![]() |
||
|
POS KOTA Edisi 3 Maret
2000
Mengarungi lautan lepas dengan speedboat (4)
DOKTER Wahyu
Widodo, barangkali satu-satunya dokter yang memiliki pengalaman navigasi cukup mendebarkan
selama bergabung dengan tim dokter MER-C di Galela, Maluku. Ia harus mengarungi lautan
lepas dengan hanya menggunakan speedboat kecil bermesin tiga. Mesin kapal itu sendiri
sudah berusia tua sehingga acapkali mati di tengah perjalanan.
Perjalanan yang dilakukan tengah malam itu harus memikul
tanggungjawab sedikitnya 15 nyawa warga Galela yang berniat mengungsi ke Ternate. Selain
itu, ia juga harus berjuang memperoleh bantuan logistik bagi ribuan pengungsi, obat-obatan
dan satu unit kapal untuk mengevakuasi tim medis yang habis masa tugasnya.
Bagi dokter yang kelahiran Kota Kutoarjo, Jawa Tengah ini,
berlayar dengan mengemban misi penyelamatan itu tidak pernah diduga sebelumnya. Ia hanya
mempersiapkan dirinya sebagai tenaga medis yang tugasnya menangani pengobatan korban
peperangan.
Misi navigasi yang memakan waktu hampir 14 jam non stop itu,
bukan berarti mulus-mulus saja sepanjang menempuh perjalanan. Pasukan merah dalam jumlah
yang banyak nyaris membuntutinya sepanjang perjalanan. Mereka berkali-kali mengarahkan
anak panah dan siap melempar bom rakit ke kapal yang membawanya.
"Itu bukan cerita baru, banyak kapal pengungsi yang harus
tenggelam setelah diserang lawan," jelas Wahyu.
Kegiatan belajar mandek total
Perjuangan Wahyu tak sebatas menghadapi keganasan pasukan
lawan, tetapi juga keganasan alam berupa ombak besar. Ombak setinggi gunung hingga
menghilangkan garis horisontal lautan itu, secara logika bakal menelan kapal berukuran
kecil dengan penumpang yang serat.
Berhasilnya kapal tim Wahyu meninggalkan Kota Galela, diakui
Wahyu merupakan prestasi gemilang, mengingat sebelumnya usaha tersebut selalu berhasil
digagalkan lawan. " Rencana selalu bocor, dan mereka melakukan penyerangan."
Di tempat itu, sejumlah wartawan di katakan telah menunggunya.
Namun demi keselamatan dirinya dan tim medis yang masih berada di Galela, ia terpaksa
menyamarkan diri, dengan berpura-pura menjadi pengungsi.
Meski ia membawa misi kemanusiaan, bukan berarti perjuangan
memperoleh kapal guna mengevakuasi rekan sejawatan berjalan lancar. "Saya dipingpong
kesana kemari, semua seperti cuci tangan dan merasa tak berwenang mengirimkan kapal,"
keluh Wahyu.
Kini ia telah kembali ke Jakarta. Namun kepada warga, Wahyu juga
memberikan janji untuk bisa kembali ke Galela. Di tanah yang membentang sepanjang pantai
itu, banyak penyiksaan berbagai penderitaan perang. Traumatik, ketakutan, kegelisahan,
kelaparan dan kesakitan.
Sebelum meninggalkan Galela, 23 siswa SMP/SMU telah mendapat
pelatihan menjadi juru rawat amatiran. Mereka dilatih menangani luka akibat panah, bacokan
senjata dan terkena bom rakitan. (Bersambung).