Assalamu’alaikum
wa rohmatullahi wa barokatuhu,
Salah satu rukun Iman adalah
percaya kepada kitab suci Allah. Yang terpenting adalah meyakini bahwa Al
Qur’an adalah kitab suci yang terakhir dan merupakan pedoman bagi ummat manusia
yang tetap terpelihara hingga sekarang. Konsekuensi dengan beriman terhadap
kitab suci Allah adalah bahwa kita wajib mempelajari, memahami, dan
mengamalkannya dalam perilaku kita sehari-hari.
Sesungguhnya,
Al Qur’an merupakan kumpulan wahyu atau perkataan Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw, sebagai pedoman hidup bagi ummat Islam agar
selamat
dunia dan akhirat:
“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” [Al Baqoroh:2]
Agar
kita bisa mendapat atau memahami dan kemudian mengamalkan petunjuk tersebut,
tentulah kita harus terlebih dulu membacanya. Oleh karena itulah, ketika Jibril
membawa wahyu Allah yang pertama, maka wahyu itu tak lain adalah perintah untuk
membaca:
Mungkin
ada sebagian orang yang mentafsirkan bahwa maksud ayat di atas adalah “membaca
ayat yang besar,” padahal perintah untuk mengamati alam semesta itu meski ada,
tapi dijelaskan Allah dalam kalimat yang jelas dan komunikatif, jadi tak perlu
ditafsirkan lagi.
“Yang telah menciptakan tujuh
langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang
Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah
kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” [Al Mulk:3]
Toh pada
saat itu, Jibril telah membawa wahyu Allah yang pertama yang bisa jadi berupa
tulisan, dan Nabi Muhammad saw yang ummi karenanya mengaku dia tak bisa
membaca.
Dalam
ayat lain, ditegaskan Allah bahwa kita diperintahkan untuk membaca kitab suci
Al Qur’an agar kita tidak tersesat dari tipu daya orang-orang kafir dan munafik
yang berusaha menyesatkan manusia:
“Bacalah apa yang telah
diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari
ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al
‘Ankabuut:45]
“…. Dan
bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” [Al Muzzammil:4]
Kita
diwajibkan untuk mengikuti petunjuk yang telah diturunkan oleh Allah (Al
Qur’an), bukan cuma ikut-ikutan nenek moyang kita saja tanpa tahu dasar Al
Qur’an dan Haditsnya, sehingga akhirnya ibadahnya salah dan penuh dengan
bid’ah:
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab:
"(Tidak),
tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek
moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?"” [Al Baqoroh:170]
Dengan
membaca Al Qur’an, insya Allah kita tetap di atas petunjuk dan tidak mengikuti
hawa nafsu orang-orang yang sesat:
“Kemudian
Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama)
itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui.” [Al Jaatsiyah:18]
“Maka
janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).” [Al
Qalam:8]
Setelah
kita membaca Al Qur’an, hendaknya kita pahami dan kita amalkan, agar tidak
seperti orang-orang Yahudi yang meski telah mendapat kitab suci Taurat, tapi
mereka mendustakan ayat-ayat Allah dengan melanggar segala larangannya seperti
berjudi, membunuh, bahkan mengkampanyekan perzinahan lewat film-film yang
mereka buat ataupun melalui media massa yang mereka kuasai:
“Perumpamaan orang-orang yang
dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti
keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum
yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang zalim.” [Al Jumu’ah:5]
Semoga
kita semua mendapat manfaat dari tulisan ini.
Wassalamu’alaikum
wa rohmatullahi wa barokatuhu
Agus Nizami (nizaminz at yahoo titik com)