b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina


Islam-Kristen, Konflik yang Tak Pernah Selesai

mas1.jpg (22564 bytes)Konflik besar di Maluku yang merenggut ribuan nyawa ummat Islam dan ummat Kristen selama setahun ini telah menyentakkan kita, bahwa slogan kerukunan antar ummat beragama, seperti yang sering dilontarkan dan dibangga-banggakan para pejabat pemerintahan Orde Baru, ternyata cuma `pepesan kosong'. Konflik itu telah menyadarkan kita, ternyata masih ada setumpuk masalah dalam hubungan antar ummat beragama di Indonesia. Adapun selama ini tak tampak ke permukaan, karena oleh rezim Soeharto potensi konflik itu diredam ketat dengan dalih menjaga stabilitas keamanan dan mengamankan pembangunan nasional.

Setelah alat peredam dan penyumbat itu lepas maka meledaklah berbagai konflik di tanah air sesuai dengan potensi konflik yang ada di daerah setempat. Masalahnya, potensi konflik di negeri yang masyarakatnya majemuk ini begitu banyak dan kompleks, sehingga acapkali terjadi tumpang tindih satu faktor penyebab dengan faktor lainnya. Tentu saja ini menyebabkan orang kesulitan mengidentifikasikannya. Contohnya kembali pada kasus kerusuhan di Maluku. Satu pihak mengatakan faktor konfliknya adalah masalah agama dengan menafikan faktor politik, sebaliknya di pihak lain mengatakan faktornya adalah politik dengan menafikan sama sekali faktor agama. Padahal boleh jadi dua faktor —atau lebih— itu sama kuatnya dalam mewarnai persoalan Maluku. Dengan asumsi demikian, maka tak pelak muncul pertanyaan, kenapa dalam sejarah rakyat negeri ini friksi antara kalangan Islam dan Kristen di Indonesia seperti tak habis-habisnya terjadi.

Meski tak sedahsyat konflik di Maluku, konflik di antara kelompok itu kerap terjadi di berbagai pelosok negeri. Kasus Situbondo, Tasikmalaya, Kupang, Ketapang Jakarta, Sambas, dan Sanggau Ledo serta terakhir Yayasan Doulos Jakarta kian memperkuat pertanyaan tentang hubungan antar kedua komunitas besar itu.

Seperti dikatakan banyak pihak, tidak ada hubungan antar ummat beragama yang lebih intens dikaji para cendekiawan daripada hubungan antara kaum Muslimin dengan kaum Ahli Kitab, khususnya antara Islam dan Kristen. Sebab sepanjang sejarah, tak pernah terjadi ketegangan dan konflik yang lebih besar daripada antar pemeluk dua agama ini. Konflik itu bahkan pernah menghebat dalam bentuk peperangan berabad-abad, yang terkenal dengan nama Perang

Salib (Crusade). Padahal, secara teologis, dua agama ini sama-sama berakar pada ajaran Nabi Ibrahim, sama-sama mengklaim sebagai agama monoteis dan sama-sama diakui sebagai agama langit (samawi). Maka tak heran hal ini menjadi topik pembicaraan yang tak habis-habisnya dibahas dalam berbagai forum diskusi. Di Indonesia saja, diskusi seperti sudah berkali-kali dilakukan sejak awal masa Orde Baru. Dan yang terakhir serta terbesar dilaksanakan adalah konferensi internasional bertema “Hubungan Islam-Kristen Dulu, Kini, dan Esok” yang berlangsung di Hotel Horison Jakarta, 7-9 Agustus 1997. Acara besar ini dihadiri sekitar 35 pakar dunia tentang Islam dan Kristen seperti John L. Esposito, Thomas Michel, Mahmoud Ayoub, dan Ibrahim Abu Rabi. Dari Indonesia sendiri tampil Taufik Abdullah, Victor I. Tanja, Alwi Shihab, dan Din Syamsuddin.

Seperti dikatakan Menteri Agama Tarmizi Taher saat itu, niatan menyelenggarakan forum demikian tak lain sebagai satu langkah upaya mencari titik kesamaan dan mencoba mengatasi masalah konflik politiknya yang telah menyengsarakan ummat beragama di dunia, utamanya antara Islam dan Kristen. Sayangnya, sudah sedemikian banyak forum dialog digelar tapi konflik dan pertikaian masih saja muncul di berbagai daerah. Seperti banyak dicibir orang, forum seperti itu terlalu elitis dan hanya manis di bibir saja. Karena itu perlu dicari solusi yang lebih jitu. Apakah gerangan? Mari kita bahas bersama

 

Hubungan Islam-Kristen dari Masa ke Masa

Mulanya rukun dan damai. Lalu perang. Siapa yang memulai? Dan apa hubungannya kasus Maluku dan Ambon dengan Perang Salib?

Saya tidak tahu, apakah konflik ini bisa terlupakan dalam satu-dua generasi. Permusuhannya sudah demikian mendalam,” ujar Abdullah Soulissa, tokoh Partai Bulan Bintang Maluku, dalam sebuah jumpa pers di Jakarta tahun silam. Dari wajahnya nampak suasana prihatin yang mendalam, memikirkan api permusuhan Islam dan Kristen yang tengah berkobar-kobar di tanah kelahirannya.

Abdullah dan jutaan penduduk Maluku memang layak prihatin. Boleh jadi mereka setengah tak percaya, karena negeri kepulauan yang semula termasyhur sangat rukun dalam tradisi pela gandong, tiba-tiba terkoyak-koyak menjadi arena saling bunuh seperti di Bosnia. Dan seperti mimpi rasanya, tetangga yang dulu begitu ramah, saling bantu-membantu, tiba-tiba menjadi seperti tentara Serbia yang dengan sadis membantai keluarga mereka.

Mitos selama ini, hubungan ummat Islam dan Kristen di Maluku adalah yang paling harmonis sedunia. Konon dengan tradisi pela gandong, ketika ummat Islam membangun masjid, ummat Kristen turut serta bergotong-royong. Begitu pula saat ummat Kristen membangun gereja, ummat Islam tak segan-segan menyingsingkan baju membantunya. Sebuah situasi harmonis seperti di Desa Sukamaju, tempat tinggal `almarhum' si Unyil yang dicita-citakan penguasa Orde Baru.

Kini semua itu tinggal kenangan, disertai rasa tanda tanya besar, mengapa api permusuhan antara ummat Islam dan Kristen masih tersisa hingga ke abad ini? Bagaimana sejarah mulainya dan apa pula solusinya?

Nabi dan Ahlul Kitab• Sejarah interaksi antara Islam-Kristen telah terjadi sejak pertama risalah Islam turun ke bumi empat belas abad lalu. Dalam riwayat disebutkan, ketika Rasulullah saw sedang gamang dan gelisah setelah dijumpai pertama kali oleh malaikat Jibril as, sang istri Khadijah ra mengajaknya pergi menemui saudara sepupunya Waraqah ibnu Naufal yang menjadi rahib Nasrani, untuk meminta penjelasan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Waraqah inilah yang pertama kali memberitahu bahwa kedatangan Jibril menunjukkan Muhammad telah diangkat sebagai Nabi, berdasar keterangan Injil yang dipelajarinya. Lalu Waraqah berjanji, sekiranya ia masih hidup, ia akan menjadi salah seorang pembelanya saat Muhammad saw diusir oleh kaumnya.

Muhammad saw, sebelum menjadi Rasul sudah mendapat julukan Al Amin lantaran sifatnya yang mulia dan sangat dipercaya. Sifatnya yang santun menjadikan ia berhubungan baik dengan siapapun; dengan keluarga, sahabat dan musuh dakwahnya sekalipun.

Dalam hal interaksi dengan kelompok ahlul kitab, ulama besar Syaikh Dr Yusuf Qardhawi dalam Hadyul Islam Fatwai Mu'ashirah (Fatwa Kontemporer) menjelaskan betapa toleransi tampak jelas dalam pergaulan Rasulullah terhadap ahlul kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. “Beliau mengunjungi mereka dan menghormati mereka, menjenguk mereka yang sakit, menerima dan memberi sesuatu kepada mereka.”

Sebelum orang di zaman kini biasa berdialog antar agama, Nabi Muhammad sudah mendahului sejak dulu. Seperti dicatat oleh Ibnu Ishaq dalam As-Shirah, para utusan dari negeri Najran yang beragama Nasrani ketika menghadap beliau di Madinah, mereka menemuinya di masjid setelah waktu ashar. Tatkala tiba waktu shalat, mereka lantas hendak shalat di masjid beliau. Sehingga orang-orang hendak mencegahnya, tetapi Rasulullah bersabda, “Biarkanlah mereka.” Lantas mereka menghadap ke timur dan melakukan sembahyang mereka.

Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal meriwayatkan teladan Nabi membantu kesusahan keluarga non Muslim. “Dari Sa'id ibnu Al-Musayyab bahwa Rasulullah pernah bersedekah kepada keluarga Yahudi, maka berlakulah hal itu atas mereka.”

Jadi, berbeda dengan kondisi di masa kini saat kaum Muslim menerima derma dari non Muslim, Rasulullah memberi contoh seharusnya orang Muslimlah yang berderma kepada sesama Muslim dan orang non Muslim.

Khusus dengan kaum Kristen, sejak masih di Makkah kaum Muslimin sudah menunjukkan kedekatannya dengan memberikan dukungan kepada pasukan Romawi yang Kristen ketika mereka berperang dengan pasukan Persia yang beragama Majusi (penyembah api). Bahkan mereka turut bersedih ketika mendengar dalam satu pertempuran pasukan Romawi kalah, sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam al-Quran Surat Ar-Rum.

Solidaritas orang Kristen kepada kaum Muslimin pernah terjalin dengan baik di zaman itu ketika sebagian sahabat diperintah oleh Nabi untuk hijrah ke negeri Habsyi yang penduduk dan rajanya beragama Kristen. Di negeri itu sang Raja Negus memberikan suaka kepada kaum Muslimin yang dikejar pasukan penguasa Makkah. Raja Negus sangat terkesan dengan ayat-ayat al-Quran yang memuliakan Nabi Isa as dan ibunya.

Begitu pula dengan kaum Yahudi. Sebelum kaum Yahudi mengkhianati perjanjian, hubungan antara Nabi dan para sahabatnya dengan komunitas Yahudi di Madinah berjalan baik. Seperti sering diceritakan orang, di Madinah ada seorang Yahudi sering mengganggu Nabi jika beliau lewat di muka rumahnya. Suatu hari ia absen karena sakit. Mendengar itu Nabi menjenguknya. Si Yahudi itu demikian terkejut dan terharu, tak menyangka dijenguk orang yang sering diganggunya. Hingga akhirnya ia masuk Islam.

Konflik Pertama• Hubungan dengan Yahudi mulai memburuk sejak mereka melakukan konspirasi bersama pasukan kafir Makkah, memusuhi kaum Muslim di Madinah. Hingga akhirnya mereka diusir dari Madinah dan Khaibar. Peristiwa Khaibar di kemudian hari menjadi satu peristiwa paling traumatis dan mewariskan dendam kesumat orang Yahudi hingga berabad-abad.

Sedangkan konflik pertama kali dengan kaum Nasrani terjadi pada Perang Mu'tah dan Perang Tabuk, melawan tentara Romawi (Bizantium). Perang Mu'tah terjadi karena Al Harits ibnu Umair Al-Azady yang diutus Nabi untuk membawa surat kepada Raja Romawi Hiraqla (Heraklius), dibunuh oleh seorang pejabat Romawi.

Perang Tabuk adalah lanjutan dari Perang Mu'tah, karena Hiraqla penasaran pasukannya tidak berhasil mengalahkan pasukan Muslim pada Perang Mu'tah.

Maka Hiraqla menyiapkan pasukan besar-besaran untuk menyerbu Madinah. Mendengar hal itu Rasulullah juga menyiapkan pasukan besar lalu pergi menyambut mereka di Tabuk, perbatasan Jazirah Arab dengan Syam.

Karena terdengar kabar oleh pasukan Romawi bahwa pasukan Muslim datang dengan kekuatan berlipat ganda, maka mereka mengurungkan niatnya, lalu mundur teratur dari perbatasan, tak jadi bertempur.

Pertempuran ketiga dengan pasukan Kristen Romawi adalah pada Perang Yarmuk, di masa kekhalifahan Abu Bakar ra. Pada perang ini pasukan Islam dipimpin oleh panglima Khalid ibnu Walid, sedangkan pasukan Romawi dipimpin oleh para pendeta dengan membawa palang salib. Atas izin Allah, pasukan Islam menang telak sehingga Hiraqla melarikan diri ke Konstantinopel (Istanbul) sambil berlinang air mata.

Masa setelah itu juga terdapat sejumlah peperangan sehubungan dengan perlawanan negeri-negeri di Asia Tengah, Eropa dan Afrika Utara terhadap gerakan dakwah Islam. Dalam rangkaian ini ummat Islam berhasil membebaskan Baitul Maqdis (Jerusalem) dari kekuasaan Kristen Romawi, pada masa kekhalifahan Umar ibnu Khatthab.

Perang Salib• Jatuhnya Jerusalem, yang merupakan tanah kelahiran Nabi Isa as, membuat masyarakat Kristen marah dan selalu berusaha merebut kembali. Apalagi kemudian pasukan Islam Neo Bani Umayyah berhasil menaklukkan wilayah Balkan di Eropa Timur serta semenanjung Iberia (Spanyol) yang kemudian dinamakan Andalusia di Eropa Barat pada awal tahun 700-an M.

Berabad-abad lamanya orang Kristen Eropa berupaya merebut kembali wilayah Jerusalem dari tangan penguasa Islam. Upaya mereka mulai menampakkan hasilnya di awal milenium kedua ketika seruan Paus Urbanus II (1088-1099) untuk merebut kembali Jerusalem berhasil menggerakkan pasukan di berbagai negara Eropa membentuk aliansi besar.

Dalam catatan sejarah, pada 27 November 1095, Paus Urbanus II memproklamasikan Perang Salib (Crusade) dalam sebuah pidato yang berapi-api di Dewan Clermont. Dalam kesempatan itu Paus mengemukakan maksud-maksudnya atas nama Kristen untuk, “Mempercepat pembasmian ras terhina dari daerah-daerah kita dan sekaligus membantu penduduk Kristen.”

Untuk mengobarkan semangat perang Paus berseru, “Kristus memerintahkan hal ini.” Sehingga para tentara Kristen kemudian biasa meneriakkan “Deus le volt” (Tuhan menghendaki hal ini) ketika menyerang kota-kota Muslim tanpa ampun.

Tak lupa ia mengatakan, “Siapa yang ikut serta dalam peperangan akan diampuni dan dihapus dosa-dosanya.” Uskup kemudian memberi pengampunan dosa bagi siapa saja yang mau bergabung dalam `perang suci' ini, sehingga menambah kebengisan tentara salib. Fucher dari Charres dalam bukunya A History of the Expedition to Jerusalem, seperti dikutip Ayoub, menceritakan bahwa pada tahap-tahap awal peperangan Salib, kota-kota yang ditaklukkan benar-benar dibumihanguskan.

Perang Salib kemudian berlangsung berabad-abad hingga mereda di abad ke-16. Tapi sebenarnya tak pernah berhenti benar. Karena sesudah itu ada Perang Salib gaya baru berupa ekspedisi kolonialisme bangsa Eropa ke daerah Timur yang diprakarsai Portugis dan Spanyol.

Dengan semboyan gold, glory, and gospel, mereka mencari kekayaan dari negeri-negeri di dunia Timur seraya melakukan upaya kristenisasi dengan jalan paksa pada penduduk setempat yang dijumpai. Semboyannya adalah “Katolik atau mati!” Sampai abad ke-20, semangat seperti itu tak pernah padam. Bagi orang Indonesia yang dijajah 3,5 abad, kolonialisme Belanda di negeri ini tak lepas dari nuansa penaklukan orang Kristen Eropa ke dunia Islam.

Satu bukti lebih jelas adalah ketika Jenderal Gouraud memadamkan pemberontakan Syria yang melawan Perancis, 1919-1920, ia pergi ke makam Shalahudddin Al-Ayyubi di Damaskus, lalu menyepaknya sambil berkata, “Kami telah kembali, Hai Saladin!”

Begitu pula ketika Perang Dunia I terjadi penaklukan Jerusalem oleh kekuatan Eropa yang dipimpin Jenderal Allenby, sang jenderal ini berkata,”Sekarang Perang Salib telah berakhir.” Sebuah teriakan yang menunjukkan, dendam Perang Salib belum hilang benar dari benak orang Kristen.

Maka, pada peperangan di Maluku setahun ini, patutlah orang bertanya-tanya pula, apakah ini lanjutan dari Perang Salib di masa lalu?

Kebanyakan tokoh seperti Sekjen PGI Dr JM Pattiasina menolak anggapan demikian. “Perang Salib itu kan sejarah yang lama. Padahal kita tidak lagi berpatok pada sejarah yang lama,” tegasnya kepada Sahid. Alasan lain menurutnya, kekerasan yang terjadi di Maluku itu bukan konflik agama. “Dan tidak pernah ada konflik agama di Indonesia. Itu menurut saya adalah rekayasa-rekayasa politik. Agama dijadikan sebagai alat untuk membenarkan tindakan-tindakan politik.”

Cendekiawan Muslim seperti Dr Azyumardi Azra dan Dr Kautsar Azhari Noor, keduanya dari IAIN Jakarta, juga menepis hubungan konflik di Maluku dengan Perang Salib. “Saya kira tidak sejauh itu,” kata Azyumardi.

Tapi Rektor IAIN Jakarta ini bisa memahami kemunculan sentimen demikian bila kristalisasi konflik di Maluku itu jadi kian mengeras. “Bila kristalisasi konflik itu, sebagaimana telah terjadi di Maluku, kian mengeras maka mau tak mau simbol-simbol seperti itu akan muncul,” tandasnya.

Nah, tinggal dinilai, kalau ratusan wanita, anak kecil dan orang tua yang tak mengerti perang telah tewas dibantai di Maluku, apakah belum terjadi kristalisasi?

 

Mega Proyek Kristenisasi

Seribu jurus penyebaran agama Kristen. Targetnya, seluruh ummat manusia harus memeluk agama Kristen.

Usman, seorang pensiunan pegawai negeri yang tinggal di kawasan Rawamangun Jakarta, beberapa bulan silam menceritakan pengalaman menariknya kepada Sahid dan sesama jamaah mushalla dekat rumahnya.

Pagi, ketika ia sedang membaca koran di teras, datang dua pemuda. Mereka memperkenalkan diri sebagai aktivis gereja, hendak menyampaikan `kabar gembira dari Tuhan'. Usman pun menolak dengan halus, “Saya Muslim, tidak bersedia dan sebentar lagi saya pergi,” katanya.

Tapi kedua pemuda itu tak beringsut. “Biarpun Bapak Muslim, tidak jadi masalah, karena ini sekadar kabar gembira dari Tuhan Yesus,” bujuk mereka.

Menurut Usman, cara kristenisasi seperti itu pernah dialaminya ketika muda. “Ternyata sekarang masih berlangsung,” ujarnya heran.

Usman masih lumayan, ia tak mengalami paksaan seperti dialami Khairiyah Enniswah alias Wawah, siswi MAN 2 Padang. Sebagaimana sudah diungkap majalah ini (Sahid, edisi Agustus 1999), bulan Maret tahun silam gadis berjilbab itu bernasib tragis. Ia diculik, diperkosa dan dipaksa masuk agama Kristen oleh komplotan aktivis sebuah gereja di Padang.

Kontan kasus Wawah menghebohkan rakyat Sumatera Barat. Karena di daerah yang bersemboyan 'adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah' ini ternyata kelompok minoritas nekad melakukan tindakan kristenisasi yang melanggar hukum dan hak asasi manusia.

Info yang diterima Sahid dari DDII dan Yayasan Ulul Albab Jakarta, sebuah lembaga kajian Kristologi, dalam beberapa tahun terakhir missi Kristen memang kian berani melakukan pemurtadan secara tidak fair. Selain cara-cara pembagian santunan sosial yang sudah klasik, kini mereka menyebarkan brosur-brosur menyerupai buletin dakwah Islam. Isinya justru mengajak orang masuk Kristen, dengan cara memelintir penafsiran terhadap al-Qur'an. Nama lembaga penerbit yang tercantum di brosur pun mengecoh, seperti `Dakwah Ukhuwah' serta `Iman Taat kepada Shirathal Mustaqim'.

Sebelum itu mereka juga sudah mengeluarkan Bibel (Injil) berbahasa Arab dan berbahasa daerah. Bibel berbahasa Arab dibuat sedemikian rupa sehingga bagi yang tak mengerti dikira al-Qur'an.

Cara lainnya adalah penggunaan atribut yang biasa digunakan orang Islam. Di hari Natal lalu SCTV menayangkan siaran langsung acara misa di Gereja Betawi Kampung Sawah Jakarta. Tampak jemaat prianya berpeci dan berbaju Melayu (koko), sementara jemaat wanitanya berkerudung. Kontan acara ini membuat warga Muslim Betawi tersinggung, lalu protes membanjiri SCTV, hingga stasiunTV itu meminta maaf.

Dalam Islam, praktik tasyabuh (menyerupai kelompok lain) dilarang Rasulullah, tapi di kalangan Kristen jadi siasat.

Selain kelompok Gereja Betawi, cara itu juga diterapkan oleh sebuah denominasi (aliran) baru Kristen di Indonesia, namanya Kanisah Ortodoks Syria (KOS). Seperti telah diungkap Sahid pada edisi khusus September 1999, para pengikut KOS pakaiannya mirip Muslim, ada peci dan kerudung. Tata cara ibadahnya juga nyaris sama dengan shalat. Ada ruku' dan sujudnya. Bahasanya pun bahasa Arab. Singkat kata, kalau orang belum pernah tahu KOS, pasti mengira mereka Muslim.

Fenomena terakhir, belakangan ini di bus-bus kota di Jakarta banyak pengamen yang menyanyikan lagu-lagu gereja dan rohani Kristen. Kalau ditegur agar menyanyikan lagu lain yang netral mereka menolak, bahkan kerap mengajak berkelahi, seperti diceritakan oleh seorang warga Jakarta di kolom Surat Pembaca Sabili (15 Desember 1999).

Meski ada setumpuk data begitu, pihak gereja tak mau mengakui itu sebagai praktik kristenisasi. Bahkan menurut Sekretaris Umum PGI, Pendeta Dr JM Pattiasina, tuduhan kristenisasi itu hanyalah isu. “Isu begitu bukan hal yang baru,” katanya.

Kalaupun ada, menurut Ketua PGI, AA Yewangoe yang dikutip Tekad, itu dilakukan kalangan Evangelicals, denominasi dari Protestan yang sering bertindak ekstrem dalam menyebarkan agamanya. “Kawan-kawan itu ada yang agresif. Malah bagi-bagi traktat (selebaran) segala, baik di pasar maupun tempat lain.“ Menurut Yewangoe cara itu ditolak PGI, karena dianggap tidak beradab dan memaksa.

Penolakan senada juga diungkap oleh tokoh Katolik Dr Franz Magnis-Suseno SJ. “Dalam penyebaran agama ada aturan tersendiri. Kami tidak diperbolehkan membujuk atau mendatangi orang yang tidak minta penjelasan tentang Kristen. Apalagi memaksa orang yang beragama agama lain,” kata Magnis, seperti dikutip Dialog Jumat Republika.

Missi Internasional di Dunia Islam

Penolakan para tokoh Nasrani ini bertentangan dengan sejumlah situs lembaga missi Kristen di internet. Mereka justru telah mempublikasikan adanya usaha besar-besaran mengkristenkan masyarakat dunia, termasuk kepada kaum Muslim Indonesia.

Seperti bisa dilihat pada situs internet Bethany Online (http://www.bethany.com), denominasi Kristen yang berpusat di Amerika Serikat ini telah mencanangkan proyek besar bernama Joshua Project 2000 untuk mengajak seluruh ummat manusia memeluk Kristen.

Dalam proyek itu mereka hendak membangun gereja di setiap kelompok masyarakat dan gospel untuk setiap orang, sejak tahun 2000 ini. “A church for every people and the Gospel for every person by the year 2000,” tulis Luis Bush, Direktur Internasional AD2000 & Beyond Movement

Pada situs itu juga dijelaskan berbagai hal tentang usaha pengkristenan ummat Islam di seluruh dunia, lengkap dengan target dan data prestasi yang telah dicapai. Itu tertuang dalam naskah `Missi Kristen di Dunia Islam'.

Mereka mengajak ummat Kristen berdoa agar ummat Islam keluar dari `kesesatannya', berpindah ke agamanya. “Berdoalah untuk mereka yang tersesat... Setan telah membangun tembok-tembok yang menutup ummat Islam dari terang Tuhan,” begitu tulisannya.

Hebatnya, mereka memiliki data lumayan lengkap, tentang karakteristik seluruh bangsa dan suku bangsa yang ada di muka bumi ini, termasuk berbagai suku bangsa di Indonesia, yang menjadi target missi mereka.

Khusus Indonesia, mereka memiliki data base sekitar 92 suku yang hendak dikristenkan, mulai dari yang besar seperti Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Bugis hingga yang kecil seperti suku Cia-Cia dan Wolio di Buton yang 95% beragama Islam. Semua data ini diinventarisasi oleh lembaga Christian Information Network yang berkedudukan di Colorado Springs (AS).

Lembaga missi Kristen dalam negeri ada juga yang punya megaproyek seperti itu, antara lain Yayasan Kristen Doulos (YKD), yang beberapa saat lalu markasnya dibakar massa. Dalam situsnya di internet (www.doulos.or.id) lembaga tersebut mengaku punya sejumlah proyek besar yang akan dimulai tahun 2000 ini.

Di bawah lambang bola dunia bertuliskan Doulos Misi Sejagat (Doulos World Mission) YKD telah mencanangkan sepuluh proyek missi untuk mengkristenkan 125 suku terasing Indonesia dalam waktu singkat, antara lain The Jericho 2000 Project yang akan menangani Jawa Barat, The Karapan 2000 (Race 2000) Project untuk Jawa Timur, The Mandau 2000 Project untuk Kalimantan Barat, serta The Sriwijaya 2000 Project untuk daerah Riau. Untuk itu sedang disiapkan 2.500 tenaga misionaris terlatih.

Menilik dari nama-nama proyeknya, nampak ada keterkaitan antara proyek YKD dengan Joshua Project 2000 yang ditangani lembaga missi internasional Bethany. Dari nama-nama suku yang ditargetkan Doulos, seperti ditulis Tekad, memang banyak kesamaan dengan yang ditargetkan Bethany (lihat http://www.bethany.com/profiles/c_code/indones.html).

Kristenisasi di Indonesia

Bagi kalangan missionaris, usaha penyebaran agama Kristen paling sulit dilakukan di dunia Islam, karena sejak awal kedatangan mereka kaum Muslim sudah mengenal siapa gerangan orang Nasrani dan missinya dari paparan al-Quran.

Seorang missionaris WHT Gairdner, dalam bukunya The Reprouch of Islam (1909) menulis, “Islam adalah satu-satunya agama besar yang datang setelah Kristen; satu-satunya agama yang tegas-tegas mengklaim untuk memperbaiki, menyempurnakan dan menggantikan ajaran Kristen; satu-satunya agama yang secara gemilang telah mengalahkan Kristen pada masa lalu; satu-satunya agama yang dengan serius memperselisihkan dunia dengan Kristen; satu-satunya agama yang di berbagai belahan dunia mencegah dan menang atas Kristen.”

Meski begitu mereka tak patah semangat untuk melakukannya, sejak berabad-abad lalu, kini dan mendatang. Seperti ditulis dalam situs Bethany Online, program kristenisasi di dunia Islam mulai dilakukan tatkala Perang Salib masih berlangsung di abad ke-13. Raymond Lull (1232-1315) adalah seorang missonaris pertama yang menggarap ummat Islam. Pria kelahiran Spanyol ini tak percaya bahwa Perang Salib merupakan cara yang benar untuk menghadapi tantangan Islam. Dia lebih percaya pada efektivitas gerakan missi untuk menundukkan kaum Muslimin ketimbang dengan pedang.

Lull pergi ke Tunisia pada usia 40 tahun. Sesudah melakukan debat publik tentang nilai-nilai Islam dan Kristen, ia dilempari batu dan diusir. Pada usia 75 ia kembali ke Afrika Utara, dekat Aljazair. Di sini dia dipenjara selama 6 bulan sesudah debat publik juga. Tidak kapok-kapoknya, pada usia 82 tahun ia kembali ke Tunisia dan berhasil meng-Kristen-kan beberapa orang hingga ia dirajam sampai mati pada tahun 1315.

Langkah Lull diikuti oleh para pejuang missi Kristen di seluruh dunia dengan derma dan `penyampaian berita gembira'. Salah seorang missionaris mereka yang terkenal adalah Sammuel Zwemmer (1867-1950). Orang Amerika ini berlayar ke Arab tahun 1890. Ia tinggal di Kairo selama 17 tahun, menghasilkan ratusan dokumen berbahasa Arab. Tetapi sesudah hampir 40 tahun menggarap Mesir ia hanya berhasilkan mengkristenkan kurang dari selusin orang saja.

Untuk kasus Indonesia, missi Kristen masuk ke negeri ini bersamaan dengan missi pelayaran bangsa-bangsa Eropa ke dunia Timur. Mereka datang dengan semboyan tiga G: gold, glory, gospel (emas, kejayaan, missi Kristen).

Seperti ditulis sejarawan Dr Aqib Suminto dalam buku Politik Islam Hindia Belanda, agama Kristen mulai diperkenalkan oleh para pelaut Portugis yang datang ke dunia Timur pada abad ke-16, sambil masih membawa semangat Perang Timur dimulai oleh Perserikatan Maskapai Hindia Timur (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, VOC), mencari rempah-rempah nan mahal harganya. Meski begitu VOC tidak melupakan misi penyebaran agama Kristen dalam setiap ekspedisinya.

Tahun 1605 orang-orang Portugis diusir dari Maluku oleh VOC. Begitu pula Spanyol dan Inggris berhasil ditaklukkan dalam peperangan semasa 1605-1623, sehingga berbagai koloni Spanyol dan Portugis di Nusantara bagian timur itu —kecuali Timor Timur— jatuh ke tangan Belanda. “Para Calvinis Belanda lalu memaksa orang-orang Katolik yang mereka temui untuk masuk agama Protestan yang menandai runtuhnya gereja Katolik di Indonesia Timur,” kata pakar Perbandingan Agama, Alwi Shihab.

Di bawah VOC, agama Kristen didominasi oleh Gereja Reformasi. VOC menyatakan bahwa Kristen apapun tidak boleh dipraktikkan di wilayah ini kecuali Gereja Reformasi Belanda. Belanda benar-benar menentang dan ingin menghancurkan apa saja yang sebelumnya dibangun oleh orang-orang Katolik.

Meski demikian, karena VOC adalah perusahaan dagang, perhatiannya terhadap missi Kristen kurang serius, sehingga mengecewakan orang-orang Kristen Belanda sendiri. Di Jawa, selama dua abad VOC menghindari pendekatan pada orang-orang Jawa agar berpindah ke agama Kristen, karena khawatir mengganggu kepentingan dagangnya. Satu jasa VOC yang besar buat kegiatan missi adalah sokongan penerbitan Bibel dalam bahasa Indonesia.

Baru setelah VOC bubar (1798) dan kekuasaan diambil alih oleh pemerintah Belanda, semangat Kristen kembali berkobar. “Sejak itu agama Kristen berhasil meraih apa yang dulu tertelantarkan. Dan akhirnya agama itu kembali memperoleh kekuatannya dan berhasil mempertahankan cengkeramannya di wilayah ini hingga sekarang,” tulis Alwi Shihab.

Setelah berhasil mengatasi Katolik, pemerintah Belanda memusatkan perhatian menghadapi kelompok pribumi yang beragama Islam. Sebab, menurut Aqib Suminto, bagi Belanda penghalang utama kekuasaan kolonialnya adalah agama Islam dan pemeluknya.

Ini bisa dilihat dari pernyataan para politisi dan birokrat pemerintahan Belanda. Anggota parlemen Belanda, Van Bylandt (1905) misalnya, setiap tahun selalu memperingatkan berbahayanya pengaruh Islam dan menghendaki digalakkannya propaganda Kristen.

Pada tahun 1901 Kerajaan Belanda menyatakan, “Sebagai bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang Kristen pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan missi.”

Masalahnya, semakin kuat usaha kristenisasi, semakin kuat pula tantangan dari ummat Islam. “Karena aksi zending dan missi-lah, maka ulama yang pada umumnya tenang-tenang dalam lingkungannya, kemudian mengadakan reaksi yang hebat,” tulis pengamat Belanda, EB Kielstra.

Menurut V Spiegel, seperti disitir Aqib, demikian hebat reaksi itu sehingga dalam konferensi umum zending Belanda tahun 1911 muncul keluhan aktivis zending tentang kaum Muslimin, “Mengapa Tuhan mengizinkan dan membiarkan lawan yang demikian hebat.”

Membendung Arus

Agak berbeda dengan pendekatan Portugis yang cenderung memaksa, pemerintah dan lembaga missi Belanda melakukan usaha kristenisasi dengan pendekatan sosial. Yakni dengan menggiatkan usaha amal sosial seperti membangun lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, panti asuhan dan sebagainya. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyokong penuh usaha tersebut dengan dukungan moral dan materi.

Meski berdalih kemanusiaan, cara-cara yang dilakukan missi Kristen ini sering menyakitkan ummat Islam di Jawa saat itu. Misalnya dengan memberikan derma santunan sosial kepada kaum miskin sembari dibujuk masuk agama Kristen. Sehingga Kartini, putri bangsawan Jawa yang tidak berasal dari kalangan santri pun dalam suratnya kepada pejabat pemerintah kolonial Belanda EE Abendanon mengungkapkan protesnya.

“Bagaimana pendapatmu tentang zending (diakonia), jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-semata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? ...Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri adalah sebesar-besarnya dosa. Pendek kata, boleh melakukan zending (diakonia), tetapi jangan mengkristenkan orang! Bisakah?” ungkap Kartini.

Dampak dari missi Kristen yang demikian itu, kaum Muslimin di Jawa, khususnya di Yogyakarta, merasa berkewajiban menghentikan atau setidaknya membatasi merebaknya missi-missi Kristen.

KH Ahmad Dahlan memandang, upaya membatasi kristenisasi jangan dengan jalan kekerasan, tetapi dengan jalan menyaingi missi-missi Kristen itu. Untuk itu ia mengajak rekan-rekannya untuk mendirikan sekolah, panti asuhan, klinik dan lembaga-lembaga sosial Islam di seluruh Indonesia, sebagaimana dilakukan missi Kristen. Usaha inilah, menurut Alwi Shihab, yang menjadi cikal-berdirinya persyarikatan Muhammadiyah.

Sejak itu kalangan Muhammadiyah dan sejumlah ormas Islam lainnya gencar mengumpulkan dana zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) untuk membangun sarana sosial bagi ummat Islam. Lambat laun berdiri sekolah, klinik, rumah sakit serta panti asuhan di seluruh Indonesia.

Menghadapi tantangan itu tentu missi Kristen tak tinggal diam. Mereka pun menggiatkan pembangunan berbagai sarana missinya. Apalagi soal dana mereka tak pernah kekurangan. Suplai dana dari luar negeri seperti air bah yang tercurah dari langit.

Ada fenomena menarik di dunia Barat. Meski budaya mereka kini cenderung sekuler, kepedulian terhadap missi gereja masih tetap ada. Seperti di Jerman, meski pemerintah negara itu menganut sistem sekuler, pemerintah mewajibkan setiap warganya yang beragama Kristen untuk menyisihkan sekitar 10% dari pajak penghasilannya untuk kas gereja.

Wahyu Sediono, warga Indonesia di Jerman, dalam forum diskusi internet Islamic Network membenarkan adanya Kirchensteuer atau pajak untuk gereja itu. “Besarnya tergantung dari masing-masing pendapatan yang dikenai pajak. Di lingkungan Gereja Protestan di Berlin-Brandenburg (EKIBB) besarnya 9 % dari perkiraan pajak pendapatan,” ungkap Wahyu mengutip sumber EKIBB.

Dana seperti inilah yang dikirim ke berbagai negara untuk mendukung missi Kristen, seperti pembelian pesawat terbang untuk para aktivis gereja di pedalaman Kalimantan dan Papua Barat (Irian Jaya).

Dalam hal dana dakwah, ummat Islam memang masih `ketinggalan kereta'. Kalau di negara sekuler ada `pajak gereja', di kalangan Islam `pajak masjid' yang berupa zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) yang hanya 2,5 % dari pendapatan itu sulit terkumpul.

Jadi, sampai kapan hendak `ketinggalan kereta' terus?

Sampai Kapan Konflik Akan Selesai?

Diperlukan aturan tentang tata cara penyebaran agama. Mengapa pihak Kristen terus-menerus menolak aturan itu?

Sebenarnya hubungan antara ummat Islam dan Kristen di Indonesia dalam aktivitas sehari-harinya berjalan baik, tidak ada masalah. Terutama dalam dunia muamalah, seperti perdagangan, tidak jauh berbeda dengan hubungan antara sesama Muslim.

Friksi mulai muncul antara keduanya, tatkala memasuki masalah persaingan penyebaran agama dan dalam kancah politik dan ekonomi. Untuk kasus Indonesia, yang paling sering memicu konflik horisontal di tengah masyarakat adalah penyebaran agama, seperti pembangunan gereja dan missi Kristen di tengah pemukiman ummat Islam tanpa izin Pemda dan masyarakat setempat, sehingga menimbulkan kemarahan ummat Islam. Contoh paling mutakhir adalah pembakaran kompleks Yayasan Doulos di Cipayung Jakarta beberapa saat lalu.

Problema ini sangat mudah meletup menjadi konflik karena memang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jika kedua belah pihak bersikeras dengan kehendaknya masing-masing, kemudian ada provokator yang memanas-manasi, maka jadilah konflik itu membesar hingga menjadi kerusuhan massal.

Konflik Berlatar Politik• Konflik bernuansa politik dan ekonomi biasanya hanya berada pada tataran elite, tidak sampai menjalar di tingkat publik. Kalaupun terasa di tengah masyarakat luas, biasanya hanya berupa ketidakpuasan yang terpendam (laten).

Fenomena ini bisa dilihat dalam percaturan politik di era Orde Baru. Seperti telah sering diungkap banyak pihak, ketika Soeharto baru berkuasa, yang mendapat posisi penting dalam pemerintahannya adalah orang-orang dari kubu Islam-sekuler dan kalangan Kristen. Kelompok Islam relatif terpinggirkan. Sehingga, hubungan antara ummat Islam dengan pemerintah dipenuhi berbagai ketegangan, dengan puncaknya kasus pembantaian di Tanjung Priok.

Baru di akhir pemerintahan Soeharto, kelompok Islam mendapat tempat, sehingga banyak jabatan politis yang dipegang oleh ummat Islam. Ormas-ormas Islam diberi `angin', termasuk ICMI. Anggota DPR banyak dari kalangan Islam. Kalangan Kristen yang semula banyak menempati jabatan strategis dalam kekuasaan tentu cemburu.

Untunglah friksi itu lebih banyak berkelindan di tataran elite. Hanya di Maluku friksi elite ini kemudian menjalar ke tingkat bawah hingga ke akar rumput. Seperti diungkap Ketua DPC PBB Kodia Ambon Ustadz Ali Fauzi, semula hubungan ummat Islam dan ummat Kristen di Maluku baik-baik saja.

Menurut tokoh Islam Maluku ini, sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sampai pemerintahan lalu, tidak pernah ada pertikaian. “Jadi toleransi antar ummat beragama di sana bisa dikatakan cukup harmonis, tidak banyak masalah,” kata pria kelahiran Ambon 75 tahun lalu ini.

Masih menurut Ali Fauzi, masalah mulai muncul ketika sedikit demi sedikit terjadi perubahan suasana di jajaran birokrasi Pemda Maluku. Seperti diketahui, sejak zaman Belanda, orang Maluku yang beragama Kristen mendapat keistimewaan untuk bersekolah, sehingga yang menjadi pegawai negeri dari level bawah hingga atas adalah kalangan Kristen.

Tapi sejak 1960-an, orang Islam Maluku mulai berkesempatan mengenyam pendidikan lebih baik dan sebagian jabatan birokrasi mulai diisi oleh Muslim Maluku, sehingga lambat laun terjadi pergeseran. Muslim Maluku mulai menduduki jabatan penting pemerintahan, bahkan sampai berhasil menduduki jabatan gubernur propinsi itu. Meski pegawai negeri di Maluku masih lebih banyak dari kalangan Kristen daripada pegawai Muslim, toh hal itu sudah menyebabkan orang-orang Kristen merasa tersisih. “Ini salah satu faktor utama yang membuat mereka iri hati dan melakukan aksi,” kata Ali Fauzi.

Kecemburuan itu kian menebal tatkala melihat sektor niaga juga dikuasai oleh kalangan Muslim, baik Muslim Maluku maupun para pendatang dari Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Untuk level ekonomi lemah saja, seperti tukang becak, banyak diisi oleh orang Buton, Sulawesi Tenggara.

Namanya persaingan, seharusnya diatasi dengan upaya berlomba secara sehat. Kalau Kristen Maluku merasa mulai tersingkir karena persaingan, seharusnya diatasi dengan peningkatan mutu SDM mereka di Maluku. Tapi mereka tidak mencari solusi demikian, melainkan memilih jalan kekerasan. “Sejak itu pula mereka melakukan berbagai rencana untuk menyingkirkan ummat Islam,” kata Ali Fauzi.

Parahnya, bagi sebagian kelompok Kristen yang tidak sabaran, upaya penyingkiran itu disandingkan dengan gerakan separatisme berupa keinginan mendirikan negara Republik Maluku Serani (RMS). Maksudnya jelas, mereka ingin mendirikan negara sendiri di Maluku yang pemerintahannya mutlak dikuasai oleh orang Kristen.

Jadi, kalau sekarang banyak tokoh yang menegaskan bahwa kasus pertikaian di Maluku bukan perang agama, tetapi konflik politik dan kecemburuan sosial-ekonomi, dalam satu hal bisa dibenarkan. Namun jika ditilik lebih jauh, konflik politik dan kecemburuan itu sendiri berlandas ketidaksukaan satu kelompok agama kepada kelompok agama lain. Itu artinya, tanpa adanya momok Islamofobia di kalangan Kristen Maluku, konflik politik yang kemudian berkembang jadi perang ini tidak terjadi.

Identifikasi masalah seperti ini, haruslah jelas terlebih dahulu, sehingga bisa dicari solusi yang tepat. Pernyataan bahwa konflik itu bukan perang agama, melainkan hanya sebuah konflik politik, meski nampak menenteramkan tapi malah mengaburkan masalah dari persoalan sesungguhnya. Akibatnya, sulit dicari penyelesaian yang tuntas.

SKB nan Tak Kunjung Usai• Konflik seputar masalah kristenisasi hingga kini juga masih menjadi PR besar yang mengganjal hubungan antara orang Islam dan orang Kristen di Indonesia. Karena, meski sudah ditengahi oleh pemerintah dengan sejumlah peraturan, pelanggaran-pelanggaran masih terus saja berlangsung, hingga tak jarang mencuat menjadi konflik terbuka, baik yang berskala lokal hingga yang berskala nasional.

Menurut sejarawan Belanda BJ Boland dalam Pergumulan Islam di Indonesia, pertikaian antara ummat Islam dan ummat Kristen pasca-kemerdekaan RI mulai mencuat sejak tahun 1965. Intensitasnya menjadi kian besar pada 1 Oktober 1967 di Makassar, berupa perusakan sebuah gereja oleh pemuda-pemuda Islam, lantaran ada seorang guru agama Kristen yang melecehkan Nabi Muhammad. Tambahan lagi, gereja itu dibangun tepat di depan masjid jami' di Makassar meski tidak ada orang-orang Kristen yang berdiam di sekitar tempat itu.

Sejak itu hingga tahun 1969, insiden perusakan gereja juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia seperti Meulaboh (Aceh Barat), Jakarta, Jatibarang (Jawa Barat), dan Purwodadi (Jawa Tengah). Sebaliknya, insiden serupa juga terjadi saat masyarakat Muslim hendak mendirikan masjid di tengah masyarakat Kristen di Sangihe (Sulawesi Utara).

Atas prakarsa pemerintah, pada 30 November 1967 diadakan Musyawarah Antar-Agama di Jakarta, untuk memperbaiki hubungan yang menegang antara berbagai ummat beragama. Dalam kesempatan itu Menteri Agama KH M Dachlan menyampaikan kehendak pemerintah bahwa melalui forum musyarawah tersebut dapat tercapai dua hal penting. Pertama, persengketaan di antara ummat beragama harus diakhiri. Kedua, suatu ummat beragama dilarang menjadikan ummat beragama lainnya sebagai sasaran missi agamanya.

Utusan agama Islam, Hindu, dan Budha sepakat dengan rumusan itu. Bahkan Prof Rasjidi mengusulkan sebuah konsep `Piagam' yang diharapkan akan menjadi asas toleransi agama. Isinya menyangkut kesepakatan bahwa suatu ummat beragama tidak akan diizinkan menjadikan ummat beragama lainnya sebagai sasaran propaganda.

Menguatkan pendapat Rasjidi, Mohammad Natsir menyatakan optimismenya bahwa hubungan Islam dan Kristen akan membaik seperti hubungan membaiknya Protestan dan Katolik. “Setelah melalui masa perang agama yang lama, sekarang golongan Tambunan (nama utusan Protestan -red) dan golongan Kasimo (nama utusan Katolik -red) terang tidak lagi terpanggil untuk memprotestankan orang Katolik Roma atau mengkatolikromakan orang Protestan. Mengapa perkembangan ini tidak dapat diterapkan juga dalam hubungan ummat Islam dan ummat Kristen?” kata Natsir.

Namun pihak utusan Kristen menolak mentah-mentah usulan itu. Salah seorang utusannya, Dr Tambunan, menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat menerima pembatasan penyebaran agama kepada kelompok tertentu dengan alasan bertentangan dengan suruhan Bibel. Dalam Sidang Dewan Gereja-gereja se-Indonesia (DGI) di Salatiga Juli 1976, sikap penolakan oleh pihak Kristen itu ditegaskan kembali.

Kalangan Katolik pun bersikap senada. Mereka menolak aturan yang hanya membolehkan penyebaran agama kepada mereka yang belum beragama. “Mengagamakan orang yang belum beragama adalah munafik,” kata Kardinal Darmoyuwono.

Menanggapi hal itu, para tokoh Islam mengingatkan, dalam Islam pun ada suruhan untuk berdakwah kepada segenap ummat manusia di seluruh penjuru bumi. Tetapi demi kerukunan antar ummat beragama di Indonesia, ummat Islam bersedia menahan diri untuk tidak mendakwahkan agamanya kepada orang lain yang sudah beragama.

Namun, apapun argumen yang disampaikan wakil pemerintah dan wakil kelompok Islam, pihak Kristen tetap saja konsisten menolak sehingga mengecewakan banyak kalangan Islam. Penolakan itu dinilai sebagai sikap intoleran kalangan Kristen. “Tanpa toleransi, tak akan ada kerukunan,” kecam Mohammad Natsir.

Sikap demikian masih berlanjut ketika Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan No 70 Th 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama dan Surat Keputusan No 77 Th 1978, tentang Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan. Badan Pekerja Harian DGI dan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) segera membentuk satu tim penyusun kertas telaah (study paper) untuk membahas kedua aturan itu. Hasilnya, mereka tegas-tegas menolak kedua SK Menteri Agama tersebut. Alasannya, kedua SK itu dianggap bertentangan dengan UUD'45 dan hak-hak asasi manusia.

Pemerintah kemudian menyempurnakan SK Menag itu dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 1 Th 1979 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia.

Tapi lagi-lagi pihak Kristen menolak. “SKB itu lebih banyak merugikan kami. SKB No 1 tahun 1979 itu tidak jelas. Siapa yang menentukan, bukan rakyat di sekelilingnya tapi pemerintah,” ujar Sekreataris Jendkelihatannya tidak sejalan. Dia juga bolak-balik ke luar negeri untuk meyakinkan para investor. Tapi situasi keamanan tidak mereda, bagaimana investor mau datang ke sini?

Mungkin perlu oposisi untuk menekan?

Itu salah satu cara. Saya sangat setuju kalau oposisi dilembagakan. Partai-partai yang tidak duduk di pemerintah, jadilah oposisi. Tentu yang oposisi di sini selalu dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar. Kalau salah ya disalahkan, kalau benar ya harus dipuji dan didukung. s, memang akhirnya protes mereda. Tapi itu artinya `bom waktu' sedang mereka tanam di tengah masyarakat. Hingga kemudian meledak suatu saat dengan faktor pemicu yang mungkin tidak bersangkut paut dengan masalah SARA. Dari kasus kerusuhan di Situbondo yang merusakkan 21 gereja dan kerusuhan di Tasikmalaya yang merusakkan delapan gereja beberapa saat lalu, diketahui sebagian gereja yang rusak itu memang dibangun tanpa IMB.

Karena itu, seperti dijelaskan Sekjen Dewan Da'wah, Husein Umar, MUI Pusat dalam beberapa rapat kerja mendesak supaya SK dan SKB menteri itu ditingkatkan menjadi Keputusan Presiden (Keppres) atau berupa Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu).

“Sehingga ada sanksi hukum yang jelas,” kata Husein yang juga pengurus MUI Pusat ini.

Pertanyaannya kemudian, apakah setelah ditingkatkan menjadi Kepres, ada jaminan kalangan Kristen mau menaati aturan itu?

 

Hosted by www.Geocities.ws

1