![]() |
||
|
Ja'far Umar Thalib:"Keresahan Juga Terjadi di Kalangan Kiai NU"
http://www.forum.co.id/Nama Jafar Umar Thalib tidak bisa dipisahkan dari Laskar Jihad dan
Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah (FKAWJ) yang beberapa hari lalu
"memutihkan" kawasan Senayan. Maklum, laki-laki kelahiran Malang, 29
Desember 1961, itu adalah Panglima Laskar Jihad sekaligus Ketua Dewan
Pembina FKAWJ. Bisa dibilang, semua kebijakan yang ada di laskar ataupun
FKAWJ diotaki oleh bapak delapan anak dari empat istri itu--satu telah
diceraikannya.
Kehidupan Jafar adalah kehidupan "pengembara", baik dalam soal
pendidikan maupun aktivitasnya. Setelah tak tamat dari sekolah PGA
(Pendidikan Guru Agama) Negeri Malang, ia nyantri di Pesantren Persatuan
Islam Bangil (1983-1985). Lantas, masuk ke Lembaga Ilmu Pengetahuan
Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) Jakarta pada 1986.
Kendati pernah kepincut gerakan Ikhwanul Muslimin, bahkan pernah
memberikan pengajian tafsir Fi Zhilalil Quran karangan Sayid Quthb
(tokoh Ikhwan), akhirnya ia harus berseberangan dengan kelompok
kelahiran Mesir itu. Penyebabnya, karena ia kini menganut paham salafi
yang kerap "menyerang" Ikhwan. Paham salafi itu dikenalnya dari Syekh
Jamil Rahman, tokoh spiritual Thaliban, di Kota Kunar, Pakistan.
Selanjutnya, ia berguru kepada berbagai ulama hadis beraliran salafi,
misalnya Syekh Muqbil bin Hadi di Yaman.
Perkenalannya dengan Syekh Jamil juga akibat pengembaraannya di medan
jihad Afganistan selama 1987-1989. Sebelum bergabung dengan Syekh Jamil
Rahman, Jafar sempat berganti-ganti pasukan di Afganistan. Antara lain,
pernah ikut kelompok pejuang Hikmatyar, Sayyaf, dan Rabbani.
Lantaran keyakinannya akan paham salafi yang dikenal keras itulah, ia
pernah tersingkir dari Pesantren Al-Irsyad di Tengaran, Salatiga.
Padahal, di sana ia pernah menjadi Direktur Pesantren selama satu tahun
setengah, sepulang dari Afganistan.
Setelah pulang dari Pakistan pada 1994, Jafar mendirikan Pesantren
Ihyaus Sunnah di KM 15 Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Dari pesantren
itulah, dakwah salafinya berkembang hingga akhirnya mampu meraup 50 ribu
jemaah yang kini tergabung dalam FKAWJ yang didirikan pada 1998.
Untuk mengetahui apa dan siapa Jafar serta apa visi dan misi Laskar
Jihad yang dipimpinnya itu, FORUM mewawancarai Jafar dalam dua
kesempatan. Pertama, beberapa jam usai ia menemui Gus Dur di Istana
Merdeka dan kedua saat FORUM diundang Jafar menyaksikan latihan tempur
pasukannya--mereka menamakannya Latihan Gabungan Nasional--di Desa Kayu
Manis, Bogor. Berikut petikannya.
Apa tujuan penggalangan jihad ke Maluku ini?
Untuk mengembalikan wibawa umat Islam Indonesia di hadapan dunia
internasional dan mendorong pembentukan pemerintahan yang berwibawa.
Sekarang kami melihat kenyataan bahwa pemerintah seperti pengemis
internasional di hadapan lembaga-lembaga internasional untuk menerima
bantuan internasional sampai pada tingkat tidak ada harga diri. Dengan
upaya membuat Laskar Jihad, ini untuk menaikkan wibawa umat Islam dan
reaksi terhadap ketidakmampuan pemerintah mengangkat kemuliaan bangsa
dan negara.
Kami juga ingin memerangi kelompok separatis RMS [Republik Maluku
Selatan] yang ingin memisahkan dari negara kesatuan Republik Indonesia,
yang sekarang berkembang dan didukung kelompok GPM (Gereja Protestan
Maluku) yang justru lebih besar ambisinya dari RMS. RMS ingin memisahkan
Maluku dari Indonesia. Sementara, GPM ingin mendirikan negara Kristen di
Indonesia timur yang terdiri dari tiga wilayah: Irianjaya, Maluku, dan
Sulawesi Utara. Kami akan berperang melawan mereka.
Kenapa berlatih di sini [di Bogor]?
Tanah ini sebenarnya milik Al-Irsyad. Tapi, karena masih dalam sengketa,
akhirnya dikuasakan kepada kakak saya, Hilal Umar Thalib. Dialah yang
mengizinkan saya berlatih di sini.
Berapa luas areal latihan?
Kurang lebih 7,5 hektare.
Siapa saja yang pernah mengunjungi Anda ke sini?
Selain Kapolwil, kami juga dikunjung KISDI [Komite Indonesia untuk
Solidaritas Dunia Islam], Eggy Sudjana, FPI [Forum Pemuda Islam], dan
Tasrif Tuasikal dari Brigade Hizbullah. Bahkan, Ki Gendeng Pamungkas
juga datang membawa sumbangan konsumsi.
Apa pasukan Anda sudah ada yang sampai ke Ambon?
Mereka belum sampai ke sana semua. Sebagian masih di perjalanan. Dan,
pemberangkatannya dengan berbagai alat transportasi biasa. Misalnya,
kapal laut.
Jadi, tidak terang-terangan datang ke sana?
Tidak.
Sejak kapan pasukan tersebut diberangkatkan?
Dari awal Ramadan hingga menjelang Lebaran Idul Adha.
Kenapa semua tidak diberangkatkan secara diam-diam, itu kan efektif?
Tujuan pemberangkatan itu, antara lain, memberikan tekanan kepada
pemerintah. Kalau diam-diam, kan, enggak ada pressure-nya. Padahal,
keberhasilan penyelesaian tidak bisa hanya dengan pengiriman pasukan ke
sana. Buktinya, KISDI dan Kompak sudah mengirimkan 2.000 pasukan, tapi
masalah tidak kunjung selesai.
Apa yang sekarang mereka lakukan di sana [di Ambon]?
Mereka mempersiapkan peralatan komunikasi. Sekarang kami telah memiliki
alat komunikasi yang dapat menghubungkan Ternate, Ambon, Yogyakarta, dan
kapal-kapal pinisi. Dengan informasi dari alat tersebut, kami dapat
menerbitkan buletin Maluku Hari Ini yang disebar ke posko-posko.
Laskar Jihad juga menolak komunisme?
Ya, tentu. Kami lihat koalisi kekuatan PKI dan Salibis untuk menghadapi
apa yang mereka namakan bahaya Islam di Indonesia. Kami sudah
peringatkan itu kepada semua pihak, termasuk Amien Rais.
Bagaimana dengan kelompok Islam lain yang tak sejalan dengan Anda?
Kami mempunyai sikap persuasif. Tentu saja kami bedakan dengan posisi
pemerintah karena yang bertanggung jawab terhadap kepongahan dan
kecongkakan Salibis di Indonesia adalah pemerintah. Mustahil umat Islam
membela kaum Salibis dalam menghadapi sesama umat Islam.
Inisiatif tablig akbar beberapa waktu lalu itu datang dari Ahlussunnah
atau bekerja sama dengan pihak Islam lainnya?
Inisiatif tablig akbar datang dari Ahlussunnah Wal Jamaah. Ketika kami
mempunyai ide membuat tablig akbar ini, kami melobi berbagai pihak. Kami
melobi Ahmad Sumargono dari KISDI, melobi Hussein Umar dari DDII, dan
berbagai pihak. Misi kami, khususnya tablig akbar di Jakarta itu, ingin
mematahkan dua opini yang dikembangkan. Opini yang pertama adalah
seolah-olah Maluku telah selesai masalahnya. Jadi, tidak ada lagi
keperluan kami untuk ramai-ramai memikirkan masalah Maluku. Kami
membantah itu. Perang terus berlangsung di sana, sampai sekarang. Yang
kedua, kami ingin membantah opini yang dikembangkan, bahwa seolah-olah
jihad itu adalah program kelompok ini saja. Kami ingin menegaskan bahwa
jihad itu milik umat Islam seluruhnya. Dua misi itulah yang kami
upayakan.
Kabarnya, sewaktu bertemu dengan Anda, Gus Dur marah-marah...
Memang, tujuan kami bertemu dengan Gus Dur supaya ia mendengar langsung
dari mulut kami. Agar telinganya mendengar langsung ultimatum-ultimatum
yang kami utarakan. Waktu itu saya katakan kepadanya, "Kamu sebelum
menjadi presiden sampai menjadi Presiden berpihak kepada Nashara
[Nasrani]." Kata-kata saya itu mungkin membuatnya marah. Tidak ada orang
yang mengatakan demikian kepadanya secara langsung. Mungkin ada yang
mengatakan di atas mimbar, jauh. Tapi, tidak ada yang menyampaikan
langsung kepadanya. Saya puas.
Kemudian?
Setelah dimaki-maki, ia marah. Tapi, yang jelas, makian yang kami
sampaikan itu langsung mengenainya. Kami memaki-maki bukan dalam arti
seperti perempuan yang sedang marah, bukan makian tanpa etika, tapi
kritikan. Kami sampaikan secara terperinci, berurut, satu, dua, tiga,
empat. Kemudian, ia berusaha tenang menjawab omongan-omongan kami dengan
mengatakan, "Saya dipilih oleh MPR menjadi Presiden. Saya berhak
menafsirkan UUD 1945 semau saya dan akan saya pertanggungjawabkan hal
itu bukan kepada kalian, tapi kepada MPR bulan Agustus." Saya katakan,
"Oh, jadi kamu mau seenaknya sendiri?" Saya katakan begitu, ia marah.
Dengan emosional ia bilang, "Keluar!"
Bukankah di belakang Gus Dur ada NU? Bagaimana kalau massa NU tidak
terima?
Insya Allah hal tersebut tidak terjadi. Sebab, kami terus melobi para
kiai NU di berbagai tempat, baik yang langsung kami lakukan atau melalui
orang lain untuk menjelaskan kepadanya berbagai permasalahan. Dan, Anda
perlu tahu, keresahan terjadi juga di kalangan para kiai NU terhadap
berbagai sikap Gus Dur. Hasyim Muzadi, yang selama ini kami ketahui
dekat dengan Gus Dur, mulai berani bertanya tentang sikap Gus Dur dalam
masalah Tap MPRS N0. XXV itu.
Tampaknya, apa yang dilakukan Laskar Jihad ini bermuatan politik?
Ya, biasa. Memang, suatu gerakan yang dinilai mempunyai kekuatan
pengerahan massa semacam itu jelas akan ditafsirkan macam-macam. Tapi,
alhamdulillah, Ahlussunnah Wal Jamaah bukanlah politisi. Bukan pula
partai politik yang sedang mencari atau memperjuangkan akses politik
dalam pemerintahan dan bahkan kami terlepas dari kemungkinan untuk
hal-hal itu. Alhamdulillah, kami semata-mata dakwah dan jihad ini adalah
salah satu alat dakwah, bukan dakwah alat berjihad. Bahwa kami
memproklamasikan jihad ini, resolusi jihad yang kami proklamasikan pada
30 Januari dalam tablig akbar di Kridosono, Yogyakarta, bukan karena
kami merasa kuat. Kami yakin la haula wala quwata illa billah, sampai
hari ini, dan insya Allah sampai mati, tak ada daya kekuatan, tanpa
kecuali, yang tanpa pertolongan Allah. Semata-mata kami proklamasikan
karena syariat memerintahkan demikian.
Berapa dana yang sudah terkumpul?
Dana yang sudah dipakai untuk berlatih di daerah dan gabungan nasional
ini sekitar Rp 700 juta lebih. Dan, itu sebagian dari sumbangan
masyarakat di jalan-jalan. Mungkin ada yang menyumbang Rp 50.
Mudah-mudahan Allah membalasnya. Itu semua kami kumpulkan dan kami
terima dengan senang hati.
Bagaimana upaya pengumpulan dana perang ini?
Kami di sini dari dewan pembina membentuk komisi luar negeri. Komisi itu
sudah bergerak. Dua orang telah dikirim ke Timur Tengah, Yaman, dan Arab
Saudi untuk menemui para ulama. Lalu, para ulama itu memberikan
rekomendasi untuk mencari dana. Kemudian, kami juga mengirim orang ke
New Jersey, Amerika Serikat. Di sana akan ada Kongres Ahlussunnah Wal
Jamaah seluruh dunia. Kami membekali utusan kami itu dengan film dan VCD
tentang Ambon dan proposal.
Berapa dana yang sudah didapatkan?
Alhamdulillah, sebagian dana itu sudah masuk dan mulai kami belanjakan
untuk berbagai keperluan pembelian peralatan perang. Misalnya, kapal
pinisi tadi.
Penggalangan Laskar ini kan biayanya besar. Anda kok nekat?
(Jafar tertawa) Sebagian teman-teman juga ada yang mengatakan saya
nekat. Waktu pertama kali mempersiapkan laskar ini, kami menghitung
biaya yang ternyata amat besar, miliaran rupiah. Agaknya, mustahil kami
dapat mewujudkannya. Namun, saya katakan kepada teman-teman, buang semua
hitung-hitungan itu dan kami bergerak. Pengumpulan dana kami lakukan
dari kalangan kami dulu. Ada yang menjual sepeda motor, mobil, tanah,
atau rumah.
Sekarang tidak mustahil lagi?
Alhamdulillah, sekarang tidak mustahil lagi.
Kalau begitu, Anda berhasil mengumpulkan dana miliaran rupiah itu?
(Jafar tertawa lagi sambil mengangguk)
Pengusaha dalam negeri ada yang menyumbang?
Pengusaha dalam negeri itu terbesar dan terbanyak. Swadaya kaum muslimin
Indonesia justru yang terbesar. Dana itu kami upayakan terus mengalir.
Jumlahnya?
Itu rhs [rahasia].
Anda pernah mengatakan akan menghabisi tokoh-tokoh gereja di Jawa jika
melarang Laskar Jihad ke Maluku. Bisa Anda sebutkan siapa mereka?
Jangan, tidak perlu disebutkan, biar mereka tenang-tenang dan akan mati
dengan tenang.
Antisipasi kalau aparat menutup jalan...
Kami berupaya meyakinkan aparat bahwa gerakan kami ini bukan melawan
mereka. Seandainya mereka tetap menolak, terpaksa jihad itu kami
kobarkan di Jawa.
Daerah yang dituju...
Maluku secara keseluruhan. Maluku atau Maluku Utara. Tapi, pertama kali
kami pusatkan di Ambon.
Diberangkatkan dengan apa?
Dari Surabaya mereka akan diberangkatkan dengan kapal pinisi. Kami telah
mempersiapkan kurang lebih 300 kapal pinisi. Setiap kapal kami beli
antara Rp 40 juta sampai Rp 60 juta. Banyaknya kapal pinisi yang kami
perlukan karena satu kapal hanya akan kami isi 10-15 orang plus
barang-barang logistik.
Yang menakhodai?
Orang-orang kami sendiri. Anggota kami kan banyak juga yang nelayan.
Tidak ada jalan lain selain jihad?
Cara lain itu sudah kami upayakan setahun lebih. Jadi, kami sudah
terlibat langsung. Sejak Januari 1999, kami sudah mengupayakan
tindakan-tindakan persuasif terhadap pemerintah dan aparat keamanan
untuk mencegah kasus di Maluku. Bahkan, kami sudah mengirim map lengkap
kepada Presiden Habibie waktu itu, melalui Ketua DPRD Yogyakarta,
sewaktu tablig akbar di sana.
Sebenarnya, jihad ini adalah upaya akhir, setelah kami berharap dari
pihak keamanan menyelesaikannya. Soalnya, yang berhak dan wajib
menyelesaikannya adalah pemerintah, bukan kami. Tapi, setelah berharap
sekian lama, tindakan persuasif yang kami lakukan itu ternyata sia-sia
belaka, sehingga terakhir kami melakukan upaya seperti ini.
Apakah semua anggota FKAWJ ikut dalam Laskar Jihad?
Ya, tentu saja semua ikut. Sebab, Laskar Jihad Ahlussunnah Wal Jamaah
ini dibentuk oleh FKAWJ.
Berapa komandan wilayah di dalam Laskar Jihad?
Setiap wilayah dibentuk komandan batalyon. Wilayah itu adalah kabupaten
atau gabungan beberapa kabupaten. Kadang-kadang satu wilayah ada dua
komandan batalyon.
Apakah yang berjihad itu santri semua?
Bukan. Bahkan, sebagian besar, sekitar 75 persen, mahasiswa dan sarjana.
Yang dari Pesantren Ihyaus Sunnah?
Dari Assunnah, yang mengikuti program tadribud duat (latihan dakwah)
semuanya berangkat. Semua santri putra berangkat, yang putri tetap
tinggal.
Apa saja pesantren yang di bawah FKAWJ?
Pesantren Al-Furqan di Pekanbaru, Pesantren Al-Madinah di Solo, Ibnu
Qayyim di Kalimantan dan Sulawesi.
Sebagian kaum Salafi, misalnya Abdul Hakim Abdad dan Yazid Jawas,
menolak campur tangan dalam masalah politik. Anda kok lain sendiri?
Urusan mereka tidak mau campur politik itu perkara pribadi mereka. Yang
jelas kami di sini berangkat dengan fatwa dari para ulama.
Apa Anda pernah mengajak mereka berjihad?
Kami tidak mengajak mereka karena belum apa-apa mereka sudah menggembosi
program ini, sehingga kami tidak berkepentingan mengajak mereka.
Menggembosinya bagaimana?
Dengan cara mementahkan fatwa-fatwa dari para ulama sedemikian rupa.
Selain FKAWJ, ada kelompok lain yang mendukung laskar ini?
Alhamdulillah, kaum muslimin semua mendukung Laskar Jihad FKAWJ. Dari
PBNU, dinyatakan oleh Ketua PBNU. Muhammadiyah dan Amien Rais sendiri
menyatakan dukungannya. Berbagai kelompok umat Islam menyatakan
dukungannya.
Ada pelatih atau prajurit impor?
Alhamdulillah tidak ada. Walaupun ada keinginan dan tawaran dari luar,
seperti mujahidin Moro dan sebagainya, kami menyatakan permohonan maaf
karena kemampuan kami di sini dari sisi keimigrasian tidak memungkinkan.
Kami tidak mampu mengurusnya.
Siapa yang melatih?
Banyak. Ada menwa (resiman mahasiswa), tentara aktif, pensiunan polisi,
juga mereka yang punya pengalaman perang di Moro, Kashmir, dan
Afganistan.
Ada yang mengatakan bahwa Anda melakukan ini sebagai dukungan terhadap
Habibie dan anti-Megawati?
Enggak, kami bukan pendukung Habibie atau tokoh yang lain. Kami
alhamdulillah independen. Karena itu, kami setengah mati mencari dana,
setengah mati mencari dukungan dan menggalang kekuatan. Sebab, tidak ada
organisasi atau LSM yang mendukung kami secara langsung.
Kenapa FKAWJ baru dibentuk setelah reformasi?
Permasalahannya, karena kami melihat gejala yang terjadi seolah-oleh
umat Islam terkesima dengan slogan-slogan demokrasi, padahal mereka
sedang digiring menuju kehancuran bangsa ini. Kami lihat tidak ada yang
berbicara tentang masalah itu secara lantang, bahwa arus reformasi
menuju ke arah deislamisasi sesungguhnya. Melihat hal yang demikian,
kami terpaksa bergerak melobi tokoh-tokoh umat Islam dan menyambut
gerakan kami.
Kenapa tidak dilakukan dari zaman Soeharto?
Kami melihat di zaman Soeharto, yang dikatakan demokrasi itu lip service
saja, tidak lebih dari itu.
Tapi, kan bisa didirikan pada waktu itu?
Tidak ada keperluannya, walaupun bisa. Cukup dengan pesantren-pesantren
yang ada dan pembekalan ilmu.
Kenapa aksi pertama yang dilakukan justru menggalang jihad?
Bukan gerakan pertama, tapi ini gerakan untuk kesekian kalinya. Kami
melawan arus politik reformasi dengan membikin tablig akbar di beberapa
kota, khususnya di Jawa Tengah. Kemudian, ketika kasus A.M. Saefuddin
yang dihujat habis-habisan oleh Hindu, kami melihat karena teror dari
orang-orang PDIP, tokoh-tokoh Islam takut membela A.M. Saefuddin. Kami
tak peduli A.M. Saefuddin dari partai apa. Yang jelas pernyataan
Saefuddin benar, bahwa bangsa Indonesia tidak pantas dipimpin oleh orang
Hindu. Masalah orang Hindu tersinggung atau tidak, itu urusan mereka.
Bahkan, karena diamnya itu, orang Hindu berani membikin demonstrasi atas
nama Hindu bukan saja di Bali, tapi juga di Jawa yang mayoritasnya umat
Islam. Yang terakhir, mereka mau membikin di Yogyakarta. Karena itu,
kami lawan. Kami membuat tablig akbar di DPRD Yogyakarta dan menyatakan
mendukung pernyataan A.M. Saefuddin. Dan, itu bukan hanya pernyataannya,
tapi juga pernyataan kami. Siapa yang tidak setuju, ayo bertempur dengan
kami.
Katanya ada pejabat militer yang membiayai?
Tidak ada sama sekali biaya dari pejabat militer ataupun sipil.