b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Republika Online Edisi : 23 Februari 2000
Bentrok Fisik Terjadi Lagi di Masohi dan Morotai

AMBON -- Bentrok fisik antar warga dengan latar belakang SARA kembali mengguncang kota Masohi, Maluku Tengah, Selasa (22/2) pagi. Ini menyebabkan massa mulai terkonsentrasi untuk saling menyerang. Keterangan yang diperoleh Antara dari berbagai sumber di Masohi menyebutkan, pertikaian itu berawal dari pembakaran tempat ibadah di kawasan belakang pasar Masohi oleh salah satu kelompok tertentu.

Tindakan itu membuat massa kelompok lainnya menjadi marah dan berniat membakar tempat ibadah kelompok lain di sekitar kawasan perumahan rakyat. Namun upaya itu terhalang aparat keamanan yang sementara bertugas menjaga tempat ibadah itu, mengakibatkan terjadi kontak senjata di antara aparat dengan kelompok tersebut yang menyebabkan salah satu warga dilaporkan terluka.

Insiden tersebut mengakibatkan situasi di ibukota Kabupaten Maluku Tengah itu menegang. Sejumlah warga terutama anak-anak, wanita dan orang tua mulai mengungsikan diri ke tempat yang lebih aman.

Kadispen Polda Maluku, Mayor Pol Jekriel Philips, mengatakan, berdasarkan laporan yang diceknya dari Polres Maluku Tengah, insiden itu akibat adanya ledakan bom sehingga ruangan bagian belakang tempat ibadah itu terbakar. ''Aparat keamanan telah berusaha memadamkan api agar tidak membakar habis bangunan ibadah tersebut, sekaligus melakukan penyekatan kedua kelompok untuk tidak bertikai,'' katanya.

Sementara itu, Pangdam XVI/Pattimura, Brigjen TNI Max Tamaela, ketika dikonfirmasikan, membenarkan peristiwa itu. Aparat keamanan telah diarahkan untuk melerai kedua kelompok massa guna mengantisipasi pertikaian lebih besar.

''Ketegangan memang terjadi karena masyarakat emosi sehubungan pembakaran tempat ibadah. Oleh karena itu, aparat keamanan tengah berusaha mengendalikan,'' katanya.

Ditanya adanya anggota masyarakat terluka, ia menjelaskan, data sementara memang tercatat seorang terluka. ''Namun, terpenting adalah masyarakat, baik di Masohi dan Propinsi Maluku serta Maluku Utara pada umumnya tidak tersulut sehingga bisa menimbulkan kerusuhan besar dengan korban, baik jiwa maupun material,'' tandas Pangdam Tamaela.

Situasi di kota Ambon dan sekitarnya tidak terpengaruh dengan insiden di Masohi, kendati Senin malam (21/2) terjadi ketegangan di kawasan Ahuru sehubungan terdengarnya sejumlah ledakan bom maupun tembakan senjata api organik.

Berbagai aktifitas berjalan lancar karena masyarakat kota Ambon dan sekitarnya telah setahun lebih terjerat dalam ''tragedi kemanusiaan'' dengan akibat menimbulkan penderitaan berkepanjangan.

Kerusuhan yang ditandai dengan bentrok fisik antarwarga juga terjadi di Morotai, Maluku Utara, Ahad (20/2) dini hari. Sebelumnya kerusuhan terjadi di Pulau Halmahera, Pulau Bacan dan Pulau Obi.

Camat Morotai Selatan, Salim Ali BA, ketika dikonfirmasikan melalui telepon, Senin, menyatakan bahwa bentrokan yang terjadi di desa Darame dan Daruba, Ibukota Kecamatan Morotai itu, kini telah berhasil dikendalikan oleh 204 personil aparat keamanan dari batalyon 512 dan 518 yang diterjunkan ke lokasi pertikaian.

Bentrokan yang berlangsung sekitar satu jam itu, telah mengakibatkan 32 rumah penduduk dan tiga tempat ibadah rusak ringan. ''Tidak ada pembakaran rumah-rumah dan bangunan, dan yang rusakpun hanya terkena lemparan batu,'' katanya. Kedua kelompok yang bertikai itu diminta untuk tidak saling menyerang, karena aparat keamanan telah membuat garis demarkasi di lokasi kedua desa yang saling bertetangga itu. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

Hosted by www.Geocities.ws

1