![]() |
||
|
Laskar Jihad Tiba di Ambon http://www.suaramerdeka.com/harian/0005/07/nas2.htmAMBON-Laskar jihad yang jumlah personelnya belum diketahui secara pasti,
Sabtu pagi kemarin sekitar pukul 07.30 WIT tiba di Ambon dengan KMP
Danau Rana. Aparat keamanan terus mengawasi kegiatan mereka, sedangkan
masyarakat khawatir terjadi kerusuhan lagi.
Wartawan Antara Ambon melaporkan, laskar jihad dengan kapal dari Namlea,
ibu kota Kabupaten Buru, itu memasuki Teluk Dalam Ambon dengan kawalan
dua kapal patroli sejak dari Tanjung Alang dan Nusaniwe. Setiba di
Dermaga Slamet Riyadi Ambon, laskar menuju Masjid Alfataf.
Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela mengakui kedatangan laskar
jihad tersebut, dan jumlahnya telah terdaftar di Polres Pulau Ambon dan
Lease.
"Kami tidak bisa mencegah kedatangan mereka. Hanya, bila di Ambon mereka
bertindak negatif, pasti berurusan dengan aparat keamanan," katanya
seraya menambahkan, sepanjang kehadiran mereka dengan maksud baik,
sangat disambut baik, terutama untuk menyukseskan program rekonsiliasi.
Ia pun mengakui, laskar jihad itu datang melalui Namlea dengan
memanfaatkan KM Lambelu, selanjutnya ke Ambon dengan KMP Danau Rana.
Jangan Terprovokasi
Pangdam membantah jumlah anggota pasukan jihad yang datang sekitar 200
orang. "Yang pasti, masyarakat jangan terprovokasi oleh kedatangan
laskar jihad. Karena bila terjadi pertikaian, mereka pasti bermain.
Namun bila tenang dan bertindak positif, itu khan baik," tandasnya.
Kadispen Polda Maluku Mayor Pol Philips Jekriel secara terpisah
mengatakan, Kapolres Pulau Ambon dan Lease telah mengerahkan personel
intelnya untuk mendata jumlah laskar jihad.
"Namun perlu juga perhatian Pemda Kota Ambon untuk mendata mereka karena
berkaitan dengan masyarakat," tutur Kadispen mengutip permintaan
Kapolres.
Tentang jumlahnya, dia mengakui masih simpang siur soal itu. Berdasarkan
data intel Polda, Jumat malam (5/5), 112 orang, sedangkan Puskodalops
memperkiraan 200 orang.
Wali Kota Ambon Chris Tanasale mengakui, aparatnya tak bisa berbuat
banyak untuk mendata laskar jihad ini karena relatif masih rawan.
"Yang pasti, saya telah berkoordinasi dengan Gubernur Saleh Latuconsina
dan Pangdam Tamaela untuk memantau aktivitas mereka. Jadi, laskar jihad
bila dengan tujuan baik sangat disambut baik. Tapi jika sebaliknya, itu
urusan Pangdam selaku Dansat Banmil Maluku dan Maluku Utara," katanya.
Gubernur Saleh Latuconsina secara terpisah mengaku telah dilapori soal
kedatangan laskar jihad sejak Jumat malam (5/5) oleh Penjabat Bupati
Buru Dudy Sangadji SH. Mereka tiba di Namlea dengan KM Lambelu,
selanjutnya ke Ambon dengan KMP Danau Rana, dan jumlahnya 119 orang.
"Jadi berdasarkan, laporan tersebut telah berkoordinasi dengan Pangdam
Tamaela untuk KMP. Danau Rana berlabuh di Dermaga TNI-AL (Lanal) Ambon
di Halong. Namun bila mereka turun di Dermaga Slamet Riyadi itu, saya
tidak tahu apa masalahnya," katanya.
Menurut Gubernur, ia telah menerima laporan dari Masjid Alfatah bahwa
laskar jihad yang tiba di Ambon sejumlah 120 orang dengan tujuan dakwah,
pendidikan, dan kesehatan. "Karena itu, diharapkan laskar itu
benar-benar bertindak sesuai dengan tujuan mereka, sebagaimana
dilaporkan dari Masjid Alfatah. Namun, bila perkembangan selanjutnya
berubah, tindakan tegas pasti dilakukan aparat keamanan sesuai dengan
prosedur hukum," kata Latuconsina.
Berdasarkan pantauan Antara, kota Ambon mulai terlihat tegang dan
berbagai aktivitas kurang lancar karena masyarakat telah trauma oleh
"tragedi kemanusiaan" berkepanjangan.
Masyarakat mengharapkan Pangdam Tamaela dan Kapolda Brigjen Pol Dewa
Astika memantau keberadaan laskar jihad. "Sekiranya bertujuan mendukung
program rekonsiliasi, sangat disambut baik. Namun bila untuk bertindak
kekerasan, hendaknya perlu diambil langkah pengamanan, karena masyarakat
mengalami penderitaan berkepanjangan," tutur John.
3000 Personel
Dari Yogyakarta dilaporkan, sekitar 3.000 personel Laskar Jihad Ahlus
Sunnah Wal Jamaah hari Minggu ini akan berangkat dari Pelabuhan Tanjung
Perak, Surabaya, menuju Ambon dan Maluku menumpang Kapal Motor (KM)
Rinjani dan Lambelo.
"Kami tetap akan berangkat ke Ambon hari Minggu (7/5) besok, tetapi kami
tidak melengkapi diri dengan senjata, pedang, ataupun jenis senjata
lainnya," kata Panglima Laskar Jihad Ja'far Umar Tholib di rumahnya,
Yogyakarta, Jumat (5/5).
Menjawab wartawan dia mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan
pelarangan dari aparat keamanan, pihaknya telah meminta bantuan advokasi
dari LKBH UII Yogyakarta.
Dia menjelaskan, personel Laskar Jihad yang akan berangkat ke Ambon dan
Maluku untuk angkatan pertama akan bertugas selama empat bulan. Setelah
selesai bertugas, mereka akan ditarik dan diganti dengan angkatan
berikutnya.
"Sebelumnya sudah ada yang berangkat sebanyak satu kompi atau sekitar
149 orang. Mereka berangkat 26 April lalu dengan tugas mempersiapkan
logistik bagi kedatangan Laskar Jihad berikutnya. Jadi, nanti kalau
Laskar Jihad datang di sana tidak akan merepotkan masyarakat, karena
kebutuhan logistik sudah dipersiapkan," tutur Umar.
Dia menyatakan lebih lanjut, personel Laskar Jihad yang akan berangkat
sebelumnya harus lulus tahap seleksi fisik dan mental. Mereka dipilih
dari anggota yang rutin menghadiri kegiatan halaqah, memahami kitab
kuning serta sudah mengikuti latihan di daerah ataupun yang mengikuti
latihan gabungan di Bogor.
Berdasarkan hasil penyelidikan tim investigasi Laskar Jihad selama 14
hari sejak 10 Februari lalu, katanya, masyarakat Maluku mengalami
kehancuran di dua sisi, yaitu material dan mental-spiritual. "Fokus
kegiatan personel Laskar Jihad yang kita kirim ke sana adalah untuk
merehabilitasi kehancuran mental masyarakat muslim Maluku atau semacam
dakwah untuk membangkitkan semangat mental mereka," tandasnya.
Personel Laskar Jihad yang akan berangkat ke Maluku dan Ambon pada hari
Minggu ini, kata Umar, bertemu dan berkumpul di Surabaya. Mereka dari
Solo, Semarang, Yogyakarta, Jabotabek, dan Jawa Timur. Persiapan
keberangkatan sudah dilakukan, termasuk pembelian tiket kapal. Kapal
laut yang akan digunakan, KM Rinjani dan Lambelo.
Ketika ditanya bagaimana jika personel Laskar Jihad diadang aparat
keamanan di Tanjung Perak, Umar mengatakan, "Akan kami datangi, dasar
hukumnya apa kok kita dilarang. Kami tidak membawa senjata tajam dan
senjata api. Akan kami jelaskan, kami tidak melanggar hukum dan
pindah-pindah ke daerah itu kan boleh." (ant-18c)