![]() |
||
|
Republika On Line 26 Februari
2000
Bentrok Marotai Berlanjut, Sedikitnya Dua Orang Tewas
Pertikaian di Pulau Marotai itu, menurut Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela, muncul karena masih ada kegiatan penyerangan oleh kelompok massa tertentu ke kelompok lainnya.
Ia juga menyebutkan, pertikaian di Maluku Utara belakangan ini lebih banyak dipengaruhi adanya selebaran gelap yang memprovokasi masyarakat. ''Para tokoh masyarakat dan pimpinan agama telah diimbau agar membimbing masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif,'' tutur Pangdam.
Mengenai situasi di Maluku, Tamaela menjelaskan terjadi gejolak secara sporadis di beberapa tempat, di antaranya pada Kamis (24/2) di Kecamatan Buru bagian Selatan, terjadi ketegangan antara warga Desa Wakal dan Hitu, serta ada ketegangan di Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah.
Insiden antara warga Desa Wakal dan Hitu yang diperkirakan merupakan aksi balas dendam itu, mengakibatkan seorang meninggal dan satu mobil dibakar. Di sekitar kota Leksula, Kecamatan Buru Selatan, terjadi saling serang, seorang luka terkena panah.
Begitu pun di Masohi, masih ada upaya menciptakan kerusuhan dengan berusaha membakar sejumlah unit gedung. ''Namun, ketegangan pada ketiga kawasan itu telah berhasil dikendalikan aparat keamanan sehingga berbagai aktivitas telah berjalan kembali, kendati belum lancar,'' tandas Pangdam.
Sehari sebelumnya, dilaporkan anggota DPRD II Maluku Utara dari Fraksi PDI-P May Luhulima diskors oleh fraksinya karena diduga mendalangi kerusuhan di Tobelo, Pulau Halmahera (Maluku Utara). Beberapa korban kerusuhan mengaku melihat May terjun langsung di tengah kerusuhan massa yang menewaskan ribuan warga Muslim sekitar akhir Desember 1999 lalu.
Sementara itu, Tim KPP HAM yang berjumlah tiga orang dan diketuai Bambang W Soeharto, kemarin berangkat ke Pulau Morotai. Di tempat itu, sehari sebelumnya, dua orang tewas, delapan luka ringan dan berat dalam betrok fisik di daerah yang dikunjungi KPP HAM itu.
Tim yang menggunakan pesawat helikopter jenis B-412 milik TNI-AD itu akan melakukan penyelidikan di beberapa daerah konflik di Pulau Halmahera, Morotai, dan pulau Bacan (Maluku Utara).
Menurut Camat Morotai Selatan Salim Ali BA, bentrok delapan jam yang menghanguskan 210 rumah dan satu rumah ibadah di desa Sabatai Tua Kecamatan Morotai Selatan itu, sudah terkendali setelah diterjunkan Satgas unit batalyon Yonif 511 ke lokasi pertikaian.
Perikaian delapan jam di Morotai Selatan -- terutama di desa Gotalamo, Daruba, dan Darume -- merupakan lanjutan peristiwa Ahad (20/2) di Daruba Ibu Kota Morotai Selatan. Ketika itu yang mengakibatkan satu luka ringan dan 125 buah rumah rusak dan terbakar.
''Meskipun, aparat telah menghalau sekitar 3.000 massa dari desa Gotalamo, Daruba, dan Darume yang melakukan penyerangan terhadap warga di desa sabatai Tua itu telah terkendali, namun suasana masih terlihat mencekam,'' ujar Salim.
Kedua kelompok yang bentrok itu diminta untuk tidak saling�20menyerang, karena aparat keamanan telah membuat garis embarkasi di lokasi desa-desa yang konflik itu. ''Akibat bentrok antarkelompok di wilayah bekas pangkalan angkutan udara tentara Sekutu Amerika pada perang dunia kedua itu, aktivitas pemerintahan dan perekonomian mengalami kemacetan,'' katanya.
Camat setempat, menyesalkan terjadinya bentrok fisik antarkelompok di wilayahnya itu, karena kedua pihak bertikai telah dipertemukan Muspika pada Selasa (22/2) dan mereka telah berjanji tidak akan pertikaian lagi. Kelompok yang bertikai tersebut hingga berita ini dilaporkan masih bertahan di desa masing-masing.
Tim KPP HAM Maluku dan Maluku Utara, setelah melihat kondisi pengungsi di Daruba dan beberapa desa yang bertikai, melanjutkan perjalanan ke Tobelo dan Galela. n ant