Pecinta Alam dan Gerakan Lingkungan ,
Refleksi Hari Bumi
Oleh Iden Wildensyah *) kembali
ke halaman utamaß------
Kreativitas, idealisme, dan keberanian generasi muda harus
dimobilisasi untuk menjamin kemitraan global untuk mencapai pembangunan
berkelanjutan dan menjamin masa depan yang lebih baik bagi semua orang (
prinsip 21, Deklarasi
Hari Bumi dan penyadaran lingkungan
Dalam surat kabar New York Times Januari 1970 dituliskan Hari Bumi
merupakan komitmen untuk membuat /menjadikan kehidupan lebih baik, tidak hanya
lebih besar dan cepat juga merupakan langkah nyata bukan solusi retorika
belaka. Ini merupakan hari untuk menguji kembali etika /tata susila kemajuan
individu pada nilai – nilai kemanusiaan. Ini merupakan hari untuk
menantang pimpinan –pimpinan hukum pemerintah yang berjanji mengubah
program- program yang perlu perubahan jangka pendek. Hari ini merupakan hari
untuk merubah hari esok, 22 april mencari kehidupan masa depan yaitu 22 april
untuk menentukan hari esok.
Hari bumi berawal dari keprihatinan seorang senator Gerlofd Nelson yang
prihatin melihat kondisi lingkungan yang tidak menentu akibat pembangunan yang
dilakukan pemerintah Amerika pada waktu itu. Hal ini menggerakan ia untuk
bangkit memasukan isu lingkungan dalam kurikulum pendidikan serta kebijakan
– kebijakan pembangunan untuk memperhatikan lingkungan. Perjalanan yang
panjang ini sejak tahun 1960 memuncak tahun 1970, diperkirakan sekitar
120.000.000 orang berpartisipasi dalam kegiatan hari bumi. Hari bumi pun
menjadi sebuah kenyataan untuk menyampaikan pesan kepada politikus –
politikus yaitu pesan kepada manusia untuk bangkit dan melakukan sesuatu dalam
kaitannya dengan kebijakan politik
Pecinta alam dan gerakan lingkungan
Isu gerakan lingkungan dalam tubuh pecinta alam baik itu Mapala (mahasiswa
pecinta alam), Sispala (siswa pecinta alam), atau organisasi pecinta alam umum
lainnya belum memperlihatkan sebuah sinergi geeakan lingkungan yang dinamis.
Saat ini lebih banyak pada kegiatan – kegiatan alam terbuka seperti
pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan beragam kegiatan
lainnya yang lebih memperlihatkan corak penggiat alam terbuka.
Sebetulnya pergeseran dalam pola dan gerak pecinta alam ini dirasakan jauh hari
karena pecinta alam semata – mata hanya organisasi Hedon yang selalu
dicitrakan dengan kegiatan kegiatan petualangan seperti penaklukan gunung,
sungai tebing serta sikap hidup yang penuh dengan kebebasan, ini dicitrakan
pula dengan style yang penuh aksesoris seperti karabiner, tali prusik
ditangannya dan rambut yang sengaja di biarkan panjang.
Namun lepas dari kesan yang dicitrakan pada pecinta alam ada pula pergesesran
makna dalam pola gerakannya, ada perbedaan dalam definisi pecinta alam dan
penggiat alam terbuka walau dalam tataran yang nyata keduanya sulit dibedakan
mana yang pecinta alam dan mana yang penggiat alam. Dalam Republika
(25/02/2004) dinyatakan bahwa degradasi kultura dalam tubuh pecinta alam memang
bukan tanpa alasan semasa orde baru arah pecinta alam diarahkan untuk tidak
mengikuti pola dan gerak serta taktik Green Peace atau the German
Green yang selalu mengkritisi setiap kebijakan pemerintahan yang tidak
ramah lingkungan terlebih merusak lingkungan.
Dalam konteks gerakan lingkungan pecinta alam sebenarnya mempunyai peran yang
sangat penting terutama untuk pembinaan dan usaha menumbuhkembangkan generasi
yang peduli lingkungan serta tangguh dalam setiap kondisi alam, hal ini bias
dipupuk dalam kegiatan pendidikan dasar pecinta alam. George Junus Aditjondro
dalam bukunya Pola-Pola Gerakan Lingkungan mengatakan, terdapat tiga komponen
gerakan lingkungan yaitu pertama, ‘aktivis lingkungan publik’ yaitu
orang yang concerned untuk memperbaiki kondisi lingkungan disekitar mereka.
Kedua, ‘aktifis lingkungan terorganisir atau sukarela
yaitu organisasi seperti Sierra Club atau Enviromental Defense Fund
di Amerika Serikat atau WALHI dan SKEPHI di Indonesia. Ketiga, organisasi
lingkungan institusional yaitu birokrasi publik ynag menangani yurisdiksi
terhadap kebijakan sosial lingkungan atau yang terkait dengan lingkungan
seperti kantor menteri Negara kependudukan dan lingkungan hidup.
Dari ketiga komponen ini organisasi pecinta alam (Mapala, Sispala atau
organisasi PA umum) berada dalam organisasi lingkungan yang terorganisir dan
bersifat sukarela, dilihat dari status keorganisasiannya, keberadaannya, pola
gerakannya dan penerimaan anggotanya yang sukarela.
Pecinta alam sebagai organisasi yang bergerak dalam dunia lingkungan dan alam
pada hakikatnya berada dalam gerakan enviromentalisme (wawasan lingkungan) yang
dalam pengertian lebih luas lagi adalah suatu faham yang menempatkan lingkungan
hidup sebagai pola dan gerakannya. Gerakan enviromentalisme mungkin bagi
sebagian pihak terasa asing karena enviromentalisme pernah dianggap sebagai
gerakan yang membahayakan pemerintahan pada waktu itu (orde baru) karena
kebijakan yang dibuat pemerintahan pada saat itu berkaitan dengan ekploitasi hutan
serta pemberian HPH untuk segelintir orang.
Dalam literatur sosiologi istilah enviromentalisme atau gerakan lingkungan
hidup digunakan dalam tiga pengertian yaitu, pertama sebagai
penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif (Collective Behavior), kedua,
sebagai jaringan konflik – konflik dan interaksi politis di seputar isu
– isu lingkungan dan isu – isu lain yang terkait. Ketiga sebagai
perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai – nilai yang
menyangkut lingkungan.
Pemahaman mengenai tiga watak organisasi lingkungan tersebut diperlukan untuk menempatkan studi enviromentalisme dalam perspektif yang lebih luas.karena, pertama dapat menunjukan perbedaan tiga struktur penting dalam enviromentalisme – yaitu, hubungan antara keunggulan atau subordinasi yang terdapat dalam komponen – komponennya. Kedua, taktik dan ideologi enviromentalisme yang terorganisasi bisa dilihat sebagai produk interaksi antara komposisi kelas dan kepentingan dari aktivis lingkungan yang terorganisasi di satu pihak, dan struktur kekuasaan pemerintah dilain pihak.
Akar gerakan lingkungan dalam pecinta alam sebagai organisasi sukarela dengan
pembinaan yang ketat bagi anggota barunya dapat menumbuhkan sikap yang kritis
dari setiap anggota anggotanya. Dampak pendidikan dasar dari kelompok –
kelompok pecinta alam ini hanya terbatas pada anggotanya sendiri, sementara
perubahan kearah kepedulian yang lebih radikal terhadap lingkungan belum
menyentuh kemasyarakat luas walaupun banyak LSM /ORNOP yang berperan di
dalamnya tapi tidak jarang juga pecinta alam yang terjun langsung memberikan
penyadaran lingkungan seperti yang dilakukan akhir – akhir ini di Taman
Nasional Gede Pangrango, pecinta alam dilibatkan langsung untuk melakukan
kampanye lingkungan kepada semua pendaki gunung tersebut.
Masalah –masalah lingkungan hidup seringkali tidak menjadi prioritas yang
tinggi dan seringkali menjadi sub agenda yang pada akhirnya larut dan tenggelam
dalam tema – tema kampanye yang lebih luas dan abstrak. Isu – isu
lingkungan yang masuk dalam mainstream pecinta alam lebih banyak pada hal- hal
yang sifatnya temporer dan terkesan reaksioner seperti bencana alam, kecelakaan
dihutan atau perusakan hutan oleh kegiatan off road tetapi belum sampai
pada akar masalah lingkungan yang terjadi pada saat ini, dampak dari kegiatan
yang temporer ini hanya akan melahirkan kebencian pada mereka yang melakukan
perusakan lingkungan tanpa melihat siapa sesunggguhnya yang melakukan dan
membuat tekanan sehingga semua bencana itu terjadi.
Penutup
Hari bumi bagaikan sebuah percikan awal gerakan lingkungan yang tidak saja
mempengaruhi masalah sosial tapi juga kebijakan pemerintah dalam upaya
pembangunan. Banyaknya isu lingkungan yang muncul di masyarakat tetapi belum ada
tindakan yang lebih konkrit dan saksi semua pihak kepada sumber yang merusak
lingkungan menunjukan masih lemahnya kesadaran masyarakat serta peraturan
pemerintah dalam hal lingkungan hidup untuk kehidupan sekarang dan masa yang
akan datang.
Sinergi dalam gerakan lingkungan antara pecinta alam (Mapala, Sispala,
organisasi PA umum) dengan ornop – ornop yang peduli lingkungan harus
sudah menjadi agenda bersama karena permasalahan lingkungan adalah pemasalahan
bersama yang membutuhkan kinerja, pemikiran dan konsep bersama untuk satu
masalah lingkungan hidup.
Sudah saatnya revitalisasi gerakan sosial dan kelompok pecinta alam diwujudkan
melalui gerakan lingkungan yang sinergi sehingga jalan panjang membangun
gerakan lingkungan menuju gerakan sosial sedikit demi sedikit dapat dicapai.
Wallahu’alam