![]() |
||
|
Laskar Jihad Ahlu Sunnah Wal Jama'ah:
Keinginan Mereka Mati Syahid
Republika, 10 April 2000Nama Laskar Jihad Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dengan cepat
menyita perhatian masyarakat. Berpakaian gamis dilengkapi
pedang dan samurai, anggota laskar ini berbaris rapi di depan
Istana Merdeka, Kamis pekan lalu. Mereka menuntut Presiden
Abdurrahman Wahid segera menuntaskan konflik Maluku.
Enam wakil mereka sempat diterima Gus Dur. Namun,
pertemuan yang diharapkan membuahkan hasil konkret bagi
penyelesaian konflik SARA di Maluku itu, berakhir dengan
pengusiran. ''Presiden mendengar aspirasi saja tidak. Kami
malah diusir,'' ujar Aly Fauzy, tokoh ulama Maluku.Esoknya, media cetak memberitakan unjuk rasa itu di halaman
depan lengkap dengan foto anggota Laskar Jihad (LJ), yang
berbaris rapi dan berselempang pedang. Sebagian lain,
memperlihatkan anggota laskar mengacungkan pedang. Mereka
siap berjihad untuk saudara-saudaranya di Maluku. Konflik
yang berlangsung dua tahun itu telah menewaskan ratusan umat
Islam, wanita dan juga anak-anak. Inilah yang mendorong
mereka untuk berjuang ke Maluku.Hizaz, salah seorang anggota LJ, sadar benar atas panggilan
jihad itu. Lelaki 25 tahun berperawakan tegap dan berambut
pendek ini rela meninggalkan istrinya, Nurkhadijah, dan
anaknya, Umar Al Ashari -- yang baru berusia satu bulan -- di
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bagi Hizaz, yang sempat
pendidikan tinggi di Bandung, jihad ke Maluku adalah panggilan
ikhlas semata demi Allah SWT dan Sunah Rasul untuk membela
kaum Muslim yang teraniaya. ''Istri dan keluarga saya
mendukung jihad ke Ambon,'' ujar Hizaz. ''Kalau saya masih
hidup, tentu kembali pulang dan menemui anak istri serta
keluarga saya di Banjarmasin. '' Sebelum menjadi anggota LJ,
Hizaz adalah teknisi komputer. Dari pekerjaan ini, dia
mengumpulkan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan selama
setahun. Merasa bekal itu sudah cukup, penduduk Jalan Gunung
Sari No 4 RT 19, Kecamatan Banjar Barat, Kodya
Banjarmasin, ini pergi ke Bogor, bergabung dengan anggota LJ
lainnya latihan perang di bawah pimpinan Panglima Perang, Jafar
Umar Thalib. Alasan Hizaz meninggalkan keluarga dan
pekerjaannya, hanya satu: ''Saya ingin mati syahid.''Selain Hizaz, ada sembilan rekannya asal Banjarmasin ikut
dalam LJ. Mereka Abullah Yusron, Adi Nugroho, Abu Abdul
Madjid, Alwi, Abdul Ghofar, Abu Sufyan, Hamdan, serta kakak
beradik Arif Rusdiani dan Andi. Di antara mereka ada yang
bekerja sebagai pedagang, wiraswasta, bahkan guru sekolah
negeri tingkat lanjutan pertama.Seperti Hizaz, pemuda-pemuda berusia antara 23-35 tahun itu
juga ingin mati syahid. Dengan berbekal dana infak dan sedekah
sebesar Rp 30 juta, yang terkumpul dari dua kali tabligh akbar
di kota Banjarmasin, mereka berangkat ke Bogor.
Ketertarikannya ikut LJ -- yang pemusatan latihannya di Bogor
-- ketika mereka mengikuti tabligh akbar di Yogyakarta, 31
Januari 2000. Seusai tabligh di Yogyakarta itulah, mereka
membuat tabligh serupa di Banjarmasin.Sugeng, lelaki setengah baya asal Magetan dan Muhtazon
kelahiran Baradatu, Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung
Utara, juga memiliki tekad sama. Meninggalkan istri dan
pekerjaannya untuk berjihad. Kini mereka bergabung sebagai
anggota provost LJ.*** LJ pertama dicetuskan di Yogyakarta. Pembentukan LJ ini
menyikapi perlakuan terhadap Muslim Ambon. Menurut
Muhaimin, pengurus Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi
Ahlusunnah Wal Jama'ah, dalam tabligh itu disepakati
mendirikan Posko Jihad dan menerima pendaftaran anggota.
Sejak didirikan, sudah terdaftar ribuan anggota yang berasal dari
Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai Sulawesi. LJ
menilai pembelaan terhadap Muslim Maluku itu wajib, karena
secara dhohir (kasat mata) memperlihatkan terjadinya
permusuhan terhadap umat Islam. ''Jika hanya bibit permusuhan
terhadap umat Islam, tetapi tidak ditunjukkan, kita tidak berhak
memerangi mereka,'' ujar Muhaimin.LJ memang serius. Di lokasi latihan, tepatnya di lapangan Desa
Kampung Munjul, Desa Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sareal,
Kodya Bogor, ratusan anggota pasukan jihad -- yang hampir
semuanya mengenakan gamis -- sejak pagi hingga menjelang
malam melakukan latihan baris-berbaris. Juru latih, mengenakan
kaos hijau, celana hijau, dan bersepatu bot mirip seperti yang
dimiliki anggota TNI. Saat berlatih baris-berbaris, pelatih
maupun anggota pasukannya dilengkapi berbagai jenis senjata
tajam seperti golok, pedang, dan panah lengkap dengan
busurnya yang melingkar di pinggang mereka.Sekitar satu kilometer dari lokasi, di sebuah lembah yang di
atasnya dikelilingi kebun singkong, terlihat lebih seratus tenda
ukuran besar dan kecil beratap plastik dengan beragam warna.
Ruas jalan desa selebar tiga meter menuju lokasi barak tersebut
diportal dengan sebatang bambu seukuran lengan manusia.
Portal ini dijaga ketat anggota LJ yang dilengkapi golok dan
pedang.Menjadi anggota pasukan jihad, menurut Hizaz, tidak perlu
memiliki ilmu kebal atau jenis ilmu kanuragan lainnya. Sebab, hal
tersebut mendekati syirik. ''Yang penting, selain paham akan
Islam, setiap anggota harus teruji ketauhidannya,'' ujar pemuda
kekar ini. Para calon anggota diuji kepandaian renang, lari cepat,
ilmu pedang, dan memanah. Latihan perang, yang dipusatkan di
Kayu Manis, Bogor, rencananya memakan waktu antara
sepekan hingga dua pekan. Keberangkatan pasukan ke Ambon
dipastikan pada 23 April mendatang.Seluruh pembiayaan mulai dari persiapan sampai
pemberangkatan ke Maluku, menurut Ja'far, diperoleh dari hasil
swadaya umat Islam Indonesia, baik di dalam maupun di luar
negeri. Dari luar negeri, menurut Ja'far, antara lain Arab Saudi,
New Jersey (AS), Australia, dan Asia Tenggara. Hizaz
mengatakan bantuan dana terus mengalir untuk keperluan
operasional pasukan jihad. ''Terakhir kali kami baru saja
mendapatkan bantuan dari sebuah yayasan di Bandung,''
ujarnya.Kampung Munjul merupakan tempat latihan gabungan secara
nasional, setelah latihan di berbagai daerah. Menurut Panglima
Perang LJ, Ja'far Umar Tholib, sebanyak 3.000 anggota laskar
yang berlatih, sudah siap ke Maluku akhir April ini. ''Sebanyak
7.000 laskar lainnya segera menyusul dalam pemberangkatan
gelombang kedua. Mereka dilatih oleh mantan Menwa yang
pernah berlatih di kampus-kampus seperti Yogya, Jakarta, dan
daerah lainnya,'' ujarnya. Semua anggota LJ adalah lelaki. Untuk
memasak atau merawat luka, semua dilakukan kaum lelaki.Bagi warga sekitar lokasi kegiatan, kehadiran LJ biasa-biasa
saja. Tidak ada yang aneh. ''Biasa-biasa saja. Saat mereka
latihan lari melewati jalanan desa, saya maupun warga lainnya,
hanya melihatnya saja. Paling- paling anak-anak yang ramai
melihat mereka berlatih,'' ucap Deden, tukang ojek yang biasa
mangkal di Jalan Baru, Tanah Sareal, Kodya Bogor.Warga sekitar itu pun turut membantu jika pasukan jihad
meminta bantuan. ''Tanah tempat latihan itu memang milik salah
satu dari anggota laskar. Namun, mereka juga meminta izin
untuk menggunakan halaman rumah almarhum H Santuri sebagai
tempat untuk upacaranya,'' ujar salah seorang warga.Lazimnya pasukan perang, para anggota LJ lebih banyak
menutup diri untuk tidak bicara dengan orang yang tidak mereka
kenal. ''Sesuai instruksi Panglima, kami tidak boleh banyak
bicara kepada orang lain. Nanti kami disalahkan dan mendapat
hukuman,'' papar Muhtazon, yang mendekap erat senapan angin
laras panjang di dadanya.Penolakan tidak hanya terhadap masyarakat biasa, tetapi juga
kepada aparat keamanan dari Polresta Bogor dan Polda Jabar,
maupun TNI. Mereka, menurut informasi, menolak keras
kehadiran para aparat yang mencoba mendekati lokasi latihan,
apalagi ingin mengorek keterangan dari anggotanya termasuk
wartawan sekalipun.Menurut Dwi, salah seorang Intel Polda Jabar berpangkat
bintara, sesuai perintah pimpinannya dia dan rekannya
melakukan pemantauan sedekat mungkin dengan anggota LJ.
Namun dia kesulitan untuk melihat lebih dekat. Sebab,
penjagaan yang ekstra ketat dilakukan anggota LJ hampir
sekeliling lokasi latihan dan utamanya barak tempat beristirahat
mereka. ''Kami hanya berjaga-jaga saja jika ada sesuatu yang
tidak diinginkan,'' ujarnya.Serda Muhammad Sabirin, salah seorang anggota Koramil
Kemang menyatakan selama tidak ada gangguan yang berarti
terhadap warga sekitar, pihaknya hanya melakukan pemantauan.
Menurutnya, dengan adanya latihan perang LJ ini pengamanan
lokasi dilakukan oleh Koramil Tanah Sareal. Tapi, karena
kantor Koramil Kemang masih berada di Kayu Manis yang
masuk wilayah Tanah Sareal, maka pihaknya pun harus
melakukan pengamanan. ''Kami cukup membiarkan saja
mereka, meski kami tetap memperhatikannya dari kejauhan,''
ujarnya. Laskar Jihad Latihan Semi Militer di Munjul