![]() |
||
|
POS KOTA Edisi 1 Maret
2000
Bingung atasi korban bertubuh tebal (2)
PERANG memang
selalu menyisahkan banyak penderitaan. Traumatik, ketakutan sampai luka fisik yang
mendatangkan rasa perih dan sakit luar biasa bagi mereka yang terlibat didalamnya.
Barangkali karena berlangsung lama dan hampir terjadi setiap saat, warga menganggap
berbagai peristiwa pembantaian menjadi santapan sehari-hari.
Bisa jadi, kali ini saudara, tetangga atau anak yang menjadi
korban keganasan perang. Esok, mungkin tubuhnya sendiri yang akan dicincang habis oleh
lawan. Mau tidak mau, tubuh harus disiapkan untuk mengalami hal yang paling buruk berupa
tindak penyiksaan. Warga Galela, dalam kurun waktu tak lebih dari sebulan.
Dr Yogi Prabowo, anggota tim MER-C yang berkesempatan
bersosialisasi dengan korban kerusuhan Galela selama sebulan ini, mulanya marasa takjub.
Bagaimana tidak, warga yang mengalami luka dan menahan lapar separah apapun, sebagian
besar bisa bertahan hidup tanpa tindakan medis. Seolah ajang kerusuhan banyak menyimpan
dan menunjukan akan kebesaran Allah.
Seorang warga yang mengalami luka tombak merobek batok kepalanya
bagian belakang, hingga otak keluar, misalnya, ternyata mampu bertahan hidup dan melakukan
perlawanan.
"Logikanya, dengan luka separti itu tanpa ada tindakan
pengobatan, orang akan mati," katanya.
Seperti tindakan operasi yang dilakukan di bawah nyala lampu
patromak, siapa yang memberi jaminan tindakan operasi itu akan berhasil dengan gemilang.
"Di Galela, tak satupun pasien yang dioperasi mengalami kegagalan," katanya.
Jarum suntikan membengkok
Ia pernah berniat mengoperasi satu pasien laki-laki yang
terkena luka bom rakitan. Saat alat injeksi hendak disuntikan di pembuluh darah pada
lengannya, tiba-tiba jarum suntikan tidak bisa menembusnya. "Jarum malah
bengkok," tutur Yogi.
Usut punya usut ternyata sang pasien memiliki ilmu kebal.
"Saya mesti permisi dulu sama yang punya badan," lanjutnya sambil senyum-senyum.
Dokter yang berdarah asli Magelang, Jateng dan kini tinggal di
Johar Baru, mengaku masih berniat ke Galela melanjutkan misi kemanusiaan dimasa mendatang.
Meski ia sadar penuh bahwa lokasi yang dipilih untuk pengabdiannya itu bukan tempat yang
menjanjikan kenyamanan. Bahkan boleh dikata menyimpan banyak mara bahaya yang setiap saat
bisa saja merenggut jiwa.
"Saya merasa pengabdian sebagai tenaga medis di sana lebih
bermakna dari pada di pulau Jawa," kata Yogi.
Yogi sendiri mengaku memiliki hobi berpetualang dari lokasi
kerusuhan satu ke kerusuhan lainnya. Mulai dari Aceh, Ambon, Halmahera bukan saat
Indonesia dilanda bencana asap kebekaran hutan belum lama ini. Pria berkulit bersih ini
aktif terjun sebagai tenaga medis yang siap memberi pertolongan tanpa meminta imbalan
jasa.