![]() |
||
|
Saksi Online Edisi : Februari 2000
PUKULAN BALIK GERAKAN JIHAD
Keprihatinan umat Islam ditanggapi negatif. Kaum muslimin justru yang dipojokkan.
Permainan para pembisik busuk?
Mungkin akan lain ceritanya bila pena-nganan konflik Ambon seperti penanganan rusuh di
Mataram dan Makasar: sigap dan cepat. Bahkan pakai perintah tembak ditempat. Hanya sehari
benih konflik bermuatan agama yang mulai meluas itu bisa dicegah. Di Mataram hanya
mengorbankan dua orang warga. Di Makasar puluhan de-monstran diaman-kan.
Atau, penanganan terhadap penghan-curan Yayasan Doulos di Cipayung, Jakar-ta Timur yang
dilakukan selompok warga. Gus Dur langsung menurunkan instruksi ke Kapolda untuk mengambil
tindakan. hanya butuh waktu singkat para pelaku ber-hasil ditangkap. Dalam
semalam da-pat enam orang dan esoknya dapat dua orang. Dengan demikian serangan pada
Doulos patah, jelas Gus Dur pada acara halal bihalal di Bina Graha.
Di balik sikap keras aparat keamanan meredam gejolak itu ada kekhawariran di kalangan
Islam. Langkah itu merupakan kelanjutan dari tanggapan miring Gus Dur terhadap acara Aksi
Sejuta Umat di Silang Monas yang disebutnya dilakukan kelom-pok kecil dan hanya dihadiri
oleh 20 ribu orang. Padahal, media massa mencatat se-dikitnya 400 ribu massa muslim hadir
di acara aksi itu. Di samping dihadiri para to-koh utama Poros Tengah, seperti ketua MPR
Amien Rais, Ketua Umum PPP Ham-zah Haz, Anggota DPR Ahmad Su-margono, KH Didin hafidhudin
dll.
Katanya sih sejuta umat , tetapi ter-nyata yang datang nggak ada 20 ribu orang,
kata Gus Dur. Nggak usah heran mereka sedang cari-cari penyakit, lanjut-nya.
Gus Dur juga tak main-main dalam soal keberangkatan kelompok-kelompok Islam ke Ambon untuk
turut membantu war-ga muslim yang dibantai orang-orang Nasrani. Saya minta Kapolri
dan Pangli-ma TNI untuk mengkarantina kapal-kapal yang masuk. Nanti digeledah, yang ada
sen-jata dirampas dan pemegangnya langsung ditahan, tegas presiden mantan Ketua PBNU
itu. Saya tidak peduli, mau jihad, jahid, mau apa saja, pokoknya asal mengan-cam
keselematan negara dan penduduk, kita ambil tindakan dan kalau perlu dila-cak ke Jakarta,
siapa yang suruh. Kalau ada ditangkap. Islam ya Islam, Kristen ya Kris-ten. Siapa saja
harus kita tangani dengan baik, lanjutnya tandas.
Padahal, sikap masyarakat muslim di Ja-karta yang terus menekan pemerintah un-tuk segera
menuntaskan konflik berda-rah di Maluku bukan tanpa alasan. Eskalasi konflik yang telah
berlangsung setahun itu tidak menunjukkan tanda-tnda mereda. Bahkan cederung meluas dan
semakin brutal. Di Halmahera Utara misalnya, hanya dalam waktu satu malam 800 warga
mus-lim dibantai, dengan ribuan orang harus ting-gal di pengungsian.
Masyarakat muslim di Ambon sendiri telah mengambil sikap tegas soal penye-lesaian konflik
Maluku: perang sampai tetes darah penghabisan! Dengar saja yang disampaikan oleh Wakil
Ketua DPRD Maluku Abdurrahim Sabanyo seperti di-ikuti Tekad. Pilihan kami untuk
penye-le-saian adalah melalui perang. Kalangan kristen telah memulainya, tegas
Abdur-rahim.
Sementara penanganan pemerintah sa-ngat lamban dan menganggap enteng masa-lah. Berbagai
sikap dan keterangan yang ke-luar dari istana justru membuat sesak da-da kaum muslimin.
Megawati misalnya, di tengah ceceran darah ribuan warga Am-bon yang bertikai, malah
melenggang ke Hongkong untuk menikmati liburan tahun baru. Tak urung sikap Wapres yang
juga ketua Umum PDI perjuangan itu membuat kesal banyak pihak. Yasril Ananta Baha-rudin,
Ketua Komisi I DPR, menyebut put-ri Bung Karno itu tak memiliki rasa tang-gung-jawab
terhadap keadaan genting di Maluku.
Untungnya Mega punya atasan seperti Gus Dur. Gus Dur pun habis-habisan mem-bantah bahwa
Mega ke Hongkong un-tuk berlibur. Menurut Gus Dur, Mega akan bertemu dengan pihak investor
di Hongkong. Saya tidak hafal pihak mana saja. jadi ini urusan kerja, jelas
Gus Dur. Tapi anehnya, keberangkatan sang Wapres yang disebut-sebut sebagai Ibu
Rakyat itu sama sekali tak didampingi seorang men-teri pun maupun pengusaha yang
ter-kait dengan kerjasama ekonomi ter-tentu.
Akibat seringnya Gus Dur menge-luar-kan statement yang melenceng dari kenya-taan, membuat
banyak pihak menyorot orang-orang yang berdiri di sekeliling Gus Dur. Mereka, yang kini
lazim disebut pem-bisik dicurigai memanipulasi infor-masi yang disampaikan
kepada sang presi-den. Tak terkecuali Ketua MPR Amien Rais, saking kesalnya kepada korps
pem-bisik ini, menyebut mereka orang-orang tak lulus SD.
Sikap miring Gus Dur terhadap Aksi Sejuta Umat pun masih berbuntut hingga kini. Salah
seorang pembicara pada acara itu diperiksa aparat kepolisian. Dia me-nyatakan untuk
membentuk satu negara lain. Berarti dia tidak lagi sesuai dengan ide-ologi negara kita,
kata Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajoesman kepada wartawan.
Ketika ditanya para wartawan, apakah pi-hak aparat akan membatasi kegiatan se-jenis di
masa-masa mendatang menyusul kerusuhan bermuatan agama di Mataram dan Makasar? Saya
belum tahu. tapi kita akan lihat situasi, kata Noegroho.
Akankah ini pertanda akan ada arus balik terhadap gerakan jihad masyarakat yang ingin
membela kaum muslimin ter-tindas? Semoga pemerintah dan aparat bi-sa membedakan, mana yang
bertujuan baik dan mana yang justru akan memecahbelah dan menyengsarakan rakyat.
suhud alynudin