![]() |
||
|
TUNAS-TUNAS Mujahid DI Ambon
http://www.ummigroup.co.idJangan kembali pulang...., mujahid!
Sebelum engkau menang...
Ketika memekikkan "Mujahid!", tangan-tangan kecil itu terkepal dan teracung
tinggi di udara. Sejenak tertangkap kesan wajah kanak-kanak mereka hilang,
tergantikan wajah dewasa yang meluap oleh semangat jihad. Hari itu, 4
Desember 1999, tamu yang hadir pada acara yang diselenggarakan oleh Ormas
Gema Khadijah Maluku, tercekat haru melihat penampilan murid-murid TPA di
Ambon.
Jihad, mungkin kosa kata baru bagi anak muslim Ambon. Namun ketika bumi
Ambon bergolak dengan kebiadaban kaum nasrani setahun lalu, berkumandanglah
panggilan jihad. Bocah Ambon yang menghadapi semua kekejaman itu, spontan
memenuhi panggilan itu. Jiwa mereka yang masih suci mudah merespon terhadap
apa yang terjadi di sekelilingnya. Kini mereka tak lagi mengenal jihad
sebagai sebuah kata, tapi suatu gerak yang akrab dengan kehidupan
keseharian.
Pokoknya Jihad!
Dalam setiap perang, Acan ( Hasan, sebutan untuk muslim Ambon) cilik ini
selalu mencari kesempatan untuk ikut serta, dengan atau tanpa izin. Para
orang tua pun tak kuasa menahan semangat suci mereka. Kalau dilarang,
anak-anak itu akan balik bertanya,"Kalau kami dilarang pergi berjihad, untuk
apa kami dilahirkan?"
Di antara mereka ada yang berusaha mendaftarkan diri secara resmi pada
koordinator lapangan (korlap) mujahidin. Dokter Rudi, relawan Mer-C, yang
pernah diterjunkan ke Ambon, bertanya kepada anak laki-laki berusia sekitar
7 tahunan yang mendaftar pada sebuah pos korlap. "Kamu bawa senjata apa?"
tanya dokter itu. Bocah yang mengenakan baju hijau seragam TPA itu melihat
kedua belah tangannya yang kosong tanpa senjata. Dengan polos ia menjawab,
"Sekarang saya tidak membawa senjata. Tapi dalam perang nanti, saya akan
rebut senjata Obet!" (Obet, sebutan untuk Robert, orang nasrani Ambon)
Gambaran serupa disaksikan oleh Inayah, aktivis Gema Khadijah Jakarta yang
baru-baru ini diterjunkan ke Ambon. Akhir November 1999, terjadi peperangan
di Mangga Dua. Seperti laiknya perang lain, berdatanganlah mujahidin dari
berbagai penjuru. Anak kecil pun berusaha ikut ke medan perang, walau hanya
di garis belakang. Seperti mujahid sejati, mereka mengenakan pakaian putih
dan ikat kepala putih lengkap dengan parang sebagai senjata. Pedang yang
mereka bawa, panjangnya bahkan melebihi tubuh mereka sendiri.
Anak-anak di garis depan
Tapi jangan salah, posisi mujahid cilik bukan hanya di garis belakang.
Mereka pun piawai di garis depan. Syamsu Pelu (14 tahun), murid kelas 2
Madrasah Tsanawiyah Al Fatah, misalnya. Syamsu selalu memimpin di garis
depan. Ia adalah komandan pasukan mujahid yang cukup besar jumlahnya.
Sebagian besar anggota pasukannya berusia lebih tua darinya. Intuisinya yang
peka terhadap setiap gerakan lawan, mampu melumpuhkan serangan kaum nasrani.
Saat terjadi penyerangan terhadap muslimin di perkampungan STAIN (Sekolah
Tinggi Agama Islam Nasional), posisi kaum muslimin sempat terpojok. Ketika
itu datanglah bantuan dari Al Fatah yang dipimpin oleh Syamsu Pelu. Setiba
di lokasi, panglima muda ini langsung menunjuk suatu titik di lokasi yang
harus diserang oleh kaum muslimin. Dengan patuh pasukan mujahidin
melaksanakan perintah itu. Benar saja, setelah penyerangan, barulah
diketahui bahwa titik tersebut adalah pusat komando penyerangan kaum nasrani
saat itu. Maka lumpuhlah kekuatan lawan.
Kepekaan intuisi dan kharisma yang dimilikinya membuat petinggi nasrani di
Ambon menghargai kepalanya satu milyar! Orang-orang yang mengenalnya
mengatakan saat bertempur dan memimpin pasukan, sosok anak-anak Syamsu
hilang sama sekali. Mereka tak lagi melihat Syamsu sebagai sosok kerempeng
dan diremehkan orang. Yang terlihat adalah sosok mujahid dewasa yang telah
kenyang makan asam garam perjuangan.
Terbiasa dengan perang
Rasa takut mungkin telah pupus dari hati anak-anak ini. Kebiadaban yang
mereka saksikan tak lagi membuat mereka mengalami trauma berlarut-larut.
Pada awalnya mungkin mereka kaget dan ngeri mendengar suara dentuman bom dan
rentetan senjata. Sekarang, setiap mendengar dentuman bom, mereka malah
menghambur menghampiri asal suara untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Setiap usai perang anak-anak usia balita bahkan menyisir lokasi bekas perang
untuk mencari selongsong peluru. Setelah terkumpul, selongsong peluru ini
diserahkan pada mujahidin agar dapat dipergunakan lagi. Kadang mereka
mencari besi atau logam lainnya yang bila tak digunakan oleh mujahidin akan
mereka rakit sendiri untuk membuat senjata mainan.
Anak memang tak bisa lepas dari dunia bermain, dalam kondisi perang
sekalipun. Anak yang tidak mampu berperang karena masih terlalu kecil
biasanya membuat senjata mainan sendiri untuk bermain perang-perangan.
Tabahnya Melebihi Orang Dewasa
Keberanian mereka bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Seperti layaknya mujahid,
mereka siap menerima resiko sebuah pertempuran, terluka atau syahid.
Bocah-bocah ini menerima semua resiko perang dengan ikhlas dan tabah, yang
kadang melebihi keikhlasan dan ketabahan orang dewasa.
Dokter Rudi pernah merawat seorang anak yang tangan kanannya hancur terkena
bom. Ketika dikomentari tentang lukanya yang sangat parah, anak itu hanya
menjawab,"Tidak apa-apa tangan kanan saya hancur, dok. Masih ada tangan
kiri..."
Dokter yang sama juga pernah merawat seorang anak yang matanya terkena
serpihan bom. Anak tersebut ikut menyerang Kampung Jawa yang diperkirakan
merupakan tempat gudang amunisi. Yang mengagumkan, tidak satupun keluhan
keluar dari mulutnya, apalagi tangisan. Padahal, benda halus masuk ke mata
saja sangat pedih rasanya, apalagi serpihan bom! Hampir dapat dipastikan
kedua matanya tidak akan dapat berfungsi lagi.
Pulang Sekolah, Jihad!
Sementara itu kegiatan belajar yang biasanya menjadi kegiatan utama
anak-anak tak dapat dilakukan secara optimal. Selain kondisi keamanan yang
kurang terjamin, kondisi lingkungan di tempat pengungsian pun tidak
memungkinkan anak belajar dengan baik. Apalagi bila terjadi pertempuran.
Anak yang dipulangkan lebih cepat oleh gurunya agar dapat berlindung, justru
bersemangat menyambut pertempuran.
Sesampai di tempat pengungsian, bukannya berlindung bersama keluarga mereka
malah pergi ke medan perang. Bergegas mereka menganti seragam sekolah dengan
pakaian dan ikat kepala putih, kemudian menghambur keluar ke tempat
pertempuran. Bahkan, apabila memungkinkan mereka turut berperang tanpa rasa
takut.(Asma/Ina)