![]() |
||
|
Kapolri: "Nanti Kita Dianggap Pro-Putih"
Senin, 22 Mei 2000, @11:18 WIB
Jakarta--Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Letjen Pol Rusdihardjo menolak anggapan bahwa pasukan Brimob yang ditugaskan di Maluku berpihak kepada kelompok "merah". Menurut Kapolri, aparat kepolisian yang dikrim ke wilayah itu bertugas untuk "mencegah adanya genocide, pemusnahan manusia oleh manusia lainnya."
Rusdihardjo mengatakan ini ketika memberi pembekalan terhadap satuan elite Polri, Brigade Mobil (Brimob), yang akan berangkat ke Maluku menggantikan pasukan lainnya yang akan ditarik dari daerah yang tetap panas oleh konflik itu.
Kapolri mengakui adanya pelatihan-pelatihan pasukan di daerah Filipina selatan untuk dikirim ke Maluku. Ia juga mengakui adanya bantuan kiriman senjata dari wilayah negara tetangga itu, maskipun tak yakin hal itu dilakukan oleh gerilyawan Muslim Moro. "Memang ada oknum-oknum di Filipina Selatan yang mengirim senjata," kata jendral polisi berbintang tiga.
"Kalau dari kelompok putih (Islam -Red) ada satuan-satuan perkuatan dari negara lain, maka nanti kelompok Kristen pun bisa mendapatkannya," kata Rusdihardjo sembari mengingatkan agar aparat meningkatkan kewaspadaan di garis-garis pantai.
Aparat Brimob di Maluku sempat dianggap berpihak kepada kelompok merah. Ketika BerPolitik.com mengkonfirmasikan hal ini kepada Kapolri, jawabnya, "Itu kan anggapan yang keliru saja, kita selalu mencegah satu kelompok menyerang kelompok lain. Kalau kebetulan yang dilindungi kelompok putih, nanti kita dianggap pro-putih, kan gitu."
Beberapa wartawan mempertanyakan keberadaan Laskar Jihad di kepulauan rempah-rempah itu. Mengapa mereka diloloskan masuk ke sana. "Lo, bukan diloloskan. Itu kan hak asasi manusia. International Declaration of Independent di San Fransisco menyatakan bahwa setiap orang berhak bepergian ke mana pun. Kecuali, kalau ia melakukan pelanggaran, membawa senjata. Tindakan kita tidak terpayungi hukum. Apa hak kita melarang mereka?"
Namun, Kapolri pun mengimbau sebaiknya DPRD setempat membuat ketentuan yang menyatakan daerah Maluku tertutup bagi orang luar, untuk memudahkan tugas-tugas kepolisian.
Polri mengirimkan delapan SSK (satuan setingkat kompi) Brimob ke wilayah Maluku (sekitar 800 personel). Menurut pihak Polri itu merupakan rotasi rutin setiap tiga bulan atau tergantung kondisi lokal.
Di antara pesan-pesannya kepada anggota Brimob di Wisma Bhayangkari itu, Kapolri antara lain mengatakan, "Tingkatkan keimana kepada Allah subhana wataala agar senantiasa mendapat petunjuk dan perlindungan; jalin kerja sama dengan masyarakat dengan pendekatan budaya; bertindaklah sebagai penegak hukum yang adil dan tidak berpihak."
Konflik berlarut di Maluku sejauh ini menurut data Polri menelan korban jiwa 2088 masyarakat sipil dan 28 aparat TNI-kepolisian.***(apt)