pula tatkala pengikut-pengikut Nabi Musa mengeluh
kehabisan air untuk minum dan mandi di tempat yang tandus dan
kering itu, Allah mewahyukan kepada Musa agar memukul batu
dengan tongkatnya. Lalu memancarlah dari batu yang dipukul itu
dua belas mata air, untuk dua belas suku bangsa Isra'il yang
mengikuti Nabi Musa, masing-masing suku mengetahui sendiri dari
mata air mana mereka mengambil keperluan airnya.
Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang sangat manja itu, merasa
masih belum cukup atas apa yang telah Allah berikan kepada mrk
yang telah menyelamatkan mereka dari perhambaan dan penindasan
Fir'aun, memberikan mereka hidangan makanan dan minuman yang
lazat dan segar di tempat yang kering dan tandus mereka menuntut
lagi dari Nabi Musa agar memohon kepada Allah menurunkan bagi
mereka apa yang ditumbuhkan oleh bumi dari rupa-rupa
sayur-mayur, seperti ketimun, bawang putih, kacang adas dan
bawang merah karena mereka tidak puas dengan satu macam makanan.
Terhadap tuntutan mereka yang aneh-aneh itu berkatalah Nabi
Musa: "Mahukah kamu memperoleh sesuatu yang rendah nilai
dan harganya sebagai pengganti dari apa yang lebih baik yang
telah Allah kurniakan kepada kamu? Pergilah kamu ke suatu kota
di mana pasti kamu akan dapat apa yang telah kamu inginkan dan
kamu minta."
Pokok cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam
surah "Al-A'raaf ayat 138 sehingga 140 dan 160 ; serta
surah "Al-Baqarah" ayat 61 yang berbunyi sebagai
berikut :~
"138~ Dan Kami seberangkan Bani Isra'il ke seberang lautan
itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap
menyembah berhala, mereka {Bani Isra'il} berkata: "Hai
Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan {berhala} sebagaimana
mereka mempunyai beberapa tuhan {berhala}". Musa menjawab:
"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui
{sifat-sifat Tuhan}". 139~ Sesungguhnya mereka itu akan
dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal yang
selalu mereka kerjakan. 140~ Musa berkata: "Patutkah aku
mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dialah
yang telah melebihkan kamu atas segala umat". { Al-A'raaf :
138 ~ 140 }
"160~ Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang
masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa
ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu
dengan tongkatmu". Maka memancarlah drpnya dua belas mata
air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum
masing-masing. Dan Kami naungkan Awan di atas mereka dan Kami
turunkan kepada mereka manna dan salwa. {Kami berfirman}:
"Makanlah baik-baik dari apa yang Kami telah rezekikan
kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah
yang selalu menganiaya dirinya sendiri." { Al-A'raaf : 160
}
"61~ Dan ingatlah ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami
tidak boleh sabar {tahan} dengan satu macam makanan saja. Sebab
itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, Agar Dia mengeluarkan
bagi kami dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, yaitu
sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan
bawah merahnya." Musa berkata: "Mahukah kamu mengambil
sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah
kamu ke suatu kota, pasti kamu memperolehi apa yang kamu
minta." { Al-Baqarah : 61 }
Musa bermunajat dengan Allah
Menurut
riwayat sementara ahli tafsir, bahawasanya tatkala Nabi Musa
berada di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi
mereka sebuah kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman
hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana
cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia dan
bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka
kepada Allah. Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk
akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang
diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar
yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.
Maka setelah perjuangan menghadapi Fir'aun dan kaumnya yang
telah tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon
kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci untuk menjadi
pedoman dakwah dan risalahnya kepada kaumnya. Lalu Allah
memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga
puluh hari penuh, iaiut semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi
ke Bukit Thur Sina di mana ia akan diberi kesempatan bermunajat
dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang diminta.
Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia
harus menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa
merasa segan akan bermunajat dengan Tuhannya dalam keadaan
mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya. Maka ia
menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya
menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat yang datang
kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah malaikat itu
kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau harus menggosokkan
gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut anggapanmu
kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang
berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari
baunya kasturi. Maka akibat tindakanmu itu, Allah memerintahkan
kepadamu berpuasa lagi selama sepuluh hari sehingga menjadi
lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari."
Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara
pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat
Nabi Harun sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang
ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri
di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya
turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa
engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia
menjawab: "Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai
Tuhanku. Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai
redha-Mu."
Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai
Tuhamku, nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat
melihat-Mu"
Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku,
tetapi cubalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di
tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya engkau akan dapat
melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan
pandangannya kejurusan bukit yang dimaksudkan itu yang seketika
itu juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa
menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah
seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan.
Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan
bertahmidlah ia seraya memohon ampun kepada Allah atas
kelancangannya itu dan berkata: "Maha Besarlah Engkau wahai
Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dn aku akan
menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu."
Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi
Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan
batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli tafsir yang
di dalamnya tertulis segala sesuatu secara terperinci dan jelas
mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai
oleh Allah.
Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan
firman-Nya: "Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih
engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di masamu, untuk
membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku. Aku
telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan dapat
bercakap-cakap langsung dengan Aku, maka bersyukurlah atas
segala kurnia-Ku kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang
Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu
terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il
ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan
dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu Bani Isra'il
agar mematuhi perintah-perintah-Ku jika mereka tidak ingin Aku
tempatkan mereka di tempat-tempat orang-orang yang fasiq."
Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah
"Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah "Al-a'raaf"
ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~
"83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai
Musa?" 84~ Berkata Musa: "Itulah mereka sedang
menyusuli aku dan aku bersegera kepadamu ya Tuhanku, agar supaya
Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 }
"142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan
Taurat} sesudah berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami
sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam lagi}, maka
sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh
malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun:
"Gantilah aku dalam {memimpin} kaumku dan perbaikilah dan
janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat
kerusakkan". 143~ Dan tatkala Musa datang untuk {munajat}
dengan {Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan
telah berfirman {langsung} kepadanya, berkatalah Musa: "Ya
Tuhanku nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku dapat
melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu
sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit
itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala} nescaya
kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung
itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa
pun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata:
"Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang
yang pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa
sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari manusia yang lain {di
masamu} untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung
dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku
berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur." 145~ Dan Kami telah tuliskan untuk Musa luluh
{Taurat} segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka
Kami berfirman: "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan
suruhlah kaummu berpegang kepada {perintah-perintahnya} yang
sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri
orang-orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~ 145 }
Bani
Isra'il kembali menyembah patung anak lembu
Nabi
Musa berjanji kepada Bani Isra'il yang ditinggalkan di bawah
pimpinan Nabi Harun bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka
lebih lama dari tiga puluh hari, dalam perjalananya ke Thur Sina
untuk berminajat dengan Tuhan. Akan tetapi berhubung dengan
adanya perintah Allah kepada Musa untuk melengkapi jumlah hari
puasanya menjadi empat puluh hari, maka janjinya itu tidak dapat
ditepati dan kedatangannya kembali ke tengah-tengah mereka
tertunda menjadi sepuluh hari lebih lama drp yang telah
dijanjikan.
Bani Isra'il merasa kecewa dan menyesalkan kelambatan kedtgan
Nabi Musa kembali ke tengah-tengah mrk. Mrk menggerutu dan
mengomel dengan melontarkan kata-kata kepada Nabi Musa
seolah-olah ia telah meninggalkan mrk dalam kegelapan dan dalam
keadaan yang tidak menentu. Mrk merasa seakan-akan telah
kehilangan pimpinan yang biasanya memberi bimbingan dan
petunjuk-petunjuk kepada mrk.
Keadaan yang tidak puas dan bingung yang sedang meliputi
kelompok Bani Isra'il itu, digunakan oleh seprg munafiq, bernama
Samiri yang telah berhasil menyusup ke tengah-tengah mrk,
sebagai kesempatan yang baik untuk menyebarkan benih syiriknya
dan merusakkan akidah para pengikut Nabi Musa yang baru saja
menerima ajaran tauhid dan iman kepada Allah. Samiri yang
munafiq itu menghasut mrk dengan kata-kata bahwa Musa telah
tersesat dalam tugasnya mencari Tuhan bagi mereka dan bahawa dia
tidak dapat diharapkan kembali dan karena itu dianjurkan oleh
Samiri agar mereka mencari tuhan lain sebagai ganti dari Tuhan
Musa.
Samiri melihat bahwa hasutan itu dapat menggoyahkan iman dan
akidah pengikut-pengikut Musa yang memang belum meresapi benar
ajaran tauhidnya segera membuat patung bagi mereka untuk
disembah sebagai tuhan pengganti Tuhannya Nabi Musa. PAtung itu
berbentuk anak lembu yang dibuatnya dari emas yang dikumpulkan
dari perhiasan-perhiasan para wanita. Dengan kepandaian
tektiknya patung itu dibuat begitu rupa sehingga dapat
mengeluarkan suara menguap seakan-akan anak lembu sejati yang
hidup. Maka diterimalah anak patung lembu itu oleh Bani Isra'il
pengikut Nabi Musa yang masih lemah iman dan akidahnya itu
sebagai tuhan persembahan mereka.
Ditegurlah mereka oleh Nabi Harun yang berkata: "Alangkah
bodohnya kamu ini! Tidakkah kamu melihat anak lembu yang kamu
sembah ini tidak dapat bercakap-cakap dengan kamu dan tidak pula
dapat menuntun kamu ke jalan yang benar. Kamu telah menganiaya
diri kamu sendiri dengan menyembah pada sesuatu selain
Allah."
Teguran Nabi Harun itu dijawab oleh mereka yang telah termakan
hasutan Samiri itu dengan kata-kata: "Kami akan tetap
berpegang pada anak lembu ini sebagai tuhan persembahan kami
sampai Musa kembali ke tengah-tengah kami."
Nabi Harun tidak dapat berbuat banyak menghadapi kaumnya yang
telah berbalik menjadi murtad itu, karena ia khuatir kalau
mereka dihadapi dengan sikap yang keras, akan terjadi perpecahan
di antara mereka dan akan menjadi keadaan yang lebih rumit dan
gawat sehingga dapat menyulitkan baginya dan bagi Nabi Musa
kelak bila ia datang untuk mencarikan jalan keluar dari krisis
iman yang melanda kaumnya itu. Ia hanya memberi peringatan dan
nasihat kepada mereka sambil menanti kedatangan Musa kembali
dari Thur Sina.
Dalam pada itu, Nabi Musa setelah selesai bermunajat dengan
Tuhan dan dalam perjalanannya kembali ke tempat di mana kaumnya
sedang menunggu memperolehi isyarat tentang apa yang telah
terjadi dan dialami oleh Nabi Harun selama ketiadaannya. Nabi
Musa sgt marah dan sedih hati tatkala ia tiba di tempat dan
melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu
emas, menyembahnya dan memuji-mujinya. Dan karena sgt marah dan
sedihnya ia tidak dapat menguasai dirinya, kepingan-kepingan
Taurat dilemparkan berantakan. Harun saudaranya dipegang rambut
kepalanya ditarik kepadanya seraya berkata menegur: "Apa
yang engkau buat tatkala engkau melihat mereka tersesat dan
terkena oleh hasutan dan fitnahan Samiri? Tidakkah engkau
mematuhi perintahku dan pesanku ketika aku menyerahkan mereka
kepadamu untuk engkau pimpin? Tidakkah engkau berdaya melawan
hasutan Samiri dengan memberi petunjuk dan penerangan kepada
mereka dan mengapa engkau tidak cepat memadamkan api kemurtadan
ini sebelum menjadi besar begini?"
Harun berkata menanggapi teguran Musa: "Hai anak ibuku,
janganlah engkau memegang jangut dan rambut kepalaku,
menarik-narikku. Aku telah berusaha memberi nasihat dan teguran
kepada mereka, namun mereka tidak mengindahkan kata-kataku.
Mereka menganggapkan aku lemah dan mengancam akan membunuhku.
Aku khawatir jika aku menggunakan sikap dan tindakan yang keras,
akan terjadi perpecahan dan permusuhan di antara sesama kita,
hal mana akan menjadikan engkau lebih marah dan sedih.
Lepaskanlah aku dan janganlah membuatkan musuh-musuhku
bergembira melihat perlakuanmu terhadap diriku. Janganlah
disamakan aku dengan orang-orang yang zalim."
Setelah mereda rasa jengkel dan sedihnya dan memperoleh kembali
ketenangannya, berkatalah Nabi Musa kepada Samiri, orang munafiq
yang menjadi biang keladi dari kekacauan dan kesesatan itu:
"Hai Samiri, apakah yang mendorongmu menghasut dan
menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali menjadi murtad,
menyembah patung yang engkau buatkan dari emas itu?"
Samiri menjawab: "Aku telah melihat sesuatu yang mereka
tidak melihatnya. Aku telah melihat kuda malaikat Jibril. aku
mengambil segenggam tanah bekas jejak telapak kakinya itu, lalu
aku lemparkannya ke dalam emas yang mencair di atas api dan
terjadilah patung anak lembu yang dapat menguak, mengeluarkan
suara sebagaimana anak lembu biasa.Demikianlah hawa nafsuku
membujukku untuk berbuat itu."
Berkata Nabi Musa kepada Samiri: "Pergilah engkau dan
jauhilah pergaulan manusia sebab karena perbuatan kamu itu
engkau harus dipencilkan dan menjadi tabu {sesuatu yang
terlarang} jika disentuh atau menyentuh seseorang ia akan
menderita sakit demam panas. Ini adalah ganjaranmu di dunia,
sedang di akhirat nerakalah akan menjadi tempatmu. Dan tuhanmu
yang engkau buat dan sembah ini kami akan bakar dan campakkannya
ke dalam laut."
Kemudian berpalinglah Nabi Musa kepada kaumnya berkata:
"Hai kaumku, alangkah buruknya perbuatan yang kamu telah
kerjakan setelah kepergianku! Apakah engkau hendak mendahului
janji Tuhanmu? Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu janji
yang baik, berupa kitab suci? Ataukah engkau menghendaki
kemurkaan Tuhan menimpa atas dirimu, karena perbuatanmu yang
buruk itu dan perlanggaranmu terhadap perintah-perintah dan
ajaran-ajaranku."
Kaum Musa menjawab: "Kami tidak sesekali melanggar
perjanjianmu dengan kemahuan kami sendiri, akan tetapi kami
disuruh membawa beban-beban perhiasan yang berat kepunyaan orang
Mesir yang atas anjuran Samiri kami lemparkan ke dalam api yang
sedang menyala. Kemudian perhiasan-perhiasan yang kami lemparkan
itu menjelma menjadi patung anak lembu yang bersuara, sehingga
dapat menyilaukan mata kepala kami dan menggoyahkan iman yang
sudah tertanam di dalam dada kami."
Berkata Musa kepada mrk: "Sesungguhnya kamu telah berbuat
dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri dengan menjadikan
patung anak lembu itu sebagai persembahanmu, maka bertaubatlah
kamu kepada Tuhan, Penciptamu dan Pencipta alam semesta dan
mohonlah ampun drpnya agar Dia menunjukkan kembali kepada jalan
yang benar."
Akhirnya kaum Musa itu sedar atas kesalahannya dan mengakui
bahwa mereka telah disesatkan oleh syaitan dan memohon ampun dan
rahmat Allah agar selanjutnya melindungi mereka dari godaan
syaitan dan iblis yang akan merugikan mereka di dunia dan
akhirat. Demikian pula Nabi Musa beristighfar memohon ampun
baginya dan bagi Harun saudaranya setalah ternyata bahwa ia
tidak melalaikan tugasnya sebagai wakil Musa dalam menghadapi
krisis iman yang dialami oleh kaumnya. Berdoa Musa kepada
Tuhannya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan
masukkanlah kami berdua ke dalam lingkaran rahmat-Mu
sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Setelah suasana yang meliputi hubungan Musa dengan Harun di satu
pihak dan hubungan mereka berdua dengan kaumnya di lain pihak
menjadi tenang kembali, kepingan-kepingan Taurat yang bertaburan
sudah dihimpun dan disusun sebagaimana asalnya, maka Allah
memerintahkan kepada Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya
menghadap untuk meminta ampun atas dosa mereka menyembah patung
anak lembu.
Tujuh puluh orang dipilih oleh Nabi Musa di antara kaumnya untuk
diajak pergi bersama ke Thur Sina memenuhi perintah Allah
meminta ampun atas dosa kaumnya. Mereka diperintahkan untuk
keperluan itu agar berpuasa, mensucikan diri, pakaian mereka dan
pada waktu yang telah ditentukan berangkatlah Nabi Musa bersama
tujuh puluh orang itu menuju ke bukit Thur Sina.
Setiba mereka di Thur Sina turunlah awan yang tebal meliputi
seluruh bukit, kemudian masuklah Nabi Musa diikuti para
pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud.
Dan sementara bersujud terdengarlah oleh kelompok tujuh puluh
itu percakapan Nabi Musa dengan Tuhannya. Pada saat itu
timbullah dalam hati mereka keinginan untuk melihat Zat Allah
dengan mata kepala mereka setelah mendengar percakapan-Nya
dengan telinga.Maka setelah selesai Nabi Musa bercakap-cakap
dengan Allah berkatalah mereka kepadanya: "Kami tidak akan
beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang."
Dan sebagai jawapan atas keinginan mereka yang menunjukkan
keingkaran dan ketakaburan itu, Allah seketika itu juga
mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka
sekaligus.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib fatal yang menimpa kelompok
tujuh puluh orang yang merupakan orang-orang yang terbaik di
antara kaumnya. Ia berseru memohon kepada Allah agar diampuni
dosa mereka seraya berkata: "Wahai Tuhanku, aku telah pergi
ke Thur Sina dengan tujuh puluh orang yang terbaik di antara
kaumku kemudian aku akan kembali seorang diri, pasti kaumku
tidak akan mempercayaiku. Ampunilah dosa mereka, wahai Tuhanku
dan kembalilah kepada mereka nikmat hidup yang Engkau telah
cabut sebagai pembalasan atas keinginan dan permintaan mereka
yang durhaka itu."
Alah memperkenankan doa Musa dan permohonannya dengan dihidupkan
kembali kelompok tujuh puluh orang itu, maka bangunlah mereka
seakan-akan orang yang baru sedar dari pengsannya. Kemudian pada
kesempatan itu Nai Musa mengambil janji dari mereka bahwa mereka
akan berpegangan teguh kepada kitab Taurat sebagai pedoman hidup
mereka melaksanakan perinta-perintahnya dan menjauhi segala apa
yang dilarangnya.
Pokok cerita yang dihuraikan di atas, dikisahkan oleh Al-Quran
dalam banyak tempat, di antaranya surah "Thaha" ayat
85 sehingga 98, surah "Al-A'raaf ayat 149, 151, 154, 155
dan surah "Al-Baqarah" ayat 55, 56, 63 dan 64 sebagai
berikut :~
"85~ Allah berfirman: "Maka sesungguuhnya Kami telah
menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan dan mereka telah
disesatkan oleh Samiri." 86~ Kemudian Musa kembali kepada
kaumnya, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji
yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu
atau kamu melanggar perjanjian dengan aku?" 87~ Mereka
berkata: "Kami sesekali tidak melanggar perjanjian kamu
dengan kemahuan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa
beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah
melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya."
88~ Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mrk anak lembu yang
bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah tuhanmu
dan tuhan Musa tetapi Musa telah lupa." 89~ Maka apakah
mereka tidak memperhatikan bahawapatung anak lembu itu tidak
dapat memberi jawapan kepada mereka dan tidak dapat memberi
kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan? 90~ Dan
sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya:
" Hai kaumku, sesungguhnya kamu itu hanya diberi cubaan
dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang
Maha Pemurah maka ikutilah aku dan taatilah perintahku."
91~ Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyambah patung anak
lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." 92~ Berkata
Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu
melihat telah tersesat, 93~ {sehingga} kamu tidak mengikuti aku?
Maka apakah kamu telah sengaja mendurhakai perintahku?" 94~
Harun menjawab: "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang
jangutku dan jangan pula kepalaku; sesungguhnya aku khuatir
bahawa kamu akan berkata {kepadaku}: " Kamu telah memecah
antara Bani Isra'il dan kamu tidak memelihara amanatku."
95~ Berkatalah Musa: "Apakah yang mendorongmu {berbuat
demikian} hai Samiri?" 96~ Samiri menjawab: "Aku
mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya maka aku
ambil segenggam aari jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan
demikianlah nafsuku membujukku." 97~ berkata Musa:
"Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagi kamu di dalam
kehidupan di dunia ini hanya dapat menyatakan : Janganlah
menyantuh {aku}." Dan sesungguuhnya bagimu hukuman {di
akhirat} yang kami sesekali tidak dapat menghindarinya dan
lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya
kami akan membakarnya kemudian kami sesungguhnya akan
menghamburkannya ke dalam laut {berupa abu yang berserakan} 98~
Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan selain
Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." { Thaha : 85
~ 98 }
"149~ Dan setelah mereka sgt menyesali perbuatanya dari
mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata:
"Sesungguhnya jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada
kami dan tidak mengampuni kami pastilah kami menjadi orang-orang
yang rugi." { Al-A'raaf : 149 }
"151~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku ampunilah aku dan
saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau dan Engkau
adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang." {
Al-A'raaf : 151 }
"154~ Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya
kembali luh-luh {Taurat} itu; dan dalam tulisannya terdpt
petunjuk dan rahmatbutk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
155~ Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk
{memohonkan taubat kepada Kami} pada waktu yang telah Kami
tentukan. Mak ketika mereka digoncang genpa bumi Musa berkata:
"Ya Tuhanku! kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau telah
membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang krg akal di
antara kami? Itu hanyalah cubaan dari Engkau, Engkau sesatkan
dengan cubaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri
petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang
memimpin kami maka ampunilah kami dan berikanlah kepada kami
rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun sebaik-baiknya." {
Al-A'raaf : 154 ~ 155 }
"55~ Dan {ingatlah} ketika kamu berkata: "Hai Musa,
kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum kami melihat Allah
dengan terang karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu
menyaksikannya" 56~ Setelah itu Kami bangkitkan kamu
sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur." { Al-Baqarah :
55 ~ 56 }
"63~ Dan {ingatlah} ketika Kami mengambil janji dari kamu
dan Kmai angkatkan gunung { Thur Sina } di atas {seraya Kami
berfirman} : "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan
kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu
bertakwa. Kemudian kamu berpaling setelah {adanya perjanjian}
itu, maka kalau tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atasmu,
nescaya kamu tergolong orang yang rugi." { Al-Baqarah : 63
~ 64 }
Bani Isra'il mengembara tidak berketentuan tempat tinggalnya
Tidak
kurang-kurang kurniaan Allah yang diberikan kepada kaum Bani
Isra'il. Mereka telah dibebaskan dari kekuasaan Fir'aun yang
kejam yang telah menindas dan memperhambakan mereka berabad-abad
lamanya. Telah diperlihatkan kepada mereka bagaimana Allah telah
membinasakan Fir'aun , musuh mereka tenggelam di laut. Kemudian
tatkala mereka berada di tengah-tengah padang pasir yang kering
dan tandus, Allah telah memancarkan air dari sebuah batu dan
menurunkan hidangan makanan "Manna dan Salwa" bagi
keperluan mereka.
Di samping itu Allah mengutuskan beberapa orang rasul dan nabi
dari kalangan mererka sendiri untuk memberi petunjuk dan
bimbingan kepada mereka. Akan tetapi kurnia dan nikmat Allah
yang susul-menyusul yang diberikan kepada mereka, tidaklah
mengubah sifat-sifat mereka yang tidak mengenal syukur, berkeras
kepala dan selalu membangkang terhadap perintah Allah yang
diwahyukan kepada rasul-Nya.
Demikianlah tatkala Allah mewahyukan perintah-Nya kepada Nabi
Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat suci yang
telah dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi
tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan
melaksanankan perintah itu. Alasan penolakan mereka ialah karena
mereka harus menghadapi suku "Kana'aan" yang menurut
anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang
tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan kekuatan. Mereka
tidak mempercayai janji Allah melalui Musa, bahwa dengan
pertolongan-Nya mereka akan dapat mengusir suku Kan'aan dari
kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka
selama-lamanya.
Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengejutnya kepada
Musa: "Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum
orang-orang suku Kan'aan itu keluar. KAmi tidak berdaya
menghadapi mereka dengan kekuatan fizikal kerana mereka telah
terkenal sebagai orang-orang yang kuat dan perkasa. Pergilah
engkau berserta Tuhanmu memerangi dan mengusir orang-orang suku
Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di sini sambil menanti hasil
perjuanganmu."
Naik pitamlah Nabi Musa melihat sikap kaumnya yang pengecut itu
yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat
tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau
melalui mukjizat sebagaimana mereka telah mengalaminya dan
banyak peristiwa. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata
mengejek mereka yang menandakan bahwa dada mereka masih belum
bersih dari benih kufur dan syirik kepada Allah.
Dalam keadaan marah setelah mengetahui bahawa tiada seorang drp
kaumnya yang akan mendampinginya melaksanakan perintah Allah
itu, berdoalah Nai Musa kepada Allah: "Ya Tuhanku, aku
tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka
pisahkanlah kami dari orang-orang yang fasiq yang mengingkari
nikmat dan kurnia-Mu."
Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah menolak
perintah Allah memasuki Palestin, Allah mengharamkan negeri itu
atas mereka selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan
mengembara berkeliaran di atas bumi Allah tanpa mempunyai tempat
mukim yang tetap. Mereka hidup dalam kebingungan sampai
musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang
akan mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah
disanggupkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim a.s.
Pokok cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam
surah "Al-Maidah ayat 20 sehingga ayat 26 sebagaimana
berikut :~
"20~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia
mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu
orang-orang merdeka dan diberi-Nya kepada mu apa yang belum
pernah diberi-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang
lain." 21~ HAi kaumku, masuklah ke tanah suci {Palestin}
yang telah ditentukan oleh Allah bagimu dan janganlah kamu lari
kebelakang {karena takut kepada musuh} maka kamu akan menjadi
orang-orang yang rugi. 22~ Mereka berkata: "Hai Musa,
sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa
sesungguhnya kami tidak sesekali akan memasukinya sebelum mereka
keluar drpnya. Jika mereka keluar drpnya, pasti kami akan
memasukinya" 23~ Berkatalah dua orang di antara orrg-orang
yang takut {kepada Allah} yang Allah telah memberi nikmat atas
keduanya: " Serbulah mereka melalui pintu gerbang {kota}
itu, maka bila kamu memasukinya nescaya kamu akan menang. Dan
hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu
orang-orang yang beriman." 24~ Mereka berkata: "Hai
Musa, kami sesekali tidak akan memasuki selama-lamanya selagi
mereka ada di dalamnya karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu
dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk
menanti disini saja." 25~ Berkata Musa: "Ya Tuhanku,
aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab
itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq
itu." 26~ Allah berfirman : {Jika demikian} maka
sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat
puluh tahun {selama itu} mereka akan berpusing-pusing
kebingungan di bumi itu. Maka janagnlah kamu bersedih hati
{memikirkan nasib} orang-orang yang fasiq itu." { Al-Maidah
: 20 ~ 26 }
Kisah sapi Bani Isra'il
Salah
satu dari beberapa mukjizat yang telah dinerikan oleh Allah
kepada Nabi Musa ialah penyembelihan sapi yang terkenal dengan
sebutan sapi Bani ISra'il.
Dikisahkan bahwa ada seorang anak laki-laki putera tunggal dari
seorang kaya-raya memperolehi warisan harta peninggalan yang
besar dari ayahnya yang telah wafat tanpa meninggalkan seorang
pewaris selain putera tunggalnya itu.
Saudara-saudara sepupu dari putera tunggal itu iri hati dan
ingin menguasai harta peninggalan yang besar itu atau
setidak-tidaknya sebahagian daripadanya. Dan kerana menurut
hukum yang berlaku pada waktu itu yang tidak memberikan hak
kepada mereka untuk memperoleh walau sebahagian dari peninggalan
bapa saudara mereka , mereka bersekongkol untuk membunuh saudara
sepupu pewaris itu, sehingga bila ia sudah mati hak atau warisan
yang besar itu akan jatuh kepada mereka.
Pembunuh atas pewaris sah itu dilaksanakan menurut rencana yang
tersusun rapi kemudian datanglah mereka kepada Nabi Musa
melaporkan, bahwa mereka telah menemukan saudara sepupunya mati
terbunuh oleh seorang yang tidak dikenal identitinya mahupun
tempat di mana iamenyembunyikan diri. Mereka mengharapkan Nabi
Musa dapat menyingkap tabir yang menutupi peristiwa pembunuhan
itu serta siapakah gerangan pembunuhnya.
Utk keperluan itu, Nabi Musa memohon pertolongan Allah yang
segera menwahyukan perintah kepadanya agar ia menyembelih seekor
sapi dan dengan lidah sapi yang disembelih itu dipukullah mayat
sang korban yang dengan izin Allah akan bangun kembali
memberitahukan siapakah sebenarnya yang telah melakukan
pembunuhan atas dirinya.
Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang diwahyukan oleh Allah
itu kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek karena akal mereka
tidak dapat menerima bahwa hal yang sedemikian itu boleh
terjadi. Mereka lupa bahwa Allah telah berkali-kali menunjukkan
kekuasaan-Nya melalui mukjizat yang diberikan kepada Musa yang
kadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar untuk diterima
oleh akal manusia berbanding mukjizat yang mereka hadapi dalam
peristiwa pembunuhan pewaris itu.
Berkata mereka kepada Musa secara mengejek: "Apakah dengan
cara yang engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan
kami bahan ejekan dan tertawaan orang? Akan tetapi kalau memang
cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cubalah tanya
kepada Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yang harus kami
sembelih? Dan apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar
kami tidak dapat salah memilih sapi yang harus kami
sembelih?"
Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah, yang harus
disembelih itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum
pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman tidak
cacat dan tidak pula ada belangnya."
Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan kampung-kampung
mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya
pd seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai
satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta menjadi
satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah anak yatim itu adalah
seorang fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yang tekun yang
pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kepada Allah
memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yang tidak dapat
meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu.
Maka berkat doa ayah yang soleh itu terjuallah sapi si anak
yatim itu dengan harga yang berlipat ganda karena memenuhi
syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk
disembelih.
Setelah disembelih sapi yang dibeli dari anak yatim itu,
diambillah lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada
tubuh mayat, yang seketika bangunlah ia hidup kembali dengan
izin Allah, menceritakan kepada Nabi Musa dan para pengikutnya
bagaimana ia telah dibunuh oleh saudara-saudara sepupunya
sendiri.
Demikianlah mukjizat Allah yang kesekian kalinya diperlihatkan
kepada Bani Isra'il yang keras kepala dan keras hati itu namun
belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan
membangkang mereka atau mengikis-habis bibit-bibit syirik dan
kufur yang masih melekat pada dada dan hati mereka.
Ayat-ayat Al-Quran yang mengisahkan pokok cerita di atas,
terdapat dalam surah "Al-Baqarah ayat 67 sehingga 73
sebagaimana tersebut di bawah ini :~
"67~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih sapi
betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak
menjadikan kami buah ejekan." Musa menjawab: "Aku
berlindung kepada Allah drp menjadi salah seorang dari
orang-orang yang jahil." 68~ Mrk menjawab: "Mohonlah
kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi
betina apakah itu? Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak
tua dan tidak muda pertengahan antara itu maka kerjakanlah apa
yang telah diperintahkan kepadamu." 69~ Mereka berkata:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan
kepada kami apakah warnanya. Musa menjawab: "Sesungguhnya
Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang
kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang
memandangnya." 70~ Mrk berkata: "Mohonkanlah kepada
Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana
hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu {masih}
samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya-Allah akan dat
petunjuk." 71~ Musa berkata: "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina adalah sapi betina yang belum pernah
dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi
tanaman, tidak cacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata:
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang
sebenar." Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja
mereka tidak melaksanakan perintah itu. 72~ Dan {ingatlah}
ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh
menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang
selama ini kamu sembunyikan. 73~ Lalu Kami berfirman:
"Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina
itu." Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang
yang telah mati dan memperlihatkan padamu tanda-tanda
kekuasaan-Nya agar kamu mengerti." { Al-Baqarah : 67 ~ 73 }
Nabi
Musa A.S. dan Al-Khidir
Pada
suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di depan kaumnya Bani
Isra'il. Ia berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan
mengingatkan kepada mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang
telah dicurahkan kepada mereka yang sepatutnya diimbangi dengan
syukur dan pelaksanaan ibadah yang tulus, melakukan segala
perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Kepada mereka
yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala
syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat Allah diancam
dengan seksa api neraka.
Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah di antara para
hadiri bertanya kepadanya: "Wahai Musa, siapakah di atas
bumi Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?"
"Aku", jawab Musa. Apakah tidak ada kiranya orang yang
lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?" Tanya
lagi si penanya itu. "Tidak ada" , ujar Musa seraya
berkata dalam hati kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar
di antara Bani Isra'il? Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang
berbagai mukjizat, yang telah dapat membelah laut dengan
tongkatku dan akulah yang memperoleh kesempatan bercakap-cakap
langsung dengan Tuhan. Maka kemuliaan apa lagi yang dapat
melebihi kemuliaan serta kebesaran yang aku capai itu, yang
belum pernah dialami dan dicapai oleh sesiapa pun sebelum
aku."
Rasa sombong dan keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata
Nabi Musa, dicela oleh Allah yang memperingatkan kepadanya bahwa
ilmu itu adalah lebih luas untuk dimiliki oleh seseorang
walaupun ia adalah seorang rasul dan bahwa bagaimana luasnya
ilmu dan pengetahuan seseorang, nescaya akan terdapat orang lain
yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk
melanjutkan kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa Allah
memerintahkan kepadanya agar menemui seorang hamba-Nya di suatu
tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba yang soleh yang telah
diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan memberi tambahan
pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan
sedar bahwa tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan
mengatakan bahwa akulah orang yang terpandai dan berpengetahuan
luas di atas bumi ini.
Berkata Musa kepada Tuhan: "Wahai Tuhanku, aku akan pergi
mencari hamba-Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api
ilmunya dan mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang
Engkau telah berikan kepadanya."
Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam
sebuah keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah
bahwa di tempat di mana engkau akan kehilangan ikan di dalam
keranjang itu, di situ engkau akan menemui hamba-Ku yang soleh
itu." Nabi Musa menyiapkan diri untuk perjalanan yang jauh,
didampingi oleh "Yusya' bin Nun" seorang drp para
pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanan dan minuman di
antaranya sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai dengan
petunjuk Allah. Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia
dapat menemui hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan
perjalanan yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bila perlu.
Ia berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin Nun agar
segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam
keranjang yang dibawanya itu hilang.
Tatkala Nabi Musa nerserta Yusya' bin Nun sampai di mana dua
lautan bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah
kepadanya, tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang
berada di tepi lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah
hujan rintik-rintik, membasahi seekor di dalam keranjang itu dan
tanpa mereka ketahui melompatlah ikan tersebut itu masuk ke
dalam laut.
Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan
perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam
perjalanan yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat
sekadar untuk menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari
Yusya bin Nun agar menyiapkan santapannya karena ia sudah sgt
lapar. Ketika Yusya bin Nun membuka keranjang untuk mengambil
makanan teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan melompat
ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa:
"Aku telah dilupakan oleh syaitan untuk memberitahu
kepadamu segera, bahwa tatkala engkau berada di atas batu karang
sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang
tiba-tiba hidup kembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat
masuk ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera,
sesuai dengan pesananmu, namun aku dilupakan oleh syaitan."
Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita
itu dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan
dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu. Berkata Musa
kepada Yusya': "Inilah tempat yang kami tuju dan disini
kami akan menemui orang yang kami cari. Marilah kami kembali ke
tempat batu karang itu yang menjadi tempat tujuan terakhir dari
perjalanan kami yang jauh ini."
Setiba mereka kembali di tempat di mana mereka kehilangan ikan,
mereka melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada
wajahnya tampak cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh.
Ia sedang menutpi tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera
disingkapnya ketika mendengar kata-kata salam Nabi Musa
kepadanya.
"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu. Musa
menjawab: "Aku adalah Musa." Bertanya kembali orang
soleh itu: "Musa, nabi Bani Isra'ilkah?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari
manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani
Isra'il?"
"Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh
itu. "Inilah hamba Allah yang aku cari", berkata Musa
dalam hatinya, seraya mendekatinya dan berkata kepadanya:
"Dapatkah engkau memperkenankan aku mengikutimu dan
berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi sebagai bayanganmu
dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala petunjuk dan
perintahmu."
Hamba soleh atau menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir Nabi
Al-Khidhir itu menjawab: "Engkau tidak akan sabar dan tidak
dapat menahan diri bila engkau mengikutiku dan berjalan
bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib
yang sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan
mungkar namun pada hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar
dab engkau sebagai manusia tidak akan berdiam diri melihatku
melakukan perbuatan dan tingkah laku yang ganjil menurut
pandanganmu."
Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang ingin belajar dan
menambah pengetahuan : "Insya-Allah engkau akan mendapati
aku seorang yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu
perintah atau petunjuk daripadamu."
Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "JIka engkau benar-benar
ingin mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus
berjanji tidak akan mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum
aku memberitahukan kepadamu. Engkau harus berjanji bahwa engkau
tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan yang aku
lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan
mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasan dan tafsiran bagi
segala tindakan dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir
perjalanan kami berdua."
Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir oleh Musa yang
berjanji akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa
mengikutinya dalam perjalanan.
Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi
tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah
perahu sedang berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan
pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang
di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara
percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang
baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahwa kedua orang itu
memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada
orang biasa.
Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang sedang meluncur
dengan lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa
melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua
keping kayunya. Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu
gangguan dan pengrusakan bagi milik seseorang yang telah berbuat
baik terhadap mereka.
Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan
berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan
merusak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu
ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua
penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik
perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami
ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?"
Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku
telah katakan kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan
diri melihat tindak-tandukku di dalam perjalanan
menyertaiku."
Musa berkata: "Maafkanlah daku. Aku telah lupa akan janjiku
sendiri. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan
kelupaanku."
Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah
meeka berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian
perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan
seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan
kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir,
dibawanya ke tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan
dibunuhnya seketika itu. Alangkah terperanjatnya Musa melihat
tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya telah
membunuh seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin
sekali dalam fikiran Musa adalah harapan satu-satunya bagi kedua
orang tuanya.
Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah untuk memerangi
kemungkaran dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat
Al-Khidhir melakukan pembunuhan yang tiada beralasan itu, maka
ditegurlah ia seraya berkata: "Mengapa engkau telah
membunuh seorang anak yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau
telah melakukan perbuatan yang mungkar dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya: "Bukankah aku
telah berkata kepadamu, bahwa engkau tidak akan sabar menahan
diri berjalan dengan aku?"
Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir itu, berucaplah
Musa: "Maafkanlah aku untuk kedua kalinya dan
perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan bersamamu dengan
pergertian bahwa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku
untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan
menyertaimu seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau memberi
uzur dan memberi maaf kepadaku."
Dengan janji terakhir yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa
diteruskanlah perjalanan mereka berdua sampai tiba di suatu desa
di mana mereka ingin beristirehat untuk menghilangkan lelah dan
penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka
berusaha untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit
bahan makanan untuk sekadar mengisi perut kosong mereka, namun
tidak seorang pun dari penduduk desa yang memang terkenal bachil
{pelit} itu yang mahu menolong mereka memberi tempat
beristirehat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa
mereka segera meninggalkan desa itu.
Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desa itu
mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh.
Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya
kembali. Dan secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada
Al-Khidhir: "Hairan bin ajaib, mengapa engkau berbuat
kebaikan bagi orang0orang yang jahat dan pelit ini. Mereka telah
menolak untuk memberi kepada kami tempat istirehat dan sesuap
makanan untuk perut kami yang lapar. Sepatutnya engkau menuntut
upah bagi usahamu menegakkan dinding itu, agar dengan upah yang
engkau perolehi itu dapat kami menutupi keperluan makan minum
kami."
Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami
berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku
memberimu kesempatan dan uzur. Akan tetapi sebelum kami berpisah
, akan aku berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan
perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan tidak wajar dan kurang
patut."
"Ketahuilah hai Musa", Al-Khidhir melanjutkan
huraiannya,"bahawa pengrusakan bahtera yang kami tumpangi
itu adalah dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari
pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang
mengejar di belakang bahtera itu. Sedang bahtera itu adalah
milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana
mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan melubangi
yang aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang zalim itu akan
berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya
rusak dan berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya
adalah pengrusakan milik orang, namun tujuannya ialah
menyelamatkannya dari tindakan perampasan
sewenang-wenangnya."
"Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan
menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka
itu. Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin,
soleh dan bertakwa yang aku khuatirkan akan menjadi tersesat dan
melakukan hal-hal yang buruk karena dorongan anaknya yang
durhaka itu. Aku harapkan dengan matinya anak itu Allah akan
mengurniai anak pengganti yang soleh dan berbakti kepada mereka
berdua."
Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan
kembali itu adalah karena dibawahnya terpendam harta peninggalan
milik dua orang anak yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang
soleh ahli ibadah dan Allah menghendaki bahwa warisan yang
ditinggalkan untuk kedua anaknya itusampai ketangan mereka
selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai
rahmat dari Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan
bertakwa itu."
"Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui
tentang tujuan tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau
anggap buruk dan melanggar hukum. Semuanya itu telah kulakukan
bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah
kepadaku."
Kisah Musa dan Al-Khidir ini dapat dibaca dalam surah
"Al-Kahfi" ayat 60 sehingga ayat 82 yang bermaksud :~
"60~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada muridnya:
"Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke
pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai
bertahun-tahun." 61~ Maka tatkala mereka sampai ke
pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu
melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62~ Maka tatkala mereka
berjalan lebih jauh berkatalah Musa kepada muridnya:
"Bawalah kemari makanan kita sesungguhnya kita telah merasa
letih karena perjalanan kita ini." 63~ Muridnya menjawab:
"Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di
batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan
itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya
kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan
cara yang aneh sekali." 64~ Musa berkata: "Itulah
tempat yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti
jejak mereka sendiri. 65~ Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan
kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami. 66~ Musa berkata Al-Khidhir:
"Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku
ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?" 67~ Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu
sesekali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku, 68~ dan
bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 69~ Musa
berkata: "Insya-Allah kamu akan mendapati aku sebagai
seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu
urusan pun." 70~ Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku,
maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun,
sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." 71~ Maka
berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu, lalu
Al-Khidhir melubanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu
melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan
penumpamgnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
kesalahan yang besar. 72~ Dia {Al-Khidhir} berkata:
"Bukankah aku telah katakan: "Sesungguhnya kamu
sesekali tidak akan sabar bersama dengan aku." 73~ Musa
berkata: "Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku
dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam
urusanku," 74~ Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala
keduanya berjumpa dengan seorang pemuda maka Al-Khidhir
membunuhnya. Musa berkata : "Mengapa kamu bunuh jiwa yang
bersih, bukan kerana dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu
telah melakukan sesuatu yang mungkar." 75~ Al-Khidhir
berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa
sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" 76~
MUsa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu
sesudah {kali ini} maka janganlah kamu memperbolehkan aku
menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur
padaku." 77~ Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya
sampai kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu
tidak mahu menjamu mereka kemudian keduanya dapati dalam negeri
itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Al-Khidhir
menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mahu
nescaya kamu akan mengambil upah untuk itu." 78~ Al-Khidhir
berkata : "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu kelak
akan ku beritahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 79~ Adapun bahter itu adalah
kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku
bertujuan merusakkan bahtera itu kerana di hadapan mereka ada
seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. 80~ Dan ada pun
anak muda itu maka kedua orang tuanya adlah orang-orang mukmin
dan kami khuatir bhe dia akan mendorong kedua orang tuanya itu
kepada kesesatan dan kekafiran. 81~ Dan kami menghendaki supaya
Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih
baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih
sayangnya {kepada ibubapanya}. 82~ Adapun dinding rumah itu
kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu sedang
ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar
supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan
simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku
melakukannnya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikianlah itu
adlah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya." { Al-Kahfi : 60 ~ 82 }
Nabi
Musa A.S. dan Qarun si kaya raya
Qarun
adalah nama seorang drp kaum Nabi Musa dan keluarganya yang
dekat. Ia dikurniai Allah kelapangan rezeki dan kekayaan harta
benda yang besar yang tidak ternilai bilangannya. IA hidup
mewah, selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan,
sehingga menjadi padatlah khazanahnya dengan harta benda dan
benda-2 yang sgt berharga. Sampai-2 para juru kuncinya tidak
berdaya membawa atau memikul kunci-2 peti khazanahnya karena sgt
byk dan beratnya. Ia hidup secara mewah dan menonjol di antara
kaum dan penduduk kotanya. Segala-galanya adlah luar biasa dan
lain drp yang lain. Gedung-2 tempat tinggalnya ,pakaiannya
sehari-hari ,pelayan-2nya dan hamba-2 sahayanya yang bilangannya
melebihi keperluan. Dan walaupun ia tenggelam dalam lautan
kenikmatan duniawi yang tiada taranya pada masa itu, ia merasa
masih belum puas dengan tingkat kekayaan yang ia miliki dan
terus berusaha mengisi khazanahnya yang sudah padat itu, sifat
mausia yang serakah yang tidak akan pernah puas dengan apa yang
sudah dicapai. Jika ia sudah memiliki segantang emas ia ingin
memperolhi segantang yang kedua dan demikian seterusnya.
Sebagaimana halnya dengan kebykan orang-orang kaya yang telah
dimabukkan oleh harta bendanya maka Qarun tidak merasa sedikit
pun bahwa dia mempunyai kewajiban sosial dengan harta
kekayaannya itu. Ia dalam hidupnya hanya memikirkan kesenangan
dan kesejahteraan peribadinya, memikirkan bagaimana ia dapat
menambahkan kekayaannya yang sudah melimpah-limpah itu. Ia telah
dinasihati oleh pemuka-2 kaumnya agar ia menyediakan sebahagian
daripada kekayaannya bagi menolong para fakir miskin, menolong
orang-orang yang telanjang yang tidak berpakaian dan lapar tidak
dapat makanan. Ia diperingatkan bahwa kekayaan yang ia perolehi
itu adalah kurniaan dari Tuhan yang harus disyukuri dengan
beramal kebajikan terhadap sesama manusia dan melakukan
perbuatan-2 yang dapat meringankan penderitaan orang-orang yang
ditimpa musibah atau menderita cacat. Diperingatkan bahwa Allah
yang telah memberinya rezeki yang luas itu dapat sewaktu-waktu
mencabutnya bila ia melalaikan kewajiban sosialnya.
Nasihat yang baik dan peringatan yang jujur yang dikemukakan
oleh pemuka-pemuka kaumnya itu tidak diendahkan oleh Qarun dan
tidak mendapat tempat didalam hatinya.Ia bahkan merasa bahwa
karena kekayaannya ialah yang harus memberi nasihat dan bukan
menerima nasihat. Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi
perintahnya, mengiakan kata-katanya dan membenarkan segala
tindak tanduknya. IA menyombongkan diri dengan mengatakan kepada
orang-orang yang memberikan nasihat itu bahwa kekayaan yang ia
miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya dan hasil
kecekapan dan kepandaiannya berusaha dan bukan merupakan kurnia
atau pemberian dari sesiapa pun. Karenanya ia bebas menggunakan
harta kekayaannya menurut kehendak hatinya sendiri dan tidak
merasa terikat oleh kewajipan sosial berupa pertolongan dan
bantuan kepada para fakir miskin dan para penderita yang
memerlukan bantuan dan pertolongan.
Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun
makin meningkatkan cara hidup mewahnya dan secara menyolok
mempamerkan kekayaannya dengan berlebih-lebihan. Bila ia keluar,
Ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang bergemerlapan, membawa
pengantar dan pembantu lebih banyak daripada biasanya dan
mengenderai kuda-kuda yang dihiasi dengan indah dan cantik.
Kemewahan yang ditonjolkan secara menyolok itu ,merasakan
iri-hati dikalangan penduduk terutama mereka yang masih lemah
imannya. Mereka berbisik-bisik diantara sesama mereka mengeluh
dengan berkata: "Mengapa kami tidak diberi rezeki dan
kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun? Alangkah
mujurnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya
di dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar
itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan
terhadap orang-orang yang melarat dan sengsara, orang-orang yang
fakir dan miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian
mahupun makanan.Dimanakah letak keadilan Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Pengasih itu?"
Qarun yang tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara
sukarela menyediakan sebahagiaan harta kekayaannya untuk
disedekahkan kepada orang-orang yang memerlukannya, melarat dan
miskin akhirinya didatangi oleh Nabi Musa menyampaikan kepadanya
bahwa Allah telah mewahyukan perinyah berzakat bagi tiap-tiap
orang yang kaya dan berada. Diterangkan oleh Musa kepadanya
bahwa dalam harta kekayaan tiap ada bahagian yang telah
ditentukan oleh Tuahn sebagai hak orang-orang yang melarat dan
fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka.
Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib berzakat itu dan
menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata:
"Hai MUsa kami telah membantumu dan menyokongmu dalam
dakwahmu kepada agama barumu. Kami telah menuruti segala
perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang
lunak itu terhadap dirimu telah memberanikan engkau bertindak
lebih jauh dari apa yang sepatutnya dan mulailah engkau ingin
meraih harta benda kami. Engkau rupanya ingin juga menguasai
harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati dan
fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini
engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa
engkau hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka."
Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat
itu ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahwa
kewajiban berzakat iut tidak dapat ditawar-tawar dan harus
dilaksanakan karena ia adalah perintah Allah yang harus ditaati
dan dilaksanakan dengan semestinya.
Quran tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri dan kewajiban
zakat itu setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia
menyerah dan ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan
zakat harta kekayaannya.
Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung bahagian yang harus
dizakatkan dari harta miliknya Qarun merasa terlampau besar yang
harus dizakatkan dan merasa sayang bahwa ia harus mengeluarkan
dari khazanahnya sejumlah wang tanpa meperolehi imbalan sesuatu
keuntungan dan laba. Fikir punya fikir dan timbang punya timbang
akhirnya Qarun mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan
zakat walau apapun yang akan terjadi akibat tindakannya itu.
Utk menguatkan aksi pemboikotannya terhadap kewajiban
mengeluarkan zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa
dengan maksud menarik orang agar menjadikan penunjang aksinya
dan mengikutinya menolak menolak kewajiban mengeluarkan zakat
sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Musa. Ia menyebarkan fitnah
seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya dan penyiaran agama
barunya bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah
zakatnya itu adalah merupakan cara perampasan yang halus
terhadap milik-milik para pengikutnya.
Lebih jahat lagi untuk menjatuhkan Nabi Musa dan kewibawaannya,
Qaru bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar
mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina
dengan Musa. Akan tetapi Allah tidak rela nama Rasul-Nya
tercemar oleh tuduhan palsu yang diaturkan oleh Qarun itu. Maka
digerakkanlah hati wanita sewaannya itu untuk mengatakan keadaan
yang sebenarnya dan bahwa apa yang ia tuduhkan kepada Nabi Musa
adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan bahawasannya
Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.
Setelah ternyata bagi Nabi Musa bahwa Qarun tidak beriktikad
baik dan bahwa ia tidak dapat diharap menjadi pengikut yang
soleh yang mematuhi perintah-2 Allah terutama perintah wajib
zakat bahkan ia dapat merusakkan akhlak dan iman para pengikut
Musa dengan sikap dan cara hidupnya yang berlebih-lebihan
mewahnya, ditambahkan pula usahanya yang tidak henti-2
merusakkan kewibawaan Nabi Musa dengan melontarkan fitnahan dan
berbagai hasutan maka habislah kesabaran Nabi Musa ,lalu berdoa
ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang
sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi
kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang
berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun yang
membangkang itu.
Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan doa Nabi Musa
terjadilah tanah runtuh yang dahsyat di atas mana terletak
bangunan gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan
tempat penimbunan kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun
hidup-hidup berserta semua milik kekayaan yang menjadi
kebaggaannya.
Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi
ibrah bagi pengikut-2 Nabi Musa serta ubat rohani bagi mereka
yang beriri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup
sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya
bersyukur kepada Allah: "Sekiranya Allah telah melimpahkan
rahmat dan kurnia-Nya, nescaya kami dibenamkan pula seperti
Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya.
Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati dan
mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai
benar-2 tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat
Allah."
Isi cerita tersebut di atas dapat dibaca dalam surah
"Qashash" ayat 76 sehingga 82 dan surah
"Al-Ahzaab" ayat 69 sebagaimana berikut :~
"76~Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa maka ia
berlaku aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan
kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-nya sungguh berat
dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-2. {Ingatlah{ ketika
kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu
membanggakan diri." 77~ Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan kepada mu {kebahagiaan} negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari {kenikmatan} duniawi
dan berbuat baiklah {kepada orang lain} sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di
{muka} bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakkan. 78~ Qarun berkata: "Sesungguhnya
aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." Dan
apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah
membinasakan umat-2 sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan
lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya
kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka.
79~ Mak keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya.
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "
Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun , sesungguhnya ia benar-benar mempunyai
peruntungan yang besar." 80~ Berkatalah orang-orang yang
telah dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu,
pahala Allah adalah lebihbaik bagi orang-orang yang beriman dan
beramal soleh dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh
orang-orang yang sabar." 81~ Mak Kami benamkan Qarun
berserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu
golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah
ia termasuk orang-orang {yang dapat} membela {dirinya}. 82~ Dan
jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan
Qarun itu berkata: "aduhai, benarlah Allah melapangkan
rezeki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan
menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas
kita benar-benar Dia {Allah} telah membenamkan kita {pula}.
Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari
{nikmat} Allah." { Al-Qashash : 76 ~ 82 }
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah
membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan
adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi
Allah." { Al-Ahzaab : 69 }
Thalout diangkat sebagai raja Bani Isra'il
Setelah
Bani Isra'il memasuki Palestin dan menguasainya di bawah
pimpinan Yusya bin Nun mereka selalu menjadi sasaran penyerbuan
dan serangan dari bangsa-2 sekelilingnya, seperti suku Amaliqah
dari bangsa Arab, bangsa Palestin sendiri dan bangsa Aramiyin.
Kemenangan dan kekalahan di antara meeka silih berganti.
Pada suatu waktu datanglah bangsa Palestin penduduk
"Usydud" suatu daerah dekat Gaza menyerbu dan
menyerang mereka dan terjadilah pertempuran yang berakhir dengan
kemenangan bangsa Palestin yang berhasil, mencerai-beraikan Bani
Israil dan merampas benda keramat mereka yang bernama
"Tabout", yaitu sebuah peti tempat penyimpanan kitab
Taurat.
Peti yang disebut Tabout itu adlah merupakan salah satu dari
banyak kurnia yang telah diberikan oleh Allah kepada Bani
Isra'il. Mereka menganggap Tabout itu suatu benda keramat yang
dapat menginspirasikan kekuatan dan keberanian kepada mereka
dikala menghadapi musuh. Maka karenanya dalam tiap medan perang
dibawanyalah Tabout itu untuk memberi kekuatan batin dan
semangat juang bagi mereka memberi rasa berani bagi mereka dan
rasa takut bagi musuh. Maka dengan dirampasnya Tabout itu oleh
bangsa Palestin hilanglah pegangan mereka dan berantakanlah
barisannya, retaklah kesatuannya sehingga menjadi laksana
binatang ternakan yang ditinggalkan gembalanya.
Dan memang sejak ditinggalkan oleh Nabi Mua, Bani Isra'il tidak
mempunyai seorang raja atau seorang pemimpin yang berwibawa yang
dapat mengikat mereka di bawah satu bendera dan menghimpun
mereka di bawah satu komando bila terjadi serangan dari luar dan
penyerbuan oleh musuh. Mereka hanya dipimpin oleh hakim-hakim
penghulu yang memberi tuntunan kepada mereka dalam bidang
keagamaan dan kadangkala menjadi juru damai jika timbul
perselisihan dan sengketa di antara sesama mereka. Di antara
penghulu itu terdapat seorang penghulu yang paling disegani dan
di hormati bernama Somu'il. Kata-katanya selalu didengar dan
nasihat-2nya selalu diterima dan ditaati.
Kepada Somu'il datanglah beberapa pemuda Bani Isra'il yang
merasa sedih melihat keadaan kaumnya menjadi kacau bilau dan
bercerai berai setelah dikalahkan oleh bangsa Palestin dan
dikeluarkan dari negeri mereka serta dirampasnya Tabout yang
merupakan peti wasiat dan benda keramat bagi mereka. Mereka
mengutarakan kepada Samu'il bahwa mereka memerlukan seorang
pemimpin yang kuat yang berwibawa dan mempunyai kekuasaan
sebagai seorang raja untuk menghimpun mereka dan seterusnya
menjadi panglima perang.
Samu'il yang mengenal baik watak mereka dan titik-titik
kelemahan serta sifat-2 licik dan pembangkang yang meletak pada
diri mereka berkata: "Aku khuatir bahwa kamu akan takut dan
enggan bertempur melawan musuh bila kepadamu diperintahkan untuk
berperang menghalau musuh dari negerimu."
Mereka menjawab: "Bagaimana kami menolak perintah semacam
itu dan enggan maju bertempur melawan musuh sedangkan kami telah
dihina diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari sanak
keluarga kami. Bukankah suatu hal yang memalukan dan menurun
darjat kami sebagai bangsa, bila dalam keadaan yang sedang kami
alami ini, kami masih juga enggan berperang melawan musuh yang
datang menyerang dan menyerbu daerah kami. Kami akan maju dan
tidak akan gentar masuk dalam medan perang, asalkan saja kami
akan dapat pimpinan dari seorang yang cekap, berani serta
berwibawa sehingga komandonya dan segala perintahnya akan
dipatuhi oleh kaum kami semuanya."
Somu'il berkata: "Jika demikian ketetapan hatimu dan
demikian pula keinginanmu untuk memperoleh seorang raja yang
akan memimpin dan membimbing kamu , maka berilah waktu kepadaku
untuk beristikharah memohon pertolongan Allah menunjukkan
kepadaku seseorang yang patut dan layak menjadi raja
bagimu."
Di dalam istikharahnya, Somuil mendapat ilham dan petunjuk dari
Allah, agar ia memilih serta mengangkat seorang yang bernama
"Thalout" menjadi raja Bani Isra'il. Dan walaupun ia
belum pernah mendengar nama itu atau mengenalkan orangnya Allah
akan memberinya jalan dan tanda-tanda yang akan memungkinkan ia
bertemu muka dengan orang itu dan mengenalinya dengan segera.
Thalout adalah seorang berbadan gemuk dan jangkung, tegak, kuat
dan berparas tampan. Dari pancaran kedua matanya orang dapat
mengetahui bahwa ia adalah seorh yang cerdik, cekap dan
bijaksana, memiliki hati yang tabah dan berani. IA hidup dan
bertempat tinggal di sebuah desa yang agak terpencil sehingga
tidak banyak dikenal orang Ia hidup bersama ayahnya bercucuk
tanam dan memelihara haiwan ternak.
Pada suatu hari di kala Thalout sedang sibuk bersama ayahnya
menguruskan tanah ladangnya terlepaslah dari kadang seekor
keldai dari haiwan-2 peliharaannya dan menghilang sesat.
Pergilah Thalout bersama seorang bujangnya mencari keldai yang
hilang itu di celah-2 lembah dan bukit-2 di sekitar desanya,
namun tidak berhasil menemukan kembali haiwan yang terlepas itu.
Akhirnya ia mengajak bujangnya kembali karena khuatir ayahnya
akan menjadi gelisah bila ia lebih lama meninggalkan rumahnya
mencari keldai yang hilang itu.
Berkata sang bujang kepada Thalout: "Kami sekarang sudah
berada di daerah Shuf tempat dimana Somu'il berada. Alangkah
baiknya kalau kami pergi kepadanya menanyakan kalau-2 ia dapat
memberikan keterangan dan petunjuk kepada kami di mana kiranya
kami dapat menemukan keldai kami itu. Ia adalah seorang nabi
yang menerima petinjuk dari Tuhannya melalui para malaikat dan
dia telah banyak kali mengungkapkan hal-hal ghaib yang
ditanyakan oleh orang kepadanya."
Thalout menerima baik cadangan bujangnya dan berangkatlah mereka
berdua menuju tempat tinggal Somu'il. Di tengah-2 perjalanan,
mereka bertanya kepada beberapa gadis yang ditemuinya sedang
menimpa air dari sebuah perigi: "Di manakah tempat tinggal
Nabi Somu'il?" "Tidak usah kamu cepat-2 meneruskan
perjalananmu. Somu'il sebentar lagi akan datang ke sini. Ia
sedang ditunggu kedatangannya di atas bukit oleh rakyat tempat
itu." Para gadis itu menjawab.
Ternyata bahawa belum selesai para gadis itu memberikan
keteranagnnya, muncullah Somu'il dengan wajahnya yang
berseri-seri memancarkan cahaya kenabian dan kealiman yang
mengesahkan.
Thalout segera mendekati Somu'il dan setelah saling pandang
memandang, berkatalah Thalout: "Wahai Nabi Allah, kami
datang menemui bapak untuk memohon pertolongan yaitu dapatkah
kiranya kami diberi keterangan dan petunjuk di manakah kami
dapat menemukan kembali keldai kami yang telah terlepas dari
kandang dan menghilang tidak kami temukan jejaknya walaupun
sudah tiga hari kami berusaha mencarinya."
Somu'il setelah memandang wajah Thalout dengan teliti sedarlah
ia bahwa inilah orangnya yang oleh Allah ditunjuk untuk menjadi
raja pemimpin dan penguasa Bani Isra'il. Ia berkata kepada
Thalout: "Keldai yang engaku cari itu sedang berada dalam
perjalanan kembali ke kandangnya di tempat ayahmu. Janganlah
engkau rungsingkan fikiranmu dan ributkan dirimu dengan urusan
keldai itu. Kerana aku memang mencarimu dan ingin menemuimu
untuk urusan yang lebih besar dan lebih penting dari soal
keldai. Engaku telah dipilih oleh Allah untuk memimpin Bani
Isra'il sebagai raja, mempersatukan barisan mereka yang sudah
kacau-balau serta membebaskan mereka dari musuh-musuh yang
sedang menyerbu dan menduduki negeri mereka. Dan insya-Allah
Tuhan akan menyertaimu memberi perlindungan kepadamu dan
mengurniakan kemenangan dan kemujuran dalam segala sepak
terajangmu."
Thalout menjawab: "Bagaimana aku dapat menjadi seorang raja
dan pemimpin Bani Isra'il sedang aku ini seorang dusun anak cucu
Benyamin yang paling papa, terasing dari pengaulan orang ramai,
seorang anak tani dan penggembala haiwan yang tidak dikenal
orang?"
Berkata Somu'il: "Itu adlah kehendak Allah dan
perintah-Nya. Dan lebih tahu pada siapa Ia meletakkan amanat dan
tugas-tugas-Nya. Dialah yang menugaskan dan Dia pulalah yang
akan melengkapi segala kekuranganmu. Bersyukurlah engkau atas
nikmat dan kurniaan Allah ini. Terimalah tugas suci ini dengan
keteguhan hati dan kepercayaan penuh akan pertolongan dan
perlindungan Allah kepadamu." Kemudian dipeganglah tangan
Thalout, diangkatnya keatas seraya menghadap kepada kaumnya dan
berkata: " Wahai kaumku, inilah orangnya yang oleh Allah
telah dipilih untuk menjadi rajamu. Ia berkewajiban memimpin
kamu dan mengurus segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan
setepat-tepatnya dan kamu berkewajiban taat kepadanya, mematuhi
segala perintahnya dan berdiri tegak di belakang komandinya.
Bersatu padulah kamu di bawah bendera raja Thalout dan
bersiap-siaplah untuk berjuang melawan musuh-musuhmu."
Bani Isra'il yang sedang berkumpul mengerumuni somu'il
mendengarkan pidato pelantikannya mengangkat Thalout sebagai
raja, tercengang dan terkejut dan dengan mulut ternganga mereka
melihat satu kepada yang lain, berpindahan pandangan mereka dari
wajah Somu'il ke wajah thalout yang menandakan kehairanan dan
ketidak-puasan dengan pengangkatan itu. Selintas pun tidak
terfikir oleh mereka bahwa seorang seperti Thalout yang papa dan
miskin dan tidak dikenal orang ialah yang akan dipilih oleh
Somu'il soal pemilihan dan pengangkatan seorang raja bagi
mereka.
Berkata mereka kepada Somu'il: "Bagaimana seorang seperti
Thalout ini akan dapat memimpin kami sebagai raja padahal ia
seorang yang miskin yang tidak dikenal orang dan pergaulan
sehari-harinya hanya terbatas didesanya. selain ituia bukannya
dari keturunan "Lawi" yang menurunkan para nabi Bani
Israil, juga bukan dari keturunan "Yahuda" yang
menurunkan raja-raja Bani Isra'il sejak dahulu kala. Ia pun
tidak memiliki pengalaman dan kecekapan yang diperlukan oleh
seorang raja untuk mengurus serta mempertahankan kerajaannya.
Mengapa tidak dipilih sahaja seorang drp mereka yang berada di
kota yang pandai-pandai, berpengalaman dan berkeadaan
cukup?"
berkata Somu'il menanggapi keberatan-2 yang dikemukakan oleh
kaumnya: "Pengurusan kerajaan dan pemimpin perang tidak
memerlukan kebangsawanan atau kekayaan. Ia memerlukan kecekapan,
kebijaksanaan, kecerdasan berfikir dan kecekatan bertindak.
sifat-2 itu terdapat dalam dir Thalout di samping ia memiliki
tubuh yang kuat, perawakan tg tegap dan kekar serta paras muka
yang tampan yang memberi kesan baik bagi orang-orang yang
menghadapinya. Selain itu semuanya, ia adalah pilihan dan
tunjukan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal
hamba-hamba-Nya. Maka tidak patutlah kami memilih orang lain
setelah Allah menjatuhkan pilihan-Nya."
"Baiklah", kata mereka, "Jika yang demikian itu
pilihan dan kehendak Allah, maka kami tidak dapat berbuat lain
selain meneriam kenyataan ini. Akan tetapi untuk menghilangkan
keragu-raguan kami tentang diri Thalout, berilah kepada kami
suatu tanda yang dapat menyakinkan kami bahwa Thalout
benar-benar pilihan Allah."
Somu'il menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengetahui
watak dan tabiat kamu yang kaku dan keras kepala. Imanmu tidak
berada di dalam hati tetapi di kelopak mata. Kamu tidak
mempercayai sesuatu tanpa bukti yang dapat kamu rasa dengan
pancaindera kamu. Maka sebagai bukti bahwa Allah merestui
pengangkatan Thalout menjadi raja kamu, ialah bahawa kamu akan
menemukan kembali peti keramatmu "Tabout" yang telah
hilang dan dirampas oleh bangsa Palestin. Kamu akan menemukan
itu datang kepadamu dibawa oleh malaikat. Pergilah kamu keluar
kota sekarang juga untuk menerimanya."
Setelah ternyata bagi mereka kebenaran kata-kata Somu'il dengan
ditemuinya kembali Tabout yang sudah tujuh bulan berada di
tangan orang-orang Palestin itu, maka diterimalah pengangkatan
Thalout sebagai raja mereka dengan memberikan bai'at kepadanya
dan janji akan taat serta mematuhi segala nasihat dan
perintahnya.
Raja Thalout
Tugas
pertama yang dilakukan oleh thalout setelah dinobatkan sebagai
raja ialah menyusun kekuatan dengan menghimpunkan para pemuda
dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentera yang akan
mengahdapi bangsa Palestin yang terkenal kuat dan berani.
Ia menyusun bala tenteranya dari orang-orang yang masih kuat,
tidak mempunyai tanggungan keluarga, tidak mempunyai ikatan-2
dagang usaha sehingga dapat membulatkan tekadnya untuk berjuang
dan memusatkan fikiran dan tenaga bagi mencapai kemenangan dna
menghalaukan musuh dari negeri mereka dengan semangat yang teguh
yang tidak tergoyahkan. Sebagai ujian untuk mengetahui sampai
sejauh mana rakyatnya atau barisan tenteranya yang disusun itu
berdisiplin mengikuti komando dan perintahnya, Thalout berkata
mereka: "Kamu dalam perjalananmu di bawah terik panasnya
matahari akan melalui sebuah sungai. Maka barang siapa di antara
kamu minum dari air sungai itu, ia bukan pengikutku yang setia
yang dapat kupercayai kesungguhan hatinya dan kebulatan
tekadnya. Sebaliknya barangsiapa di antara kamu yang hanya
menciduk air sungai itu seciduk tangan untuk sekadar membasahi
kerongkongannya, maka ia ialah seorang pengikutku dan tentera
yang benar-benar dapat kuandalkan keberaniannya dan
kedisiplinannya."
Ternyata apa yang dikhuatirkan oleh Thalout telah terjadi dan
menjadi kenyataan. Setiba barisan tentera Thalout di sungai yang
dimaksudkan itu, hanya sebahagian kecil sahajalah dari mereka
yang berdisiplin mengikuti petunjuk Thalout secara tepat. Sedang
bahagian yang besar tidak dapat bersabar menahan dahaganya dan
minumlah mereka dari air sungai itu sepuas-puas hatinya.
Walaupun telah terjadi pelanggaran disiplin oleh sebahagian
besar dari anggota tenteranya, thalout tetap berkeras hati
melanjutkan perjalanannya menuju ke medan perang dg pasukan yang
tidak bersatu padu dan berdisiplin sebagaimana ia menduga dan
mengharapkannya. Ia hanya bersandar dan mengandalkan kekuatan
tenteranya kepada bahagian kecil yang sudah ternyata setia dan
patuh kepada perintah dan petunjuknya. Sedang terhadap mereka
yang sudah melanggar perintahnya dan minum dari air sungai itu,
Thalout bersikap sabar, lunak dan bijaksana untuk menghindari
keretakan di dalam barisan tenteranya sebelum menghadapi musuh.
Tatkala mereka tiba di medan perang dan berhadapan dengan musuh,
sebahagian drp pasukan Thalout ialah mereka yang telah melanggar
disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan
ketakutan melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang
kuat dan besar-besar dengan peralatan yang lebih lengkap dan
jumlah tentera yang lebih besar di bawah pimpinan seorang
komandan bernama "Jalout".
Jalout, panglima komandan pasukan musuh terkenal seorang
panglima yang berani, cekap dan terkenal tidak pernah kalah
dalam peperangan. Tiap orang yang berani bertarung dengan dia
pasti jatuh terbunuh. Namanya telah menimbulkan rasa takut dan
kecil hati pada bahagian besar dari pasukan Thalout. berkata
mereka kepadanya: "Kami tidak berdaya dan tidak akan
sanggup menghadapi dan melawan Jalout berserta tenteranya hari
ini. Mereka lebih lengkap peralatannya dan lebih besar
bilangannya daripada pasukan kami."
Akan tetapi kelompok yang setia yang merupakan golongan yang
kecil dalam pasukan Thalout, tidak merasa takut dan gentar
menghadapi Jalout dan bala tenteranya, walaupun mereka lebih
besar dan lebih lengkap peralatannya karena mereka keluar ke
medan perang mengikuti Thalout dengan tekad yang bulat hendak
membebaskan negerinya dari para penyerbu dengan berbekal
tawakkal dan iman kepada Allah. Sejak mereka melangkahkan kaki
keluar dari rumah mereka sudah berniat bulat berjuang
bermati-matian melawan musuh yang telah merampas rumah dan tanah
mereka dan bersedia mati untuk tugas suci itu. Berkata mereka
kepada kawan-2nya kelompok pengecut itu: "Majulah terus
untuk bertempur melawan musuh. Kami tidak akan kalah karena
bilangan yang sedikit atau kerana kelemahan fizikal. Kami akan
menggondol kemenangan bila iman di dalam dada kami tidak
tergoyahkan dan kepercayaan kami akan pertolongan Allah tidak
menipis. Berapa banyak terjadi sudah, bahwa kelompok yang kecil
jumlahnya mengalahkan kelompok yang besar, bila Allah
mengizinkannya dan memberikan pertolongan-Nya. Dan Allah selalu
berada di sisi orang-orang yang beriman, sabar dan
bertawakkal."
Dengan tidak menghiraukan kasak-kusuk dan bisikan kelompok
pengecut yang ingin mundur dan melarikan diri dari kewajiban
berperang, Raja Thalout terus maju memimpin pasukannya seraya
bertawakkal kepada Allah memohon pertolongan dan
perlindungan-Nya.
Setelah kedua pasukan merapat berhadapan satu dengan yang lain
dan pertempuran dimulai, keluarlah dari tengah-2 barisan bangsa
Palestin, panglima besarnya yang bernama Jalout berteriak dengan
sekuat suaranya menentang pasukan Thalout mengajak bertarung
seorang lawan seorang Berulang-ulang ia berseru dengan suara
yang lantang agar pihat Thalout mengeluarkan seorang yang akan
melawan dia bertanding dan bertarung namun tidak seorang pun
keluar adri tengah pasukan Bani Isra'il menghadapinya. Kata-kata
ejekan dan hinaan dilontarkan oleh Jalout kepada pihak musuhnya,
pasukan Bani Isra'il yang sedang dicekam oleh rasa takut dan
bimbang menghadapi Jalout yang sudah termasyur sebagai jaguh
yang tidak pernah terkalahkan itu.
Pada saat yang kritis dan tegang itu di mana rasa malu rendah
diri memenuhi dada dan hati para pemimpin pasukan Bani Isra'il
yang sedang memandang satu kepada yang lain, seray
bertanya-tanya dalam hati masing-2 gerangan siapakah di antara
mereka yang dapat maju membungkam ,ulut si Jalout yang
berteriak-teriak itu dan melawannya, datanglah pada saat itu
menghadap raja Thalout seorang lelaki remaja berparas tampan,
bertubuh kekar dan tegak, sinar matanya memancarkan keberanian
dan kecerdasan. Ia meminta izin dari sang raja untuk keluar
menyambut tentangan Jalout dan menandinginya.
Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang telah
menawarkan dirinya untuk bertarung dengan Jalout, sementara
orang-orang dari pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman
berperang tidak ada yang tergerak hatinya untuk menyahut cabaran
Jalout yang berteriak-teriak melontarkan ejekan dan hinaan.
Thalout dengan cermat memperhatikan perawakan sang pemuda itu
merasa berat dan ragu-ragu untuk memberi izin kepadanya turun ke
gelanggang melawan Jalout. Ia tidak membayangkan seorang dalam
usia semuda itu, yang belum pernah turun ke medan perang dan
tiak berpengalaman bertarung akan selamat dan keluar hidup dari
pertarungan melawan Jalout. Ia benar-benar bukan tandingannya,
kata hati Thalout, bahkan merupakan suatu dosa bila ia
melepaskan pemuda itu bertarung dengan Jalout. Sayang bagi
usianya yang masih muda itu bila ia akan menjadi korban dan
makanan pedang Jalout yang tidak pernah memberi ampun kepada
lawan-lawannya.
Sang pemuda dengan memperhatikan roman muka Thalout dapat
menangkap isi hatinya bahwa ia ragu-ragu dan bimbang untuk
melepaskannya bertarung dengan Jalout maka berkatalah ia
kepadanya: "Janganlah engkau terpengaruh oleh usia mudaku
dan keadaan fizikalku yang menjadikan engkau ragu-ragu dan
khuatir melepaskan aku melawan Jalout karena yang menentukan
dalampertarungan bukanlah hanya kekuatan fizikal dan kebesaran
badan akan tetapi yang lebih penting dari itu ialah keteguhan
hati dan keuletan bertempur serta iman dan kepercayaan kepada
Allah yang menentukan hidup matinya seseorang hamba-Nya.
beberapa hari yang lalu aku telah berhasil menangkap seekor
singa dan membunuhnya tatkal ia hendak menyergap dombaku dan
sebelum itu terjadi pula aku menghadang seekor beruang yang
ganas dan berhasil membunuhnya setelah bergulat mati-matian.
Maka bukanlah usia atau kekuatan badan yang merupakan faktor
yang menentukan dalam pertempuran tetapi keberanian dan
keteguhan hati serta kelincahan dan kecepatan bergerak dengan
disertai perhitungan yang tepat, itulah merupakan senjata yang
lebih ampuh dalam setiap pertarungan."
Mendengar kata-kata yang penuh semangat yang keluar dari hati
yang ikhlas dan jujur sedarlah Thalout bahawa pemuda itu
berkemahuan keras ingin melawan Jalout. Ia percaya kepada
dirinya sendiri bahwa ia dapat mengalahkannya maka diberinyalah
izin dan restu oleh Thalout untuk melaksanakan kehendaknya
dengan diiringi doa semuga Allah melindunginya dan mengurniainya
dengan kemenangan yang diharap-harapkan oleh seluruh anggota
pasukan. Kemudian ia diberinya pedang, topi baja dan zirah baju
besi namun ia enggan mengenakan pakaian yang berat itu dan
pedang pun ia menolak untuk membawanya dengan alasan ia belum
biasa menggunakan senjata itu. Ia hanya membawa sebuah tongkat
beberapa batu kerikil dan sebuah bandul untuk melemparkan
batu-batu itu.
Berkatalah Thalout kpanya: "Bagaimana engkau dapat
bertarung dengan hanya bersenjatakan tongkat, bandul dan
batu-batu melawan Jalout yang bersenjatakan pedang, panah dan
berpakaian lengkap?"
Pemuda itu menjawab: "Tuhan yang telah melindungiku dan
taring singa dan kuku beruang akan melindungiku pula dari pedang
dan panah Jalout yang durhaka itu." Lalu dengan berbekalkan
senjata yang sgt sedrhana itu, keluarlah ia dari tengah-2
barisan Bani Isra'il menuju gelanggang di mana Jalout sedang
menari-nari mengelu-elukan pedangnya seraya berteriak-teriak
mengejek dan menyombangkan diri.
Tatkala Jalout melihat bahwa yang masuk gelanggang hendak
bertanding dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak
bersenjatakan pedang atau panah dan tidak pula mengenakan topi
baja dan zirah, dihinalah ia dan diejek dengan kata-kata:
"Utk apakah tongkat yang engkau bawa itu."Utk mengejar
anjingkah atau untuk memukul anak-anak yang sebaya dengan
engkau? Di mana pedangmu dan zirahmu? Rupa-rupanya engkau sudah
bosan hidup dan ingin mati padahal engkau masih muda yang belum
merasakan suka-dukanya kehidupan dan yang masih harus banyak
belajar dari pengalaman. Majulah engkau ke sini akan aku
habiskan nyawamudalam sekelip mata dan akan kujadikan dagingmu
makanan yang lazat bagi binatang-2 di darat dan burung-2 di
udara."
Sang pemuda menjawab: "Engkau boleh bangga dengan zirah dan
topi bajamu, boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan
panahmu yang tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dan
tanganku yang masih halus dan bersih ini. Aku datang ke sini
dengan nama Allah Tuhan Bani Isra'il yang telah lama engkau
hina, engkau jajah dan engkau tundukkan. Engkau sebentar lagi
akan mengetahui pedang dan panahkah yang akan mengakhiri hayatku
atau kehendak Allah dan kekuasaan-Nya yang akan meranggut
nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahannam?"
Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia sempat
mendekatinya, sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya,
melemparkannya dengan bandul tepat ke arah kepala Jalout yang
seketika itu juga mengalirkan darah dengan derasnya hingga
menutupi kedua matanya, lalu diikuti dengan lemparan batu kedua
dan ketiga oleh sang pemuda hingga terjatuhlah Jalout tertiarap
di atas lantai menghembuskan nafas terakhirnya.
Bergemuruhlah suara teriakan gembira dan sorak-sorai dari pihak
pasukan Bani Isra'il menyambut kemenangan pemuda gagah perkasa
itu atas Jalout jaguh dan kebanggaan bangsa Palestin. Dan dengan
matinya Jalout hilanglah semangat tempur pasukan Palestin dan
mundurlah mereka melarikan diri tunggang-langgang seraya dikejar
dan diajar tanpa ampun oleh pasukan Thalout yang telah
memperoleh kembali semangat juangnya dan harga diri serta
kebanggaan nasionalnya.
Isi cerita di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah
"Al-Baqarah" ayat 246 sehingga 251 yang bermaksud :~
"246~ Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani
Isra'il sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada
seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja
supaya kami dapat berperang {di bawah pimpinannya} di jalan
Allah." Nabi mereka berkata: "Mungkin sekali jika kamu
nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang`."
Mereka menjawab : "Mengapa kami tidak mahu berperang di
jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung
halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang
itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali
beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui
akan orang-orang yang zalim. 247~ Nabi mereka mengatakan kepada
mereka: "Sesungguhnya Allah mengangkat Thalout menjadi
rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalout
memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan
pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan
yang cukup banyak?" Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya
Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu
yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberi
pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha
Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 248~ Dan Nabi mereka
mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan
menjadi raja ialah kembalinya tabout kepadamu di dalamnya
terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan
keluarga Musa dan keluarga Harun tabout itu dibawa oleh
malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda
bagimu jika kamu orang yang beriman. 249~ Maka tatkala Thalout
ke luar membawa tenteranya ia berkata: "Sesungguhnya Allah
akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu
meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tidak
merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka
meminumnnya terkecuali beberapa orang di antara mereka. Maka
tatkala Thalout dan orang-orang yang beriman bersama dia telah
menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata:
"Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan
Jalout dan tenteranya." Orang-orang yang menyakini bahwa
mereka akan menemui jalan Allah berkata: "Berpa banyak
terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang
banyak dengan izin Allah dan Allah berserta orang-orang yang
sabar. 250~ tatkala Jalout dan tenteranya telah nampak oleh
mereka, mereka pun berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah
kesabaran atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." 251~ Mereka
{tentera Thalout} mengalahkan tentera Jalout dengan izin Allah
dan {dalam peperangan itu} Daud membunuh Jalout, kemudian Allah
memberikan kepadanya {Daud} pemerintahan dan hikmah {sesudah
meninggalkan Thalout} serta Allah mengajarkan kepadanya apa yang
dikehendaki-Nya." { Al-Baqarah : 246 ~ 251 }
Catatan tambahan
Nabi
Musa wafat pada usia 150 tahun di atas sebuah bukit bernama
"Nabu", di mana ia diperintahkan oleh Allah untuk
melihat tanah suci yang dijanjikan {Palestin} namun tidak sampai
memasukinya.
Email: [email protected]
|
|