b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina


POS KOTA edisi 29 Februari   2000

Banyak anggota tim medis terpaksa kabur (1)     

     PENGANTAR : Kerusuhan di Maluku telah banyak menelan korban. Pembantaian yang terjadi hampir setiap saat itu menurut para dokter yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Comitte turun tangan memberikan bantuan. Apa yang mereka hadapi di daerah yang dilanda pertikaian itu, Wartawan Pos Kota M. Kurniawati mencoba memaparkan pengalaman masing-masing anggota tim. (Redaksi).

     PAGI di Pantai Galela, Maluku tertanggal 9 Januari, telah menunjuk pukul 09:00. Lima dokter yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Comitte (MER.C) mendarat mulus dengan kapal perang milik TNI, di pulau yang terkenal akan pisang dan kopranya itu. Hampir 8 jam mereka mengarungi lautan meninggalkan Ternate, menyisi pulau yang kondisi rakyatnya tengah tenggelam dalam kecamuk perang saudara.
     Darah, air mata, bau busuk mayat, luka-luka yang menganga dan tangis kelaparan serta puing-puing bangunan adalah kondisi yang pertama dijumpai tim ini begitu menampak kaki di perairan lautan Galela. Warga yang terkonsentrasi di pengungsian Desa Swasio nampak tak bergairah. Pandangan mata mereka kosong, semangat hidup tak lagi tersisa akibat trauma psikologis setelah banyak disuguhi berbagai aksi pembunuhan yang menimpa kerabat dekat, keluarga, anak-anak bahkan suami atau istri tercinta.
     "Kami menemukan ratusan mayat yang menumpuk di tempat berlangsungnya pembantaian," ungkap Dr Joserizal Jurnalis, Ketua Tim MER-C saat dijumpai di sekretariat MER-C, Jl Kwitang IE, Jakpus.
     Dalam pengawasan sang penguasa wilayah, tim MER-C dan TNI dibantu sejumlah warga setempat, langsung melakukan penguburan massal terhadap mayat korban pembantaian massal itu. Mereka bekerja di bawah kokang senjata yang siap menetup begitu melihat sedikit saja gerak-gerik yang mencurigakan.
     Dokter spesialis bedah ortopedi lulusan FKUI ini mengaku nyaris tak mempercayai pendangan matanya saat pertama kali melihat tumpukan mayat dihadapanya. Dalam pandangan dia, mereka yang selama ini hidup rukun, sangat sulit dipercaya bisa saling bentrok dan bunuh mambunuh.

Bertahan hidup dengan pisang
    
Usai mengubur massal mayat korban pembantaian, Dr Jose berserta rekannya menelusuri semua tempat pengungsian warga. Di desa Swasio, sekali lagi mereka berhadapan dengan kondisi yang menyentuh rasa kemanusiaanya. 
     Dr Jose yang datang dengan peralatan seadanya dan bekal otak sedikit, mencoba mengorek semua persediaan obat yang tertinggal di Puskesmas dan Klinik. Ia mendapati pusat pelayanan kesehatan itu telah kosong. Dokter dan tim medis yang harusnya bertugas di situ telah kabur meninggalkan penderitaan bagi ribuan warga yang membutuhkan pertolongan.
     Sementara persediaan obat-obatan, dikatakan sangat minim. Meski demikian, ia dan rekannya berusaha memanfaatkan semaksimal mungkin.
     Untuk obat anti infeksi saja, dr Jose lebih banyak memanfaatkan madu yang dikumpulkan oleh warga. Demikian juga pencucian alat kesehatan, mereka cukup merebusnya lantas mengolesi dengan betadhin.
     Pria dengan seorang istri ini, selama bertugas di Galela mengaku pernah mendapat teror telepon yang mengabarkan bahaya istrinya sakit keras di Jakarta. Beruntung dia tak main percaya, sehingga tidak terjebak dalam permainan politik itu. (Bersambung).


Hosted by www.Geocities.ws

1