Base and Superstructure dan Means of Communication as Means of Production dalam Marxisme

Base and Superstructure
1. Mengapa pembahasan base and superstructure menjadi penting dalam membicarakan tentang komunikasi massa ?
Komunikasi massa merupakan praktek dan produk penyediaan hiburan dan informasi pada khalayak yang tidak dikenal (unknow audience) melalui cara corporately finance, industrially produced, high technology, privately consumed commodities in modern print, screen, radio, audio and broadcast media. (Lorimer, 1997 : 21)
Dilihat dari salah satu pengertian komunikasi massa diatas, kenyataan menunjukkan bahwa komunikasi massa memiliki wilayah aspek yang sangat luas, dimana keberadaan base and superstructure telah memegang aspek terpenting dalam mengendalikan massa. Apa yang menjadikan base and superstructure begitu penting akan hubungannya dengan komunikasi massa, dikarenakan posisinya sebagai sistem ekonomi (base) yang berpengaruh pada aspek-aspek masyarakat (suprastructure) atau dapat disebut dengan “Determinisme Ekonomi”.
Dalam kenyataan yang berkaitan dengan tema base and superstructure serta komunikasi massa, banyak sekali kita jumpai media massa yang hanya mengutamakan banyaknya khalayak yang menggunakan media tersebut atau berkaitan dengan rating (sehubungan dengan televisi), dengan menyajikan hal-hal yang disukai oleh khalayak tanpa memandang bahwa seringkali pesan itu mengandung muatan pornografi, tindak kriminal maupun kekerasan. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengejar keuntungan semata. Fenomena ini tentu saja berkaitan erat dengan kepentingan partikulir dan sejalan dengan ideologi politik ekonomi yang dijalankan oleh para penganut liberalisme dan kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan semata tanpa melihat ataupun memperhitungkan kepentingan-kepentingan dan faktor-faktor lain yang berkaitan, antara lain : norma-norma dalam masyarakat, ataupun peraturan-peraturan yang tidak tertulis namun berlaku dalam masyarakat.
Kesimpulannya, prinsip base and superstructure dari pandangan Karl Marx, tidak dapat dipisahkan lagi dengan fenomena komunikasi massa yang berlaku saat ini. Dikarenakan sekarang ini banyak kita jumpai media massa yang mendasarkan tujuannya hanya pada sisi ekonomi, dimana media massa tersebut memandang khalayak hanya sebatas sebagai obyek yang dapat diperas untuk mendatangkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

2. Apa keterkaitan antara teori hegemoni dengan base and superstructure ? Beri contoh konkret dalam industri media !
Kehadiran base and superstructure sudah tentu akan memunculkan hegemonitas. Fokus base and superstructure adalah memberikan pengaruh yang tujuannya mengikat kaum proletar yang bisa dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kehendak dari para pemilik modal.
Fenomena semacam ini tentunya akan menciptakan sebuah hegemonitas oleh pihak pemilik modal atau pemilik faktor produksi atas para pekerja.
Teori hegemoni diartikan sebagai dominasi ideologi, namun lebih dari itu teori hegemoni memiliki kemampuan untuk mengoperasionalkan keputusan yang kita buat tentang sesuatu yang kita terima. Hegemoni mampu mengikat jiwa maupun pemikiran atau persepsi kita akan suatu hal yang kita yakini.
Contoh : Acara reality show AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang menghebohkan, sehingga diikuti oleh stasiun televisi yang lain dengan acara yang hampir sama, seperti Indonesian Idol, KDI (Kontes Dangdut TPI), dan acara-acara lainnya. Dengan munculnya fenomena tersebut, massa atau khalayak baik langsung atau tidak langsung juga terhegemoni oleh mode trend AFI dan acara sejenis lainnya, baik dari tata busana, sampai tingkah lakunya. Selain itu, acara reality show seperti AFI, KDI, Indonesian Idol dan lain-lain, secara tidak langsung menunjukkan adanya hegemonitas yang dilakukan oleh stasiun televisi selaku pemilik faktor produksi yang bekerja sama dengan perusahaan (yang beriklan di stasiun televisi tersebut) selaku pemilik modal atas khalayak yang menjadi masyarakat yang terhegemoni. Hal ini terbukti dari banyaknya SMS yang masuk selama acara reality show berlangsung hanya karena “bujuk rayu” dan “kebutuhan” yang diciptakan dengan sengaja oleh pemilik faktor produksi yang bekerja sama dengan pemilik modal untuk “menjebak” khalayak dalam pengaruh mereka.


Means of Communication as Means of Production
1. Hal-hal penting dan menarik yang dapat diambil berkait dengan pembahasan Means of Communication as Means of Production dari Raymond Williams antara lain:
Pertama-tama kami mencoba menghubungkan dengan tulisan maupun buku yang pernah dibuat oleh Raymond Williams dalam kerangka kerja dalam mengkaji komunikasi. Dari hal tersebut dapat kita peroleh berbagai macam pengaruh maupun hubungan yang berkesinambungan satu sama lain. Berbagai macam persoalan maupun teori-teori yang dikemukakan oleh Raymond Williams antara lain:
Buku karangan Williams yang berjudul ‘Culture and Society’ (1958) menjelaskan bahwa kemunculan konsep ‘culture’ dalam revolusi indutri di Inggris, merupakan kunci dari masalah ‘culture and society’. Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan Raymond Williams akan fenomena ‘culture and society’ berkomentar dalam suatu terms educational `ladder', `standards', and 'class'. Perhatian utama yang ditekankan disini adalah penggunaan massa (mass) dalam sosial masyarakat dan komunikasi massa. Argumen yang diketengahkan dalam hal ini adalah argumen bahwa ‘mass culture’ mengabaikan perhatian dari penulis atau pengarang (hal ini tidak menyiratkan bahwa pengarang terisolasi, tetapi merupakan suatu hubungan yang berkesinambungan), isu resepsi dan tanggapan, dan biasanya melibatkan adanya pembiasan dan pembatasan dalam pemilihan contoh. Argumentasi dari Raymond Williams adalah klasifikasi kerja dalam kultur mempunyai struktur gagasan kolektif. Hal ini dapat dilihat akan adanya kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dalam hal penentuan posisi maupun kelas dalam suatu pekerjaan. “The working class, because of its position, has not, since the Industrial Revolution, produced a culture in the narrower sense. The culture which it has produced, and which is important to recognize, is the collective democratic institution, whether in the trade unions, the co-operative movement, or a political party.' We read this against the dominant twentieth-century tradition which saw in such democratic culture a threat to its own rather different sense of culture”. (Williams, Raymond. Culture and Society. 1983 )
Dalam buku ‘Contact: Communication and Culture’ (1981) dan ‘Culture’ (1981), Williams membatasi kultur dalam masyarakat modern. Williams membatasi secara nyata dengan menandakan adanya institusi, praktek, dan pekerjaan (termasuk bahasa, pertunjukan, dan iklan) dari pengertian lainnya. "Thus the social organization of culture, as a realized signifying system, is embedded in a whole range of activities, relations and institutions, of which only some are manifestly 'cultural'". (Culture 13, 208-9)
Dalam buku ‘Communications’(1962), memperkuat argumentasi ‘the long revolution’. Williams memperdalam lingkungan kerjanya dalam ‘culture study’, mencoba meninjau ulang metode, isi ‘cultural media’ dan temuan lain yang mendukung untuk menghubungkan kuasa, hak milik, dan produksi. Kemudian, dalam ‘Television’ (1974), Williams menyelidiki institusi budaya historis, dengan menyangkal argumentasi Mcluhan tentang determinisme teknologi, dan sebagai gantinya Williams meletakkan televisi dan efeknya dalam suatu sosiologi masyarakat yang kritis sebagai keseluruhan.
Dari beberapa referensi buku maupun tulisan Williams tersebut banyak hal menarik yang dapat kita ambil akan adanya fenomena means of communication as means of production, antara lain peranan media dalam membentuk perspektif publik, bagaimana media mempengaruhi perspektif khalayak, dan kaitan antara budaya (culture) dengan pembentukan maupun penggunaan alat-alat produksi yang ada.
Peranan media (dalam hal ini lebih dikhususkan media massa, seperti koran, TV, radio, dan sebagainya) dalam upayanya mempengaruhi opini publik tersebut, terlihat sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, iklan dalam tayangan televisi yang muncul adalah salah satu bagian dari upaya produsen sebagai penyedia barang atau jasa untuk mempengaruhi perspektif publik supaya membeli produk barang atau jasa yang diiklankan melalui media televisi tersebut. Dari fenomena tersebut, kita juga dapat melihat bagaimana cara media mempengaruhi khalayak melalui iklan maupun dalam bentuk yang lainnya supaya khalayak sebagai konsumen timbul suatu rasa ketergantungan akan adanya tayangan media, karena saat ini dapat kita lihat bahwa media mempunyai peranan yang sangat besar dalam rangka pembentukan maupun mempengaruhi dan merubah opini publik. Sebagai contoh media audio visual (televisi), secara jelas tampak dari program-program yang disiarkan, dari berita, hiburan, sampai iklan yang muncul dalam media tersebut. Seperti halnya saat kita mempelajari teori uses and gratifications, disana dipaparkan bahwa khalayak mempunyai andil dalam pemilihan atau proses seleksi berita yang ingin dilihat, tetapi pada dasarnya khalayak tetap teracu atau terpatok pada susunan acara yang telah dibuat oleh masing-masing stasiun televisi yang ada. Walaupun khalayak mempunyai peranan aktif dalam hal pemilihan tersebut, bagaimanapun televisi sebagai media tetap mempunyai andil yang paling besar dalam fenomena tersebut. Dari hal tersebut, dapat kita lihat bahwa dari berbagai menu pilihan yang ditawarkan dan diproduksi oleh media, masyarakat tidak dapat bergerak secara leluasa dalam menentukan opininya. Oleh karena itu, melalui hal tersebut media berperan dalam mempengaruhi maupun mengubah perspektif khalayak melalui tayangan yang dikonsumsi oleh khalayak.
Kaitan antara budaya (culture) dalam rangka mempengaruhi pembentukan maupun penggunaan alat-alat produksi yang ada adalah melalui proses budaya dari suatu masyarakat itu sendiri. Williams memberikan kata kunci dalam mempelajari budaya dengan adanya revolusi industri yang terjadi di Inggris. Dengan adanya revolusi tersebut, terdapat perubahan yang mencolok dalam pembentukan budaya dalam masyarakat. Sebagai contoh, sebelum adanya revolusi industri masyarakat menulis atau memaknai suatu fenomena melalui ukiran, pahatan batu maupun sarana yang lain, setelah ditemukan berbagai alat-alat yang mempermudah manusia dalam memaknai fenomena tersebut secara otomatis peradaban atau budaya manusia berubah. Disamping itu, melalui perubahan budaya tersebut manusia mulai lebih mengenal pembagian kelas-kelas untuk mempermudah manusia dalam menggolongkan suatu hal supaya lebih mudah dalam proses penyampaian pesan supaya tepat sasaran dalam memaknai sesuatu. Dari berbagai penemuan-penemuan alat-alat produksi maupun sarana komunikasi yang dapat memudahkan manusia dalam berkomunikasi dengan yang lain tersebut, mendorong manusia berpikir efektif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sebagai sarana mengubah maupun membentuk perspektif khalayak melalui media-media yang ada, disamping untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

2. Bagaimana proses komunikasi dipahami sebagai proses produksi dalam konteks tersebut (means of communication as means of production) ? Adakah keterkaitannya dengan jenis mode of production-nya ?
o Proses komunikasi dipahami sebagai proses produksi karena dalam berkomunikasi orang menggunakan seluruh daya pikirnya untuk ‘mempengaruhi’ maupun membentuk opini orang lain supaya sejalan dengan apa yang diharapkan oleh komunikator dengan menggunakan berbagai macam sarana prasarana yang ada dalam memproduksi sesuatu supaya dapat diterima dengan baik oleh khalayak, disamping supaya pesan yang disampaikan oleh komunikator tepat mengenai sasaran sehingga tercapai proses pemaknaan yang baik akan pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Dari hal tersebut, terlihat bahwa komunikasi berperan besar dalam proses pemaknaan suatu fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Proses komunikasi yang terbentuk melalui berbagai media yang ada, direalisasikan dan dipahami sebagai proses produksi dalam suatu industri, karena dengan berkomunikasi, komunikator menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, dimana pesan yang terkandung dalam proses komunikasi itu merupakan generalisasi dari berbagai kepentingan pribadi maupun golongan yang diwujudnyatakan dalam pesan yang diinformasikan kepada khalayak melalui media-media yang ada, supaya khalayak tertarik akan isi dari informasi tersebut dan pada akhirnya khalayak mengikuti atau terhegemoni dalam proses produksi yang dilakukan oleh media maupun yang lain.
Oleh karena itu, proses komunikasi yang terjadi secara tidak langsung juga telah membentuk suatu proses produksi dalam masyarakat, dimana proses pemaknaan komunikasi sebagai proses produksi tersebut berjalan seiring dengan perkembangan teknologi (baik media maupun teknologi lainnya), penemuan-penemuan baru, perubahan budaya (culture), mode maupun trend yang terjadi dalam masyarakat.
o Dalam hal ini terdapat keterkaitan dengan jenis mode-production yang muncul dari fenomena tersebut. Hal tersebut dapat terjadi karena manusia adalah makhluk sosial, sehingga dalam perkembangannya manusia terus berkembang seiring dengan perubahan zaman, teknologi dan perubahan budaya yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. Proses produksi yang dihasilkan manusia melalui alat-alat produksi dan sarana komunikasi yang ada mendorong manusia untuk lebih mengembangkan diri supaya mempermudah jalannya proses pertukaran makna (komunikasi). Mode-production yang dihasilkan pun akan lebih beraneka ragam seiring dengan berkembangnya teknologi, budaya dan pengetahuan manusia dalam memaknai suatu proses. Keterkaitan antara jenis mode-production dengan proses produksi yang ada tersebut ditunjukkan dengan semakin cepatnya perubahan pola hidup maupun gaya hidup dalam masyarakat, misalnya perubahan mode pakaian, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang terlihat ‘kebarat-baratan’, dan sebagainya.
Oleh karena itu, keterkaitan antara proses produksi yang ada dengan jenis mode-production merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga hubungan yang timbul tersebut juga saling mempengaruhi satu sama lain. Proses produksi yang dilakukan akan menimbulkan keanekaragaman jenis produksi yang berbeda pula sesuai dengan keinginan pasar, yang didalamnya tidak dapat lepas dari pengaruh pihak-pihak tertentu yang mempunyai andil atau peranan yang cukup besar dalam menggerakkan pasar dalam masyarakat, seperti pemilik modal, pemegang saham, maupun yang lainnya.

Mengapa :
1. Teori komunikasi konvensional dengan paradigma fungsional, tidak cukup untuk mengkaji fenomena komunikasi massa, dikarenakan fenomena komunikasi massa memiliki cakupan yang sangat luas dan beragam. Teori komunikasi konvensional semacam teori Agenda Setting, Uses and Gratifications, serta teori-teori sejenisnya, dianggap tidak mampu mengkaji fenomena komunikasi massa secara menyeluruh dan mendalam karena teori komunikasi konvensional hanya memandang komunikasi massa dalam sudut pandang yang teramat sempit, atau kalau boleh penulis mengartikannya sebagai sudut pandang yang mikro terhadap suatu masalah yang makro. Oleh karena itu, dibutuhkanlah kehadiran teori-teori komunikasi baru yang sanggup untuk melengkapi dan menutupi kelemahan teori komunikasi konvensional yang menggunakan paradigma fungsional, agar bisa digunakan dalam mengkaji fenomena komunikasi massa secara garis besar atau bahkan secara keseluruhan. Tantangan ini terjawab dengan munculnya salah satu teori yang diilhami oleh pandangan Karl Marx yaitu teori Kritis. Teori Kritis tidak hanya menyoroti fenomena komunikasi massa serta komunikasi bermedia hanya dari luar atau hanya memfokuskan pada proses komunikasi yang terjadi antara media massa, masyarakat, serta individu-individu di dalamnya saja, namun juga melihat esensi sebenarnya akan hakikat manusia dan fungsi dari komunikasi yang sejati dari sudut pandang yang berbeda dimana manusia sebenarnya tidak pernah bisa lepas dari apa yang dinamakan sebagai bentuk penjajahan dan penindasan.
Terlepas dari banyaknya perdebatan yang menyertai perjalanan teori Kritis, teori yang lahir atas pemikiran dan pemahaman atas pemikiran Marxist ini ternyata telah memberikan banyak sekali sumbangan pemikiran dan membuat khalayak berpikir kembali akan esensi kehidupan yang mereka jalani saat ini.

2. Kontribusi yang diberikan oleh teori Marxist dalam mengkaji fenomena komunikasi massa adalah sebagai berikut :
I. Pemikiran teori Marxist telah mendasari lahirnya beberapa teori besar (seperti teori Kritis, teori Cultural Studies, teori Feminist Studies dan teori-teori lainnya) yang cukup relevan dan bisa menjelaskan secara “lebih makro” mengenai fenomena komunikasi massa ketimbang teori-teori konvensional yang menggunakan paradigma fungsional.
II. Pemikiran teori Marxist juga telah menyeimbangkan sejumlah pemikiran-pemikiran yang terjadi dalam konteks komunikasi massa antara teori-teori konvensional dengan paradigma fungsional dengan teori-teori yang radikal dengan paradigma struktural.
III. Pemikiran Karl Marx telah membuat banyak orang menjadi sadar dan lebih mawas diri terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan yang menggunakan komunikasi massa sebagai salah satu dari sekian banyak sarana perbudakan ekonomi dan politik yang dilakukan oleh para kapitalis dan liberalis.
Pemikiran Karl Marx telah mengilhami beberapa ataupun sekelompok orang akan pentingnya bentuk perlawanan yang nyata terhadap globalisasi yang erat kaitannya dengan kapitalisme di berbagai bidang terutama di bidang komunikasi massa. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya website-website yang mengkampanyekan penolakan terhadap globalisasi dan kapitalisasi sekaligus munculnya sistem operasi komputer yang open source yang bebas dibajak atau dicopy yang mau tidak mau, langsung tidak langsung, mengoyak monopoli sistem operasi dunia yang selama ini dikuasai dan dikendalikan oleh para kapitalis.

Back to Index

Hosted by www.Geocities.ws

1