![]() |
||
|
Abubakar Wahid: Menolak Gus Dur
Seseorang diundang presiden itu suatu kehormatan. Tapi tidak dengan Abubakar Wahid (49). Panglima Front Pembela Islam Halmahera ini justru menolak, ketika bersama 8 mujahidin dari Maluku diundang ke Istana Negara di Jakarta untuk mencari penyelesaian Maluku. Tidak ada dialog dengan presiden, tegas pria berperawakan kekar ini.
Bukan saja semata-mata karena Ternate belum aman, tapi ia merasa pernyataan dan sikap Gus Dur selama ini telah menyakiti hati ummat Islam Maluku.
Lho, kan namanya sama-sama pakai `Wahid'. Nama belakang boleh sama, tapi soal prinsip jihad ada perbedaan yang jelas antara Abubakar Wahid dan Abdurrahman Wahid, ujarnya berapi-api.
Satu lagi. Jangan paksakan lagi kata-kata toleransi atau rekonsiliasi kepada kami. Itu semua adalah tipu muslihat buat kami selama ini, katanya.
Agaknya pria berjenggot dan berkulit hitam ini trauma dengan yang namanya perjanjian perdamaian. Sudah terlalu sering dan berulangkali ummat Islam ditipu oleh muslihat elite politik. Bahkan tidak ada penyelesaian yang konkret, jelas panglima yang sehari-harinya berkantor di Depdikbud Halmahera Tengah itu.
Ia baru bersedia berunding bila Presiden memberi keselamatan terhadap ummat Islam dan, Kembalikan hak-hak kami untuk bisa menegakan syariat Islam, atau ummat Kristen keluar dari kepulauan Maluku.
Selama ini, tambahnya, ummat Islam bisa hidup berdampingan dengan siapa saja asal ajaran dan syariat Islam tidak diganggu.