Orang yang senang menunda-nunda waktu, menunda-nunda kerja, dan menunda melakukan sesuatu akan mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan. Akibat menunda-nunda waktu itu pekerjaan menumpuk, padahal harus diselesaikan secepat mungkin. Akhirnya pekerjaan yang menumpuk itu dikerjakan dengan tergesa-gesa, akibatnya hasilnya tidak memuaskan, dan pasti ada masalah. ketergesa-gesaan itu cukup menjadikan orang gelisah, susah, dan stres. Apalagi kalau sudah terlihat hasilnya yang tidak memuaskan, akan timbul keputusasaan. Jadi, penundaan waktu menjadi salah satu sumber stres. Maka bagi yang ingin terhindar dari stres, hendaklah tidak membiasakan menunda-nunda waktu.
Kecendrungan seseorang dalam menunda-nunda waktu dapat diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain karena memang malas tanpa sebab-sebab tertentu. Orang seperti ini senangnya menganggur, tidak mau mengerjakan sesuatu.
Ada juga yang disebabkan perasaan takut gagal. Kegagalan dianggapnya sebagai sesuatu yang mengecewakan. oleh karena itu, daripada merasa kecewa di belakang, lebih baik pekerjaan itu ditundanya. Padahal kalau ini dilakukan akan menambah beban pekerjaan sehingga menambah kegagalan yang bertumpuk-tumpuk dan berlipat-lipat. Ada juga orang yang menunda-nunda perkerjaan karena takut berhasil. Ia beranggapan, kalau dia melakukan pekerjaan dengan segera, maka ia akan cepat berhasil. Dengan demikian, ia akan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar lagi, sedangkan ia takut menghadapi tanggung jawab itu; maka ia merasa lebih baik menunda pekerjaan tersebut.
Ada pula orang yang senang menunda-nunda waktu karena tidak cakap melaksanakan tugasnya dengan baik. Setiap akan mengerjakan sesuatu, pasti ada masalah dan merasa tidak cakap untuk mengatasinya.
Tetapi yang jelas bahwa terus-menerus menunda-nunda waktu akan berakibat manusia seharian tidak melakukan sesuatu kecuali hanya melamun dan menganggur. Kalau demikian, apa yang didapatnya? Hidup ini kosong. Kemudian yang dapat diraih adalah kegagalan dan kegagalan, akhirnya hidup dalam keadaan susah. Jelaslah disini bahwa kegagalan merupakan sumber stress.
Untuk mengatasi kecendrungan menunda-nunda kerja, maka kita harus memahami bahwa menunda kerja akan mengakibatkan kerugaian dunia akhirat. Menunda waktu justru akan menjadi sumber ketegangan dan stres. Bahaya-bahaya yang dapat terjadi karena menunda-nunda antara lain:
-Mengapa seseorang akan melakukan nanti atau esok, padahal ia tidak dapat menjamin hidupnya nanti atau esok. Alangkah ruginya orang yang telah membiarkan waktunya kosong tanpa kegiatan gara-gara menunda melakukan sesuatu .
Seorang penyair bersenandung:
Carilah bekal dari takwa
karena anda tidak mengerti
jikalau malam gelap gulita
sampai fajarkah hidup menanti?
Banyak sekali orang yang sehat
ia meninggal tanpa derita
banyak sekali orang yang sakit
ia pun hidup sepanjang masa
Banyak pemuda di sore hari
dan pagi hari aman sentosa
kain kafannya ditenun rapi
tidak mengerti tidak merasa
-Mengapa harus menunda nanti atau esok, padahal kita tak sadar dan tak tahu bahwa nanti ada penyakit, kesibukan, bahkan petaka yang akan menimpa? Oleh karena itu, yang merupakan sikap teguh hati adalah bersegera mengerjakan kebaikan-kebaikan dan menunaikan kewajiban-kewajiban. Dan merupakan sikap malas jikalau kita menunda-nunda waktu dan mengakhirkannya, hingga tertutuplah kesempatan yang baik dari kita, dan kita akan mengeluh dari duka cita. Oleh karena itu, Nabi SAW, berwasiat kepada kita:
Pergunakanlah lima kesempatan, sebelum datang lima halangan: Hidupmu sebelum kematianmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, peluangmu sebelum kesibukanmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kekayaanmu sebelum kefakiranmu. (Riwayat Ahmad)
-Setiap waktu ada amaliah dan kewajiban-kewajiban. Jikalau kita menunda amaliah dan kewajiban pada waktu sekarang, berarti hidup kita di waktu itu kosong tak bermakna. Taktala dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz, dimana telah tampak padanya rasa lelah akibat banyak beramal, "Undurkanlah amal ini esok hari" Beliau menjawab, "Sungguh telah melemahkan aku amal perbuatan sehari. Betapa lemahnya diriku jikalau berkumpul padaku amalan dua hari."
-Hawa nafsu akan terbiasa meninggalkan kebaikan-kebaikan akibat menunda-nunda melakukan kebaikan-kebaikan itu. Apabila terbasa meninggalkan kebaikan-kebaikan, maka akan menjadi karakter yang sulit untuk mengubahnya, sehingga dikhawatirkan hidupnya begelimang dalam perbuatan maksiat, sementara terasa berat untuk bangun kembali. Sebuah perumpamaan yang sangat tepat bagi orang semacam ini, seperti yang diungkapkan Nabi SAW:
Sesungguhnya orang yang beriman itu apabila berbuat dosa maka tumbuhlah titik hitam di hatinya. Bila ia bertobat, mencabut perbuatannya dan mohon ampunan, maka mengilatlah hatinya dari titik hitam itu. Dan apabila ia menambah dosa, maka bertambah besarlah titik hitam itu, hingga menutup hatinya. Itulah tutup yang disebutkan oleh Allah SWT. Dalam kitab-Nya, "Sekali-kali tidak(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Riwayat A-Turmudzi)
Dengan memahami kerugian akibat menunda-nunda waktu seperti diatas, diharapkan kita akan termotivasi untuk segera melakukan pekerjaan-pekerjaan kita. Dengan demikian, kecendrunganhawa nagsu yang mengajak seseorang malas dapat teratasi. KEberhasilan kita dalam masalah ini akan mencegah datangnya stres.
oleh Mahfud An