b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Republika Online edisi: 16 Apr 2000

Maluku Bergolak, Remaja Berkorban

http://www.republika.co.id/2004/16/15951.htm

Pertikaian bernuansa SARA antara warga yang terjadi di berbagai tempat

di Maluku bukan cuma telah menimbulkan kerugian materi saja bagi warga

setempat. Kerugian vital berupa jatuhnya korban tewas juga mewarnai

pertikaian di Ambon dan sekitarnya yang sudah berjalan sekitar 15 bulan

terakhir.

Akibat pertikaian yang berlarut-larut antara sesama warga Maluku itu,

sejumlah kota di provinsi di belahan timur Indonesia itu hancur lebur.

Puing-puing berserakan, tanda hancurnya sejumlah bangunan fisik akibat

dibakar oleh kelompok-kelompok yang bertikai, terlihat di mana-mana.

Dampaknya, ratusan ribu warga Ambon dan kota-kota lain di sekitarnya

kehilangan tempat tinggal. Buntut-buntutnya, ratusan ribu orang terpaksa

menjadi 'tuna wisma' mendadak, dan harus meninggalkan tempat tinggal

mereka. Warga Ambon dan kota-kota di sekitarnya terpaksa banyak yang

harus hidup di penampungan pengungsi di berbagai tempat di sejumlah kota

di Maluku, dan juga di beberapa kota yang terletak provinsi lain sekitar

Maluku.

Hidup dalam pengungsian jelas merupakan penderitaan berat bagi warga

Maluku korban pertikaian yang tak ubahnya mirip perang saudara tersebut.

Khusus bagi para remaja dan anak-anak yang semula berstatus pelajar,

kehilangan tempat tinggal yang hancur rata terbakar menyebabkan mereka

bukan cuma harus tinggal di tempat penampungan pengungsi, melainkan juga

terancam putus sekolah masing-masing.

Sedihnya, mayoritas dari pengungsi korban kerusuhan di Ambon ialah para

warga beragama Islam. Karena itu, mayoritas dari remaja dan anak-anak

yang terancam terputus sekolahnya otomatis adalah saudara-saudara kita

para muslim dan muslimah. Mereka kini hidup menderita dalam tempat

penampungan pengungsi.

Selama ini pemberitaan media massa nasional dan internasional umumnya

hanya membahas soal kasus pertikaian bernuansa SARA di Ambon dan

sekitarnya dari sudut pandang orang dewasa, bukan dari sudut pandang

remaja dan anak-anak. Urusan pengungsi kendati juga ada yang

memberitakan, tapi hanya sedikit sekali media massa yang mem-blow

up-nya. Sedangkan bagaimana komentar dan isi hati para pengungsi korban

pertikaian, khususnya dari kalangan anak-anak dan remaja, boleh dibilang

jarang sekali diberitakan oleh media massa.

Padahal, akibat pertikaian itu, para warga Maluku yang beragama Islam

benar-benar dibuat sengsara. Mereka kehilangan sanak saudara, kehilangan

tempat tinggal, kehilangan pekerjaan dan kini terancam serangan berbagai

penyakit di tempat pengungsian. Sedihnya, sebagian besar di antara

pengungsi korban kerusuhan dan pertikaian di Ambon dan sekitarnya itu

adalah para remaja dan anak-anak.

Tapi, penderitaan para remaja dan anak-anak korban kerusuhan di Maluku

itu bukan berarti tidak mendapat perhatian dari sesama remaja yang ada

di daerah lain, termasuk Jakarta. Kendati hanya mengetahui terjadinya

kerusuhan di kota Ambon, Ternate, Tidore, Halmahera, dan masih banyak

tempat lain di Maluku lewat media massa cetak dan elektronik, para

remaja di Jakarta banyak juga yang tergugah untuk berbuat sesuatu.

Menyadari saudara-saudara mereka sesama remaja di Maluku sedang

menderita, para remaja di Jakarta mencoba membantu dengan mengumpulkan

bantuan pangan, uang dan lain-lain. Bantuan mereka dikoordinir oleh

berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), termasuk Yayasan Nurani Dunia

(YND). Selain itu, para remaja Jakarta juga mengirim surat berisi

dukungan moril bagi para remaja Maluku yang sedang berada di

pengungsian.

Surat-surat remaja Jakarta itu kemudian dibawa langsung oleh berbagai

LSM yang mengutus orangnya pergi ke Maluku untuk menyalurkan bantuan

dari berbagai pihak, Maret 2000 silam. Surat-surat itu pun disampaikan

pada remaja Maluku yang sedang berada di tempat penampungan pengungsi di

Ambon dan kota-kota lain di wilayah Maluku. Puluhan lembar surat itu

kemudian dibalas oleh para remaja korban pertikaian dan dikirim balik ke

Jakarta, lewat perantaraan LSM YND.

Isi puluhan surat balasan yang dikirim para remaja muslim korban

pertikaian berdarah di Maluku itu sangat mengenaskan. Mereka

menceritakan nasib buruk mereka secara apa adanya. Selain mengirim

surat, para remaja di pengungsian juga mengirim sejumlah gambar

corat-coret dalam bentuk sketsa yang menggambarkan berbagai aksi

kekerasan yang mereka lihat terjadi di sekitar tempat tinggal mereka di

Maluku.

Gambar coretan sketsa itu berjumlah puluhan lembar dari puluhan remaja

dan anak-anak korban kerusuhan di Ambon dan sekitarnya. Hampir semua

gambar coretan itu berisi sama, yakni adegan kekerasan yang terjadi

dalam pertikaian bernuansa SARA di berbagai kota di Maluku sepanjang 15

bulan terakhir.

Menyedihkan sekali memang, Di usia masih belia, para remaja dan

anak-anak warga Maluku itu harus melihat kejadian perang saudara di

antara sesama warga provinsi kepulauan tersebut. Tapi mau dibilang apa,

itulah yang terlanjur terjadi di Ambon dan sekitarnya. Sebuah tragedi

kemanusiaan yang sangat menyedihkan bagi kita semua.

Hosted by www.Geocities.ws

1