KH Syah Roni Syafii, Agama Itu Berkat
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0004/24/NAPER/khsy12.htm
Kompas/thomas pudjo widijanto
KH Syah Roni Syafii
DI tengah gelegak pertikaian antardua kelompok berbau suku, agama, ras
dan antargolongan (SARA) di Kepulauan Maluku, ada cahaya penuh kasih
memancar dari wajah KH Syah Roni Syafii (39).
Pengasuh Pondok Pesantren Khairul Umah, Desa Kobisonta Kecamatan Wahai,
Pulau Seram, Maluku Tengah itu, dengan tangan terbuka menampung
pengungsi dari agama lain yang melarikan diri dari Seram Timur akibat
daerahnya diserang kelompok lain.
Tidak main-main, jumlah warga yang ditampung oleh kiai berjenggot lebat
dengan surban terikat di kepala itu. Kiai yang juga selalu berjubah,
kadang putih, kadang hitam, bulan Januari lalu menampung 1.891 jiwa
selama satu bulan di pondoknya, sebelum akhirnya dievakuasi ke
penampungan yang disediakan oleh Pemda Maluku. Kemudian Februari, 872
jiwa pengungsi, dan Maret lalu masih sekitar 100 jiwa ditampung di
pondok itu.
Ini memang suatu langkah berani dan suci, di tengah berkecamuknya
pertikaian yang begitu memancarkan dendam. Karena itu, tidak setiap
orang berkenan dengan langkah KH Syah Roni.
"Saya memang sempat menerima telepon gelap. Tetapi saya yakin apa yang
saya lakukan adalah niat baik sesuai dengan ajaran Islam, agama saya.
Itu sebabnya, saya membuka diri, siapa pun, agama apa pun, kalau memang
butuh pertolongan, akan saya bantu," tegasnya.
Sikap KH Syah Roni, lelaki asal Solo ini, memang menjadi gambaran umum
kondisi Kecamatan Wahai. Seluruh pulau-pulau di wilayah Propinsi Maluku
dan Maluku Utara berkecamuk pertikaian. Hanya Kecamatan Wahai yang
sampai kini belum terjamah oleh pertikaian bermotif SARA itu. Warga
masyarakatnya masih rukun, bergaul bebas tanpa membedakan agama atau
suku.
Bahkan warga masyarakat di wilayah ini, saling bahu membahu menciptakan
pengamanan swakarsa, untuk menepis setiap perusuh yang masuk ke wilayah
ini. Karena daerah ini aman bagi siapa pun, banyak warga masyarakat,
khususnya dari daerah-daerah di Pulau Seram melarikan diri ke Wahai
ketika desanya menjadi ajang kerusuhan.
"Keprihatinan untuk kerusuhan di Maluku ini, saya wujudkan untuk
menerima siapa saja yang menderita, siapa saja yang datang mengungsi,
entah mereka agama apa. Satu harapan saya, agar mereka yang bertikai
punya kesadaran moral untuk mau berdamai, sehingga Maluku bisa kembali
tenang," tandasnya.
***
MENURUT Syah Roni, langkah yang dilakukan itu semata-mata ingin
menunjukkan kepada semua umat, bahwa agama adalah berkat. Karena agama
itu berkat maka si pemeluk agama juga harus bisa menjadi berkat bagi
orang lain.
Hanya orang yang memahami bahwa agama itu berkat, yang akan mampu
menghindari segala pertentangan, pertikaian dan segala bentuk kemurkaan
lainnya. Pemahaman inilah yang mendorong KH Syah Roni bersedia menampung
pengungsi dari umat lain, kendati ada risiko yang dihadapi.
Hal lain yang mendorong niat baik itu, bahwa KH Syah Roni ingin
memberikan contoh, betapa agama sebenarnya rahmat yang menjadi sumber
ketenangan. Artinya, ketenangan ada di situ apabila ada pelaksanaan
agama secara benar. "Pembelaan agama bukan dengan pertikaian, sebaliknya
pembelaan agama adalah bagaimana ajaran itu bisa terefleksi dalam
tingkah laku keseharian," tegasnya.
Syah Roni mengaku, bahwa perlindungan terhadap pengungsi beragama lain
ini memang hanya sebuah karya kecil, di tengah bara api yang demikian
membara. Artinya, apa yang dilakukan memang sengaja untuk mengajak
mereka yang bertikai itu menyadari bahwa berdamai itu lebih indah.
"Memang hanya setitik air, di tengah kobaran api yang besar. Tetapi saya
berharap ada titik-titik air di mana-mana, ada sikap saling mengasihi di
mana- mana. Dengan itu akan menjadi kumpulan air yang mampu mendinginkan
bara api di Maluku ini," katanya.
Salah kaprah memaknai ajaran agama, bagi Syah Roni memang hanya akan
menimbulkan bencana. Ia menunjuk contoh makna jihad dalam Islam. Jihad
itu adalah amal agama.
"Kalau namanya amal agama sudah tentu kita tidak menggunakan parang,
atau golok untuk menebas orang lain. Kalaulah memang ada peperangan
agama, maka jika lawan sudah menyerah, jangan terus dikejar-kejar dan
dibunuh, karena itu hanya ingin memunculkan dendam," tandasnya.
Syah Roni memberikan gambaran filsafat lebah. Koloni lebah yang
jumlahnya ribuan itu tidak pernah mengganggu kalau saja tidak diganggu.
Kalau lebah itu diganggu, maka seribu lebah itu akan datang. Dalam
keadaan tidak diganggu, lebah itu akan tenang. "Artinya saya berharap
dalam krisis Maluku ini ada ketenangan bagi mereka yang merasa seperti
kawanan lebah, punya massa banyak," tegasnya.
***
KH Syah Roni lahir di Solo, tahun 1961. Sejak kecil dia memang hidup di
lingkungan pondok. Pada tataran dasar dia menjadi santri di Pondok
Pesantren Lirboyo Kediri, kemudian meneruskan ke Pondok Gontor,
Ponorogo. Dia pernah studi agama di Arab Saudi.
Pendidikan di pondok itulah yang akhirnya membentuk pribadi Syah Roni
yang punya sikap saling menghargai agama satu dan agama yang lain.
"Dalam konsep hidup saya dan itu yang saya ajarkan kepada para santri,
adalah tidak terjebak pada fanatisme sempit, karena sikap itu hanya
memunculkan permusuhan," tegasnya.
Pondok yang dipimpin sekarang berdiri tahun 1994, dengan jumlah santri
awalnya hanya sekitar dua puluhan. "Tetapi sekarang saya punya santri
sekitar 500 orang," tegasnya.
Ia mempromosikan pesantrennya ini sebagai pondok pesantren pertanian.
Karena itu, tidak mengherankan jika luas pondok pesantren ini mencapai
45 hektar. "Ya dari lahan tadah hujan inilah saya dan para santri
menggantungkan kehidupan sehari-hari," tegasnya.
Lahan tadah hujan itu bisa ditanami padi kalau musim penghujan, tetapi
kalau kering bisa ditanami jagung, kasbi, pisang, cabe, dan lainnya.
"Yang mengolah lahan itu para santri, setelah mereka belajar formal di
ruang pondok. Bukan ilmu yang kita tanamkan tetapi juga praktik
pertanian," kata Syah Roni.
Pihaknya kini sedang mengusulkan agar pemerintah membuat bendung tadah
hujan di wilayah Desa Kobisonta. "Di sana ada cekungan di antara dua
bukit yang amat luas. Saya kira kalau saja cekungan itu dibendung, akan
menjadi telaga besar untuk pengairan di musim kemarau. Dengan itu
barangkali lahan tadah hujan yang ada di Kobisonta, sekitar 500 hektar,
bisa berubah menjadi sawah, atau lahan pengairan yang bisa untuk
agrobisnis," tandasnya.
***
BAGAIMANA kiatnya menghadapi provokator, sampai Kecamatan Wahai bersih
dari tindak kerusuhan?
"Yang utama terus menciptakan iklim persatuan dan memberi pemahaman
secara benar tentang kerusuhan yang terjadi di Maluku kepada umat Islam
yang memang mayoritas di Kecamatan Wahai. Pemahaman itu dilakukan
terus-menerus, agar umat Islam tetap waspada terhadap orang atau
pendatang yang akan mengacaukan wilayah Wahai."
"Saya selalu menganjurkan warga agar tidak bertindak sembarangan sebelum
melapor ke satuan tugas (Satgas-Red) yang memang didirikan di setiap
desa. Masing-masing Satgas berkoordinasi dengan tokoh-tokoh Islam di
sana. Pokoknya dengan itu, kita Islam yang mayoritas ingin melindungi
umat lain di Wahai," tegasnya.
Menurut Syah Roni, semakin lama perang saudara di Maluku semakin banyak
saja kesengsaraan yang dihasilkan. "Tidak bermanfaat, tidak ada yang
kalah dan yang menang. Yang ada cuma penderitaan rakyat kecil yang tidak
tahu apa-apa." (th pudjo widijanto)
|
|
|
|