Agus
Nizami ([email protected])
Assalamu'alaikum
wa rohmatullahi wa barokatuhu,
“Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al Isroo’:1]
Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Israa’ dan Mi’raj.
Abu
Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Israa’ Mi’raj Nabi Muhammad,
dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad
bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena
sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW
tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh
orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan
cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu
yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash
Shiddiq.
Hingga
sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Israa’ dan Mi’raj,
meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih.
Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke
langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat
mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi
(perjalanan rohani) belaka.
Padahal
jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke
negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin
terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada
tertawa, orang-orang
Islam
yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash
Shiddiq.
Jika itu
dikatakan tidak masuk akal juga keliru. Di zaman baheula, di mana belum ada
pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa seperti space shuttle, mungkin
pendapat itu masih wajar.
Tapi di
zaman sekarang ini, perjalanan sejauh itu dalam waktu sedemikian singkat,
seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan
dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih
naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan
pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang
kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per
jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan
teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket
yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam
waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!
Teknologi
telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski
jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun
kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia
primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia
memungkinkan hal itu terjadi.
Sekarang
kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan
ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran
orang-orang yang kuno.
Di zaman
yang akan datang, teknologi manusia
akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa
mendekati kecepatan cahaya.
Nah yang
saya sebut di atas adalah contoh dari teknologi buatan MANUSIA. Bagaimana
dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan
makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah
Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma
makhluk ciptaannya..
Manusia
hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara
Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat
logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga
beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya
dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan
kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?
Ada satu
cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji
ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian
kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke
Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka
teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya.
Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut
yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”
Begitulah
pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin.
Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi
mungkin?
Demikian
pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan
bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena
Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu
mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah
pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.
Menurut
pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak
mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:),
tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.
Sesungguhnya,
perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia
(meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa
jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):
“Hai
jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan
kekuatan.” [Ar Rahman:33]
Sekarang
manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga
kuda (HP), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti).
Semakin
modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang
berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’
Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk
akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang
kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.
Berikut
adalah hadits Nabi Muhammad SAW tentang Israa’ Mi’raj:
Imam
Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa
Rasulullah saw. bersabda, "Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan
putih,
panjangnya
diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau
bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.' Beliau
bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai) yang biasa dipakai oleh
para nabi untuk mengikat.'
Beliau
melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan
shalat dua rakaat.
Setelah
itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua
buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas
yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.'
Kemudian
ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu
(malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.' Jibril a.s.
menjawab, `Jibril.' Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?' Jibril
a.s. menjawab, `Muhammad.' Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?'
Jibril
menjawab, `Ya, aku diutus.' Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata
aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan
kebaikan.
Setelah
itu Jibril a.s. naik bersamaku kelangit yang kedua dan meminta dibukakan pintu.
Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua
putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan
mendoakanku dengan kebaikan.
Lalu
Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu
langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku
bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia
menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Kemudian
Jibril a.s. naik bersamaku kelangit keempat dan meminta dibukakan pintu langit
keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu
dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT
berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.'
Setelah
itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku kelangit yang kelima dan meminta
dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima
untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan
mendoakanku dengan kebaikan.
Malaikat
Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan
pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku
bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Lalu
Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan
pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan
pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan
punggungnya ke
Baitul
Ma'mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak
kembali kepadanya –sebelum menyelesaikan urusannya.
Setelah
itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar
kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah
SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera
berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan
keelokannya.
Lalu
Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan
mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari
semalam. Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s..
Ia
bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas
umatmu.' Aku menjawab, 'Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.' Kemudian
ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan.
Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya
aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.' Beliau melanjutkan
sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb,
berikanlah keringan untuk umatku.' Dan Ia mengurangi menjadi lima kali.
Setelah
itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi
menjadi lima kali.' Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada
Rabb-mu dan mohonlah keringanan.' Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku
Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s.. Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad,
sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap
shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat.
Barang
siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka
Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka
Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan.
Barangsiapa
ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis
apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu
kejelekan.' Beliau kembali melanjutkan sabdanya,
`Lalu
aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa
a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.'
Saat itu
Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali
kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.'"