![]() |
||
|
Panglima Jaffar Umar Thalib yang Berwajah Lembut Bogor - 13 Apr 00 11:45 WIB (Astaga.com)Mukanya lembut, sorot matanya teduh namun tajam. Tutur katanya halus, sama
sekali tidak menampakkan kesan dirinya seorang panglima perang. Ciri
utamanya adalah jubah putih dan sorban yang selalu dikenakannya setiap
hari. Dengan pakiaan seperti itu, laki-laki bertinggi badan sedang yang
memelihara bulu janggut panjang ini lebih menampakan dirinya sebagai sosok
juru dakwah.
Jaffar Umar Thalib lahir di Malang, 29 Desember 1961. Sejak kecil,
cita-citanya ingin menjadi guru agama. Maka, setelah menamatkan pendidikan
menengah pertamanya, ia mendaftar di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGAN)
Malang. Setelah lulus dari PGAN tahun 1983, ia melanjutkan pendidikannya
ke Pondok Pesantren Bangil Surabaya. Dua tahun ia disana, kemudian
merantau ke Jakarta. Di Jakarta, bapak perputra 8 orang ini , belajar
bahasa Arab di Lembaga Bahasa Arab Saudi Arabia.
Setelah menempuh pendidikan bahasa arab, tahun 1986 dimulai lah
petualangannya di berbagai medan Jihad di luar negeri. Selama 2 tahun, ia
berkeliling dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya. Jihadnya yang
pertama ia dilakoni di Lahore, daerah yang penuh gejolak di Pakistan.
Wilayah bergejolak lain di Pakistan yang dikunjunginya adalah daerah
Kunar.
Ketika perang Afghanistan melawan tentara Uni Soviet meletus, Jaffar ikut
bertempur bersama kaum mujahidin di sana. "Saya pernah di bawah pasukannya
Hekmatyar," kenangnya. Seterusnya, ia bergabung dengan pasukan dibawah
komando Robbani. Saya berkeliling, dari pertempuran satu ke pertempuran
lainnya,"cerita Jaffar. "Taliban waktu itu belum terbentuk,"ujarnya.
Setelah kembali dari Afghanistan, tahun 1989 Jaffar mulai melakukan dakwah
di tanah air. Ia bergerak di bidang pendidikan dengan menjabat sebagai
direktur Pondok Pesantren Al Irsyad - Salatiga. Di sini, ia cuma betah
selama 1,5 tahun. "Saya merasa jenuh dengan suasana di Indonesia,"
ucapnya.
Karena itu Jaffar kembali berangkat ke luar negeri. "Saya ingin
menyegarkan semangat kembali." Kali ini ia pergi ke Yaman. Di sana dirinya
menemui ahli hadits Syech Mughbin , berguru hadist selama 3 bulan. "Saya
berhasil menyelesaikan dua kitab," katanya. Dari Yaman Jaffar menuju ke
Pakistan, kembali ke medan jihad di wilayah Kunar selama 4 bulan.
Pulang dari Afghanistan, Jaffar bersiap mendirikan pondok pesantren di
Yogyakarta. Pondok pesantren itu ia beri nama Pondok Pesantren Ikhyaull
Sunat yang terletak di jalan Kaliurang.
Ketika reformasi bergulir di negeri ini, ia mendirikan Forum Komunikasi
Ahhlussunah wal jamaah pada suatu apel Akbar di Solo tahun 1998. Diikuti
kemudian pendirian Laskar Jihad Ahhlusunnah wal jamaah.
Jaffar merasa bersyukur karena beberapa kali dirinya bisa mengunjungi
wilayah Islam di luar negeri. "Saya mendapatkan pengalaman-pengalaman
baru, wawasan-wawasan baru". Rencananya, selesai latihan gabungan di Bogor
tanggal 16 April ini, ia kembali akan berkeliling ke negara-negara Arab
selama 10 hari. "Saya akan menemui para ulama, minta restu." Setelah itu
ia harus segera pulang ke tanah air untuk memberangkatkan pasukannya ke
Maluku. (budiyono)
http://www.astaga.com/Article/0,4536,9088,00.html