Jejak Karier Si Kutu Loncat
Thursday, 23 Feb 2006 11:32:31 WIB
Di
sebuah negeri antah berantah, seorang wanita tua biasa duduk di gerbang sebuah
kota untuk memperhatikan para pengelana yang lewat dan kadang-kadang berbicara
dengan mereka. Suatu malam seorang pengelana datang mendekat, ia terlihat
kelelahan setelah melalui perjalanan yang berat. "Permisi," katanya
kepada wanita tua itu, "saya sedang mencari tempat untuk beristirahat.
Dapat anda membantu saya dengan mengatakan seperti apa orang-orang orang di kota
ini?" Wanita itu tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut dengan
pertanyaan, "Anda pasti telah melakukan perjalanan yang jauh. Anda pasti
kelelahan dan manakah anda sebenarnya?" Sedikit terkejut dengan pertanyaan
tersebut, pengelana itu mengatakan kepada wanita itu nama kota asalnya, Utopia.
Wanita itu tertarik sehingga kemudian bertanya, "Oh," sambil tersenyum,
"seperti apakah orang-orang di Utopia?" "Oh," jawab
pengelana itu, "Anda pasti tidak percaya bagaimana buruknya orang-orang di
Utopia. Mereka tidak peduli apakah kamu lapar atau haus. Mereka bahkan tidak
akan menghabiskan waktu dengan kamuAan apabila kamu meminta bantuan mereka akan
pergi atau secara sengaja mengirim kamu ke arah yang salah. Mereka sangat kasar
dan tidak bersahabat.
"Astaga," jawab wanita tua itu dengan wajah ketakutan, "Saya
punya berita buruk buat kamu. Orang-orang di kola ini kurang lebih sama dengan
orang-orang di Utopia. Saya rasa kamu pun tidak akan menyenangi mereka."
Pengelana tersebut menjadi kecewa, "Oh, begitu," katanya sambil
menghela nafas, "saya rasa saya akan meneruskan perjalanan."
Selang beberapa saat seorang pengelana datang lagi. Ia melihat wanita tua itu
duduk di situ, tersenyum dan mendekatinya. "Permisi," katanya, "saya
sedang mencari tempat untuk bermalam, dapatkah anda membantu saya dengan
bercerita bagaimana orangorang di kota ini?" Wanita tua itu tersenyum
kepadanya dan sekali lagi dia bertanya, pertanyaan yang sama seperti yang ia
tanyakan kepada pengelana terdahulu.
"Saya datang dari Utopia," katanya. "Seperti apakah orang-orang
di Utopia?" wanita itu bertanya lagi. "Oh, mereka orang-orang yang
baik," jawab pengelana itu, "saya suka sekali dengan mereka, mereka
selalu ramah, siap untuk saling membantu dan pemaaf." "Baiklah kalau
begitu," wanita tua itu memberitahu dia, "saga rasa anda akan
menemukan hangatnya sambutan di kota ini. Penduduk kota ini kurang lebih sama
dengan penduduk Utopia."
Sebuah kisah kebijakan dari masa lalu yang menarik untuk bahan renungan para
pendaki karier. Wanita tua itu dapat mewakili "head hunter" atau para
interviewer sebuah perusahaan yang tengah mencari para eksekutif jempolan untuk
berkarya di sebuah perusahaan. Pertanyaan utama yang harus digali dan dijelaskan
adalah bagaiman performance di tempat bekerja terdahulu. Salah satu bagian yang
diteropong adalah mengapa dia ingin pindah atau bersedia pindah dari tempat yang
lama?
Seorang interviewer yang menjadi'jembatan' bagi para pemburu karier, pertama
kali akan melihat jejak rekam (track record) seseorang yang menjadi kandidat
yang akan digaetnya. Misalnya jika seseorang kandidat mempunyai track record
amat sering berpindah pekerjaan. Pertanyaannya apakah ada yang salah dengan
kariernya? Dan pertanyaan awal inilah bergulir menjadi pertanyaan-pertanyaan
selanjutnya yang lebih mendalam dan si pewawancara akan berperan sebagai nenek
tua penjaga gerbang kota. Apakah ia sering berpindah pekerjaan karena kinerjanya
yang amat kinclong, sehingga menjadi, rebutan para employeer? Ataukah justru
sebaliknya, si kandidat ini sebenarnya seseorang yang mempunyai kelemahan
tertentu, sehingga memaksanya untuk selalu berpindah pekerjaan?
Salahkah berpindah-pindah pekerjaan. Barangkali untuk era sekarang,
berpindah-pindah pekerjaan tidak menjadi persoalan, walaupun ada ungkapan yang
agak sinis sebagai "kutu loncat". Masalahnya adalah alasannya
berpindah pekerjaan. Kita dapat memilah motif pindah pekerjaan berdasar dua hal,
sebab internal dan sebab eksternal. Jika seseorang pindah pekerjaan, karena
"tidak tahan" terhadap situasi di dalam perusahaan pada saat ini,
dapat dikategorikan sebagai sebab internal. Tapi jika seseorang yang pindah
pekerjaan semata-mata karena tergoda iming-iming bekerja di tempat yang lain,
inilah yang diklasifikasikan sebagai sebab eksternal.
Namun seringkali untuk berpindah pekerjaan bukan berdasar motif tunggal, dan
memang seorang pemburu karier yang matang selalu mempertimbangkan berbagai aspek
sebelum memutuskan hengkang dan perusahaanya yang sekarang. lnilah yang dikejar
oleh pewawancara yang menjadi "wanita tua penjaga gerbang kota". Si
pewawancara tentu sudah mendapat mandat dari perusahaan untuk menjaring calon
yang benar-benar tepat untuk posisi yang tersedia. Dengan segala keahliannya
mereka harus menelusuri kompetensi dan kinerja dari masing-masing kandidat.
Seperti halnya si wanita tua di gerbang kota, mereka akan bertanya situasi
"kota" yang telah disinggahi sebelumnya. Bagaimana persepsinya
terhadap kota sebelumnya, masalah-masalah apa yang ditemui, dan bagaimana solusi
yang dilakukan dalam menghadapi masalah tersebut.
Jika ternyata si kandidat hanya singgah sebentar dari satu kota ke kota yang
lain, tentu ada 'sesuatu' yang harus diklarifikasi. Mungkinkah si kandidat
berpindah-pindah dan suatu
perusahaan ke perusahaan yang lain, justru karena lari dari masalah yang
dihadapi? Berarti ia tidak dapat menyelesaikan masalah, dan justru lari dari
masalah yang dihadapi. Jika dia hanya memandang negatif semua perusahaan yang
ditinggalkan, apakah di tempat yang baru dia tidak akan bersikap yang sama? Dia
tentu memiliki asumsi-asumsi untuk menilai sebuah perusahaan sebgai lingkungan
kerjanya, tapi apakah asumsi-asumsi yang dimiliki terlalu ideal. Sehingga
pengembaraan kariernya hanya mencari sebuah "kota" yang ideal dalam
pandangannya, dan barangkali tidak akan pernah ditemukan dalam dunia kerja yang
nyata. Dia akan selalu menemukan kekecewaan, dan lari dan masalah yang dihadapi
untuk mencari 'kota' yang lain.
Sebuah percikan permenungan bagi pendaki karier, keputusan untuk pindah
pekerjaan harus dipikirkan masak-masak dan mempertimbangkan berbagai aspek.
Pertimbangkanlah berbagai aspek lain, selain imbalan dan fasilitas. Misalnya,
apakah budaya perusahaan sesuai dengan karakter kita? Pastikan bahwa chemistry
akan cocok.
Source: CBN.NET
http://cyberjob.cbn.net.id/dettips.asp?id=343