![]() |
||
|
Kisah Syahidnya Ayah Sudirto di Medan Jihad
Bapak Malan A. Amjad
Sebagaimana telah diberitakan oleh HU Republika (8/2) pertempuran Islam kristen di desa Toma Baru dan Malifut, pertempuran yang menelan korban sebanyak 8 orang. Salah satu diantaranya adalah Bapak Malan A Amjad (51 Tahun). Ayah dari Sudirto Malan yang sehari-hari sebagai karyawan pos Keadilan Peduli Umat Ternate. Syuhada meninggalkan 1 orang istri, dan lima orang anak. Desa Jambula beliau bersama istri tercinyanya Nurhani berhasil membesarkan putraputri mereka, Ibukota kecamatan Ternate Pulau jadi saksi kepergian seorang tamu Allah di medan jihad. Beliau bernama Bapak Malan A. Amjad bapak dari lima orang putra dan putri. Hingga kisah ini ditulis, mayatnya belum bisa dievakuasi di daerah musuh.
Berikut kisah sebelum berangkat kemedan jihad dan selama di medan jihad yang di sampaikan langsung ole keluarga, anak dan kerabat pasukan jihad.
Sudirto Malan ( 25 Tahun)
( Anak Pertama )
Sehari-hari adalah karyawan Pos Keadilan Peduli Ummat divisi Investigasi juga Ketua DPC Partai Keadilan Kec. Pulau Ternate, alumni universitas Khairun Ternate tahun 1999 ini sangat periang dan sensitif terhadap persoalan-persolan sosila terutama rasa prihatin yang sangat dalam terhadap para pengungsi dan pasukan jihad.
Dikisahkan ketika terjadi konflik di Malifut, dimana konflik ini terjadi karena keinginan masyarakat malifut dan masyarakat muslim Maluku Utara ingin kembali kekampung halaman namun sebagaiman diketahui Malifut pada bulan Nopember lalu dengan secara paksa dan sepihak pihak gabungan Kristen Kao dan Tobelo serta dukungan Sultan Ternate terusir dari kampung halaman yang, kejadian awalnya sekitar pada pagi hari pukul 06,00 pagi tanggal 6 Pebruari 2000 ini terbagi atas tiga jalur yaitu tengah, darat (bagian dalam) dan laut, namun ketika terjadi penyerangan dan kurang lebih bebrapa jam sebagian Malifut diduduki oleh pasukan jihad namun terjadi arus balik penyerangan oleh kelompok merah, sehingga pasukan yang berada djalur tengah dan dalam dipukul mundur, karena tidak tersedianya komunikasi dan koordinasi yang baik jalur laut tetap maju, nah pada jalur laut ini berjumlah sekitar duapuluhan pasukan didalam nya juga terdapat ayah dari Sudirto ini, ketika sedang asik maju terus pihaknasrani dengan strateginya berhasil mengepung mereka, dari jumlah korban mulai berjatuhan diperkirakan ada 8 mujahid yang suhada, ada versi lain kurang lebih 12 yang korban diantaranya seorang perempuan namun korban perempuan ini diduga dari nasrani karena setelah diperiksa tasnya ditemukan uang sejumlah duaratus ribu yang menurut mereka tidak mungkin dari pasukan mujahid disamping itu sebagian lain berhasil bertahan dan alhamdulillah dapat menyelamatkan diri dan diantaranya teman dari Insya Allah syuhada kita ini adalah Rudi yang telah kembali ke Desa Jambula..
Ibu Nurhani ( Istri )
Dengan terisak-isak tangisan mengenang suaminya Ibu Nurhani menceritakan bahwa papa tara (tidak) pesan (pesan) tapi papa bilang, saya musti pi jihad (saya harus berangkat ikut jihad), nah pergi jihad itu kalau mati masuk syurga jadi saya pergi saya membela agama (sambil menagis) dan beliau pesan saya jangan lupa Sholat dan bangun tahajud itu saja.
Beliau tiap hari buat peralatan, waktu mau berangkat semua parang yang ada didalam rumah digosok semua (semua parang yang ada di dalam rumah ditajamkan ). Dan pesan lanjutannya (kenapa-kenapa) biar kamu yang kecil-kecil perempuan harus pegang parang. Kemudian mengulangi kata-kata kalau jihad itu mati masuk surga, yakin kita pergi yakin dan tidak ragu tetap kita mau pergi, diceritakan lebih lanjut sebelum beliau berangkat setiap hari malam membaca surat yasin dan buku tentang jihad hingga jam 2 malam sampai-sampai waktu makan sehingga waktu mau berangkat didalam tasnya diisi buku-buku itu, dan terakhir pesan kepada anak-anak perempuanya dan dihadapan ibu beliau berpesan jangan nakal nanti bawa jahat.
Budi Parmono (31 Tahun)
(Anak mantu, Suami dari Rustina Anak kedua)
Sebelum beliau berangkat, beliau selalu bertanya-tanya kepada saya selaku pengurus jihad kapan pasukan jihad dari Jambula ini berangkat, jawaban pada saat itu adalah menunggu informasi dari posko Induk ( Posko Front Pembela Islam ).
Lalu Beliau melanjutkan sanggahanya kalau nanti Jambula terlambat saya akan ikut jihad di Tidore saja.
Beliau sering bilang pokoknya jihad sekali maju ya maju jangan mundur-mundur kalau mati membela agama itu yaitu mati sahid itu yang kita cari-cari.
Zamarudin ( 30 Tahun)
(Teman jihad )
Waktu pertama lewat Desa Sosol itu kita sama-sama, saya sempat tegur beliau, Sosol ini kan dekat pantai, saya bilang jangan terlalu dekat pantai, jangan terlalu masuk pantai, saya kan panggil beliau kakak, kakak lebih baik dibelakang, jangan masuk pantai awas jangan sampai terkepung, saya tegur sampai sekitar sepuluh kalikah. Setiap perjalanan saya tegur, tapi masuk juga kesana, saya panggil tarik lagi, tapi tetap masuk kembali, terus waktu penyerangan saya langsung masuk terus sampai lewat sosol, saya kena lempar dari pasukan nasrani, dipantai sekitar 5 termasuk beliau, setelah saya kena lempar massa ada lalu tarik saya kebelakang berobat, setelah agak sembuh saya balik lagi dan saya lihat beliau di jalan saya tegur kembali dan bilang lebih baik mundur saja,tapi kayaknya begitu sudah, waktu itu sudah sore, kemudian hujan lagi. Mulai dari situ saya tidak ketemu lagi, saya juga terkepung tapi lewat belakang saya berhasil menyelamatkan diri.
Yang melihat banyak korban
Penyerangan ke malifut saya ditugaskan lewat gunung, jadi lewat gunung ini sudah satu malam muali 05.30 sampai di toma baru jam 5 sore, setelah diselesaikan 1 jam di Toma baru, langsung lanjut ke Malifut jarak dari tomabaru sekitar 1 KM.@#