![]() |
||
|
POS KOTA Edisi 2 Maret
2000
Lakukan amputasi dengan gergaji kayu (3)
MENOLONG kelahiran
bagi dokter umum, barangkali bukan persoalan yang sulit. Termasuk melakukan tindakan medis
menjahit luka akibat melahirkan. "Semua sudah kami pelajari di bangku kuliah,"
tutur dr. Herman Darmawan.
Tetapi ketika harus menolong kelahiran ditengah kancah kerusuhan,
maka yang berkerja bukan terbatas pada keterampilan tangan. Dalam keterbatasan peralatan
kesehatan di tambah situasi yang dicekam kerusukan membuat pekerjaan ini menjadi bukan hal
yang gampang. Waktu yang dibutuhkan pun membengkak dari yang semestinya 20 menit menjadi
30 menit. Proses menjahit luka itu sendiri, diakui Herman, dilakukan dibawah lampu senter
yang sangat minim cahayanya. Pada detik pertama, nyala lampu masih sangat terang. Namun
dua detik berikutnya sudah meredup dan akhirnya pelan-pelan cahayanya melemah.
"Kami berganti menjadi juru lampu jika rekan lain sedang
melakukan operasi," katanya.
Tindakan amunisi bagi korban kerusuhan, diakui Herman sering
dilakukan dengan menggunakan gergaji kayu sebagai pengganti alat kesehatan. Bius yang
dilakukan serba darurat, sering kali membuat para dokter was-was, kalau-kalau si pasien
merasakan sakit yang amat sangat akibat sistem kerja gergaji kayu yang cukup kasar.
"Ternyata pasien tak mengeluh sakit. Tapi hasilnya jelas
tidak halus," jelasnya.
Diterima semua pihak
"Mungkin hanya kami yang masih bisa keluar masuk ke
daerah peperangan dan bisa diterima semua pihak," lanjut Herman.
Dalam situasi yang penuh dengan rintihan dan jerit kesakitan.
Beruntung ia yang kala itu berpura-pura mati terkena tombak, berhasil merangkak melarikan
diri ke hutan, hingga akhirnya ditemukan anggota TNI.
Bahkan jika malam tiba, pria yang kini hidup sebatang kara harus
mendapat penjagaan yang ketat. Keringat sebesar biji jagung acapkali membasahi semua
tubuhnya, disamping teriakan histeris yang menggambarkan bagaimana rasa ketakutan itu
menghantuinya. (Bersambung).