﻿<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><Search><pages Count="49"><page Index="1"><![CDATA[AL KASYFU WA TABYIN


















































                                         Imam Ghozali]]></page><page Index="2"><![CDATA[1   al kasyfu wa tabyin



               Pendahuluan


               Segala  puji  bagi  Allah  Yang  Maha  Esa,  shalawat  dan  salam  senantiasa  tercurahkan

               kepada baginda Nabi Muhammad SAW, serta seluruh keluarga dan para sahabatnya.


               - Klasifikasi Makhluk.

               Perlu  diketahui bahwa  makhluk  dibagi menjadi dua  kategori,  hewan?  dan nonhewan.
               Adapun hewan terbagi menjadi dua, mukala¹llf dan nomukalaf.


               - Definisi Mukalaf.

               Mukalaf  ialah  orang  yang  mendapat  ketentuan  dan  perintah  untuk  beribadah  kepada

               Allah SWT. Dengan konsekuensi pahala bagi yang mengindahkan perintah-Nya serta
               meninggalkan  perbuatan  maksiat.  Sedangkan  mendapat  siksa  bagi  orang  yang

               mengabaikan perintah dan larangan-Nya.,


               - Pembagian Mukalaf.

               Mukalaf terbagi dua, mukmin dan kafir. Mukmin terbagi menjadi dua; taat dan maksiat.
               Keseluruhan dari yang taat dan maksiat terbagi lagi menjadi dua; pintar (berilmu) dan

               bodoh (tidak berilmu).


               - Siapa Saja Yang Dapat Tertipu?

               Imam al-Ghazali melihat bahwa tipu daya (al-ghurur) pasti dapat menimpa seluruh orang
               mukalaf baik mukmin maupun kafir kecuali orang-orang terpilih yang dijaga oleh Allah

               SWT. Dengan demikian, Al-Ghazali akan menguak seluruh tabir tipu daya yang menimpa
               mukalaf  tersebut  dalam  pembahasan  yang  lebih  rinci  dan  jelas,  serta  menggunakan

               redaksi yang ringkas dan simpel agar mudah dipahami. Hanya Allah-lah dzat sebaik-baik
               pemberi taufik.



               - Kelompok Yang Tertipu Dari Kalangan Mukmin.
               Mereka adalah:

               1. Golongan Ulama]]></page><page Index="3"><![CDATA[2   al kasyfu wa tabyin



               2. Golongan ahli ibadah

               3. Golongan orang yang bergelimang harta
               4. Golongan ahli tasawuf


               - Kelompok Yang Tertipu Dari Kalangan Kafir.

               Di antaranya adalah:

               1. Orang yang tertipu dengan kehidupan dunia.
               2. Orang yang tertipu oleh tipu daya setan.


               Orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia, mereka ini mengatakan bahwa hal

               yang sudah jelas dan pasti (faktual) itu lebih baik dari pada yang masih berupa wacana

               (ilusif).


               Mereka  mengira  kesenangan  di  dunia  itu  dapat  digapai  dengan  mudah,  sedangkan
               kesenangan di akhirat dianggap semu. Dalam pikiran mereka suatu keyakinan seperti di

               atas  tidak  dapat  diruntuhkan  dengan  perkara  yang  masih  belum  jelas  kepastiannya.
               Penganalogian seperti ini adalah suatu kesalahan karena dapat merusak logika seorang

               manusia.


               Analogi  ini  berasal  dari  iblis  laknatullah  alaihi  dalam  Ucapannya  “Aku  ini  lebih  baik”.

               Menurutnya, suatu kebaikan hanya dilihat dari siapa yang lebih unggul, karena menurut
               Iblis api itu lebih hebat ketimbang segumpal tanah.



               - Obat Penawar dari Tertipunya Orang Kafir.
               Di antaranya adalah iman yang kuat (at-Tashdiq) dan petunjuk (al-Burhan).


               Solusi pertama yaitu dengan cara mempertebal iman kepada Allah SWT melalui firman-

               Nya,  “Apapun  yang berasal dari  Allah SWT  adalah  baik dan  kekal”,  sedangkan  yang

               berasal dari selain Allah pasti akan sirna.]]></page><page Index="4"><![CDATA[3   al kasyfu wa tabyin



               Firman  Allah  yang  lain  berbunyi  “Kehidupan  dunia  tidak  lain  hanyalah  merupakan

               kesenangan yang palsu”. Serta (mempertebal) iman kepada utusan-Nya dan apa yang
               telah diturunkan kepadanya (Al-Qur’an).


               Solusi  kedua  yaitu  mencari  petunjuk.  Orang  yang  telah  terperdaya  hendaknya

               mengetahui  rusaknya  analogi  yang  berasal  dari  iblis  bahwa  dunia  itu  bersifat  pasti

               sedangkan  akhirat  hanya  sebatas  janji  manis.  Letak  kesalahannya  adalah prasangka
               terhadap sesuatu yang telah terjadi itu lebih baik dari yang belum terjadi.


               Prasangka  seperti  di  atas  tidak  bisa  dipercaya  validitasnya.  Bahkan  jika  seandainya

               keduanya  sama-sama  dikomparasikan,  sebenarnya  bahagia  di  dunia  itu  memang

               merupakan satu kebaikan. Namun kebahagiaan yang didapat sejatinya tidak lebih hanya
               bersifat sedikit dan sementara.


               Sedangkan  hidup  bahagia  di  akhirat  tentu  jauh  lebih  baik  dari  pada  hidup  bahagia

               semasa di dunia.


               Jelas sekali kebahagiaan di akhirat bersifat abadi sedangkan dunia hanya fana. Maka

               dari  itu,  dalam  setiap  doa  hendaknya  kita  sebagai  hamba  selalu  mengharapkan
               kebahagiaan di dunia dan di akhirat (as-sa’adah fi ad-darain).


               Ungkapan  “Kesenangan  dunia  itu  pasti,  dan  kesenangan  akhirat  tidak  pasti”  juga

               merupakan kesalahan. Bagi orangorang mukmin, kesenangan di akhirat itu pasti terbukti

               karena mempunyai dua tendensi.


               Pertama, iman dan percaya melalui jalan yang telah diajarkan oleh para Nabi terdahulu
               dan para ulama selaku ahli waris. Sama halnya seperti yakinnya seorang pasien terhadap

               resep obat yang telah disarankan langsung oleh dokter.


               Kedua, melalui  wahyu  yang  diturunkan  kepada para  Nabi dan  ilham  yang  diturunkan

               kepada para wali.]]></page><page Index="5"><![CDATA[4   al kasyfu wa tabyin





               Maka tidak tepat jika berprasangka bahwa Nabi SAW mengetahui seluruh urusan akhirat
               dan dunia melalui malaikat Jibril AS. Asumsi ini bukanlah pengertian yang benar dan

               lurus.


               Nabi  SAW  dijauhkan  oleh  Allah  SWT  dari  hal-hal  tersebut,  bahkan  sesuatu  tersebut

               membuka tabirnya sendiri hingga kemudian Nabi membuktikannya melalui ‘penglihatan
               hati’ bagai tersingkapnya sesuatu yang tidak jelas terlihat hanya dengan melihat dari sisi

               luarnya.


               - Mukmin Yang Sama Tertipunya Dengan Kafir.

               Yaitu. orang-orang mukmin dengan lidah dan keyakinannya yang telah abai terhadap
               perintah  Allah  yakni  beramal  shalih,  dan  terperangkap  dengan  hawa  nafsu.  Mereka

               adalah Orang Mukmin Yang Sama Tertipunya Dengan Orang Kafir.


               Kehidupan dunia telah menipu orang kafir sedangkan mereka orang mukmin telah tertipu
               bahwa tertipunya orang kafir adalah karena mengingkari Allah.



               Ibarat ucapan mereka tentang dirinya sendiri, “Jika Allah membantu kami, maka dengan
               itu kami lebih berhak mendapat pertolongan ketimbang orang lain”.


               Seperti firman Allah dalam surat al-Kahfi yang berbunyi, “Aku kira kebun ini tidak akan

               binasa selama-lamanya. Dan aku kira hari kiamat itu tidak akan datang, dan sekirang aku

               dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan Mendapat tempat kembali yang lebih baik
               dari pada ini”.


               - Faktor Yang Menjadikan Mereka Tertipu.

               Ketertipuan  tersebut  berdasarkan  analogi  yang  dikampanyekan  oleh  Iblis  laknatullah.

               Mereka  memandang  nikmat  yang  telah  diberikan  oleh  Allah  selama  di  dunia  sama
               dengan nikmat yang diberikan di akhirat kelak.]]></page><page Index="6"><![CDATA[5   al kasyfu wa tabyin



               Suatu hari ketika mereka melihat siksa Allah yang ditangguhkan kepada mereka selama

               di dunia, maka mereka analogikan dengan siksa akhirat.


               Sebagaimana  firman  Allah,  “Dan  mereka  mengatakan  kepada  diri  mereka  sendiri,
               “Mengapa  Allah  tidak  menyiksa  kita  atas  apa  yang  kita  katakan  itu?”,  Cukuplah  bagi

               mereka  neraka  jahanam  yang  akan  mereka  masuki.  Maka  neraka  itu  seburukburuk

               tempat kembali”.


               Mereka  juga  memandang  orang-orang  mukmin  sebagaj  Orang  yang  fakir.  Mereka
               memandangnya dengan pandangan hina seraya berkata, “Orang-orang semacam inikah

               di antargakita yang diberi anugerah oleh Allah?”. Dan mereka berkata, “Sekiranya al-

               Qur’an  itu  sesuatu  yang  baik,  tentu  mereka  tidak  pantas  mendahului  kami  (beriman)
               kepadanya”.


               Urutan qiyas yang diyakini dalam hati mereka dalam perkataannya; “Allah telah berbuat

               baik dengan memberi kenikmatan duniawi kepada kita, setiap kebaikan pasti disenangi
               dan setiap hal yang disenangi adalah bersifat baik’. Padahal bukan seperti itu, bahkan

               setiap yang baik belum tentu disenangi.


               Terkadang hal-hal yang (kelihatannya) baik justru dapat menjadi sebab kerusakan bagi

               dirinya sendiri, dalam arti lain yaitu istidraj. Prasangka yang seperti di atas merupakan
               ketertipuan yang sangat jelas bagi seorang hamba terhadap Allah SWT.



               Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari
               kenikmatan dunia yang dicintainya sebagaimana kalian mencegah orang yang sakit dari

               suatu. makanan dan minuman padahal mereka menyukainya” (HR. Ahmad dan Hakim).


               Orang-orang yang mempunyai penglihatan hati saat berhadapan dengan (kemewahan)

               dunia, mereka akan bersedih hatinya. Sebaliknya, ketika mereka berhadapan dengan
               kesusahan, hati mereka justru senang. Mereka_berkata, “Selamat datang syiar orang-

               orang yang shalih”.]]></page><page Index="7"><![CDATA[6   al kasyfu wa tabyin





               Allah  telah  berfirman,  “Maka  adapun  manusia,  apabila  Tuhan  mengujinya  lalu
               memuliakannya  dan  memberinya  kesenangan,  maka  dia_  berkata,  “Tuhanku  _  telah

               memuliakanku”.


               Dan firman Allah, “Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-

               anak kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan
               kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya”.


               Dan firman Allah, “..Kelak akan kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang

               tidak  mereka  ketahui.  Dan  Aku  memberi  tenggang  waktu  kepada  mereka.  Sungguh,

               rencana-Ku sangat teguh”.


               Dan  firman  Allah,  “Maka  ketika  mereka  melupakan  peringatan  yang  telah  diberikan
               kepada  mereka,  Kami  pun  membukakan  semua  pintu  (kesenangan)  untuk  mereka.

               Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka,
               Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”.



               - Dari Mana Sumber Ketertipuan Mereka?
               Akar  masalahnya  adalah  karena  mereka  tidak  mengenal  Allah  dan  sifat-sifatnya.

               Sesungguhnya orang yang mengenal Allah mereka selalu waspada dan tidak pernah
               merasa aman dari segala tipu daya yang berasal dari Allah. Mereka juga melihat apa

               yang telah dialami oleh Fir’aun, Haman, dan kaum Tsamud, bahwa Allah telah memberi

               mereka dengan gelimang harta.


               Sungguh  Allah  memberi  peringatan  melalui  tipu  dayaNya  dalam  ayat,  “Maka  apakah
               mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa

               aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”.


               Dalam ayat lain, “Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun

               membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.]]></page><page Index="8"><![CDATA[7   al kasyfu wa tabyin





               Serta ayat,"Karena itu (hai Muhammad,) beri tangguhlah (kepada) orang-orang kafir itu,
               yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar". Maka barangsiapa yang memperoleh

               suatu kenikmatan, waspadalah jika ternyata hal itu menjadi bumerang kerusakan bagi
               dirinya.



               - Orang Maksiat Yang tertipu Dari Kalangan Mukmin.
               Adapun  tertipunya  orang-orang  yang  maksiat  dari  kalangan  mukmin  adalah

               perkataannya  sendiri  yaitu;  “sesungguhnya  Allah  Maha  Mengampuni  lagi  Maha
               Mengasihi. Mereka memohon ampunan-Nya dan bertawakal tetapi tidak disertai dengan

               berbuat amal yang shalih.


               Hal  ini  merupakan  cara  berharap  (ar-raja’)  yang  keliru,  Padahal  ar-raja’  sebenarnya

               merupakan  derajat  yang  terpuji  dalam  kehidupan  dunia.  Sesungguhnya  rahmat  Allah
               sangat  luas,  kenikmatan  dari-Nya  menyeluruh,  kedermawanan-Nya  merata  serta

               kemuliaan-Nya menyeluruh. “Aku mengesakan Allah dan selalu berharap kepada-Nya
               melalui iman, memuliakan dan berbuat baik”.



               - Dari Mana Sumber Ketertipuan Mereka?
               Timbulnya  keadaan  tersebut  diperkirakan  terjadi  karena  adanya  prinsip  bahwa

               kehebatan  seseorang  tidak  lepas  dari  kehebatan  orang  tuanya.  Itu  adalah  puncak
               ketertipuan, karena sesungguhnya ayah mereka dengan kehebatan dan wirai-nya adalah

               karena merasa takut kepada Allah.


               Analogi mereka karena hasutan setan bahwa barangsiapa yang mencintai seseorang,

               maka hendaknya mereka menyukai keturunannya. Allah telah mencintai ayahmu pasti
               mencintaimu pula, maka tidak perlu taat lagi. Mereka berpedoman dengan hal itu dan

               akhirnya tertipu.]]></page><page Index="9"><![CDATA[8   al kasyfu wa tabyin



               Mereka juga tidak tahu bahwa Nabi Nuh hendak membawa anaknya ke dalam perahu

               tetapi anaknya menolak. Sehingga Allah menenggelamkannya dengan keadaan yang
               lebih mengenaskan ketimbang tenggelamnya kaum Nabi Nuh.


               Sesungguhnya  Nabi  SAW  meminta  izin  kepada  Allah  untuk  menziarahi  makam

               ibundanya  dan  memintakan  ampunan  kepada-Nya;  maka  Allah  mengizinkan  untuk

               menziarahinya tetapi tidak memberi izin untuk memintakan ampunan kepada-Nya.


               Mereka lupa bahwa Allah berfirman, “Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa
               orang lain. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”.



               Siapapun  yang  mengira  bahwa  ia  akan  selamat  dari  siksa  sebab  ketaatan  ayahnya
               adalah bagai orang yang bisa kenyang (tanpa makan) dan hilang dahaga sebab ayahnya

               yang makan dan minum.


               Takwa kepada Allah merupakan fardu ‘ain, sehingga ketakwaan anak tidak dapat diukur
               dari ketakwaan orang tuanya. Sebagaimana firman Allah, “Pada hari itu manusia lari dari

               saudaranya, dan ibu bapaknya, serta istri dan anakanaknya”. Kecuali ia mendapatkan

               syafaat.


               Mereka lupa terhadap ucapan Nabi SAW, “Orang yang pandai adalah yang menghisab
               (mengevaluasi)  dirinya  sendiri  serta  beramal  untuk  kehidupan  sesudah  kematian.

               Sedangkan  orang  yang  lemah  adalah  yang  dirinya  mengikuti  hawa  nafsunya  serta

               berharap secara berlebihan terhadap Allah SWT”.


               Dan  firman  Allah,  “Sesungguhnya  orang-orang  yang  beriman  dan  orang-orang  yang
               berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat

               Aliah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.]]></page><page Index="10"><![CDATA[9   al kasyfu wa tabyin



               Dan  firman  Allah,  “Sebagai  balasan  atas  apa  yang  mereka  kerjakan”.  Tidak  dapat

               dibenarkan  jika  mengharap  rahmat  Allah  tanpa  didahului  dengan  amal.  Jika  tidak
               didahului dengan amal, maka jelas hal tersebut adalah sebuah ketertipuan.


               - Orang Yang Tertipu Sebab Sedikit Kebaikan Dan Banyak \ Keburukannya.

               Termasuk golongan yang ketertipuannya sama dengan orang mukmin yang bermaksiat

               di atas adalah orang yang taat namun masih melakukan maksiat, tetapi maksiatnya lebih
               banyak. Mereka ini meminta ampunan Allah dan mengira bahw timbangan kebaikannya

               lebih banyak, padahal sebenarnya timbangan keburukannya yang justru lebih berat. Ini
               adalah puncak dari kebodohan.



               Lihatlah seseorang yang membelanjakan uangnya yang banyak, uang tersebut terdiri dari
               yang halal dan haram. la mendapatkannya dari harta orang lain, padahal perkara syubhat

               (tidak jelas status halal atau haram) nya lebih banyak.


               Bagai  orang  yang  meletakkan  uang  sepuluh  dirham  dalam  satu  timbangan  dan
               meletakkan  seribu  dirham  ke  dalam  timbangan  yang  lain.  Kemudian  ia  berharap

               timbangan yang berisi seribu dirhamlah yang lebih berat. Tentu ini adalah sebuah puncak

               dari segala kebodohan.


               - Orang Yang Tertipu Sebab Menyangka Taatnya Lebih Banyak Dari Maksiatnya.
               Ketika orang yang taat mengerjakan suatu amal, ia menjaga dan menghitungnya seperti

               orang yang beristighfar dengan lidahnya, membaca tasbih di siang dan malam sebanyak

               seratus atau seribu kali. Kemudian ia berharap mendapatkan keutamaan dari membaca
               tasbih.  Lalu  ia  menakut-nakuti  orang-orang  Islam  dengan  perkara  yang  tidak  diridhai

               Allah sepanjang hari.


               Sedangkan  ia  sendiri  lupa  terhadap  siksa  bagi  seorang  pengumpat,  pembohong,

               provokator, dan munafik. Maka dari itu, menjaga lisan dari ucapan yang menjadikannya
               maksiat lebih uttama dari membaca tasbih.]]></page><page Index="11"><![CDATA[10   al kasyfu wa tabyin



               Orang-orang Yang Tertipu Dan Klasifikasinya Dalam Beberapa Kategori





               A. Kelompok Pertama; Para Ulama.


               Orang-orang yang tertipu ada banyak golongan. Salah satunya yaitu:


               1. Golongan Pertama.


               Orang yang belajar ilmu agama (syariat) dan logika, memperdalam dan menyibukkan diri

               dengan ilmunya hingga lalai terhadap anggota tubuhnya sendiri dari perbuatan maksiat.

               Dan orang yang taat tetapi mereka terpedaya dengan iImunya sendiri, mereka mengira
               telah mendapatkan suatu tempat/kedudukan di sisi Allah.


               Mereka mengira ilmunya telah sampai pada level di mana Allah tidak akan menyiksa

               orang-orang seperti mereka. Bahkan (mereka kira) Allah telah menerimanya serta para
               makhluk juga akan mendapat syafaat sehingga Allah tidak akan menuntut semua dosa

               dan seluruh kesalahannya. Mereka ini sungguh telah tertipu.


               Sesungguhnya  kelompok  ini  memandang-dengan  penglihatan  hati-dan  mereka  tahu

               bahwa ilmu itu ada dua, ilmu muamalah (bersosial) dan ilmu kasyaf (al-mukasyafah). Ilmu

               kasyaf di sini adalah ilmu untuk mengenal Allah dan sifat-sifatNya.


               Sedangkan  ilmu  muamalah  merupakan  ilmu  tentang  kebijaksanaan  yakni  untuk
               mengetahui tentang halal dan haram serta mengetahui akhlak manusia yang baik dan

               buruk.


               Ibarat seorang dokter yang mampu mengobati orang lain sedangkan pada saat dokter

               tersebut yang ditimpa sakit, seharusnya dokter tersebut mampu mengobati dirinya sendiri
               tetapi ia tidak dapat melakukan karena energinya sedang lemah.]]></page><page Index="12"><![CDATA[11   al kasyfu wa tabyin



               Apakah hanya dengan minum obat saja cukup? Tidak mungkin. Minum obat saja belum

               cukup tanpa dibersamai dengan melakukan hal lain seperti makan makanan yang sehat,
               menjaga pola tidur, minum air putih yang banyak dan lain-lain.


               Mereka melupakan firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan’

               jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. Allah tidak berfirman,

               “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mengetahui cara menyucikan jiwanya, menyia-
               nyiakan ilmunya dan mengajarkannya kepada manusia.


                Mereka juga lupa terhadap ucapan Nabi SAW, “sesungguhnya manusia yang mendapat

               azab  pedih  di  hari  kiamat  nanti  adalah  orang  alim  sedangkan  Allah  tidak  membuat

               ilmunya bermanfaat” (HR. Thabrani dan Baihaqi).


               Mereka ini termasuk orang-orang yang tertipu daya. naudzu billahi min dzalik. Mereka
               terbiasa menyukai dunia, akhirat dan ketenangan, mereka menyangka bahwa ilmunya

               nanti di akhirat tidak berguna jika tidak diamalkan.




               2. Golongan Kedua.


               Orang-orang  yang  menghukumi  sesuatu  dengan  ilmu  dan  amal  serta  meninggalkan
               maksiat tetapi lupa menjaga hatinya sendiri.



               Mereka  tidak  menghindari  sifat-sifat  yang  tercela  seperti  sombong,  pamer,  hasud,
               mencari muka dan kedudukan yang tinggi, mengharap penghormatan dari orang lain dan

               sekutu mereka serta mencari popularitas.


               Itu semua adalah ketertipuan. Penyebabnya adalah kelalaian mereka terhadap sabda

               Nabi SAW:


               - “Pamer merupakan syirik kecil”.]]></page><page Index="13"><![CDATA[12   al kasyfu wa tabyin



               - “Dengki dapat memakan habis semua kebaikan bagai api yang melalap habis kayu

               bakar”.
               -  ‘Cinta  terhadap  harta  dan  kemuliaan  dapat  menumbuhkan  sifat  munafik  dalam  hati

               bagai air yang menumbuhkan sayuran”.


               Serta banyak hadis-hadis lain yang senada dengan pembahasan di atas .


               Mereka melupakan firman Allah, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan

               hati yang bersih”.


               Mereka  lalai  menjaga  hatinya  sendiri  karena  telah  sibuk  dengan  perkara  yang  lahir.

               Barangsiapa  yang  tidak  membersihkan  hatinya,  niscaya  tidak  akan  sah  ketaatannya.
               Seperti orang yang sakit kudis, maka dokter menyuruhnya agar memakan anak rusa dan

               minum  obat.  Kemudian  ia  hanya  memakan  anak  rusa  tanpa  minum  obat.  Akibatnya,
               hanya bagian luarnya saja yang sembuh tetapi bagian dalam tubuhnya tidak sembuh.


               Padahal asal dari sesuatu yang terlihat dari luar tubuh berasal dari bagian dalam tubuh.

               Penyakit  kudis yang  ia  derita akan  terus  kambuh,  karena  bagian dalam  tubuh  belum

               diobati.


               Demikian pula dengan perbuatan yang tercela yang berasal dari dalam hati, akan terlihat
               dampaknya pada anggota tubuh. Namun, apabila penyakit dari dalam tubuh telah hilang,

               maka yang ada di luar tubuhnya akan menjadi bersih terbebas dari segala penyakit.


               3. Golongan Ketiga.


               Orang yang mengerti tentang akhlak tersebut. la mengerti bahwa hal tersebut merupakan

               akhlak yang buruk dari segi syariat. Namun, karena keterbuaiannya kepada diri sendiri

               menjadikannya telah bebas dari akhlak yang tercela ini.]]></page><page Index="14"><![CDATA[13   al kasyfu wa tabyin



               Mereka mengira telah mendapatkan kedudukan di sisi Allah sehingga ia merasa tidak

               akan mendapat cobaan dari Allah. Hanya orang awamlah yang akan mendapatkan ujian
               tersebut, bukan orang yang telah sampai ilmunya sesuai level mereka.


               Padahal  sebenarnya  yang  siksanya  lebih  besar  menurut  Allah  adalah  mereka.  Jelas

               mereka  ini  telah  menyombongkan  diri  dan  pamer  serta  mengharap  kedudukan  dan

               kemuliaan di mata manusia.


               Yang  menjadi  sebab  ketertipudayaan  adalah  prasangka  bahwa  hal  tersebut  bukan
               merupakan  kesombongan  melainkan  memuliakan  ilmu  dan  untuk  menolong  agama

               Allah. Mereka lupa bahwa Iblis bahagia dengan hal tersebut. Adapun pertolongan Nabi

               dapat diperoleh dengan apa? Dan dengan apa beliau menundukkan orang-orang kafir?


               Mereka  lupa  terhadap  kerendah  hatian  para  sahabat  Nabi-semoga  Allah  meridhai
               mereka  semua-yang  menghinakan  dirinya  sendiri,  kefakiran  serta  rumahnya.  Hingga

               sahabat Umar dicela saat tiba di Syam karena memakai baju yang lusuh. Beliau berkata,
               “Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, kami tidak mencari kemuliaan

               dari selain Islam”.


               Lalu orang yang tertipu ini malah mencari kemuliaan agama dengan memakai pakaian

               yang halus dan bagus. Dengan hal itu mereka merasa telah berhasil mencari keagungan
               dan kemuliaan agama.



               Bagaimanapun juga lidahnya tetap berkata dengan penuh dengki kepada orang lain dan
               orang yang tidak sependapat dengan pemikirannya. la tidak sadar bahwa yang ia lakukan

               adalah perbuatan dengki seraya berucap, “la marah karena merasa bahwa apa yang ia
               lakukan  telah  benar  dan  membantah  orang  yang  berbuat  perkara  batil  dalam

               permusuhan dan kezalimannya.


               Mereka  adalah  orang  yang  telah  tertipu,  bahkan  jika  temannya  yang  berasal  dari

               kalangan ulama dicela ia tidak akan marah, justru membuatnya gembira. Walaupun jika]]></page><page Index="15"><![CDATA[14   al kasyfu wa tabyin



               ia  menampakkan  kemarahannya  di  depan  manusia,  sama  saja  menjadikan  hatinya

               gembira.


               Terkadang  saat  ia  menampakkan  ilmunya  seraya  berkata,  “Tujuanku  dengan  ilmu  ini
               adalah agar dapat memberi manfaat kepada makhluk”. Padahal ucapannya_  tersebut

               menjadikannya pamer. Karena jika seandainya tujuannya adalah memberi kemaslahatan

               untuk makhluk, tentu ia ikut senang jika kebaikannya ada pada tangan orang lain baik
               yang umurnya sepadan, lebih tua dan lebih muda darinya.


               Terkadang  ia  mengunjungi  para  penguasa,  memperlihatkan  kehormatan  dan  memuji

               mereka. Jika ia ditanya, ia menjawabnya “Tujuanku (mendatangi penguasa) adalah agar

               memberi manfaat kepada orang-orang Islam agar mereka aman dan terhindar dari suatu
               bahaya”. Dia ini adalah orang yang tertipu.


               Jika tujuannya memang demikian, seharusnya ia rela jika hal tersebut dilakukan oleh

               orang lain. Padahal, andai orang lain yang sepadan dengannya mendatangi penguasa
               tersebut, ia akan marah.



               Dan  ketika  mereka  hendak  mengambil  harta  dari  penguasa,  seketika  terlintas  dalam
               benaknya bahwa perbuatan ini haram. Kemudian setan menghasud kepadanya, “harta

               inj  tidak  bertuan,  harta  tersebut  untuk  kemaslahatan  umat  islam,  sedangkan  engkau
               adalah imam dan ulama mereka, dan hanya denganmu agama menjadi tegak”.



               Dalam hal ini setidaknya ada tiga kerancuan; pertama, harta yang tak bertuan. Kedua,
               harta tersebut untuk kemaslahatan umat islam. Dan ketiga, ia adalah imamnya.


               Tidak dapat disebut seorang pemimpin melainkan orang tersebut mampu berpaling dari

               godaan dunia layaknya para nabi dan sahabat-sahabatnya. Contohnya adalah ucapan

               Nabi Isa AS, “Orang alim yang buruk bagai batu besar yang keras yang jatuh ke dalam
               jurang,  ia  tidak  dapat  menyerap  air  tidak  pula  dapat  menumbuhkan  tumbuhan"  .]]></page><page Index="16"><![CDATA[15   al kasyfu wa tabyin



               Golongan ahli ilmu yang tertipu sangat banyak, yang rusak lebih banyak ketimbang yang

               baik.


               4. Golongan Keempat.


               Orang yang menghukumi sesuatu dengan ilmu, membersihkan anggota badannya dan

               menghiasinya dengan taat serta meninggalkan maksiat.


               Dan  mereka  meninjau  akhlak  yang  ada  dalam  dirinya  serta  sifat-sifat  hatinya  seperti
               pamer,  hasud,  sombong,  dengki,  mencari  kedudukan  dan  menentang  keras

               terhadapnya, dan mencabut akar yang menjadi sumbernya di dalam hati.


               Namun,  mereka  ini  sesungguhnya  tetap  tertipu  karena  di  dalam  hati  mereka  masih

               tersimpan tipu daya setan. Menjadi sarang tipuan nafsu yang halus dan samar, mereka
               tidak memahaminya sedikitpun bahkan abai terhadapnya.


               Mereka ibarat seperti orang yang membersihkan tanaman. Barangsiapa yang hendak

               membersihkannya  dari  rerumputan,  hendaknya  mengelilinya  seraya  mencabutnya.  la

               tidak  dapat menyelidiki sesuatu  yang  belum  keluar ujung bagian atasnya  dari  bawah
               tanah.


               Ia mengira seluruhnya telah tampak. Ketika ia lalai, akhirnya tanaman tersebut tampak

               dan merusak dirinya. Mereka jika masih ingin mengubah, maka semuanya masih bisa

               berubah.


               Terkadang  mereka  tidak  mau  bercengkerama  dengan  makhluk  karena  sombong.
               Terkadang mereka menatap makhluk dengan tatapan yang penuh kehinaan. Terkadang

               sebagian dari mereka ingin memperbaiki pandangannya agar ia tidak dilihat dengan mata

               kelemahan.


               5. Golongan Kelima.]]></page><page Index="17"><![CDATA[16   al kasyfu wa tabyin





               Orang-orang  yang  meninggalkan  ilmu-ilmu  yang  penting.  Hanya  mempelajari  secara
               ringkas  ilmu-ilmu  terkait  fatwa dalam  pemerintahan,  perdebatan, serta  uraian  tentang

               sosial duniawi yang terjadi antar makhluk untuk kemaslahatan kehidupan. Mereka hanya
               memperdalam ilmu fikih sehingga mendapat gelar ahli fikih (al-faqqih) dan ahli mazhab.



               Terkadang  mereka  menyia-nyiakan  ilmu  tentang  amal  yang  lahir  dan  batin,  tidak
               introspeksi  terhadap  anggota  tubuhnya,  tidak  menjaga  lidahnya  dari  membicarakan

               orang lain, tidak menjaga perutnya dari hal yang haram, tidak menjaga kakinya untuk
               mengunjungi para penguasa, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Mereka tidak menjaga

               hatinya dari sifat sombong, pamer, dengki, dan seluruh sifat yang dapat merusak,


               Mereka adalah orang-orang yang tertipu dari dua sisi; Pertama, Amal. Dalam kasus’ ini

               pengarang telah menjelaskannya dalam kitab Ihya’. Mereka diibaratkan bagai orang yang
               sakit yang belajar tentang obat-obatan kepada dokter, namun tidak malah memahaminya

               justru tidak mau mempraktekkan ilmunya.


               Mereka  menjerumuskan  kepada  kerusakan,  tidak  mau  membersihkan  dirinya.  Malah

               sibuk mendalami tentang haid, diyat (denda), li’an, dan dhihar. Mereka menyia-nyiakan
               perkembangan kebersihan dirinya.


               Mereka  tertipu  karena  para  makhluk  mengagungkan  dan  memuliakannya  serta  salah

               satu dari mereka telah ada yang menjadi hakim dan pemutus fatwa. Setiap dari mereka

               saling  menyindir  temannya  ketika  saling  berjauhan,  dan_  ketika  mereka  berdekatan
               hilanglah rasa saling sindir tersebut.


               Kedua, dari sisi ilmu. Mereka mengira tidak ada ilmu yang lebih penting dari ilmu fikih.

               IImu  tersebut  yang  dapat  menuntun  pada  keberuntungan  dan  keselamatan.  Padaha|

               perkara yang menguntungkan dan menyelamatkan hanyalah rasa cinta kepada Allah,
               dan cinta tidak cukup tanpa mengetahui tentang Allah.]]></page><page Index="18"><![CDATA[17   al kasyfu wa tabyin



               Lalu  bagaimana  cara  mengetahui  Allah?  Ada  tiga  cara;  mengetahui  dzat,  sifat  dan

               perbuatan-Nya.  Perumpamaannya  adalah  orang  yang  merasa  cukup  bekal  untuk
               perjalanan haji. Dan mereka belum tahu bahwa ilmu fikih adalah ilmu yang memahami

               tentang  ibadah  kepada  Allah,  termasuk  haji.  Sedangkan  mengetahui  sifat-Nya  yang
               menakutkan dan mengancam adalah tidak lain agar hati senantiasa takut supaya dapat

               melanggengkan ketakwaan.


               Sesuai dalam firman-Nya, “Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka

               tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka?


               Orang-orang ini merasa cukup hanya dengan memahami ilmu fikih yang menjelaskan

               tentang  perbedaan  pendapat  di  kalangan  ulama  hanya  agar  mahir  berdebat,
               mempertahankan argumen dengan tujuan agar lawannya tidak berkutik. Mereka menolak

               kebenaran  (yang  lain)  karena  keangkuhannya.  Sepanjang  siang  dan  malam  ia
               mempelajari tentang komparasi antar mazhab, mencari kesalahan lawan debat.


               Mereka keluar dari batas keilmuan, malah hanya bertujuan untuk menang dari lawannya.

               Andai mereka mau menyibukkan diri dengan membersihkan hati, maka hal tersebut lebih

               baik  untuknya.  Kecuali  mereka  hanya  sibuk  berkutat  pada  ilmu  yang  membuat  tidak
               bermanfaat baginya dan sibuk dengan urusan dunia.


               Dan  hal  itu  dapat  mengantarkannya  ke  dalam  neraka  yang  menyala  di  akhirat  nanti.

               Padahal dalil-dalil yang digunakan oleh para imam mazhab itu didasari al-qur’an dan

               hadis. Maka tidak ada sesuatu yang lebih buruk ketimbang tertipunya mereka.


               6. Golongan Keenam.


               Orang  yang  sibuk  dengan  ilmu  kalam  dan  perdebatan,  menyangkal  orang  lain  yang

               berseberangan, dan suka larut dalam perselisihan.]]></page><page Index="19"><![CDATA[18   al kasyfu wa tabyin



               Mereka memperiuas wawasan dengan berbagai macam ilmu komunikasi yang berbeda-

               beda, mempelajari tata cara membuat lawan tak berdaya dalam berdebat. Orang yang
               seperti ini terbagi menjadi dua;


               Pertama, sesat menyesatkan. Dan kedua, membinasakan. Tertipunya kelompok pertama

               karena  kesesatan  dan  prasangkanya  bahwa  dirinya  telah  benar.  Mereka  terdiri  dari

               banyak kelompok, sebagian dari mereka suka mengkafirkan orang lain.


               Mereka  sesat  karena  tidak  mampu  memahami  dengan  utuh  tentang  dalil  dan
               metodologinya. Mereka berpendapat bahwa karena adanya kasus yang serupa maka

               dapat dijadikan sebagai dalil, sedangkan dalilnya adalah keserupaan tersebut.


               Kelompok yang membinasakan ini bersikukuh bahwa ilmu kalam dan ilmu debat ini paling

               penting dan menjadi hal utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka yakin tidak
               akan menjadi sempurna agama seseorang sebelum ia meneliti dan membahas kedua

               ilmu tersebut.


               Dan orang yang iman kepada Allah tanpa membahas dan meneliti suatu dalil maka ia

               belum  layak  disebut  orang  yang  beriman  dengan  sungguh-sungguh,  imannya  belum
               sempurna dan bukan orang yang dekat di sisi Allah tanpa bercermi,, kepada orang-orang

               Islam pada generasi awal.


               Sesungguhnya  Nabi  SAW  memberi  persaksian  kepada  orang-orang  generasi  awal

               bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Mereka tidak perlu dalil untuk menguatkan
               peryataan tersebut.


               Abu  Umamah  meriwayatkan  dari  Nabi  SAW,  sesungguhnya  beliau  bersabda,  “Sama

               sekali tidak akan ada sesuatu yang membuat tersesat bagi kaum kecuali mereka telah

               melakukan suatu perdebatan”.


               7. Golongan Ketujuh.]]></page><page Index="20"><![CDATA[19   al kasyfu wa tabyin





               Orang  yang  tak  henti-henti  dalam  memberikan  nasihat  dan  meninggikan  kedudukan
               orang yang suka berbicara tentang akhlak batin serta sifat-sifat hati seperti khauf, raja’,

               sabar, syukur, tawakal, zuhud, yakin, ikhlas dan jujur.


               Mereka ini lebih tertipu ketimbang orang-orang sebelumnya karena dirinya menyangka

               telah cinta kepada Allah dan utusan-Nya.


               Mereka tidak akan dapat mewujudkan suatu keikhlasan kecuali mereka mau menjadi
               orang-orang yang ikhlas dengan semurni-murninya. Mereka tidak akan luput dari semua

               kesalahan keruhnya hati kecuali mereka dapat menghindari hal tersebut.


               Mereka ini lebih tertipu ketimbang orang-orang sebelumnya karena dirinya menyangka

               telah cinta kepada Allah dan utusan-Nya.


               Mereka tidak akan dapat mewujudkan suatu keikhlasan kecuali mereka mau menjadi
               orang-orang yang ikhlas dengan semurni-murninya. Mereka tidak akan luput dari semua

               kesalahan keruhnya hati kecuali mereka dapat menghindari hal tersebut.


               Mereka  lebih  menyukai  perduniawian  ketimbang  orang  lain.  Suka  menampakkan

               kezuhudannya di dunia padahal mereka sangat rakus terhadap dunia dan bahkan sangat
               tergilagila. Mereka mengajak manusia agar senantiasa ikhlas tetapi dirinya sendiri belum

               mampu menjadi orang yang ikhlas. Suka mengajak kepada Allah padahal mereka sendiri

               masih sering lari dari-Nya.


               Kebiasaannya adalah menakut-nakuti manusia dari ancaman Allah padahal ia sendiri
               malah merasa aman dan bebas dari siksa-Nya. Selalu mengajak untuk berzikir kepada

               Allah  tetapi  lisannya  sendiri  sering  lupa  menyebut  nama  Allah.  Selalu  mengajak

               mendekatkan diri kepada-Nya padahal mereka sendiri masih jauh dari Allah.]]></page><page Index="21"><![CDATA[20   al kasyfu wa tabyin



               Mereka  tidak  menyukai  perbuatan  tercela_  tetapi  mereka  sendiri  suka  mencela.

               Mengajak  manusia  untuk  menghindari  makhluk  tetapi  dirinya  justru  lebih  ambisius.
               Seandainya mereka tidak dibolehkan duduk bersama makhluk untuk mengajak mereka

               kepada Allah seolah-olah dunia yang luas ini seketika menjadi sempit meskipun mereka
               yakin jika tujuannya adalah memberi kemaslahatan bagi para makhluk.



               Jikalau  terlihat  ada  seseorang  yang  seperti  mereka  didatangi  oleh  para  makhluk,
               siapapun yang mendatanginya maka dirinya akan menjadi lebih baik, maka tentu mereka

               akan mati dalam keadaan sedih dan dengki.


               Jikalau ada seseorang yang suka memuji dan sering mendatangi orang lain yang sama

               dengannya, maka ia menjadi manusia yang sangat tertipu dan akan menggubris segala
               peringatan terhadapnya dan ajakan untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka menjadi

               makhluk yang paling emosi di dunia.


               8. Golongan Kedelapan.


               Orang-orang  yang  meninggalkan  kewajiban  dalam  memberi  nasihat  kepada  umat

               padahal sebenarnya ia termasuk orang yang paling ditunggu petuah-petuahnya di zaman
               ini  kecuali  orang-orang  yang  dijaga  oleh  Allah.  Mereka  suka  membuat  keributan,

               kecemasan,  mengumbar  kata-kata  yang  melenceng  dari  aturan  syariat  dan  mencari
               keadilan yang masih absurd.



               Ada kelompok yang menyukai kata-kata yang cenderung lebay dan sepele. Kebanyakan
               membahas  tentang  hal  yang  puitis  yang  memperlihatkan  tentang  persatuan  dan

               perpisahan,


               Tujuannya adalah untuk mencari panggung demi kepura-puraan dan teriakkan-teriakan

               yang gaduh meskipun dengan cara yang tidak dapat dibenarkan. Mereka adalah setan
               yang berwujud manusia sesat dan menyesatkan.]]></page><page Index="22"><![CDATA[21   al kasyfu wa tabyin



               Kelompok  yang  pertama  memang  tidak  mahir  memperbaiki  diri  sendiri  tetapi  mahir

               menguasai  orang  lain  agar  berbuat  baik.  Orang-orang  tersebut  selalu  membenarkan
               ucapan dan nasihatnya.


               Sayangnya  mereka  ini  telah  menyimpang  dari  jalan  yang  dibenarkan,  kebiasaannya

               dalam menarik perhatian publik agar tertipu dengan kata-kata harapan palsu kemudian

               mereka malah tidak takut untuk berbuat maksiat dan senang terhadap dunia terlebih saat
               mereka mulai menyukai pakaian yang bagus, kendaraan dan transportasi serta dapat

               menjauhkannya dari rahmat Allah.


               9. Golongan Kesembilan.


               Orang yang terpesona dengan ucapan-ucapan yang keluar dari lisan orang-orang zuhud

               yang menceritakan tentang hinanya dunia. Mereka mengulang-ulang perkataan tersebut
               tanpa  paham  sedikitpun  dari  filosofi  dan  maknanya.  Hal  ity  mereka  lakukan  di  atas

               mimbar-mimbar, pasar-pasar bersama dengan orang-orang yang duduk bersamanya.


               Mereka menyangka telah menjadi orang yang selamat di sisi Allah dan telah mendapat

               ampunan-Nya karena telah menyampaikan apa yang diucapkan oleh orang-orang zuhud
               tanpa disertai dengan amal alias hanya omong belaka tanpa melakukan sesuatu sesuai

               yang  diucapkan.  Mereka  ini  lebih  .parah  tertipu  dari  tertipunya  orang-orang  sebelum
               mereka.



               10. Golongan Kesepuluh.


               Orang-orang yang sibuk mempelajari ilmu hadis. Dalam artian mendengarkan hadis dan
               mengumpulkan banyak riwayat darinya, mencari sanad-sanad hadis yang asing dan yang

               paling tinggi.


               Tujuannya  adalah  untuk  mengelilingi  dunia  dan  meriwayatkan  hadis  tersebut  yang  ia

               peroleh dari para gurunya agar mereka dapat berkata, “Aku meriwayatkan hadis ini dari]]></page><page Index="23"><![CDATA[22   al kasyfu wa tabyin



               Fulan, aku bertemu langsung dengannya. Aku_ telah mendapatkan sanad yang tidak

               didapatkan oleh orang lain”.


               Mereka ini tertipu dari beberapa sisi. Salah satunya yaitu Ibarat orang yang membawa
               kitab  yang  tebal,  mereka  hanya  bisa  menukil  saja  tanpa  memahami  bahkan  tidak

               menghayati makna-maknanya.


               Dengan hal ini mereka menganggap bahwa hal itu sudah cukup baginya, padahal tidak.

               Karena yang dimaksud dengan memahami suatu hadis adalah dengan memahami pula
               makna-maknanya.  Urutan  belajar  hadis  adalah  mendengarkan,  memahami,

               menghafalkan, mengamalkan kemudian menyebarkannya.


               Mereka  memperingkasnya  dengan  hanya  mendengarkan  saja  tanpa  mengamalkan

               sedangkan jika demikian maka tidak ada gunanya ia belajar hadis. Apalagi di zaman
               sekarang, hadis yang dibacakan kepada anak yang kecil masih dianggap belum tuntas,

               ia dianggap masih mudah lupa karena kemampuan menghafalnya belum bisa maksimal
               layaknya orang dewasa.



               Begitu  pula  guru  yang  membacakan  hadis  tersebut  barangkali  juga  lupa  redaksinya
               akibat usianya yang sudah mulai renta sehingga bisa jadi salah menerangkan dan hal itu

               tidak disadari. Terkadang saat ia bangun tidur kemudian meriwayatkan hadis yang dia
               tidak mengetahui asal-usulnya, Semua ini adalah ketertipuan yang nyata.



               Awal  mula  hadis  ialah  mendengarkan  langsung  dari  Nabi  SAW  atau  melalui  para
               sahabat,  atau  melalui  para  tabi’in  (semoga  Allah  meridhai  mereka  semua).  Mereka

               mendengarkan  hadis  dari  para  sahabat  sama  halnya  dengan  para  sahabat  yang
               mendengarkan langsung dari Nabi SAW.



               Mereka mendengarkan kemudian menghafalkan, lalu meriwayatkannya sesuai dengan
               yang  ia  hafalkan  sehingga  tidak  ada  keraguan  sedikitpun.  Dan  apabila  ada  suatu

               keraguan, maka ia tidak boleh meriwayatkannya.]]></page><page Index="24"><![CDATA[23   al kasyfu wa tabyin





               Adapaun  menghafalkan  hadis  itu  ada  dua  cara;  pertama,  melalui  hati.  Kemudian
               konsisten dan mengulang-ulang dan mengingat-ingatnya.


               Kedua, menulis apa yang telah didengar, mengecek ulang kebenaran redaksi yang telah

               ditulis kemudian menghafalkan, agar tidak ada seseorang yang mengubah redaksinya.

               Kitab yang telah ditulis hendaknya diletakkan dj lemari agar terjaga dari tangan-tangan
               jail manusia yang ingin mengubah isinya.

               Dilarang menulis hadis yang didengar dari ucapan anak kecil, orang yang mudah lupa
               dan orang yang sering tidur. Meskipun sebenarnya tidak ada larangan menulis dari apa

               yang didengar dari anak kecil di tempat tidur.


               Karena mendengar itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, tidak boleh asal-asalan.

               Sedangkan maksud utama dari hadis ialah mengamalkan dan memahaminya. Karena
               dalam suatu hadis itu terdapat banyak sekali penjelasan sebagaimana al-qur’an.


               Diriwayatkan  dari  sebagian  masyayikh  bahwa  dia  hadir  dalam  suatu  majelis  untuk

               mendengarkan,  disitulah  ia  pertama  kali  mendengar  hadis  Nabi  SAW,  “Termasuk

               sebagian dari kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak ada
               guna baginya”.


               Lalu masyayikh tersebut berdiri dan berkata, “Cukuplah bagiku satu hadis ini, saya akan

               memahaminya  terlebih  dahuly  sebelum  saya  mendengarkan  hadis  yang  lainnya”.  Ini

               merupakan cara mendengarkan suatu hadis yang baik.


               Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang yang menggunakan akalnya. Masyayikh
               yang dimaksud adalah Abu Said ibn Abi al-Khair al-Manhi yang menghadiri majelis Ibnu

               Ahmad as-Sarkhasi.


               11. Golongan Kesebelas.]]></page><page Index="25"><![CDATA[24   al kasyfu wa tabyin



               Orang yang menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu nahwu, syiir, bahasa dan

               lainnya. Mereka tertipu dan berasumsi bahwa ia akan diampuni.


               Mereka dianggap ulama bagi umatnya di eranya, karena telah menegakkan agama dan
               sunnah  dengan  ilmu  bahasa  dan  nahwu.  Hidupnya  dihabiskan  untuk  mendalami

               permasalahan dalam ilmu nahwu dan bahasa, padahal hal itu membuatnya tertipu.


               Jika dipikir, mengerti bahasa Arab sama saja dengan mengerti bahasa Turki, menyia-

               nyiakan waktu hanya untuk belajar bahasa Arab sama sia-sianya dengan mempelajari
               bahasa Turki, India dan lainnya.



               Para  ulama  mengklasifikannya  sesuai  dengan  tuntutan  syariat,  cukup  mengetahui
               bahasa atau kata yang asing saja dalam hadis dan al-qur’an, tanpa perlu menguasai

               seluruh kosa kata dalam suatu bahasa tertentu.


               Sama  halnya  dengan  nahwu,  cukup  mempelajari  sesuai  dengan  yang  berhubungan
               dengan  hadis  maupun  al-qur’an  Saja,  tidak  perlu  berlebihan  apalagi  jika  mendalami

               hingga tak tahu ujung-ujungnya. Orang-orang yang seperti inilah yang telah tertipu daya.





               B. Kelompok Kedua; Ahli Ibadah Dan Amal.


               Orang-orang dalam kategori ini sangat banyak. Di antaranya yaitu:


               1. Golongan Pertama


               Orang yang tertipu dalam zuhud dan jihad. Sebagian dari mereka tertipu karena telah

               abai  dalam  perkara  yang  fardlu,  malah  rutin  melakukan  perkara  sunnah.  Sehinggah

               melewati batas bahkan berlebih-lebihan. Seperti orang wudhu tapi dalam hatinya penuh
               dengan rasa was-was sampai ia menghabiskan air yang banyak. Ia tidak rela terhadap]]></page><page Index="26"><![CDATA[25   al kasyfu wa tabyin



               air  yang  jelas-jelas  telah  di  hukumi  suci  oleh  syariat  malah  ragu  bahwa  air  tersebut

               terkena najis.


               Seandainya kehati-hatian ini dari air pada makanan, tentu yang paling utama sebaiknya
               mengikuti dalil karena dipraktikkan oleh para sahabat. Kala itu sahabat Umar bin khattab

               hendak  wudu  menggunakan  wadah  milik  orang  Nasrani  yang  sangat  mungkin

               mengandung  najis,  beliau  meninggalkan  pintu-pintu  yang  dapat  menjauhkannya  dari
               perkara halal karena takut terjerumus pada perkara yang haram.


               2. Golongan Kedua.



               Orang yang waswas dalam niat shalat. Setan tidak akan meninggalkannya sebelum ia
               berhasil melakukan niat dengan benar, ia akan terus menggodanya sehingga ia akan

               tertinggal dari jamaah, atau bahkan hingga waktu shalat telah habis. Jika telah sempurna
               takbiratul ihram, setan menggoda dalam hati manusia tentang keabsahan dalam niatnya,

               ia juga menggoda ketika takbir.


               Terkadang sifat takbirnya berubah karena sangat hatihatinya, sampai ia tertinggal dari

               mendengarkan  fatihahnya  imam.  Hal  ini  dilakukan  pada  awal  shalat,  sampai  ia  lalai
               hingga  keseluruhan  shalatnya,  ia  tidak  berhasil  menghadirkan  hatinya  selama  shalat

               berlangsung, demikian ia telah tertipu.


               Mereka lupa bahwa menghadirkan hati di dalam shalat adalah kewajiban. la telah ditipu

               oleh Iblis yang berkata, “Kehati-hatian yang kamu lakukan itu membedakanmu dengan
               orang awam, kamu lebih baik dari mereka di sisi Tuhan-Mu”.


               3. Golongan Ketiga.



               Orang yang waswas dalam mengucapkan al-fatihah, termasuk zikir yang lain. la sangat
               berhati-hati  dalam  masalah  tasydid,  membedakan  antara  huruf  d/at  dan  dha’,  tanpa]]></page><page Index="27"><![CDATA[26   al kasyfu wa tabyin



               menganggap penting selain hal di atas. Tidak terpikirkan olehnya tentang rahasia surat

               al-fatihah dan maknanya.


               la tidak tahu bahwa dalam membaca al-qur’an manusia tidak dipaksa untuk menetapkan
               keluarnya  suatu  huruf  melainkan  sesuai  dengan  kebiasaan  lidah  mereka  dalam

               berbicara.


               Demikian  ini  merupakan  ketertipuan  yang  besar.  Ibaratnya  seperti  orang  yang

               mengantarkan  sepucuk  surat  ke  kediaman  raja,  ia  diperintah  tanpa  memperlihatkan
               wajahnya. Kemudian ia menyampaikan isi surat tersebut dengan makhraj yang sangat

               teratur, mengulanginya beberapa kali.


               Namun  ia  lupa  apa  tujuan  dari  surat  tersebut,  dan  lupa  dengan  kehormatan  majelis.

               Kejadian tersebut membuatnya ditempatkan di tempat berkumpulnya orang-orang yang
               tak menggunakan akalnya dengan baik.


               4, Golongan Keempat.



               Orang-orang  yang  tertipu  sebab  membaca  al-qur’an.  Ia  selalu  membaca  dengan
               berulang-ulang  dengan  cepat  di  kamarnya,  kadang  dalam  sehari  semalam  langsung

               khatam. Lidahnya membaca al-qur’an tetapi hatinya selalu berkhayal memikirkan dunia,
               tidak sedikitpun terbesit arti dari ayat-ayat tersebut agar ia terhindar dari segala macam

               hal yang dilarang.


               Dan  supaya  dapat  menerima  nasihat,  menjalankan  yang  telah  diperintahkan,  dan

               menjauhi  larangan.  Dapat  mengambil  hikmah  dari  tempat-tempat  yang  ia  singgahi
               selama membaca al-qur’an, merasa nyaman dengan al-qur’an karena maknanya bukan

               dari susunannya.


               Barangsiapa  yang  membaca  al-qur’an  sebanyak  100  kali  dalam  sehari  semalam,

               kemudian ia meninggalkan apa yang diperintah dan melakukan maksiat maka ia akan]]></page><page Index="28"><![CDATA[27   al kasyfu wa tabyin



               mendapat siksaan. Terkadang mereka ini mempunyai suara yang bagus dan merasa

               nyaman dengan bacaannya, mereka ini tertipu dengan perasaan amannya tersebut.


               Mereka  mengira  dengan  suara  yang  bagus  maka  akan  membuat  nyaman  saat
               bermunajat kepada Allah dan mendengarkan firman-Nya. Ekspektasi yang sangat jauh

               sekali, padahal ketenangan saat mendengarkan firman Allah tidak dilihat dari suara dan

               kemerduannya, hatinya juga tidak terlalu bergantung dengan hal tersebut. Kenyamanan
               mendengar firman Allah itu terletak dalam maknanya.




               5. Golongan Kelima.


               Orang yang tertipu karena berpuasa. Terkadang mereka berpuasa bertahun-tahun dan

               di  hari-hari  yang  dimuliakan  tetapi  lidah  mereka  masih  suka  ghibah,  tidak  mampu
               menahan keinginan untuk berbuat pamer, tidak bisa menjaga perut dari perkara haram

               ketika berbuka, dan tidak dapat menjaga khayalan terhadap sesuatu yang tidak berguna
               baginya.



               Hal tersebut membuat mereka tertipu yang sangat besar sekali. Mereka meninggalkan
               kewajiban tetapi melaksanakan perkara yang sunnah dengan dalih hal itu akan dapat

               menyelamatkan mereka. Padahal tidak, yang selamat adalah orang yang didatangi oleh
               Allah dengan hati yang selamat.



               6. Golongan Keenam.


               Orang-orang  yang  suka  berdakwah  dengan  cara  menakut-nakuti,  mengajak  berbuat
               makruf, meninggalkan perkara yang mungkar dan berbuat kebaikan tetapi sayangnya ia

               lupa terhadap dirinya sendiri. Menyuruh orang lain untuk berbuat baik tetapi ia sendiri

               malah berlaku kejam, mencari jabatan dan kemuliaan.]]></page><page Index="29"><![CDATA[28   al kasyfu wa tabyin



               Saat ia berbuat kemungkaran dan ada orang lain yang mengingkarinya, ia akan marah

               seraya berkata, “Saya berniat karena Allah, bagaimana mungkin kalian mengingkariku?”.


               Terkadang  orang-orang  menghadiri majelis atau masjidnya, apabila  ada  yang  datang
               terlambat  maka  ia  akan  memarahi  dan  memaki.  Tak  lain  tujuannya  adalah  pamer,

               mencari reputasi dan menyukai jabatan. Hal ini ditandai dengan orang lain selain dirinya

               berdiri, maka ia akan menegur Orang tersebut.


               Bahkan sebagian dari mereka menjadi muadzin dan menyangka adzannya karena Allah.
               Andai  ada  orang  lain  yang  adzan  selain  dirinya,  maka  ia  akan  marah  dan  berkata,

               “Kenapa kamu mengambil hakku? Apa kamu ingin menyaingiku?”.


               Sebagian  lagi menjabat  sebagai  imam  masjid,  ia  mengira  telah  berada  di  jalan  yang

               benar.  Tujuan  sebenarnya  tak  lain  agar  ia  diakui  sebagai  imam  masjid.  Sedangkan
               tandanya yaitu jika ada orang lain yang ditunjuk sebagai imam meskipun orang tersebut

               lebih wara’ dan lebih alim darinya, maka ia merasa keberatan.


               7. Golongan Ketujuh.


               Orang yang tinggal di daerah dekat dengan Mekkah dan Madinah, mereka tertipu dengan

               keduanya karena mereka tidak dapat mengontrol hati serta tidak mau membersihkan diri
               dan hatinya. Barangkali hati mereka masih terpaut dengan negaranya sehingga mereka

               mudah berkata, “Saya pernah tinggal di Mekkah selama sekian tahun”.


               Mereka semua telah tertipu, karena pernyataan yang benar adalah di manapun mereka

               tinggal,  hatinya  tetap  terpaut  dengan  Mekkah.  Jika  mempunyai  tetangga  hendaknya
               mereka menjaga hak-hak dalam bertetangga.



               Jika  bertetangga  dengan  Mekkah  hendaknya  menjaga  hak-hak  Allah,  dan  jika
               bertetangga  dengan  Madinah  hendaknya  menjaga  hak-hak  Nabi  SAW.  Lalu  siapa

               sebenarnya Orang yang mampu melakukan hal tersebut?]]></page><page Index="30"><![CDATA[29   al kasyfu wa tabyin





               Mereka  adalah  orang-orang  yang  tertipu  dengan  hal-hal  yang  zahir.  Dengan
               prasangkanya bahwa gedung (Mekkah dan Madinah) tersebut dapat menyelamatkannya.

               Padahal tidak. Kadang mereka tidak mau bermurah hati dengan bersedekah sesuap nasi
               kepada orang-orang yang fakir.



               Jika  bertetangga  dengan  manusia  saja  sulit  lantas  bagaimana  bisa  ia  bertetangga
               dengan Allah. Alangkah indahnya bertetangga dengan Allah seraya menjaga diri dan

               hatinya.


               8. Golongan Kedelapan.


               Orang-orang  yang  zuhud  dalam  harta  dan  qanaah  terhadap  makanan,  pakaian

               sederhana dan tempat tinggal dekat dengan masjid. Mereka mengira telah mencapai
               derajad kezuhudan, saat itu juga mereka senang mencari jabatan dan kedudukan.


               Padahal zuhud hanya bisa diperoleh melalui salah satu di antara hal; ilmu, nasihat atau

               murni  zuhud.  Sungguh  mereka  telah  meninggalkan  dua  perkara  sederhana  dari  hal

               tersebut,  malah  berpaling  kepada  perkara  yang  jelas-jelas  dapat  menimbulkan
               kerusakan.


               Sungguh  pangkat  itu  lebih  agung  dari  harta,  apabila  mereka  mengambil  harta  dan

               meninggalkan jabatan maka hal itu lebih mendekatkan kepada keselamatan.


               Mereka  semua  telah  tertipu  oleh  prasangkanya  bahwa  mereka  telah  mencapai

               kezuhudan  selama  di  dunia  tetapi  mereka  tidak  sadar  bagaimana  hal  tersebut  telah
               menipunya. Terkadang mereka mendahulukan orang kaya dan mengesampingkan orang

               fakir.


               Sebagian lagi merasa bangga dengan ilmu_ yang dimilikinya, mengutamakan khalwat

               padahal  tidak  memenuhi  syarat-syaratnya,  kalau  diberi  uang  maka  ia  akan  menolak]]></page><page Index="31"><![CDATA[30   al kasyfu wa tabyin



               dengan alasan takut kalau kezuhudannya menjadi sia-sia, padahal ia sendiri mencintai

               dunia hanya saja ia tidak ingin ada orang lain yang mencela dirinya.


               Sebagian  lain  yaitu  orang  yang  suka  menekan  dirinya  untuk  melakukan  perbuatan-
               perbuatan fisik seperti shalat seribu rakaat dalam sehari semalam, mengkhatamkan al-

               qur’an  padahal  tidak  terbesit  sedikitpun  dalam  hatinya  untuk  menjaga  hati  dan

               menjauhkannya dari sifat pamer, takjub dan semua sifat-sifat negatif lainnya.


               Terkadang  mereka  ini  mengira  bahwa  dengan  melakukan  ibadah  yang  lahir  akan
               menjadikan timbangan amal kebaikan lebih berat. Padahal tidak demikian. Amal sebesar

               dzarrah  dari  orang  yang  takwa  dan  akhlak  yang  dimiliki  orang-orang  cerdas  itu  lebih

               utama ketimbang amal hingga sebesar gunung.


               Kemudian  mereka  ini  terbuai  dengan  perkataan  orang  lain  terhadapnya,  “Sungguh
               engkau termasuk dari para pemimpin di bumi dan bagian dari para wali dan kekasin-

               kekasih Allah”, dengan hal itu ia bergembira dan tampak kewibawaannya.


               Tetapi jika suatu hari ia dicaci sekali, dua kali atau tiga kali, ia akan mengingkari dan akan

               dendam  kepada  orang  yang  mencacinya  seraya  berkata,  “Allah  tidak  akan
               mengampunimu selamanya”.


               9. Golongan Kesembilan.



               Orang-orang yang sangat menyukai perkara-perkara sunnah seperti shalat dhuha dan
               shalat  malam  dan  perkara  sunnah  lainnya.  Saat  melakukan  shalat  fardhu,  ia  tidak

               menemukan kenikmatan dan kebaikan dari Allah, saking konsistennya melakukan shalat
               fardhu di awal waktu.



               Ia lupa terhadap sabda Nabi SAW, “Orang-orang yang dekat dengan Allah tidak akan
               sempurna  kedekatannya  melainkan  dengan  mengutamakan  apa  yang  telah  Allah

               wajibkan kepada mereka”.]]></page><page Index="32"><![CDATA[31   al kasyfu wa tabyin





               Sedangkan meninggalkan urutan di antara kebaikankebaikan tersebut termasuk suatu
               ketertipuan. Padahal telah jelas bahwa kewajiban bagi manusia hanya ada dua ketentuan

               yaitu luput dan tidak luput. Sedangkan kesunnahan yaitu sempit dan luang waktunya.
               Jika tidak dapat memahami klasifikasi ini, maka ia telah tertipu.



               Hal itu ada banyak sekali jika dihitung, karena sesungguhnya maksiat itu jelas sedangkan
               perkara  yang  masih  samar  seperti  mendahulukan  kewajiban  yang  lebih  penting  dari

               kewajiban lainnya yang tidak lebih penting misalnya mendahulukan semua yang bersifat
               wajib dan mengesampingkan semua yang bersifat sunnah.



               Mendahulukan fardhu ain dari fardhu kifayah yang tidak ada orang lain yang sanggup
               melakukannya selain dia, mendahulukan perkara yang penting dari fardhu ain dari pada

               fardhu kifayah, mendahulukan apa yang tidak kesampaian seperti mendahulukan hak ibu
               dari pada ayah, mendahulukan hutang yang wajib dari tanggungan yang lain.


               Tidak  ada  yang  lebih  besar  bagi  seorang  hamba  dalam  melakukan  urutan  perkara

               tersebut dengan teratur. Tetapi ketertipuan dalam hal tertib ini sangat halus dan samar

               sehingga  tidak  ada  yang  dapat  mengetahui  hal  tersebut  kecuali  para  ulama  yang
               berkompeten ilmunya. Semoga Allah meridhai dan mengampuni mereka semua.





               C. Kelompok Ketiga; Hartawan.


               1. Golongan Pertama.


               Orang-orang yang turut andil dalam pembangunan masjid, madrasah, pondok, tandon air

               dan sesuatu yang kasat mata lainnya. Mereka mencantumkan nama mereka di petilasan

               batu,  agar  jasanya  tetap  dikenang  setelah  kematiannya,  mereka  mengira  berhak
               mendapatkan ampunan dengan jasanya tersebut.]]></page><page Index="33"><![CDATA[32   al kasyfu wa tabyin



               Mereka tertipu dari dua sisi. Pertama, harta yang diperoleh berbau zalim, syubhat, suap,

               dan sejenisnya yang dilarang. Mereka jelas mengundang murka Allah dari apa yang telah
               mereka kerjakan, yang dilakukannya merupakan kemaksiatan kepada Allah.


               Satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah bertaubat dan mengembalikan harta

               tersebut kepada tuannya jika mereka masih hidup atau ahli warisnya jika tuannya tidak

               ada. Dan jika pewarisnya tidak ada, maka yang wajib dilakukan adalah menggunakan
               harta tersebut untuk kemaslahatan.


               Terkadang  hal  yang  lebih  utama  adalah  membagibagikan  kepada  para  fakir  miskin,

               demikian lebih berfaedah ketimbang dialokasikan menjadi suatu bangunan yang mana

               hal itu umumnya dapat menjadikan seseorang menjadi pamer, ingin terkenal dan merasa
               nyaman jika namanya disebut-sebut.


               Kedua,  mereka  mengira  telah  ikhlas,  berniat  baik  dalam  berinfak,  serta  membangun

               tinggi sebuah bangunan. Andai ia dimintai untuk menginfakkan hartanya kepada orang
               miskin maka ia tidak tulus (lebih suka dipuji karena telah meninggikan Suatu bangunan

               ketimbang sedekah kepada fakir miskin) karena ia sendiri telah menyukai pujian yang

               bersarang di dalam hatinya.


               2. Golongan Kedua.


               Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang halal dan mengindari pekerjaan yang

               haram serta menginfakkan hartanya di masjid-masjid, tetapi mereka ini tertipu dari dua
               Sisi.


               Pertama, karena pamer, mencari perhatian dan pujian. Kadang di kalangan tetangganya

               atau  suatu  daerah  yang  terdapat  orang  miskin,  untuk  membagikan  hartanya  kepada

               mereka merupakan keutamaan ketimbang infak ke masjid. Karena di daerah tersebut
               sudah banyak masjid.]]></page><page Index="34"><![CDATA[33   al kasyfu wa tabyin



               Tujuan dari adanya masjid adalah agar manusia dapat berkumpul di sana, bukan untuk

               selainnya. Itulah kenapa masjid tidak dibangun di setiap jalan yang besar atau di sebelah
               pintu  gerbang  yang  besar.  Sedangkan  para  fakir  miskin  lebih  membutuhkan  harta

               tersebut.


               Mereka  merasa  lebih  nyaman  mengeluarkan  harta  untuk  renovasi  masjid,  karena

               dampaknya  dapat  dilihat  oleh  mata  manusia.  Mereka  mengira  ia  akan  mendapatkan
               pujian  dari  para  makhluk  dan  mengira  telah  berbuat  karena  Allah  padahal  yang

               dilakukannya bukan diniati karena Allah. Allah Maha Mengetahui hal tersebut. Niatnya
               tersebut  dapat  mengundang  murka  Allah  kepadanya  tetapi  mereka  malah  berucap,

               “Niatku ini hanyalah karena Allah semata”.


               Kedua,  ia  tertipu  karena  menggunakan  hartanya  untuk  memperindah  masjid  dengan

               hiasan yang dilarang dan dapat mengusik hati orang-orang yang shalat. Karena saat
               melihatnya,  dapat  membuat  shalatnya  tidak  khusyuk  dan  menghadirkan  hati  yang

               keduanya menjadi tujuan utama dalam shalat.


               Karena adanya faktor internal dan ekternal di dalam melakukan shalat tersebut harusnya

               menjadi pertimbangan bagi takmir. Oleh karenanya, tidak boleh menghias masjid dengan
               berbagai alasan.


               Sayyidina Hasan RA berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW saat ingin merenovasi masjid

               di kota Madinah, Jibril mendatanginya seraya berkata, “Bangunlah dengan tinggi tujuh

               dzira’ dan janganlah engkau hiasi dan melukisnya”.


               Mereka telah tertipu karena mengira bahwa perkara yang sebenarnya pekerjaan munkar
               malah dianggap sebuah pekerjaan yang baik, dan mereka tetap melakukannya.



               3. Golongan Ketiga.]]></page><page Index="35"><![CDATA[34   al kasyfu wa tabyin



               Orang yang menginfakkan harta dengan bersedekah kepada para fakir dan miskin. la

               meminta agar mereka berkumpul di satu tempat agar dapat melihat sebagian dari mereka
               bersyukur  dan  mengungkap  kebaikan.  Sehingga  ia  tidak  menyukai  sedekah  dalam

               keadaan  sepi  dengan  sangkaan  bahwa  menyembunyikan  sedekah  merupakan
               pengkhianatan dan pengingkaran bagi mereka.



               Mengenai hal tersebut, Ibnu Abbas berkate, “Di akhir zaman nanti akan ada banyak orang
               haji tanpa niat yang jeles, mudah bagi mereke untuk bepergian, rezekinya melimpah.


               Mereka pulang menjadi orang yang dosa dan mencuri. Mereka dengan mudah melalui

               semak-semak  dan  padang  pasir  menggunakan  kendaraan  yang  mewah  sedangkan

               tetangganya kelaparan, tetapi ia tidak menolong dan perhatian kepada mereka.


               4. Golongan Keempat.


               Hartawan  kikir  yang  menyimpan  hartanya.  Mereka  sibuk  dengan  ibadah  yang  tidak
               mengeluarkan  harta  sepeserpun  seperti  puasa,  qiyamullail,  dan  mengkhatamkan  al-

               qur’an.


               Mereka tertipu sebab sifat kikir yang merusak hatinya, orang seperti ini perlu dipaksa agar

               mau  mengeluarkan  harta.  Mereka  menyibukkan  diri  dengan  mencari  keutamaan  dan
               sibuk dengan hal tersebut.



               Mereka ibarat orang yang memakai baju dan di dalamnya ada ular sehingga mereka
               merasa berada dalam  bahaya.  Mereka  suka mencari  tanaman  sakanjabin  (campuran

               madu dan racun) untuk membuat obat-obatan. Barangsiapa yang telah digigit ular hingga
               mati, lalu bagaimana ia masih membutuhkan tanaman tersebut?.



               Dalam peristiwa ini ada seseorang yang berkata kepada Basyar al-Hafi, “Orang kaya itu
               sering berpuasa dan shalat”. Basyar menjawab, “Bukan, dia adalah orang miskin. la telah

               keluar dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya”.]]></page><page Index="36"><![CDATA[35   al kasyfu wa tabyin





               Hal yang harus dilakukan sebenarnya adalah memberi makan kepada orang lapar dan
               memberi nafkah kepada orang miskin karena laparnya orang miskin lebih utama dari

               pada laparnya orang kaya. Dan hal ini lebih utama dibanding memperbanyak shalat dan
               dan tak acuh kepada orang fakir yang kelaparan.



               Orang-orang kikir yang kalut. Mereka tidak mau bersedekah kecuali hanya zakat, padahal
               yang ia keluarkan adalah dari harta yang kotor dan tidak disenanginya.


               Mereka mencari orang-orang fakir untuk dijadikan pembantu di masa depan agar bisa

               melayani  mereka,  atau  sengaja  di  sewa  untuk  satu  keperluan  tertentu,  atau  mereka

               diserahkan kepada atasannya yang lebih kaya raya dan paling ditakuti agar ia mendapat
               suatu posisi di sisi bosnya sehingga ia dapat mewujudkan sesuatu sesuai keinginannya.


               Keseluruhan ini adalah rusak dan dapat membatalkan amal, orang seperti ini jelas tertipu

               dengan sangkaannya yang telah taat kepada Allah padahal sejatinya ia telah durhaka
               karena  beribadah  dengan  tujuan  mencari  balasan  melalui  orang  lain.  Orang  ini  dan

               sejenisnya adalah orang-orang yang tertipu.


               6. Golongan Keenam.


               Orang  awam,  baik  hartawan  maupun  fakir.  Mereka  tertipu  karena  menghadiri  suatu

               majelis zikir dan mengira hal tersebut akan menjadikannya kaya dan berkecukupan.


               Mereka  menjadikannya  sebagai  kebiasaan  yang  rutin.  Mereka  juga  mengira  hanya

               dengan  menghadiri  dan  mendengarkan  nasihat  tanpa  dibarengi  dengan  amal  akan
               mendapatkan pahala.



               Mereka semuanya tertipu karena sesungguhnya keutamaan majelis zikir adalah supaya
               menyukai terhadap kebaikan. Jika rasa senang tersebut tidak terbesit, maka percuma

               baginya mengunjungi majelis tersebut.]]></page><page Index="37"><![CDATA[36   al kasyfu wa tabyin





               Padahal senang terhadap hal yang baik adalah termasuk sifat yang terpuji, karena hal itu
               dapat mendorongnya untuk beramal yang baik. Tetapi apabila ia tidak ada rasa terdorong

               untuk berbuat baik, maka tidak ada kebaikan baginya menghadiri majelis itu.


               Terkadang mereka tertipu terhadap nasihat yang didengarnya. Dirinya telah dirasuki oleh

               perasaan sebagaimana perasaan wanita lalu ia menangis. Terkadang ia mendengarkan
               suatu  kalimat  yang  menakutkan  sehingga  raut  mukanya  selalu  pucat  pasi  sambil

               berucap, “Ya Allah Yang Maha Memberi Selamat, selamatkanlah aku, aku berlindung
               kepada-Mu, segala puji bagi-Mu, dan Engkau cukup bagiku, tidak ada daya dan kekuatan

               kecuali dengan izin-Mu”.


               Mereka kira telah melakukan kebaikan seluruhnya tetapi mereka tertipu. Ibarat orang

               sakit yang mendatangi rumah dokter dan mendengarkan obat yang dijelaskan oleh dokter
               tetapi ia tidak fokus dan tidak sungguh-sungguh dalam melakukannya. Dia mengira akan

               cepat sembuh. Begitu juga ibarat orang lapar yang ingin mendatangi tempat orang yang
               suka makan makanan lezat (tetapi ia tidak mampu mewujudkannya).



               Setiap  nasihat  yang  tidak  akan  dapat  mengubah  sifatmu  kecuali  kamu  mau
               mengubahnya sehingga kamu dapat menerima nasihat Allah dan berpaling dari dunia

               dan menerima dengan penerimaan yang serius.


               Dan jika kamu tidak melaksanakan nasihat tersebut, maka akan membuatmu banyak

               alasan yang memberatkanmy sendiri apalagi jika kamu menganggap nasihat itu sebagai
               perantara kebaikan tetapi kamu sendiri tidak mau melakukannya. Maka kamu adalah

               orang yang tertipu.




               D. Kelompok Keempat; Abli Tasawuf.



               1. Golongan Pertama.]]></page><page Index="38"><![CDATA[37   al kasyfu wa tabyin





               Orang-orang  ini  adalah  para  sufi  di  zaman  ini,  kecuali  orang  yang  dijaga  oleh  Allah.
               Mereka tertipu sebab pakaian, ucapan dan merasa kagum. Mereka terlihat seperti orang-

               orang yang paling benar di kalangan sufi baik dari cara berpakaian, berperilaku, berkata,
               bertata krama, berupacara dan membuat istilah.



               Yang jelas dimiliki mereka adalah suka mendengarkan, menari, bersuci, shalat, duduk di
               atas sajadah sambil menundukkan kepala, dan memasukkannya ke dalam kerah baju

               seperti orang yang merenung sambil menghela nafas yang panjang dan mengecilkan
               suara dalam berbicara dan bercakap dengan orang lain.



               Saat mereka menyadarinya, yang dikira adalah bahwa hal itu dapat membuat mereka
               selamat, padahal sama sekali mereka tidak bersusah payah dengan beribadah, riyadah,

               dan mendekatkan diri agar dirinya menjadi bersih luar dan dalam dari segala dosa yang
               samar dan tersembunyi. itu semua adalah bagian dari ajaran-ajaran tasawuf.


               Kemudian mereka juga menyukai perkara yang haram, syubhat, dan harta penguasa.

               Mereka  berebut  mendapatkan  anggur dan  uang,  mereka  saling  iri  meski  sebesar  biji

               kurma dan setipis selaput biji kurma. Sebagian dari mereka menghina kehormatan orang
               lain saat orang tersebut tidak sependapat dengan mereka.


               Mereka itulah orang-orang yang tertipu. Ibarat orang tua renta yang mendengar bahwa

               ada seorang pemberani, pahlawan dan para pejuang yang namanya tertulis dalam daftar

               buku orangorang yang hebat. la pun berpakaian seperti pakaian orang hebat tersebut.


               Saat  sampai  di  hadapan  seorang  raja  dan  ditunjukkan  timbangan  amalnya,  maka
               ditemukan fakta bahwa ia adalah seorang perempuan tua renta yang sangat buruk.



               Dan sebuah pertanyaan dilontarkan kepadanya, “Apakah kamu tidak punya rasa malu
               karena  keteledoranmu  di  hadapan  sang  raja?,  lemparkan  dia  di  sekeliling  gajah”.]]></page><page Index="39"><![CDATA[38   al kasyfu wa tabyin



               Kemudian ia dilemparkan di  sekeliling gajah dan gajah mendorongnya hingga ia mati

               terbunuh.


               2. Golongan Kedua.


               Orang yang lebih parah tertipunya, mereka sulit mengikuti tradisi dalam memakai pakaian

               keseharian, suka makan, suka menikah, dan rumah mewah. Mereka ingin menunjukkan
               sisi kesufiannya tetapi cara berpakaiannya jauh dari cara berpakaiannya ahli tasawuf.


               Ahli  tasawuf  tidak  memakai  sutera  dan  baju  berbahan  sutera,  tetapi  mereka  malah

               memakai pakaian yang berkelas, handuk yang lembut, serbet yang indah dan sajadah

               yang berwarna-warni. Karena serbet yang indah harganya lebih mahal dari harga sutera.
               Mereka juga tidak menjauhi maksiat yang lahir apalagi yang batin.


               Mereka hanya ingin hidup bahagia dan makan dari harta para penguasa, mereka kira hal

               itu baik baginya. Bahaya yang ditimbulkan oleh mereka jauh melebihi bahayanya seorang
               pencuri karena mereka bisa mencuri hati orang lain melalui pakaian yang lekat pada

               tubuhnya  sehingga  ia  pun  diikuti  oleh  orang  lain  dan  inilah  yang  menjadikan  sebab

               mereka tertipu.


               Jika dikuak dari awal, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka seolah-olah adalah ahli
               tasawuf tapi sejatinya mereka sendiri justru berseberangan dengan ajaran sufi.



               3. Golongan Ketiga.


               Orang yang mengaku telah mencapai derajat kasyaf, bisa melihat kebenaran yang hakiki,
               mengaku telah melampaui banyak level, wushul, dan komitmen dengan ainussyuhud,

               serta sampai pada maqom taqarrub dengan Allah.]]></page><page Index="40"><![CDATA[39   al kasyfu wa tabyin



               Padahal sebenarnya mereka tidak tahu mengenai hal tersebut melainkan hanya tahu

               redaksi dan definisinya saja, kalimat-kalimat yang mengandung makna yang tinggi itu
               selalu diulang-ulangnya.


               Ekspektasi  mereka  jelas  sangat  tinggi  dari  pada  sekedar  mengetahui  para  ulama

               generasi awal dan kontemporer. Dia melihat para fukaha, para qari, ahli tafsir, ahli hadis,

               dan berbagai golongan ulama dengan pandangan yang hina, apalagi terhadap orang
               awam.


               Sehingga  hal  tersebut  bisa  menjadikan  seorang  petani  meninggalkan  pekerjaannya,

               tukang tenun meninggalkan tenunannya hanya untuk menemani mereka di suatu hari

               tertentu.


               Kalimat-kalimat palsu itu mereka pakai berulang-ulang seolah-olah ia berbicara tentang
               wahyu dan rahasia-rahasia. Dengan hal itu pula ia menganggap hina semua orang dan

               para ulama.


               Ketika  mereka  bicara  tentang  budak:  “Mereka  itu  harus  diberi  pekerjaan  yang  berat-

               berat”. Juga bicara tentang ulama:


               “Mereka itu telah terhalangi oleh suatu hadis”. Dia mengaku telah wushul kepada Allah
               Yang  Hag  dan  termasuk  orang-orang  yang  dekat  dengan-Nya  padahal  di  sisi  Allah

               mereka sebenarnya adalah ahli maksiat dan munafik.


               Sedangkan di sisi orang yang menjaga hatinya, mereka itu. termasuk golongan orang

               picik dan bodoh yang tidak mempunyai ilmu, tidak bisa menjaga etika, dan tidak bisa
               mengontrol  hatinya  malah  memanjakan  hawa  nafsu  dan  bisanya  hanya  mengungkit-

               ungkit sesuatu. Padahal jika ia mau menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat tentu

               lebih baik baginya.


               4. Golongan Keempat.]]></page><page Index="41"><![CDATA[40   al kasyfu wa tabyin





               Orang-orang  yang  beramal  baik,  selalu  mencari  perkara  yang  halal  dan  sibuk
               menyucikan  hati.  Sebagian  dari  mereka  mengaku  telah  sampai  pada  derajat  zuhud,

               tawakal,  rela  dan  cinta  tetapi  tidak  paham  hakikat  dari  derajat  tersebut  serta  tidak
               memenuhi syarat, tanda dan bahaya-bahayanya.



               Sebagian  yang  lain  mengaku  telah  sampai  pada  derajat  sungguh-sungguh  dan  cinta
               kepada Allah. Mengira telah bersatu dengan-Nya dengan berkhayal dengan fantasi yang

               rusak  mengandung  bid’ah  dan  kufur.  la  mengaku  cinta  Allah  dan  dikatakannya  telah
               mengenal-Nya padahal tidak sesuai dengan ekspektasinya.



               Mereka belum bisa melepaskan diri dari perkara yang dibenci Allah, masih mengikuti
               hawa nafsunya dalam melakukan perintah-Nya dan dari perkara lainnya karena malu di

               hadapan manusia.


               Padahal saat ia sedang sendirian sangat malu kepada Allah dari perkara yang tidak mau
               mereka tinggalkan. Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya hal itu justru bertentangan

               dengan rasa cintanya kepada Allah.


               Sebagian dari mereka lainnya cenderung menyukai sifat qanaah dan tawakal. Mereka

               melewati padang sahara tanpa membawa perbekalan karena ingin membuktikan sifat
               tawakalnya. Tidak sadar bahwa yang demikian adalah suatu bid’ah yang tidak ia peroleh

               dari para ulama salaf dan para sahabat Nabi, semoga Allah meridhai mereka semua.


               Terkadang mereka lebih mengetahui tentang tawakal, yang mereka pahami dari tawakal

               adalah sesuatu yang terbesit dalam jiwa dan meninggalkan bekal. Tetapi mereka tetap
               mengambil  bekal  padahal  se,atinya  seorang  yang  tawakal  adalah  orang  yang  telah

               pasrah kepada Allah dan lebih memilih tidak membawa bekal.]]></page><page Index="42"><![CDATA[41   al kasyfu wa tabyin



               Mereka meninggalkan bekal dengan satu sebab dari beberapa faktor dan mereka yakin

               dengannya. Tidak ada satu maqom pun yang dapat menyelamatkannya kecuali jika di
               dalamnya terdapat suatu ketertipuan.


               Sungguh  kami  (pengarang)  telah  memberi  contoh  dari  suatu  kaum  dan  telah

               menunjukkan beberapa sumber tentang bahaya maqamat pada bab seperempat sifat-

               sifat yang menyelamatkan (munjiyat) dalam kitab Ihya.


               5. Golongan Kelima.


               Orang  yang  kesulitan  ekonomi  dan  kebiasannya  mencari  perkara  yang  benar-benar

               murni kehalalannya hingga membuat mereka lupa terhadap hati dan anggota tubuhnya
               yang terkait dengan selain masalah yang satu ini.


               Sebagian mereka abai terhadap kehalalan sesuatu dalam makanan, pakaian dan tempat

               kerjanya dan hal tersebut menjadi semakin parah. Mereka tidak tahu bahwa Allah tidak
               ridha dengan seorang hamba kecuali yang sempurna ketaatannya. Barangsiapa yang

               mengikuti orang-orang yang tertipu di atas dan bagian-bagian dari mereka, sungguh ia

               telah tertipu.



               6. Golongan Keenam.



               Orang  yang  mengklaim  mempunyai  akhlak  baik,  suka  tawadu  dan  berlapang  dada
               dengan tujuan mengikuti jejak langkah pada sufi.


               Mereka  mengumpulkan  suatu  kaum  dan  membebani  mereka  dengan  menyuruh

               berkhidmah kepada para _ sufi tersebut. Mereka melakukan cara itu supaya memperoleh

               barang-barang duniawi dan menumpuk harta.]]></page><page Index="43"><![CDATA[42   al kasyfu wa tabyin



               Tujuannya tak lain adalah sombong dan memperbanyak harta. Mereka memperlihatkan

               tujuannya  agar  mendapat  pelayanan  dan  pengikut.  Lalu)  dengan’  itu.  mereka
               mengumpulkan  barang  haram  dan  syubhat  untuk  disalurkan  kepada  para  sufi  agar

               pengikutnya bertambah banyak dan namanya semakin tersebar.


               Sebagian mereka menjilat harta para penguasa dan menyalurkannya untuk dana haji

               para  sufi.  Mereka  mengira  tujuannya  adalah  termasuk  kebaikan  dan  sedekah.
               Sedangkan yang melatarbelakangi semua itu adalah sifat riya dan cari perhatian.


               Semua itu dilakukan tetapi mereka abai terhadap semua perintah Allah, suka mengambil

               barang haram kemudian menyedekahkannya.


               Misalnya  seperti  orang  yang  menyedekahkan  uang  haram  untuk  dana  haji  bagaikan

               orang yang mendirikan masjid kemudian mengotorinya dengan dalih bahwa usahanya
               adalah untuk memakmurkan masjid.


               7. Golongan Ketujuh.



               Orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk bermujahadah, memperbaiki akhlak
               dan menyucikan diri dari aib. Mereka memperdalamnya dengan selalu membahas halhal

               yang berkaitan dengan penyakit-penyakit hati, mengetahui segala risiko dan cara kerja
               tipuan  itu  terhadap  mereka.  Di  setiap  kondisi  mereka  sibuk  menjaga  diri  dari  segala

               penyakit hati dan mencari pembicaraan yang detail terkait dengan malapetaka hati.


               Mereka berkata, “Ini merupakan penyakit dalam hati”, sedangkan mereka lalai dari aib

               yang ada di dalam dirinya yang juga terdapat aib. Mereka malah sibuk mencari kalimat
               yang rancu hingga waktunya terbuang sia-sia seakan-akan dirinya mampu berdiri sendiri

               tanpa peduli dengan siapa Tuhan yang menciptakannya.


               Ibaratnya bagai orang yang yang seenaknya pada saat melakukan ibadah haji dan segala

               ritualnya tetapi tanpa memakai protokol yang telah ditentukan sehingga hajinya sia-sia.]]></page><page Index="44"><![CDATA[43   al kasyfu wa tabyin






               8. Golongan Kedelapan.


               Orang yang telah melewati tingkatan ini, mereka mengikuti tarekat sampai pintu makrifat

               terbuka. Setelah mereka akan sampai pada awal makrifat, mereka takjub dan merasa

               senang,  hatinya  kagum  dengan  perkara  yang  di  luar  logika  kemudian  sering
               memikirkannya, berpikir bagaimana cara membuka pintu makrifat tersebut dan menutupi

               hal itu dari orang lain.


               Semua ini adalah tipuan karena keajaiban-keajaiban tersebut adalah jalan menuju Allah

               dan itu tidak ada batasnya. Barangsiapa yang berhenti karena terbuai dengan keajaiban
               tersebut, maka hal itu) dapat membelenggu dan memperpendek langkah hingga ia tidak

               mungkin sampai menuju tujuannya.


               Ibaratnya seperti orang yang hendak mendatangi raja, ia melihat pintu istana dan melihat
               kebun yang dipenuhi bungabunga indah bermekaran serta cahaya yang tidak pernah ia

               lihat sebelumnya. Ia pun terhenti dan habislah waktu yang ia miliki untuk bertemu dengan

               raja, akhirnya ia pulang dengan sia-sia.


               9, Golongan Kesembilan.


               Orang  yang  melampaui  batas  dari  kelompok-kelompok  sebelumnya.  Mereka  tidak

               berpaling dari cahaya-cahaya tarekat dan tidak peduli kepada sesuatu yang justru dapat
               membuatnya mudah mendapatkan pemberian yang melimpah. Mereka tidak berusaha

               untuk meraih pemberian tersebut.


               Saat hampir meraihnya, mereka mengira telah sampai kepada Allah sehingga mereka

               berhenti dan tidak terus meraihnya. Mereka keliru karena Allah memiliki tujuh puluh hijab
               dari  cahaya  dan  kegelapan.  Seorang  yang  menempuhnya  tidak  akan  bisa  mencapai

               kecuali mereka merasa telah mampu meraihnya.]]></page><page Index="45"><![CDATA[44   al kasyfu wa tabyin





               Hal  ini  sebagai  isyarat  dalam  firman  Allah  tentang  Nabi  Ibrahim  yang  mencari  siapa
               Tuhannya dan berkata, “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah

               bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”, maka ketika bintang itu terbenam ia berkata,
               “Aku tidak suka kepada yang terbenam””. Sungguh banyak sekali hijab yang ada pada

               maqom ini.


               Adapun hijab yang pertama antara seorang hamba dan Tuhannya adalah hatinya. Ini

               merupakan  sesuatu  yang  bersifat  illahi  yang  agung,  ia  adalah  satu  cahaya  dari
               banyaknya cahayacahaya Allah yaitu rahasia hati (sirrul qalbi) yang di dalamnya jelas

               ada hakikat dari segala kebenaran, sehingga ia dapat mengetahui apa saja yang terjadi

               di alam semesta.


               Pada saat itu, cahaya orang tersebut memancar dengan dahsyat, semua hal yang wujud
               akan terlihat. Fase ini adalah fase pertama kali ia ditutupi dengan cahaya yang menutupi

               dirinya sendiri.


               Tatkala cahaya ini tampak sehingga terbukalah keindahan hati setelah sinar Allah sampai

               kepadanya, orang yang memiliki hati tersebut terlena dengan yang dialaminya karena
               telah melihat keindahan hatinya melebihi apa yang dia takutkan. Dengan demikian ia

               akan berkata, “Akulah al-Haq”. Jika ia tidak paham dengan apa yang ada di baliknya dan
               dia berhenti di situ, maka ia celaka.



               Dengan  mata  inilah  orang-orang  nashrani  melihat  Nabi  Isa  al-Masih  ketika  mereka
               melihat pancaran cahaya Allah kepada Nabi Isa. Tetapi mereka salah, bagai orang yang

               melihat cahaya dari cermin atau air, mereka mengira cahaya dalam cermin itu adalah
               cahaya yang sebenarnya (padahal bukan, lalu mereka mengulurkan tangannya untuk

               meraih cahaya tersebut. Mereka ini telah tertipu.


               Ada  banyak  macam  tipuan  bagi  orang  yang  menuju  kepada  Allah  dan  tak  terhitung

               banyaknya. Kecuali setelah semua ilmu yang samar menjadi jelas. Karena itulah tidak]]></page><page Index="46"><![CDATA[45   al kasyfu wa tabyin



               ada dispensasi dalam menyebutkannya. Terkadang dibolehkan menjelaskan hal tersebut

               agar seseorang tidak menjadi tertipu.




               Penutup



               Semua  pertolongan  hanya  berasal  dari  Allah,  dan  hanya  itulah  yang  mencukupiku.
               Sebaik-baik  tempat  untuk  bersandar,  tidak  ada  kemampuan  menjauhi  maksiat  serta

               kekuatan  untuk  melaksanakan  ketaatan  kecuali  atas  pertolongan  Allah  Yang  Maha
               Agung.



               Dengan puji Allah, karya ini telah selesai dari tangan pengarang. Semoga pertolongan-
               Nya mengalir kepada pengarang dan orang-orang setelahnya yang mengambil berkah

               darinya.  Yang  mengharap  ampunan  Allah  al-Qarib  al-Mujib  al-Faqir;  Usman  ibn  al-
               Allamah  Syaikh  Salman  as-Syafii  as-Suwaifi  semoga  Allah  mengampuninya,  kedua

               orang tuanya, dan semua orang Islam. Serta semoga rahmat Allah tercurahkan kepada
               Nabi Muhammad SAW, sahabat dan seluruh sahabatnya.]]></page><page Index="47"><![CDATA[46   al kasyfu wa tabyin]]></page><page Index="48"><![CDATA[47   al kasyfu wa tabyin]]></page><page Index="49"><![CDATA[48   al kasyfu wa tabyin]]></page></pages></Search>