b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Laskar Jihad, Kekeruhan Politik, dan Nasib Gus Dur

 

http://www.forum.co.id/

Kendati bersedia menyerahkan senjata, Laskar Jihad tetap akan pergi ke

Maluku dengan target menangkap Benny Doro. Dari mana dana mereka?

Benarkah ada yang memanfaatkannya?

 

Mengancam dan diancam bisa terjadi pada siapa saja. Itu pula yang

dialami Laskar Jihad Ahlussunnah Wal Jamaah. Dua pekan lalu, dengan

pedang di tangan, mereka unjuk kekuatan di Stadion Utama Senayan,

Jakarta, dalam acara Tablig Akbar. Setelah itu, mereka datang ke Istana

Negara dan mencerca kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka juga

mengancam, jika keinginan jihad ke Maluku dihalangi, aksi itu akan

dilakukan di Pulau Jawa.

Namun, pekan lalu, giliran mereka yang diancam. Itu terjadi saat mereka

menggelar Latihan Gabungan Nasional di Kampung Munjul, Kelurahan Kayu

Manis, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor. Latihan yang diselenggarakan sejak

7 April itu seharusnya baru selesai 16 April lalu. Tapi, Kamis, 13 April

silam, kepolisian mengancam mereka agar segera angkat kaki dari tempat

latihan. Kapolwil Bogor, Kolonel Edi Darnadi, mengaku mendapat surat

dari warga yang merasa terganggu kehadiran Laskar Jihad. "Pokoknya,

sekarang juga mereka harus meninggalkan tempat itu," ujarnya.

Sebelumnya, Kapolri Letjen Rusdihardjo memang telah memerintahkan

Kapolwil Bogor untuk melakukan pendekatan persuasif terhadap Laskar

Jihad. Lantas, Kolonel Edi pun datang ke kamp latihan mereka dan bertemu

dengan Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja’far Umar Thalib. Saat itu,

menurut Ustad Ja’far, Kapolwil memohon agar mereka tidak membawa-bawa

senjata. Sebab, hal itu bisa mencemaskan penduduk sekitarnya, terutama

warga agama lain. Tapi, Ja’far menolak imbauan itu. "Kami tak akan

berbuat apa-apa terhadap Nashara [Nasrani] di sini [di Bogor]. Ancaman

kami bagi saudara-saudara mereka di Ambon yang membantai umat Islam,"

ujarnya lagi.

Kendati begitu, upaya pelucutan terus ditingkatkan. Akhirnya, pada Kamis

itu, Kapolwil mengultimatum. "Saya telah menyiapkan dua Satuan Setingkat

Kompi (SSK) untuk melakukan sweeping di tempat latihan mereka," ujar

Edi. Negosiasi pun dilakukan lagi. Sore hari, Ustad Ja'far dijemput

sebuah mobil Kijang dan dibawa ke Kapolwil. Di sana, Ja'far dan Edi

mengadakan pertemuan.

Perundingan yang dimulai pada pukul 17.50 WIB itu berjalan cukup alot.

Bahkan, sempat terdengar teriakan dari ruangan pertemuan. Tak lama

kemudian, seorang staf berlari mengambil betadine. Menurut seorang

perwira, Kapolwil sempat menggebrak meja, entah karena apa. Tiga jam

kemudian, barulah pertemuan itu selesai.

Hasilnya, Laskar Jihad mengalah. "Karena imbauan Kapolri dan kami bukan

gerombolan preman dan kami menjunjung tinggi hukum, secara sukarela kami

menyerahkan senjata tajam kepada Kapolwil Bogor," ujar Ja'far.

Sementara itu, situasi di markas Laskar Jihad pada Kamis malam itu cukup

mencekam. Apalagi beredar isu bahwa aparat akan menggerebek. Selain

menyiapkan pasukan, Polwil juga melengkapinya dengan empat kendaraan

taktis dengan water cannon. Di sekitar Kemang, Bogor, telah disebar

aparat kepolisian di berbagai tempat. Terlebih setelah rencana peletakan

senjata diumumkan. Di mulut-mulut jalan ditempatkan satu grup polisi,

lima-sepuluh orang, yang merazia setiap kendaraan dan orang lewat. Di

dekat Kayumanis, Lasem, disita satu peti senjata tajam dari sebuah

kendaraan. Tak diketahui pasti asal senjata tajam itu. Daerah sekitar

lokasi latihan praktis diblokir aparat.

Sebenarnya, jadwal perlucutan senjata tak terlalu jelas. Menurut Kolonel

Edi, pengumpulan senjata dan sweeping akan dilakukan malam itu juga.

Tapi, ternyata, pada malam itu para anggota Laskar Jihad masih melakukan

kegiatan rutin. Dan, hingga dini hari tak ada kejadian apa pun.

Namun, pada pukul 04.30, sebuah pickup putih meninggalkan Kayumanis

dengan kecepatan tinggi. Diduga, kendaraan itulah yang mengangkut

senjata para Laskar Jihad. Soalnya, paginya, terdengar kabar bahwa

Laskar Jihad telah menyerahkan senjata. Sebanyak 487 buah senjata

diserahkan Hendro, Komandan Pasukan Khusus Laskar Jihad. Kemungkinan,

hanya sebagian senjata yang diserahkan. Soalnya, anggota laskar yang

berlatih mencapai 1.000 orang dan semua bersenjata.

Kekecewaan tampak jelas di wajah para anggota Laskar karena senjata

kebanggaan mereka dirampas. Kendati begitu, menurut Ja’far, perlucutan

senjata itu tak mempengaruhi semangat mereka untuk tetap berangkat jihad

ke Maluku. "Kami akan tetap mengirimnya. Insya Allah, akhir April ini

kami akan mengirimkan mujahidin lagi ke Maluku," ujarnya. Boleh jadi,

Ja'far serius. Sebab, disebut-sebut, selama ini pun sebagian anggota

Laskar Jihad telah dikirim secara diam-diam ke sana.

Yang jelas, menurut Ja’far, setelah dibubarkan Ahad lalu, mereka akan

kembali ke rumah masing-masing. Setelah itu, tanggal 29 April mereka

akan berkumpul lagi di Yogyakarta dalam sebuah Tablig Akbar. Nah, dari

situlah mereka kemudian berkonvoi menuju Surabaya. Di "Kota Buaya"

itulah, 300 perahu pinisi telah menunggu untuk mengantarkan mereka

menuju titik-titik sasaran di Maluku.

Rencana itu memang kontroversial. Soalnya, selama ini pemerintah dan

aparat keamanan selalu mengatakan bahwa kondisi Maluku sudah aman

meskipun belum 100 persen. Menteri Tolchah Hasan pun berpendapat begitu.

"Keadaan Ambon dan Maluku Tenggara bagus sekali. Hubungan antargolongan

sudah berjalan," ujarnya.

Boleh jadi, kondisi Maluku memang berangsur-angsur membaik. Karena itu,

menurut sosiolog dari UGM Lambang Triyono, pengiriman pasukan itu

bukanlah langkah yang tepat. "Itu hanya akan menyebabkan perang yang

berlarut karena pihak Kristen juga akan melakukan hal serupa," ujarnya

kepada M. Faried Cahyono dari FORUM. Demikian pula pendapat Ketua Krisis

Centre PGI, Dicky Mailoa. "Sukar dibayangkan bahwa semakin banyak laskar

jihad datang ke Maluku, konflik akan berhenti," katanya.

Bahkan, sosiolog UI Thamrin Amal Tomagola pun menganjurkan agar mereka

mengurungkan niatnya. Sebab, menurut putra Galela itu, Maluku Utara pun

relatif aman, tinggal beberapa letupan saja di sekitar Masohi dan Pulau

Buru. Sementara, di Halmahera Utara, meskipun masih berkobar perang,

kendali ada di tangan kelompok Islam. Jadi, kata Thamrin, "Pengiriman

pasukan jihad itu tidak perlu lagi."

Diakui oleh Muslim Arbi, kini kelompok muslim telah menguasai 80 persen

Maluku Utara. Tapi, kata tokoh muslim Maluku Utara itu, pengiriman

pasukan tersebut wajib hukumnya. "Demi membela saudara-saudara mereka

yang terbantai secara zalim di sana," ujarnya memberi alasan.

Memang, menurut seorang mujahidin yang baru pulang dari Maluku Selatan,

kondisi Ambon relatif aman. Tapi, hal itu terjadi lantaran pengerahan

3.000 pasukan TNI. Dan, sebenarnya, kelompok muslim di Ambon dalam

kondisi terjepit karena banyak pengungsi Kristen dari Maluku Utara.

Sementara, di Pulau Buru Selatan dan beberapa pulau kecil kondisinya

masih cukup gawat. "Situasi di sana sewaktu-waktu masih bisa meledak,"

ujarnya.

Mungkin, itulah alasan Laskar Jihad berkeras tetap berangkat ke Maluku.

Apalagi, beberapa tokoh yang menurut mereka menjadi pemicu konflik,

terutama di Maluku Utara, belum tertangkap. "Yang pertama kami kejar

adalah Benny Doro [Panglima Perang Kelompok Kristen]," ujar Ja'far. Jika

Pangdam XVII/Pattimura Brigjen Max Tamaela melindunginya, ujar Ja'far,

pihaknya tidak peduli.

Tapi, di tengah gegap gempita semangat Laskar Jihad itu, isu miring pun

mulai beredar. Disebut-sebut, ada pihak yang mendanai aksi mereka.

Malah, menurut seorang perwira menengah di Dispen Polda Metro Jaya,

Laskar Jihad mendapat kucuran dana dari Cendana. "Mereka yang dulu biasa

disebut Muslim Pancasila," ujarnya. Beberapa pengusaha dan mantan

Menteri Keuangan Fuad Bawazier disebut-sebut sebagai penyalur dana itu.

Tapi, Fuad membantah berita itu. "Enggak benar itu," ujarnya.

Bantahan tersebut juga datang dari Ustad Ja’far. Menurut Ja’far,

pengusaha yang memberikan sumbangan adalah kalangan Forum Komunikasi

Ahlussunnah Wal Jamaah (FKAWJ) sendiri. Dan, mereka juga ikut berlatih

di Bogor. Jadi, menurut Ja'far, "Dana Laskar Jihad diperoleh dari

berbagai sumbangan donatur, baik dari dalam maupun luar negeri, yang tak

ada kaitannya sama sekali dengan elite politik dalam negeri." Hasilnya,

mereka mampu menggalang dana miliaran rupiah. "Sampai saat ini, sekitar

Rp 700 juta sudah terpakai," katanya lagi.

Laskar jihad pun dituding bermain untuk kepentingan kelompok tertentu

yang mencoba menggoyang kekuasaan Gus Dur. "Ada usaha menjatuhkan

pemerintahan, sehubungan dengan masalah Sidang Umum. Ada pula

usaha-usaha mengadakan kerusuhan," kata Gus Dur di Havana, Kuba. Karena

itu, ia memerintahkan Kapolri mengawasi perkembangan mereka. "Sebelum

berangkat, saya sudah bilang kepada Kapolri. Mereka yang pakai sorban,

jubah, anak-anak jihad itu, supaya dimonitor," kata Gus Dur.

Bisa saja, langkah mereka bermuatan agenda politik. Sebab, selama ini

kelompok-kelompok Islam memang agak gusar terhadap Gus Dur yang lambat

menyelesaikan masalah Ambon. Mereka menilai Gus Dur terlalu lentur dan

terkesan selalu memojokkan Islam. Tapi, "Saya pikir, itu sebuah ekspresi

ketidakpuasan terhadap lemahnya supremasi hukum. Terutama, berkaitan

dengan kasus Maluku," kata Ahmad Sumargono, Ketua Harian Komite

Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI).

Demikian pula pengakuan Ma’ruf, pengurus FKAWJ yang sejak beberapa tahun

terakhir gigih merekrut anggota Laskar Jihad. Menurut Ja’far, tak

tebersit sedikit pun niat untuk mengambil keuntungan secara politis.

"Kalaupun ada kelompok tertentu yang beroleh untung dari ikhtiar kami,

ya, itu rezeki mereka," ujarnya.

Yang jelas, kini kondisi Gus Dur dalam keadaan yang sulit. Banyak agenda

baru Gus Dur yang justru membuatnya terpojok. Misalnya, soal ide

pencabutan Tap MPRS No. XXV tahun 1966 tentang pelarangan PKI. Masalah

seperti itu, ditambah perbaikan ekonomi yang belum membuahkan hasil,

akan menjadi batu sandungan bagi mantan Ketua Umum PBNU itu.

Mungkin saja, dalam Sidang Umum MPR Agustus mendatang, akan muncul upaya

mengganti Gus Dur. Apalagi, Ketua DPR Akbar Tandjung pun telah melihat

gejala itu. "Secara eksplisit, beberapa delegasi yang datang ke sini

meminta agar Gus Dur diganti," kata Akbar.

Jadi, kali ini tampaknya Gus Dur tak bisa menganggap enteng dan terus

bersikap tak mau repot.

 

Hanibal W.Y. Wijayanta dan A. Usmar Almarwan

Hosted by www.Geocities.ws

1