Senyum & Salamualaiku
 
   
Laughing

My  Ciber  Diary

Kumpulan Sampah, Sumpah, Serapah

 
 
 
 

 

 TQI Training  Angkatan III

 Wisma LPP, 25 Februari 2011

 Peserta 30 Guru SD Se DIY dan Klaten

 Penuh Semangat Mengikuti Sesi-sesi pelatihan

 

 

 

Menemukan Emas Peninggalan Prajurit Diponegoro

di Balik Bukit Menoreh

Yogyakarta, 15 Juni 2011


Pagi hari saya harus buru-buru berangkat untuk sosialisasi program TQI di SMP N 3 Kokap, Kulonprogo.  Saya berpikir bahwa lokasi sekolah ini seperti sekolah-sekolah lainnya dekat dengan kota kecamatan, sehingga sepeda buntut tunggangan saya hanya bergerak kurang dari 70 KM/jam.  Terlalu seringnya saya menuju wates, sayapun tanpa pikir panjang pasti sampai di sana, bahkan mengendarai sambil merem melek juga sampai. Tetapi kalo menuju kokap ini baru pertama kalinya, makanya saya memerlukan peta. Dekat terminal wates,  saya beristirahat sebentar dan melihat peta. Peta sebagai satu-satunya penunjuk jalan menuju lokasi,  karena nomor telepon sekolah yang terdaftar tidak dapat dihubungi. Setelah yakin bahwa jalur menuju kecamatan kokap, sayapun kembali berangkat.

Pelang Hijau menunjuk arah menuju Kokap, sayapun tanpa pikir panjang berbelok mengikutinya. Dua, tiga empat Plang telah terlewati dan akupun merasakan hawa lebih dingin dan sejuk tanda bahwa sampai di tempat ketinggian.  Tak terlalu lama berjalan sampailah saya di kecamatan Kokap dan mulailah senjata utama kugunakan untuk mengetahui SMP 3 Kokap yaitu bertanya. Hasilnya, lokasi SMP3 Kokap di desa kalirejo, padukuhan plampang serta arah yang harus dilewati menuju kesana. Akupun menuju arah yang ditunjukkan oleh orang-orang yang saya tanyai itu dan juga dibantu penunjuk arah menuju kalirejo buatan mahasiswa KKN.

Tidak terlalu lama, saya melewati jalan yang menanjak tegak setelah itu sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang. Barulah saya sadar bahwa sedang berada di bukit menoreh. Di tebing itu terlihat bayang-bayang pangeran diponegoro ditandu oleh prajuritnya. Terbayang pula baku tembak dengan tentara belanda. Kini terbayang perjuangan pangeran diponegoro yang berjalan dari Kraton Yogyakarta sampai Kokap dengan berjalan kaki. Sayapun berusaha membandingkan denngan perjuanganku menemukan SMP Negeri 3 Kokap belum sebanding dengan perjuangan Diponegoro dan para prajuritnya. Sayapun berjalan pelan sambil melihat ketebing, mencoba mencari bekas peluru-peluru laras panjang yang kemungkinan masih menempel disana, tapi tak satupun kutemukan bekasnya.  

Perjuangan sayapun menemukan hasil, terlihat desa plampang dan bangunan sekolah. Setelah dekat ternyata bukan sekolah yang saya cari. Sekolah tersebut hanya sebuah SD dengan nama SD N 1 Plampang. Walaupun bukan sekolah yang saya cari, tetapi setidaknya saya bisa mencari informasi letak SMP N 3 Kokap pada guru di sana. Saya diberi tahu bahwa letaknya masih dibawah bukit ini yaitu arah menuju purworejo. Sayapun harus menaiki lagi bukit kecil menoreh dengan pemandangan indah menakjubkan. Pemandangan laut selatan dari puncak bukit, dan hutan hijau dibawah bukit serta dilengkapi hamparan sawah dibawahnya. Pemandangan itu membuatku berhenti sejenak, kira-kira tujuh hembusan nafas dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuruni bukit.

Sesampainya dibawah bukit saya disambut oleh bangunan sekolah SMP N 3 Kokap. Sekolah ini benar-benar terletak dibawah bukit dan bangunan satu-satunya disana. Dibawah sekolah ini ada sebuah sungai kecil yang menjadi pembatas bukit dan pemukiman warga. Ada sebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalan perkampungan dengan sekolah ini.  Mungkin bangunan sekolah ini yang paling berbahaya di dunia, tepat di bawah bukit yang tinggi. Seumpama ada musim salju mungkin sekolah ini hancur terkena kerikil es  puncak bukit yang meluncur kebawah menimbulkan snowball effect. Untungnya di Indonesia tidak terdapat musim salju, akan tetapi longsornya tanah dapat mengancamnya. 

Seusai memarkir sepeda, bel panjang berbunyi, disusul dengan berlariannya siswa-siswi mencangklong tas tanda bahwa waktunya pulang sekolah. Sayapun berusaha mencari bapak kepala sekolah. Bertanya kepada seorang guru yang berjaga didepan ruangan. Ternyata pak sutiyono, kepala sekolah SMP N 3 Kokap sedang rapat di dinas pendidikan. Sayapun hanya menitipkan berkas-berkas yang  harus diisi oleh kepala sekolah. Hasil  terpenting saya mendapatkan informasi cara menelepon pak Sutiyono. Cara yang sederhana sekali menelepon di sore hari, setelah pak sutiyono pulang sekolah karena disekolah ini sinyal telephon dari provider manapun terhalang oleh bukit-bukit yang tinggi.

Kira-kira satu jam berlalu sayapun pamit minta ijin kembali ke Yogyakarta. Terbayang sudah perjalanan naik turun bukit dengan sepeda buntut.  Tanpa beranjak dari gigi satu motor ini menanjaki bukit menoreh. Lima belas menit berlalu motor saya telah sampai puncak dan bisa berganti gigi dua, tiga tidak sampai gigi empat terlihat anak serombongan anak sekolah berjalan dibalik tikungan. Motorku pun ikut berjalan pelan mengawasi mereka. Dari seragam dan berbagai embel-embel yang dipakai anak-anak tersebut jelas siswa SMP N 3 Kokap, sekolah yang tadi saya kunjungi. Saya heran berarti mereka sudah berjalan kaki  selama  satu jam bahkan lebih, dengan mendaki bukit. Pertanyaan mau kemanakah mereka? Apakah setiap hari mereka harus berjalan selama ini? Kini pertanyaan itu sudah terjawab.

Anak-anak  desa kalirejo sebagian besar merupakan keturunan prajurit diponegoro. Dulu sebagian prajurit menetap di beberapa tempat untuk bercocok tanam dan mempersiapkan cadangan makanan apabila rombongan pangeran Diponegoro dating. Prajurit-prajurit itu akhirnya menetap sampai sekarang dan salah satunya di desa kalirejo. Kini perjuangan pangeran diponegoro diwariskan kepada anak cucu prajuritnya, mempertahankan tambang 5 ton emas dikalirejo. Mereka sanggup berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer,  selama berjam-jam hanya untuk menimba ilmu. Kelak mereka inilah yang mempertahankan tambang emas di kalirejo dari jarahan bangsa asing. Desa kalirejo, cucu-cucu prajurit diponegoro teruslah berjuang sampai titik penghabisan.     

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   Peno Suryanto  
     

 

Menemukan Emas Peninggalan Prajurit Diponegoro

di Balik Bukit Menoreh

Pagi hari saya harus buru-buru berangkat untuk sosialisasi program TQI di SMP N 3 Kokap, Kulonprogo.  Saya berpikir bahwa lokasi sekolah ini seperti sekolah-sekolah lainnya dekat dengan kota kecamatan, sehingga sepeda buntut tunggangan saya hanya bergerak kurang dari 70 KM/jam.  Terlalu seringnya saya menuju wates, sayapun tanpa pikir panjang pasti sampai di sana, bahkan mengendarai sambil merem melek juga sampai. Tetapi kalo menuju kokap ini baru pertama kalinya, makanya saya memerlukan peta. Dekat terminal wates,  saya beristirahat sebentar dan melihat peta. Peta sebagai satu-satunya penunjuk jalan menuju lokasi,  karena nomor telepon sekolah yang terdaftar tidak dapat dihubungi. Setelah yakin bahwa jalur menuju kecamatan kokap, sayapun kembali berangkat.

Pelang Hijau menunjuk arah menuju Kokap, sayapun tanpa pikir panjang berbelok mengikutinya. Dua, tiga empat Plang telah terlewati dan akupun merasakan hawa lebih dingin dan sejuk tanda bahwa sampai di tempat ketinggian.  Tak terlalu lama berjalan sampailah saya di kecamatan Kokap dan mulailah senjata utama kugunakan untuk mengetahui SMP 3 Kokap yaitu bertanya. Hasilnya, lokasi SMP3 Kokap di desa kalirejo, padukuhan plampang serta arah yang harus dilewati menuju kesana. Akupun menuju arah yang ditunjukkan oleh orang-orang yang saya tanyai itu dan juga dibantu penunjuk arah menuju kalirejo buatan mahasiswa KKN.

Tidak terlalu lama, saya melewati jalan yang menanjak tegak setelah itu sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang. Barulah saya sadar bahwa sedang berada di bukit menoreh. Di tebing itu terlihat bayang-bayang pangeran diponegoro ditandu oleh prajuritnya. Terbayang pula baku tembak dengan tentara belanda. Kini terbayang perjuangan pangeran diponegoro yang berjalan dari Kraton Yogyakarta sampai Kokap dengan berjalan kaki. Sayapun berusaha membandingkan denngan perjuanganku menemukan SMP Negeri 3 Kokap belum sebanding dengan perjuangan Diponegoro dan para prajuritnya. Sayapun berjalan pelan sambil melihat ketebing, mencoba mencari bekas peluru-peluru laras panjang yang kemungkinan masih menempel disana, tapi tak satupun kutemukan bekasnya.  

Perjuangan sayapun menemukan hasil, terlihat desa plampang dan bangunan sekolah. Setelah dekat ternyata bukan sekolah yang saya cari. Sekolah tersebut hanya sebuah SD dengan nama SD N 1 Plampang. Walaupun bukan sekolah yang saya cari, tetapi setidaknya saya bisa mencari informasi letak SMP N 3 Kokap pada guru di sana. Saya diberi tahu bahwa letaknya masih dibawah bukit ini yaitu arah menuju purworejo. Sayapun harus menaiki lagi bukit kecil menoreh dengan pemandangan indah menakjubkan. Pemandangan laut selatan dari puncak bukit, dan hutan hijau dibawah bukit serta dilengkapi hamparan sawah dibawahnya. Pemandangan itu membuatku berhenti sejenak, kira-kira tujuh hembusan nafas dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuruni bukit.

Sesampainya dibawah bukit saya disambut oleh bangunan sekolah SMP N 3 Kokap. Sekolah ini benar-benar terletak dibawah bukit dan bangunan satu-satunya disana. Dibawah sekolah ini ada sebuah sungai kecil yang menjadi pembatas bukit dan pemukiman warga. Ada sebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalan perkampungan dengan sekolah ini.  Mungkin bangunan sekolah ini yang paling berbahaya di dunia, tepat di bawah bukit yang tinggi. Seumpama ada musim salju mungkin sekolah ini hancur terkena kerikil es  puncak bukit yang meluncur kebawah menimbulkan snowball effect. Untungnya di Indonesia tidak terdapat musim salju, akan tetapi longsornya tanah dapat mengancamnya. 

Seusai memarkir sepeda, bel panjang berbunyi, disusul dengan berlariannya siswa-siswi mencangklong tas tanda bahwa waktunya pulang sekolah. Sayapun berusaha mencari bapak kepala sekolah. Bertanya kepada seorang guru yang berjaga didepan ruangan. Ternyata pak sutiyono, kepala sekolah SMP N 3 Kokap sedang rapat di dinas pendidikan. Sayapun hanya menitipkan berkas-berkas yang  harus diisi oleh kepala sekolah. Hasil  terpenting saya mendapatkan informasi cara menelepon pak Sutiyono. Cara yang sederhana sekali menelepon di sore hari, setelah pak sutiyono pulang sekolah karena disekolah ini sinyal telephon dari provider manapun terhalang oleh bukit-bukit yang tinggi.

Kira-kira satu jam berlalu sayapun pamit minta ijin kembali ke Yogyakarta. Terbayang sudah perjalanan naik turun bukit dengan sepeda buntut.  Tanpa beranjak dari gigi satu motor ini menanjaki bukit menoreh. Lima belas menit berlalu motor saya telah sampai puncak dan bisa berganti gigi dua, tiga tidak sampai gigi empat terlihat anak serombongan anak sekolah berjalan dibalik tikungan. Motorku pun ikut berjalan pelan mengawasi mereka. Dari seragam dan berbagai embel-embel yang dipakai anak-anak tersebut jelas siswa SMP N 3 Kokap, sekolah yang tadi saya kunjungi. Saya heran berarti mereka sudah berjalan kaki  selama  satu jam bahkan lebih, dengan mendaki bukit. Pertanyaan mau kemanakah mereka? Apakah setiap hari mereka harus berjalan selama ini? Kini pertanyaan itu sudah terjawab.

Anak-anak  desa kalirejo sebagian besar merupakan keturunan prajurit diponegoro. Dulu sebagian prajurit menetap di beberapa tempat untuk bercocok tanam dan mempersiapkan cadangan makanan apabila rombongan pangeran Diponegoro dating. Prajurit-prajurit itu akhirnya menetap sampai sekarang dan salah satunya di desa kalirejo. Kini perjuangan pangeran diponegoro diwariskan kepada anak cucu prajuritnya, mempertahankan tambang 5 ton emas dikalirejo. Mereka sanggup berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer,  selama berjam-jam hanya untuk menimba ilmu. Kelak mereka inilah yang mempertahankan tambang emas di kalirejo dari jarahan bangsa asing. Desa kalirejo, cucu-cucu prajurit diponegoro teruslah berjuang sampai titik penghabisan.     

 

 

Yogyakarta, 15 Juni 2011

Peno Suryanto