![]() |
||
|
Pers Tak Obyektif Hambat Penyelesaian Konflik Ambon
Senin, 15 Mei 2000, @10:12 WIB
Hannover -- "Pemberitaan pers yang tidak obyektif dan berimbang adalah faktor penting yang turut menghambat proses penyelesaian konflik Ambon," tegas Direktur PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia), Heru Susetyo, S.H dalam ceramahnya di Hannover tentang 'Kejahatan Kemanusiaan di Maluku'.
Itulah sebabnya upaya menyeimbangkan informasi secara obyektif menjadi tujuan kunjungannya dengan dr. Yose Rizal dari MER-C ke Eropa, tidak kalah penting perjalanan itu untuk menjalin kerjasama dengan masyarakat internasional baik individual maupun institusional.
Dalam pertemuan informasi yang dihadiri oleh mahasiswa Universitas Hannover, aktivis PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan perwakilan dari Yayasan Islam maupun Protestan serta dari Dritte Welt Forum in Hannover, satu organisasi pemerhati masalah-masalah dunia ketiga, Heru juga menjelaskan bahwa konflik Maluku adalah konflik horisantal antar penduduk yang berdimensi luas, sehingga peyelesaiannya pun memerlukan kerjasama berbagai pihak secara jujur dan serius.
Upaya pemerintah saat ini yang diwakili oleh Wapres Megawati untuk mengadakan rekonsiliasi terhadap pihak-pihak yang bertikai adalah usaha yang tepat, karena kebencian kedua belah pihak sama-sama sudah memuncak. Semestinya upaya ini baru dilakukan setelah diadakan usaha penegakan hukum dengan mengusut, menangkap, dan mengadili secara hukum pihak yang bersalah dalam konflik ini.
Selebihnya dia menjelaskan bahwa permasalahan Ambon yang kompleks ini hanya bisa diwujudkan ketika 3 komponen penentu yaitu; pemerintah dan militer, masyarakat lokal Maluku, serta masyarakat nasional dan internasional mau bersungguh-sungguh untuk bekerjasama mengatasinya.
Pemerintah dan militer berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan hukum, masyarakat lokal jujur dalam melakukan rekonsiliasi, serta masyarakat nasional maupun internasional melakukan tekanan dari dalam maupun dari luar agar konflik ini mendapat perhatian yang serius. Seperti halnya dalam penanganan masalah Timtim. *** (ais/sam )