![]() |
||
|
Apakah Gus Dur Pemicu Laskar Jihad? (1) Jakarta - 14 Apr 00 13:00 WIB (Astaga.com)Hanya satu kata, "Jihad!" Mungkin begitu ungkapan yang
pas untuk gerakan Laskar Jihad yang belakangan marak
kembali. Apa sebenarnya pemicunya? Benarkah karena Gus
Dur menyudutkan umat Islam? Ataukah justru sebaliknya,
ada ancaman buat Gus Dur dengan munculnya konflik
horizontal menjelang SU MPR?
Berjubah putih dan berdestar putih. Berjajar rapi
menyusun barisan. Tangan kanan memegang gagang pedang
dan kepalan tangan kiri teracung. " Allaaahuakbar?.
Allaaaahuakbar " Pemandangan ini bukan di Aceh, saat
Tengku Bantaqiyah (alm) menggelar apel. Bukan pula
tentara taliban bersiap perang di Afghanistan tetapi
di Stadion Senayan, Kamis, pekan lalu
Hari Kamis (6/4) itu memang ada tabligh Akbar yang
dihadiri belasan ribu laskar jihad dan massa Ahlus
Sunnah Wal Jama'ah. Hadir juga sebagai pembicara,
Panglima Perang Tidore, Ustadz H Abu Bakar Al Banjari,
Panglima Perang Ambon Ustadz Ali Fauzi, Pimpinan
Laskar Jihad Solo Ayib Syarifuddin Rahmat dan mantan
Danrem Pattimura, Brigjen (purn) Rustam Kastor.
Malah, Panglima Laskar Jihad, Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Al Ustad Jafar Umar Thalib punya hajatan khusus di
hari tahun baru Islam itu. Yaitu, memproklamirkan
tahun 1421 Hijriah sebagai tahun jihad. " Penetapan
tahun jihad ini sebagai solidaritas kita terhadap
tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum muslim di
Maluku," kata Jafar.
Jafar punya alasan. Kasus Maluku belum selesai dan
pemerintahan Gus Dur belum menunjukkan ketegasan dalam
menyelesaikan masalah tersebut. Mereka memandang perlu
untuk memberi bantuan langsung kepada umat Islam yang
teraniaya di Maluku. Jafar terang-terangan menuding
Gus Dur tidak berpihak lagi kepada muslim dan
melindungi Pangdam Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela
yang dituding Laskar sebagai penjahat perang karena
bersama Bernard Bicara, terlibat dalam pertikaian di
Galela dan Tobelo.
Perkara tuntutan mengganti Pangdam XVI Pattimura,
Brigjen Max Tamaela pernah diserukan oleh Ulama Islam
Habib Hussein Al Habsyi, awal januari lalu. Malah
dalam gelar tabligh akbar 'sejuta umat' jihad Ambon
yang digelar di Monas (7/1) lalu Al - Habsyi
mengultimatum pemerintah khususnya TNI segera
mengganti Max Tamaela. Bila tidak, 10.000 laskar jihad
akan dikirim ke Ambon. Al - Habsyi pun berikrar, "
Saya sebagai pemimpin Ikhwanul Muslimin Indonesia,
membuka pendaftaran bagi mereka yang tergerak untuk
berjihad ke Ambon di Pesona Depok Blok I C-12."
Gus Dur bergeming. "Saya tidak peduli, mau jihad, mau
jahid atau apa saja pokoknya asal mengancam
keselamatan negara, kita ambil tindakan," katanya.
Pernyataan Gus Dur itu mengundang reaksi balik.
Beberapa hari kemudian, terjadi demo penolakan.
Lagi-lagi, Gus Dur tak peduli. Ia masih saja
berceloteh Misalnya saja Selasa (14/3) dalam dialog
interaktif di TVRI, Gus Dur bilang, " Saya sudah
meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi
terhadap orang yang dikatakan sebagai komunis." Ucapan
Gus Dur tersebut dikomentari oleh pamannya, KH Jusuf
Hasyim karena tak ada satu lembagapun yang berhak
mewakili untuk meminta maaf kepada orang-orang PKI.
Puncak kekesalannya adalah ketika Gus Dur (25/3) saat
acara di Universitas Islam Malang, menegaskan Tap
25/MPRS/66 soal pelarangan ajaran komunis di Indonesia
sebaiknya dihapus atau dicabut. Ditambah dengan
pernyataannya saat membuka seminar " Mencari bentuk
Ideal Negara Indonesia Masa Depan" di Istana Negara,
Presiden menyatakan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir
pemerintah lalu memberikan perlakuan istimewa sebagai
anak emas bagi masyarakat Islam di Maluku. Terang
saja, pernyataan ini dianggap oleh laskar sebagai
penyedehanaan terhadap masalah penyebab konflik di
Maluku. Bahkan, laskar menuding Gus Dur masih
melindungi Max Tamaela yang dituding pihak laskar
sebagai pihak yang bertanggungjawab sehingga tidak
terdepak dari kursinya sebagai Pangdam Pattimura.
(widiarsi agustina/budiono)
Bersambung
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-21/04/00)
Source : Astaga.com