b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Karomah menyertai Rahmatiah

 

            Adalah Rahmatiah ,ibu  tiga orang anak, ketika terjadi serbuan besar-besaran pasukan merah, Jum’at awal Januari 2000,  masih sempat melarikan diri ke hutan  guna mencari jalan keluar menuju Galela.

            Kisahnya dimulai ketika siang itu di hari jum’at yang panas.Sekitar pukul tiga siang, secara tiba-tiba dua desa muslim diserbu massa obet dari  tiga kecamatan di sekitarnya (keseluruhannya kurang lebih 24 desa) . Mereka datang bergerombol dengan membawa kendaraan truk berisi setumpukan bom beserta gerobak –grobak  semen. Tapi  kehadiran pasukan merah tersebut masih dapat dihalau mundur melalui semangat berkobar-kobar  disertai   lontaran-lontaran batu seadanya. Disamping  itu pasukan merah juga tidak bisa mengefektifkan  bom-bomnya.  Mereka banyak menghambur-hamburkan bom itu secara-sia-sia. Akhirnya merekapun surut  mundur.

            Kesempatan luang ketika tidak ada serangan, kaum ibu beserta  sebahagian anak-anaknya  itu dipersiapkan untuk lari . Baru pada jam 11 malam mereka dapat manfaatkan kesempatan tersebut.Pada saat itu Rahmatiah hanya memegang 2 anaknya. Masing-masing  satu tahun   dan empat tahun. Seorangnya lagi yang sulung sebelumnya  sudah dititiupkan ke orang tuanya.

            Rahmatiah beserta rombongannya ,keseluruhanya kaum ibu , 7 orang, terus dibayang-bayangi  kejaran tanpa henti . Tak ada waktu istirahat. Jika istirahat sejenak  pimpinan rombongan pasti meninggalkan nya. Terkecuali saat beliau  pingsan kurang dari satu jam. Mereka pun sabar menunggu Rahmatiah sadar. Namun kemudian melanjutkan pelariannya. Bisa dibayangkan bila sang anak  kelaparan atau kehausan. Sementara tidak ada bekalan sedikitpun. Pernah sang anak yang setahun itu merengek kehausan  disaat darurat itu, iapun terpaksa  meminta sang kakak  memberikan air kencingnya.

            Sebenarnya jarak normal perjalanan  bisa ditempuh  kurang dari satu hari atau sekitar 30 km. Tapi dikarenakan melalui jalur hutan  dan di gelap malam, waktu  tempuh  menjadi lebih panjang. Sementara itu perjalanan tanpa pedoman arah. Yang ada hanya trabas dan trobos ilalang melintang. Sihingga , baru sampai  ditujuan  setelah   menempuh 3 hari 2 malam. Dan itupun dirasakan berkat pertolongan Allah melalui bembingan seekor burung, Setelah hampir saja putus asa, Rahmatiah sempat memohon kepada Allah arah perjalanan ,tiba-tiba seekor burung terbang rendah seakan minta diikuti.Dan nyatanya benar juga.  Sewaktu burung itu berada disekitar dedaunan pohon kelapa, secara tiba-tiba menghilang. Hal itu pertanda bahwa tujuan telah tercapai. Disitu   sudah menunggu ribuan pelarian lainnya . Adapun pertolongan berikutnya , adalah satu jam setelah itu muncul sebuah kapal besar Lambelu untuk pertama kalinya bersandar di pelabuhan Galela  untuk mengangkut semua penumpang itu dan siap diungsikan ke tempat aman, Ternate. Ternyata kehadiran Lambelu  milik PT Pelni itu adalah hasil upaya sejumlah mahasiswa Ternate yang melakukan  pembajakan yang dikhususkan mengevakuasi pelarian muslim. Setelah sebelumnya terdengar serbuan besar-besaran massa obet keperkampungan acang yangh muslim di Tobelo Maluku Utara.

 

 

 

 

 

 

 

Yang Kufahami tentang Jihad di Jazirah Maluku

 

 

            Pada tanggal 21 Februari 2000 saya mendapat tugas dari PKPU (Pos Keadilan Peduli Ummat) Pusat  di Jakarta. Misi yang saya harus jalankan adalah mengantarkan  barang-barang bantuan untuk korban pembantaian  dan kerusuhan   di Jazirah Maluku dengan pusatnya di Ambon maupun Maluku Utara yang berpusat di Ternate, berupa obat-obatan, pakaian layak pakai dan juga beberapa jenis makanan khas Timur Tengah, seperti korma. Secara kebetulan   karena waktu tersebut  bertepatan dengan bulan haji, maka kami juga membawa sejumlah dana untuk dibelikan hewan qurban, yang kemudian kami serahkan melalui   tokoh Islam setempat. Disertai dengan sejumlah kupon pembagian serta spanduk   guna pelaporan kami kelak kepada para dermawan yang telah menitipkan dananya kepada PKPU.

            Keberangkatan saya ke Jazirah Maluku  semata-mata atas pertolongan Allah. Allah telah percayakan saya   mengantarkan berbagai jenis titipan kaum muslimin  itu guna meminimalisir derita berkepanjangan  ummat Islam  di sana. Tapi selain membawa bekalan   bersifat meteril (hewan qurban, makanan berupa sembako, pakaian maupun obat-obatan), juga  saya diamanahkan oleh PKPU  untuk menyampaikan bekalan sepiritual dalam bentuk kontribusi da’wah Islam. Baik untuk meluruskan  motivasi pasukan jihad melalui  ceramah di mesjid-mesjid  agar jihad yang mereka lakukan demi membela keadilan universal dan mengusir kedzaliman, bukan untuk dendam maupun mencarai-cari harta rampasan perang. Jihad dalam rangka meninggikan kalimat Allah  di bumi-Nya, bukan agar disebut-sebut sebagai pahlawanatu mencari macam-macam tanda jasa.

 Yang saya fahami,  semua nasihat Allah dan Rasul-Nya yang terkait dengan Jihad adalah "amunisi",yang bila dipakai secara tepat guna akan mampu melumpuhkan kekuatan apapun  di muka  bumi ini. Sebagai bukti,  pengakuan langsung dari beberapa muallaf –(bahkan mantan asisten pendeta)-secara jujur mereka mengatakan, bahwa ‘nyanyian’ pekik takbir  yang dikobarkan pasukan jihad mampu menggetarkan  dan menimbulkan kengerian luar biasa dahsyatnya pada mereka.Akibatnya senjata mereka tak lagi meletup,panah-panah  banyak putus dan menyimpang, serta parang pun tak dapat diayunkan. Keajaiban lainnya dari kumandang takbir itu adalah kamampuannnya mendorong dan menggerakan semua lapisan manusia, mulai dari yang tua renta hingga anak-anak balita.

            Kedatangan saya   ke Jazirah Maluku juga dipesankan  agar bisa ikut menyambut sejumlah kemenangan demi kemenangan. Dan kemenangan yang dimaksud bukan karena kemampuan pasukan jihad  membabat sebahagian besar pasukan lawan , mengusir mereka ke pedalaman hutan, atau bentuk kocar-kacir lainnya. Akan tetapi  pernyataan tulus  muallaf   (mantan kuffar) yang siap bergabung bersama kaum muslimin lainnya melalui pengucapan syahadatain mereka di hadapan tokoh-tokoh Islam . Ini lah kemenangan besar sesungguhnya. Seperti  tertutur di dalam al-Qur’an surat An-Nashr :

            "Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Engkau melihat manusia masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Maka dari itu, bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha pemberi taubat.

            Inilah Islam. Agama pembawa rahmat, kasih sayang sejati dan kedamaian abadi

untuk seluruh alam.

            Ya Allah , kami memohon ampun pada-Mu atas segala kekhilafan dan penyimpangan selama ini.

Perang  dibenci semua orang,  hatta orang paling beraqalpun. Allah lah yang akan membuka tirai rahasianya. Mengapa ?  Karena perang telah membuat setiap orang jadi terpaksa. Mau tidak mau harus mau. Mampu atau tidak mampu harus mampu. Makanya Allah lah yang memasukan setiap mukmin ke dalam lingkaran perang itu bukan diri mereka sendiri.Mereka tak dapat lari atau melarikan diri. Hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Itulah mengapa Allah menggunakan kalimat ‘kutiba’ sebagai kata kunci. Kita hanya berbaik sangka kepada Nya. Segala peristiwa yang digelarNya adalah yang terbaik   buat para hamba-Nya. Orang beriman bukan makhluq yang suka menumpahkan darah. Sebab tidak secuil pun sikap membantai merekat pada hati mereka. Akan tetapi  jika saudara seiman mereka dihabisi musuhnya, mereka lah orang yang paling terdepan untuk membelanya. Dan pada gilirannya Allah akan memberitahu orang beriman tentang kebenaran   firmanNya.  Boleh jadi apa yang kita benci, itu yang terbaik buat kita. Atau sebaliknya. Apa yang kita sukai adalah yang terburuk jadinya. Allah lebih tahu dan kita tidak tahu. Allah telah membuka rahasia dan tabir perang agar kita bersyukur ria dikamar kemenangan. Begitu pula nasihat Baginda Rasulullah  saw  kepada Imam Ali ra ketika mengutusnya ke suatu medan pertempuran ."Bahwa  Seseorang mendapat hidayah Allah (masuk Islam) melalui engkau (wahai Ali ra)  itu lebih baik buat engkau dari pada perolehan onta merah atau dunia beserta isinya".

            Allah telah ingatkan kita, bahwa perilaku orang-orang kafir –sedang dan akan terus-menerus- membuntuti dan mengejar orang-orang beriman  untuk dimurtadkan semampu mereka.

Ada dua bentuk kemurtadan. Pertama murtad total. Yaitu bila keyakinan seorang muslim telah bertukar menjadi penganut keyakinan agama "lain". Seperti menyatakan pengakuannya sebagai Yahudi, atau Nasrani dan sebagainya. Jika ia mati maka mati dalam keadaan kafir. Kedua, murtad parsial atau sektoral. Dan ini merupakan kejadian umum . Yakni seorang muslim mengakui keislamannya hanya sebatas lisan, di bibir ataupun  di KTP. Sedangkan sikap mental, perilaku dan cara berfikir telah terkontaminasi, sesuai dengan kepedulian  majikannya dari kalangan orang kafir. Hal inilah yang diidamkan seorang pendeta paling kawak dan klotok, Zwemer di sebuah konfrensi wali gereja internasional. Beliau mengajak kepada pendeta lainnya yang hadir agar mereka cukup puas dengan menjauhkan ummat Islam dari agamanya .Atau tidak usah repot-repot dikristenkan. Mereka akan berupaya menahan laju interaksi pemikiran dan akhlaq Islami dengan ummatnya. Sebab jika itu terjadi –sesuai dengan keyakinan mereka-  gerakan ummat Islam   akan membentuk deru ombak dan sekaligus badai yang akan menggulung dan melibas serta mengguling habis kapal mereka.

            Itulah yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Jazirah Maluku. Semenjak penjajahan Portugis hingga penjajah Belanda dengan VOC nya, bahkan diteruskan oleh rezim Orde Lama dan mendapat angin juga dari Orde Baru. Bahkan sekarang seperti cacing kepanasan  ketika gerak arus reformasi terus menggelitik dan mengkritisi mereka.

           

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa Jazirah Maluku Luluh Lantak  ?

 

          Saat saya memasuki wilayah kampus STAIN  Ambon,  tertera sepotong  kalimat   yang tergantung di batang sebuah pohon yang juga persis dibawahnya sebuah poskojihad yang sudah agak reyot. Bunyinya, Panitia Hari Kiamat.

Dalam hati terus bertanya-tanya tentang kebenaran sepenggal kalimat tersebut.   Tapi melihat bekas-bekas kehancuran kota dan desa-desa dari runtuhnnya bangunan-bangunan bertingkat, pasar-pasar, perumahan penduduk, serta hancur luluhnya   berbagai sarana dan fasilitas ibadah, baik mesjid maupun gereja agaknya ungkapan itu bisa dibenarkan. Sekurang-kurangnya kejadian ini merupakan azab "ringan" walau sudah ribuan jiwa kaum muslimin melayang, ribuan lainnya luka-luka serta ratusan ribu lainnya berhamburan mengungsi  mencarai perlindungan ke berbagai pulau disekitarnya. Hal ini nampaknya "disengaja"  oleh yang Maha Bijak, agar umat Islam  Indonesia , dan lebih khusus lagi kaum muslimin Maluku manyadari atas kealpaannya di masa lalu.  Dan terlebih dari itu sadar akan azab-Nya yang lebih dahsyat di akhirat kelak.

Sesungguhnya sangat mustahil, jika Allah mengirimkan kehancuran  tanpa disertai sebab-sebab yang sangat jelas. Seperti yang Allah tuturkan dalam firman-Nya :

Kami tidak menghancurkan desa-desa  melainkan   karena penduduknya berbuat aniyaya (dzalim).

Kedzaliman apakah gerangan yang menyebabkan kemurkaan-Nya itu ? Perlu kejujuran untuk menjelaskannya.  Walaupun sesungguhnya fakta-fakta di lapangan sudah terlalu jelas bahkan lebih jelas dari matahari.

          Persinggahan pertama saya di Jazirah Maluku adalah Namlea ,sebuah pelabuhan lepas pantai. Namlea juga merupakan kota kecil di pulau Buru. Sebuah pulau yang kini hampir 100 persen penduduknya muslim, setelah  sebahagian besar orang-orang non muslim di situ  melarikan diri ke kepulauan di sekitarnya atau  sembunyi bergerilya di hutan pedalaman pulau tersebut.

            Dari pulau Buru saja saya langsung  mendapat sejumlah cerita dan sejuta rahasia  yang mengungkap sebab-musabab "hari kiamat" itu.

Pertama, hal ini diutarakan ketika saya menghadiri sholat Jum’at ,sejenak setelah tiba. Bapak  khotib menyampaikan, bahwa  82 persen  lebih  wanita menikah sudah hamil duluan. Istilah jawanya LKMD  (Lamar Keri Meteng Disit)   atau hamil duluan sebelum nikah. Salah satu petunjuk, bahwa  pergaulan tanpa batas telah berlangsung puluhan hingga ratusa tahun digelar oleh sistem jahiliyah di sana. Baik di pasar, di tempat ibadah maupun di perkantoran ,bahkan seringkali perselingkuhan terjadi diperumahan biasa. Tapi hal ini sudah mentradisi  bagi kalangan muda-mudi kristen, yang kemudian diteladani oleh muda-mudi Islam. Mereka biasa dan bahkan bangga jika anak yang lahir  selamat walau tanpa ijab sah alias aqad  sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai anak Tuhan dan menjadi tanggungan gereja sebagai pemeliharanya. Ini artinya, bahwa gereja sangat bertanggung jawab atas tindakan amoral pengikutnya, yang dikemudian hari generasi tersebut berpotensi merusak tatanan sosial yang ada seperti bencana besar ini yang tengah kita alami.

            Kedua, adanya kristenisasi  dan pembodohan massal terhadap siswa muslim di seluruh jajaran pendidikan di Jazirah Maluku. Dimana kebanyakan guru yang bertugas  adalah Kristen dan umumnya pegawai negeri sipil. Bahkan di sekolah berlebel sekolah Islam pun  di tanam  guru-guru kristen   hingga kepala sekolahnya. Sudah begitu, tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab mereka sangat diragukan. Misalnya ,sebagian mereka yang masuk mengajar hanya hadir sebulan  dalam setiap catur wulan. Atau ketika mengajar hanya memberikan muatan berupa nyanyian-nyanyian dan cara-cara berpesta. Jika ada peluang lebih jauh, mereka akan manfaatkan semaksimal mungkin untuk menghambat kecerdasan anak-anak Islam itu. Di antaranya mengganti nama , bahkan agama menjadi nama dan beragama kristen. Bahkan di sebuah desa kecamatan Werinama Pulau Seram sebagaimana dinyatakan Kepala Penerangan Agama Islam , Bapak Idris  Wakano , bahwa di sekolah-sekolah yang mayoritas penduduknya muslim  itu tak ada guru agama Islamnya. Juga ada fakta kongkrit, tentang hasil pembodohan  itu. Seorang  teman, dokter Kuspriyadi,    ketika coba mengajar di salah satu tsanawiyah di pulau Manipah yang menampung murid lulusan Sekolah Dasar binaan guru kristen menceritakan tentang  seorang diantara mereka . Anak itu  ternyata sama sekali tidak bisa menulis namanya sendiri.

            Kristenisasi bukan hanya ada di sekolah-sekolah. Bahkan di lokasi Transmigrasi pun mereka turut bermain.Terutama pendatang jawa yang kehadirannya tanpa bekal cukup dan memadai. Mereka mudah dirayu dengan iming-iming pambagian berbagai macam barang dan perlengkapan –seperti semen, sapi , mie  instan dan sebagainya tapi dengan syarat agar mereka menjadi pemeluk kristen sebelumnya. Terlebih jika kepala Unit Pemukiman Transmigrasi Ka UPTnya Kristen, mereka akan menjajikan jaminan hidup selama setahun, tapi terkadang baru berjalan beberapa bulan  janji itu berubah menjadi bualan belaka , kecuali jika siap dibaptis di dalam gereja. Persoalan ini menimbulkan efek lanjutan. Karena sudah terjerat "tali sapi" alias hutang budi, sering kali untuk membayar dan mengembalikan hutang itu, disamping berani menukar aqidahnya juga berani menjual moral yang masih tersisa. Digadaikannya anak gadisnya untuk digarap menjadi budak sex bagi juragan Cina dan pejabat setempat lainnya. Sehingga jika moralitas sudah dijual murah, secara ekonomi pun akan berketergantungan pada mereka (kristen + Cina). Sehingga  yang pernah terjadi, ketika sepasukan jihad akan menghabisi Cina yang kerena kecondongan dan keberpihakannya kepada kristen, secara memelas sebagian masyarakat keberatan. Dengan alasan, bahwa tanpa Cina kita tidak bisa hidup.

            Jelasnya , Jazirah Maluku memang kering dari siraman ruhani.Mereka kebanyakan masih lugu dalam penerapan ibadahnya. Hampir setiap ustadz dan guru ngaji di sana mengiyakan hal ini. Termasuk saya pun mengalami. Ketika dalam perjalanan di pesisir pulau Seram, untuk  memberikan   da’wah berupa ceramah kepada muallaf dan pengungsi disertai aksi pelayanan kesehatan dan khitanan  massal oleh tim PKPU Wilayah Maluku. Walaupun para muallaf sendiri mengaku, bahwa asalmuasal agama nenek moyang mereka itu Islam, tapi nampaknya tidak ditindaklanjuti dengan pembinaan secara intensif selama ratusan tahun, sehingga pada gilirannya keIslamaan mereka tinggal nama sedangkan peribadatan mereka menerapkan cara-cara animisme. Padahal dihutan belantara tempat mereka menetapmasih terdapat bekas-bekas peninggalan sejarah berupa bangunan mesjid tua, sebuah buku tembaga, juga sebuah tiang alif yang berukuran 1,5 meter,sebuah mimbar, sebuah tongkat khutbah serta sebuah tempat air wudlu berukuran 2,5 meter. Semua benda itu masih ada. Konon mesjid tua   dan masyarakatnya yang beragama Islam itu pada sekitar abad VI – XIII Masehi. Masjid itu berada di dusun  Balakeu yang jaraknya dengan desa Atiahu  sekitar 2-3 hari perjalanan. Berdasarkan penjelasan mereka bahwa beralihnya keyakinan mereka dari animisme  ke agama Islam merupakan wasiatdari leluhur mereka ketika akan meninggal dunia Wasiat tersebut disampaikan secara turun temurun selama sepuluh generasi. Salah satu Tokoh  Islam yang masih dikenal mereka yaitu Qoyyumuddin Asysyarif.

            Beberapa dusun yang kami singgahi  belum dimasuki listrik. Sehingga jika sore menjelang nampak kegelapan menyelimutinya. Kewajiban melakukan sholat secara berjamaah belum mentradisi. Apalagi tanpa dukungan energi listrik. Tidak ada panggilan azan  yang menjangkau keseluruhan dusun karena ketiadaannya pengeras suara. Di samping itu mata pencaharian hidup mereka   dihabisi  dalam  hutan. Sehingga sore hingga malam mereka gunakan untuk beristirahat.

            Pada umumnya masyarakat pesisir ini tidak memiliki wc... Tidak ada kamar mandi tertutup. Setiap hendak buang air besar mereka harus ke pantai, sehingga pantai banyak disinggahi ranjau-ranjau penyengat hidung.

Sebagai data tambahan adalah sebagai berikut:

-         Kunjungan safari da’wah di desa Kec Werinama berlangsung dari tanggal 29 Februari hingga 5 Maret 2000.

-         Jumlah pengungsi sebanya   1.156 jiwa

-         Muallaf                             1.006 jiwa mereka diislamkan oleh tokoh agama setempat dan asal agama mereka  yaitu Kristen Protestan dan Animisme.

-         Dusun-dusun yang dikunjungi di sekitar desa kec. Werinama : Gusalaut,Osong, Hatumeten, Batuasa,Atiahudan Tunsai.

-         Keseluruhan muallaf yang dikhitan  71 orang.

-                                

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai perbandingan. Ketika zaman penggusuran oleh rezim Orde  Baru besar-besaran marak di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang , Bekasi ) dan sekitarnya terjadi, banyak tanah rakyat dibeli murah dengan paksa. Lalu dijual ke pengusaha real estate dan lainnya dengan harga tinggi. Sehingga dengan mudahnya dibangun gereja maupun pabrik untuk menumbuhkan perbudakan massal di wilayah setempat. Ada semacam konspirasi terselubung antara aparat pemertintahan atau pejabat yang mengambil untung secara materil dengan mengorbankan aspek spiritual dengan kelompok kristan dan para usahawan asing untuk   melibas kepribadian penduduk di berbagai wilayah  yang mayoritasnya muslim.

 

 

 

 

 

Perang adalahTipu Daya

 

 Sungguh benar apa yang dikatakan baginda Rasulullah saw ;" Janganlah kamu berangan-angan  hendak menjumpai musuh. Tetapi jika menjumpai mereka bersabarlah."

Dengan kata lain musuh jangan dicari ,tetapi kalau terpaksa jumpa ya, jangan lari.

Ayat Allah swt juga hanya menugaskan kita  sekedar bersiap diri , berjaga-jaga dan bersiaga untuk menghadapi berbagai jenis musuh, yakni : Musuh Allah, musuh kamu dan musuh lain  yang kita tidak tahu  mereka ,sementara  terkadang mereka lebih tahu tentang kelemahan diri kita. Andai saja  Allah tidak curahkan perlindungan  dan pertolongannya, mungkin tidak sampai satu bulan umat Islam di Maluku sudah habis ludes des.

Hal ini didukung dengan kenyataan di lapangan. Bahwa tatkala penyerangan pertama di mulai, UmmaT  Islam tengah berada dititik terlemah, yakni krisis multi dimensi.Sedangkan mereka  telah melengkapi diri dengan berbagai sarana dan fasilitas. Mulai dari senjata rakitan hingga otomatis, strategi dan seragam perang sampai sarana komunikasi dan transportasi yang memadai. Bahkan jika  nasib terburuk yang menimpa,   mereka  sudah menyiapkan tempat pelarian yang layak. Ternyata mereka telah membuka ladang baru  berhektar-hektar luasnya disertai rumah layak huni yang dilengkapi alat-alat telekomunikasi canggih.

Para mujahidin pun sering menjumpai tumpukan uang dalam jumlah jutaan  dengan nilai  Rp 50.000 an  beserta sejumlah bom di setiap gereja dan rumah obet yang akan dan telah dibakarnya. Mungkin Mereka  fikir dengan harta dan amunisi yang tersimpan itu diri dan keluarga  dapat diselamatkan. Nyatanya mereka tinggalkan juga demi menjaga selembar nyawa.

Juga Maha benar Allah yang telah mengutus RosulNya, ketika  beliau mengatakan , bahwa  Perang adalah Tipu Daya. Pada kenyataannya memang demikian. Seringkali obet atau pasukan merah melakukan berbagai penyamaran-penyamaran. Adakalanya mereka memakai seragam aparat TNI, agar terkesan bahwa pelakunya bukan mereka melainkan aparat, apalagi disertai penggunaan senjata canggih semi-otomatis. Atau mereka menggunakan jubah dan pita putih di  kepala dan menyelinap di tengah masayarakat ‘acang’ yang muslim, sehingga mampu menggunting dalam lipatan.Atau  mereka  menghidupkan kaset-kaset Shalawatan yang menimbulkan image bahwa penghuni rumah tersebut bukan obet , sehingga selamat dari aksi  pembakaran oleh acang.

Akan tetapi semua tipu daya yang mereka terapkan sesungguhnya hanya berlaku pada orang yang lengah dari kesiapsiagaan.Seperti yang pernah saya jumpai di sebuah rumah sakit di Namlea Pulau Buru. Yang menimpa sebuah keluarga  Acang . Secara tiba-tiba datanglah seorang obet  yang berpura-pura ramah . Karena kehadirannya simpatik , akhirnya permintaannya untuk diberi makan dilayani. Bahkan berlanjut minta dibuatkan ‘suami’ (sejenis makanan  dari olahan ubi) . Setelah merasa puas dan kenyang dan sementara  tuan rumah berbaik sangka  maka secara tiba-tiba ia mengayunkan tombaknya dan sampai menembus paha . Sedangkan bagi orang muslim yang senantiasa berjaga-jaga, baik secara mental  dan moral sepiritual semua bentuk pengerahan daya tipu untuk melahirkan tipu daya akan menjadi tumpul adanya.  Bahkan patah oleh hentakan ayunan kalimat tahlil dan pekik kumandang takbir, yang kemudian disusul dengan persiapan semampunya dari berbagai sisi kekuatan baik invanteri, artileri dan kavaleri . Insya Allah kekuatan dan keberanian dari dada musuh akan bertukar menjadi kelemahan dan rasa takut. Pasti, Kemenangan adalah bagian dari masa depat Islam dan Ummat Islam.

 

 

 

 

 

 

Solusi Atasi Kasus Maluku

 

Sebuah Hadis Rosulullah saw yang berbentuk nasehat kepada Abu Dzar agaknya perlu kita hayati.

Wahai Abu Dzar.! Kuatkanlah Kapalmu. Karena sesungguhnya Lautan itu dalam.

Banyakanlah perbekalan .Karena perjalanan itu masih panjang.Dan ikhlaskanlah amalmu karena mata pengkritik itu tajam.

Ucapan Rosul Muhammad  saw  ini singkat. Namun memiliki dimensi yang luas.

 

 

Di tulis oleh Ahmad Mujahid 

anggota tim da’I  PKPU Jakarta

Hosted by www.Geocities.ws

1