b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin
Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina 
13 Tewas dan 47 Luka-luka, Pecah Lagi,
Bentrokan di Maluku Utara
BeritaBuana.Net, Kamis 8 Juni 2000

Setidaknya 13 orang tewas dan 47 lainnya luka-luka dalam pertikaian
bernuansa SARA antar-warga yang terjadi di dua desa di Pulau Halmahera,
Kabupaten Maluku Utara, Rabu (7/6). Perwira operasi satuan tugas
keamanan, Mayor (Inf) Puguh kepada mengatakan, insiden berdarah tersebut
terjadi di Desa Duma Kecamatan Galela dan Desa Bobo di Kecamatan Obi,
yang terletak di sebelah utara Pulau Halmahera, sekitar 170 Km sebelah
timur Ternate, ibukota propinsi Maluku Utara.

Kantor berita Antara menyebutkan, korban tewas dan luka-luka  belum bisa
dievakuasi ke Ternate karena kendala jauhnya lokasi. Pertikaian yang
berlangsung sejak sekitar pukul 06:00 waktu setempat berakhir pada pukul
09:30 setelah aparat keamanan terjun mengendalikan daerah pertikaian. Di
Desa Duma, pihak keamanan menurunkan satu peleton Batalyon 512 Kodam
V/Brawijaya yang biasanya bertanggung jawab terhadap situasi keamanan di
Kecamatan Galela dan Tobelo. Sedangkan di DesaBobo, dikerahkan satu
peleton Batalyon 511, yang memiliki tanggung jawab keamanan untuk Pulau
Bacan dan Pulau Obi. Aparat keamanan, menurut Mayor Inf. Puguh, berhasil
menyita 10 senjata rakitan, 500 anak panah dan 20 parang dari warga yang
bertikai.

Rehabilitasi Mental

Sementara itu, Ketua Tim Satgas Kesehatan Gabungan TNI/Polri dan Depkes
Pusat, dr. Bambang mengatakan, ribuan pengungsi dan korban kerusuhan di
Propinsi Maluku Utara, kini memerlukan pusat rehabilitasi mental, karena
kondisi fisik dan mental mereka cukup memprihatinkan. Pemerintah pusat
maupun lembaga sosial di Indonesia sudah saatnya untuk mendirikan pusat
rehabilitasi mental (PRM) bagi korban kerusuhan dan pengungsi di Maluku
Utara. Menurut Bambang, sesuai hasil penelitian Satgas Kesehatan
TNI/Polri, korban kerusuhan dan pengungsi yang memerlukan rehabilitasi
mental mencapai ribuan orang. Mereka harus  memulihkan kembali mental
akibat tindak kekerasan dan kejahatan terhadap mereka termasuk
anak-anak.

Disebutkan, untuk merehabilitasi mental bagi korban kerusuhan dan
pengungsi Maluku Utara, pemerintah dan lembaga sosial di pusat perlu
mendatangkan para psikolog, alim ulama, tokoh agama, serta sosiolog.
Mereka diharapkan bisa memperbaiki kepercayaan kembali pada dirinya
sebagai manusia Indonesia seutuhnya. "Kami hanya bisa membantu mereka
(korban kerusuhan dan pengungsi-red) dengan hati, cinta kasih dan
keperdulian yang dalam, selain obat-obatan, makanan dan pakaian layak
pakai dari para donatur," ujar dr Bambang dari TNI-AD. Hasil pengamatan
yang dilakukan tim Satgas Kesehatan gabungan TNI/Polri dan Depkes pusat,
sejauh ini belum ada yayasan dan lembaga sosial maupun pemerintah
melakukan kegiatan dimaksud. Padahal untuk mengembalikan kepercayaan
kembali pada dirinya, sangat dibutuhkan pusat rehabilitasi mental.

Di tempat-tempat penampungan sementara dan kamp-kamp pengungsi di
Kotamadya Ternate dan Kabupaten Maluku Utara, sejak Desember 1999 hingga
Juni 2000 ini, menunjukkan bahwa kondisi korban kerusuhan dan pengungsi,
baik secara fisik maupun mental sangat memprihatinkan. Ia menambahkan
bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak seperti makanan serta dana, sama
sekali tidak mempan untuk mengobati luka hati mereka yang telah hancur
itu. "Masalah ini memang tanggungjawab negara," tambahnya.

"Bantuan psikolog, tokoh agama dan alim ulama seharusnya lebih
diutamakan, kemudian disusul dengan bantuan barang dan jasa kepada
mereka. Dalam komunitas korban kerusuhan dan pengungsi ada potensi untuk
dimanfaatkan, tapi hal ini tidak pernah dimanfaatkan oleh para donatur,"
ujarnya. Sementara itu kalangan DPRD setempat meminta kepada Komnas
Perlindungan Anak dan Yayasan Mutiara Indonesia untuk segera membangun
sebuah pusat trauma (trauma center) di Kotamadya Ternate, untuk
memulihkan kembali mental anak-anak Maluku Utara yang hancur akibat
kerusuhan antar kelompok.
 

Hosted by www.Geocities.ws

1