![]() |
||
|
Djaafar Bantah Laskar Jihad Tewas di Maluku
Reporter: Bagus Kurniawan
detikcom - Yogyakarta, Panglima Laskar Jihad Ustadz Jaafar Tmar Thalib membantah kabar tewasnya 4 prajurit Laskar Jihad, ketika terjadi pertikaian di Maluku, Kamis (4/5/2000). Dia malah menyatakan, ada teror yang yang ditujukan kepada para laskarnya.
Bantahan tersebut disampaikan langsung oleh Panglima Perang Laskar Jihad Ustadz Jaafar Umar Thalib kepada detikcom di rumahnya Degolan Ngaglik Sleman Yogyakarta, Jumat (5/5/2000).
"Pernyataan tersebut saya bantah dan saya ingkari. Itu kebohongan belaka. Saya justru kuatir menjadi teror terhadap Laskar Jihad," tegas Jaafar Umar Thalib.
Menurut Jaafar, bantahan tersebut disampaikan, karena dia mendengar berita di RCTI, yang menyatakan korban berasal dari Laskar Jihad yang ikut latihan gabungan nasional di Bogor. "Itu tidak benar dan para korban itu bukan anggota Laskar Jihad dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah," jelasnya.
Jaafar menjelaskan, berdasarkan kontak langsung Jaafar umar dengan H Abu Bakar Wahid Al Banjari yang menjadi panglima perang Muhajirin di Ternate, kejadian itu meletus selepas dzuhur. Pertikaian terjadi karena aparat keamanan melarang kaum muslimin Ternate dan Tidore yang berkumpul di Masjid Muhajirin untuk menyeberang di Pulau Halmahera untuk merebut wilayah yang masih diduduki Tentara Merah (Kristen).
Pelabuhan penyeberangan yang dijaga ketat aparat dan tidak boleh ada yang menyeberang, membuat kaum muslimin marah dan bersikap garang atas perubahan aturan itu. Karena aparat panik, kata Jaafar, maka terjadi bentrokan dengan massa.
Tapi, yang jadi korban, justru rakyat biasa, yaitu orang tua yang baru saja keluar dari wartel. Maka massa pun mengamuk, sedangkan aparat kemudian memuntahkan peluru sehingga jatuh korban 5 orang itu.
"Kami itu berbeda sekali antara Laskar Jihad dengan pasukan Muhajirin di Maluku. Secara struktur komando lain, tetapi punya misi sama," jelas pria yang pernah berjihad di bumi Afganistan ini.
Menurut Jaafar, pasukan Muhajirin memiliki satu barisan dalam solidaritas konflik SARA di Maluku. Sedangkan Laskar Jihad yang ada di Jawa, kata Jaafar, mempunyai kewajiban moral membantu kaum muslim di Maluku.
Rencananya, Laskar Jihad tanggal 7 Mei besok akan memberangkatkan sekitar 3 ribu anggotanya yang sudah ada di seluruh Jawa menuju Maluku. Pemberangkatan tetap melalui Pelabuhan Tanjung Surabaya. Bukan melalui pelabuhan-pelabuhan kecil seperti Pekalongan, Jepara atau Tuban. Dari Yogya atau daerah lain, tetap memakai bis menuju terminal Surabaya, baru ke Tanjung Perak.
"Dulu daerah-daerah memang ada rencana berangkat dari pelabuhan kecil dengan menumpang perahu kecil. Tapi, biayanya justru sangat besar dan resiko di laut juga besar karena ombaknya tinggi," kata pimpinan Ponpes Ihya Us Sunnah di Degolan Ngaglik Sleman itu.
Di sekretariat Laskar Jihad, baik yang ada di Yogya dan daerah, menurut Jaafar sudah saling koordinasi dalam pemesanan tiket kapal laut sehingga tidak kuatir akan kehabisan tiket. Rencananya, mereka akan menumpang Kapal Rinjani dan Lombeno.
Menurut Djaafar, dari Yogya telah berangkat sekitar 1 kompi-lebih kurang 149 orang- 26 April lalu. Mereka akan mengurus logistik selama di Maluku. Sementara itu, menurut Djaafar, yang telah lolos seleksi pemberangkatan berikutnya sekitar 139 orang berasal dari Yogya, Solo dan Semarang.
Mengenai koordinasi dengan TNI dan Polri, dia menyatakan, akan terus berupaya dan meyakinkan para petinggi TNI/Polri, mereka tetap menjalankan misinya yaitu berdakwah dan tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.
Bila terjadi sesuatu berkaitan dengan hukum, lanjut Jaafar, Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKASWJ) siap menghadapi, karena sudah menyiapkan tim advokasi dari LKBH UII Yogyakarta. "Kami minta tolong, jangan dizalimi oleh hukum," pintanya.
Misi utama ke Maluku, menurut pria berjambang lebat ini, adalah dakwah. Tapi, jika diserang maka anggota Laskar Jihad siap memberi perlawanan. Para laskar itu, kata dia, sudah dibekali beladiri dan siap menghadapinya dalam situasi rawan seperti itu.
"Kami itu berangkat tidak membawa senjata. Tapi, kalau dihambat maka akan kami datangi yang berwenang untuk menanyakan dasar secara hukum apa mereka menghadang. Kami jelas tak bawa senjata tajam dan senjata api," ujar Jaafar.
Saat ini, kata Djaafar, sudah terkumpul dana sebanyak Rp 800 juta. Jumlah tersebut, merupakan pengumpulan dana yang dilakukan sejak Resolusi Jihad di Kridosono 29 Januari lalu.
Menurut dia, dari Yogya dan Muntilan Magelang, dana yang dikumpulkan dari relawan yang bertugas diperempatan-perempatan jalan bisa mencapai Rp 3-4 juta/hari. Hal itu, kata Djaafar, menunjukkan masyarakat antusias untuk membantu korban kerusuhan SARA di Maluku.
Dana tersebut akan diberikan dalam bentuk sumbangan seperti buku-buku tuntutan shalat, buku aqidah, pakaian pantas pakai dan baru sebanyak 20 kodi. Sementara itu, saat bertugas di Maluku, anggota laskar Jihad akan mengenakan kaos biasa bertuliskan Laskar jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Baju gamis (baju jubah-Red) hanya dikenakan saat shalat saja.Di kaos tersebut ada logo dua pedang menyilang diatasnya terdapat mushaf Al quran terbuka dan bertuliskan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah.