![]() |
||
|
Republika Online edisi:
21 Feb 2000
Menurut MER-C, penderitaan warga Muslim Galela ini sebenarnya
sudah disampaikan pada Ketua KPP HAM Maluku Bambang Suharto,
ketika meninjau lokasi beberapa waktu yang lalu. Dan khusus
untuk menyelamatkan 1.000 orang atau lebih -- kebanyakan wanita
dan anak-anak yang mengungsi di hutan-hutan -- Muslim Galela
sudah minta Kasum TNI Suadi Marasabessy guna mengirim satu
batalyon. Namun sampai saat ini tak ada realisasinya, bahkan
keadaan semakin buruk dan mengenaskan.
Upaya untuk mengatasi masalah kemanusiaan di Galela, sebenarnya
tidak terlalu sulit bagi pemerintah. Di Kecamatan Galela ini
terdapat lapangan udara yang terletak di Desa Dokulamo, sebuah
wilayah antara Duma dan Soatobaru. Lapangan udara ini sampai
saat ini kosong dan untuk mendarat kapal terbang sejenis Hercules,
Helikopter, dan pesawat-pesawat kecil-kecil relatif memadahi.
Belum lagi, wilayah pantai di Galela sangat bagus dan bisa untuk
sandar kapal-kapal besar seperti Lambelu, Kerinci, Ceremai, dan lain-lain.
Kondisi yang dialami Muslim Galela ini membutuhkan belas kasih
semua pihak, khususnya pemerintah yang secara de facto dan de
jure bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan ini. Dan bagi
siapa pun yang berkomitmen pada kemanusiaan, perlu diingatkan
bahwa memperlambat bantuan berarti mempercepat kematian ribuan
orang.
Pasalnya, serangan oleh kelompok merah terhadap warga Muslim
masih berlangsung secara sporadis, dengan kekuatan yang tidak
berimbang. Menurut pantauan terakhir, bahan makanan yang bisa
dikonsumsi Muslim Galela hanya buah-buahan. Tak jarang mereka
makan pisang mentah.Muslim Galela saat ini bertebaran di tujuh desa
-- Soasio, Pune, Taweka, Simau, Seki, Togawe, dan Soakanora. Secara geografis,
tujuh desa Muslim tersebut dalam posisi terkepung oleh desa-desa
yang telah dikuasai pasukan merah. Dan secara ekonomi, hubungan
dengan Tobelo yang menjadi pusat ekonomi di Halmahera Utara tak
bisa dilakukan, mengingat jalur Tobelo Galela sudah diblokir pasukan merah.
Lebih tragis lagi, sewaktu-waktu nyawa 2.000 Muslim Galela bisa terenggut, karena posko pasukan merah di daerah Mamoya; sebuah desa di perbatasan Tobelo Galela, dalam waktu satu jam bisa mendatangkan 7.000 pasukan dari arah Tobelo.Pada dasarnya di Kecamatan Galela populasi Muslim relatif lebih banyak dibanding populasi Kristen. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, warga Muslim berjumlah 21.963 (66,19%) dan Kristen berjumlah 11.186 jiwa (33,81%).Tapi yang terjadi sekarang menunjukkan pihak minoritas justru mampu mengusir, membantai, dan menindas mayoritas. Di Galela, Muslim yang tadinya mayoritas secara berangsur-angsur dapat diusir hingga hanya tersisa 2.000 jiwa, dan dalam kondisi sangat mengenaskan.
Pengusiran warga Kristen terhadap Muslim Galela dilakukan dengan cara penyerangan ke desa-desa Muslim. Salah satu serangan terjadi pada 27 Januari 2000. Sebelum penyerangan, diperoleh informasi, pasukan merah Tobelo memberi ultimatum, ''Islam harus keluar dari bumi Galela, bila tidak mau keluar akan diserang secara besar-besaran.''
Dalam serangan pada Kamis (27/1) itu desa-desa Muslim di Galela diserbu pasukan merah berkekuatan 6.000 - 7.000 orang lima penjuru -- Desa Punai arah selatan, Desa Simao arah utara, Desa Seki arah tenggara, dan Desa Soakonora dari arah laut. Sementara aparat berkonsentrasi di Desa Punai dengan kekuatan 10 personel dari Batalyon 512 Brawijaya menghadang 3.000 pasukan merah dari arah selatan.
Di Desa Pane ini pasukan merah sempat melempar bom ke aparat TNI, namun tidak meledak. Karena merasa susah menembus aparat, pasukan merah mengambil jalan lain. Kontak senjata juga terjadi di Desa Igobula, yang melibatkan beberapa personel pasukan merah bersenjata senjata api otomatis.
Penyerangan-penyerangan lain terjadi di beberapa tempat pada hari yang sama dan jam yang sama, Kamis (27/1) pukul 17.00 WIT. Pertempuran pada hari itu antara lain terjadi di Desa Soakonora, Desa Seki, Desa Simaou, dan dari arah laut. Desa-desa Muslim di Galela kini berada di bawah ancaman dua posko merah yang cukup kuat, yakni Mamuya dan Duma. Sebelum serangan 27 Januari itu, kelompok merah sudah berulang kali melakukan serbuan serupa. Antara lain pada 11, 18 dan 20 Januari. Dalam setiap serangannya, kelihatan sekali kelompok merah melakukannya dengan terencana dan sistematis. n pra