SALLY DAN YAYA
"Gue benci dengan situasi seperti ini! Gue benci!" ujar Yaya tertahan. Kepalanya digoyangkan ke kiri dan ke kanan. Semakin lama semakin cepat. Beberapa anak di kantin tampak menoleh dan memandang heran ke arahnya. Tapi Yaya cuek.
"Kalau tripping jangan di sekolah, Ya!" seru Sally yang ada di sebelahnya. Tahu isi yang ada di tangannya tertahan di depan mulut.
Mendengar celetukan Sally, kali ini semua mata tertuju ke arah Sally dan Yaya. Merasa diperhatikan banyak orang, Sally bete juga. Diliriknya Yaya. Tapi Yaya nggak peduli. Ia masih asyik dengan goyangan kepalanya. Tak lama malah ia merubah gerakkannya, jadi ke bawah dan ke atas.
Sally terbahak,"Anak gila!" serunya. "Sorry, kebanyakan gorengan nih, jadi trippingnya bukan geleng-geleng, tapi ke atas ke bawah! Tahu nih, Bang Dul, gorengannya bisa bikin asyik. Mau?" Sally nyodorin tahunya yang tinggal separuh ke arah anak-anak di kantin yang dari tadi memperhatikan mereka. Tentu saja mereka jadi bete dengan tawaran sisa tahu dari Sally.
"Ini anak gila nggak sembuh-sembuh juga! Eh, Ya, apa susahnya sih mengucap kata ‘tidak’? Mudah’kan?"
"Susah, Sal!" sahut Yaya cepat.
"Apa susahnya?" Sally mencengkeram kedua lengan sahabatnya. Ia nggak sadar bahwa tangannya yang terkena minyak gorengan belum dibersihkan hingga menimbulkan noda pada lengan baju Yaya. Yaya yang biasanya sangat bersih diri itu seakan tidak peduli.
"Ikutin Gue!" kata Sally. "Te-i-ti, de-a-da, mati k, tidak!" Sally mulai mengeja.
"Nggak lucu!" seru Yaya. "Semua orang juga tahu kalau ‘tidak’ itu te-i-ti, de-a-da, mati k."
"Nah!"
"Tidak, tidak, tidak!" seru Yaya.
"Nah!"
"Tidak, tidak, tidak!" seru Yaya lagi.
"Nah!"
"Dari tadi ‘nah’ mulu!" protes Yaya.
"Abis gue kudu ngomong apa lagi? Itu tadi juga Lo udah bisa bilang ‘tidak’."
"Situasinya, Sal, situasinya beda!"
"Beda gimana? Seingat Gue ini bukan pertama kali Lo pernah bilang ‘tidak’. Ke Ryan, ke Joko, terus ke Rico. Apa susahnya kali ini? Eh, ngomong-ngomong Lo lumayan laku ya!" kali ini tangan Sally sudah memegang tempe goreng.
"Oke, situasinya sama, tapi personnya beda," Yaya menjelaskan.
"Aduh, Lo bikin Gue pusing! Kimia aja nggak serumit ini!" Dan tempe goreng itupun masuk ke mulut Sally. "Jelas beda, donk! Aduh…huk…grhh…" Sally ribut memegang lehernya. Mukanya memerah. Matanya melotot. Karena ngomong dengan mulut terlalu penuh, Sally jadi keselek tempe goreng. Ia memegang leher, diurut-urut. Sengsara banget kelihatannya. Karena es tehnya sudah habis, diambilnya es the Yaya dan diteguk dengan rakus. Gluk, gluk, gluk, licin tandas.
"Es the Gue!" protes Yaya, tapi terlambat.
"Alah, baru juga es the!" sahut Sally asal.
Bel berbunyi. Keduanya terperangah. Tetapi hanya sejenak. Setelah itu keduanya kembali seperti tak pernah mendengar sesuatu. Sementara anak-anak lain mulai beranjak pergi meninggalkan kantin.
"Nggak masuk, Neng?" tanya Bang Dul, yang kini menuliskan nama kantinnya menjadi Kantin Si Doel.
"Ntar, Bang!" sahut Yaya dan Sally bersamaan.
"Oke, Ya," Sally menatap tajam ke arah Yaya. Personnya beda. Jelas donk! Dulu Ryan, Joko, Rico. Jelas beda. Lo tinggal rewind peristiwa aja!"
"Situasinya beda!" Yaya ngotot.
"Stop!" seru Sally cepat. "Lo bikin kepala Gue makin panas. Tadi bilang situasinya sama. Sekarang bilang situasinya beda. Mana yang bener. Pusing Gue!"
"Gue bingung!"
"Apalagi Gue!"
"Nggak masuk, Neng?" sela Bang Dul.
"Ntar, Bang!" sahut Yaya dan Sally bersamaan.
Bang Dul menatap penuh ketidaksukaan ke arah dua sohib itu.
"Kalau dulu Gue bisa ngomong ‘tidak’, itu karena Gue emang nggak punya perasaan apa-apa. Dan itu tentu sangat mudah. Beda dengan sekarang!"
"Aha, hwayo! Lo jatuh cinta sama cowok ini?" tebak Sally penuh kegirangan.
"Iya."
"Dan cowok itu udah bilang cinta ke Lo?"
"Iya."
"Nah!" Sally nyaris melompat karena sangat bahagia bisa ngerti persoalan Yaya. "Lalu kenapa mesti ngomong ‘tidak’?" Sally menyurutkan niatnya untuk melompat.
"Situasinya pelik!"
"Situasi lagi! Bullshit, Non! Bilang aja ‘ya’!"
"Neng!" Bang Dul berusaha menyela.
"Ntar!" seru Sally beringas.
"Tapi nanti saya dimarahi Pak Bas!" Wajah Bang Dul menghiba.
Sally dan Yaya memandang penuh rasa kasihan ke Bang Dul. Nggak tega juga lihat mimik memelas Bang Dul. Pak Bas juga gitu sih, hobby banget keliling sekolah. Misinya adalah OAB alias Operasi Anak Bolos. Sampai ke kamar kecil dan gudang juga pasti dia periksa. Makanya bisa dimengerti kalau Bang Dul sangat takut pada kepala sekolah itu. Takut kena semprot kalau ketahuan kantinnya digunakan untuk membolos.
Sally dan Yaya berdiri dan berlalu.
Mereka melewati kelas-kelas lain yang udah mulai pelajaran berikutnya. Sally mengintip ke kelas 2 A. Ia menjulurkan lidah ke arah anak-anak yang berada di dalam kelas. Beberapa anak mengacungkan tinjunya. Sally malah makin menjadi. Ia membentuk mimik mukanya jadi nggak karuan. Asli, jelek bener. Pletat-pletot. Tentu aja yang di dalam kelasnya makin bete. Sally pun berlari sambil terbahak ketika dilihatnya bayangan Pak Sur, guru Biologi, yang sedang berada di kelas berjalan mendekati pinti. Pasti Pak Sur bete banget karena perhatian murid bukan ke dia tapi ke anak tengil yang belagu di luar kelas.
Kelas Sally dan Yaya masih terlihat dan terdengar sangat kacau.
"Woi! Pasar burung! Kosong!" teriak Ryan, si Ketua Kelas.
"Yeeees!" Kelas makin ribut.
"Ada tugas!" Ryan masih berteriak.
"Yaaaaach!" nada kecewa menggema.
"Dimajuin aja, deh, Yan!" ujar Sally yang masuk belakangan.
"Nggak bisa, Sal! Ada tugas!"
"Tugasnya bisa dikerjakan di rumah. Setuju?" seru Sally.
"Setujuuuuu!"
Hebat betul gaya Sally menggalang massa.
"Nggak bisa! Nggak bisa!" seru Ryan.
"Nggak bisa gimana? Lo aja belom nego dengan guru piket. Nego dulu donk!"
"Ya, betul, nego!" seru yang lain.
*
Sally dan Yaya duduk di halte bus. Berkali-kali bus lewat tetapi dibiarkan aja. Keduanya asyik menjilati es krim.
"Terus?" desak Sally. Ia menjilati es krimnya yang meleleh di tangan.
"Ih! Jijay!" protes Yaya.
"Terus?" desak Sally tanpa memperhatikan protes Yaya.
Yaya diam sejenak. Matanya dibuang jauh (idih, kalimatnya! Maksudnya pandangannya yang dibuang jauh, bukan biji matanya!). "Yah, meski Gue sayang ama dia, dia sayang ama Gue, tapi nggak mudah gitu aja. Kalau Gue bilang ya lalu kami jalan bareng, nah itu masalahnya!"
"Lho?" Sally menatap bingung.
"Iya’kan? Yang namanya pacaran kan nggak mesti mulus-mulus amat. ‘Tul’kan?"
"Iya lagi. Namanya juga hidup. Berliku-liku. Lebih asyik dengan sedikit konflik," sahut Sally. Tapi, asli, pandangannya tertuju pada es krim Yaya. Matanya berbinar lapar. "So, what’s the problem?" tanyanya sambil merebut con es krim Yaya yang hendak dibuang. "Sayang!" serunya.
Yaya geleng-geleng kepala. Untung tidak ke semua orang Sally berlaku kayak gitu.
"What’s the problem, Non?"
"Kalau ada konflik kan bisa diselesaikan. Musyawarah. ‘Tul nggak?"
"Yap! Setuju!"
"Tapi gimana kalo terpaksa nggak bisa selesai dengan baik?"
"hmmm…hmmmm…" Sally bingung.
"Itulah, Sal, Gue takut ini akan merembet ke hubungan Gue dengan Lo. Gue takut hubungan kita juga bisa kacau. Padahal kita sohiban udah cukup lama. Dua tahun tidak bisa dibilang sebentar. Lo kan…."
"Stop!" seru Sally. "Apa hubungannya dengan Gue?"
"Ya jelas ada karena cowok itu Sonny!"
"Hah! Snoopy! Eh Sonny?" Sally terbelalak. "Jadi cowok yang bikin Lo kayak gini tuh Sonny? Yang bikin Lo nggak enak bobok, nggak enak maem, nggak enak e’ek itu si Sonny?"
"Ya."
Sally diam. Matanya masih terbelalak. Mulutnya setengah terbuka. Untung nggak ada lalat yang salah parkir di situ. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
"Kok ketawa?" protes Yaya.
Seketika Sally menghentikan tawanya. Ia menatap Yaya lekat-lekat (idih, emang lem!). Ia sungguh heran, nggak bisa menangkap sinyal-sinyal proses hubungan antara kakak dan sahabatnya.
"Itulah, Sal, Gue nggak mau hubungan kita terganggu karena ada cinta antara Gue dengan kakak Lo!"
"Ya, Lo udah tahu gimana tuh si Sonny?"
"Iya."
"Juga tahu kalau dia itu jail, rada-rada bodohm pernah nggak naek waktu kelas 5 SD, keringetnya rada-rada bau, apalagi kalau abis main bola, makanya kalau Lo masuk ke kamarnya bakal Lo lihat spare parfum, colone, bedak anti BB, wuh bejibun. Dia juga suka pake sarung butut, adem katanya. Terus kalau tidur ngorok. Kalau…"
"Stop!" Yaya menutup telinganya. "Biar aja bodoh, jail, pernah nggak naek kelas, bau, ngorok…"
"Ya ampun!" Sally melepas tangan Yaya yang menutupin kuping Yaya. "Oh my God! Ck..ck..ck…jadi Lo bener-bener cinta Sonny?"
"Iya."
"Dan persoalannya cuma takut kalau suatu saat kalian nggak akur bakalan merembet ke hubungan kita?"
"Iya."
"Hi..hi…hi…" Sally terkikik. "Lucu! Eh, Non, kalau Lo jalan dengan Sonny yang notabene adalah my brother, no problem. Jalan aja. Toh kita udah gede. Masa cinta mau ngaruh ke sohiban. "
Yaya diam.
"Iya’kan?" desak Sally.
"So?" tanya Yaya.
"Ya udah, jalan aja."
"Boleh?"
"Hiiiiih!" Sally meninju Yaya. Tapi meleset karena Yaya keburu lari. Sally mengejar. Keduanya berlarian lepas seperti anak kecil. Orang-orang tentu menatap bingung atau sebel. Apalagi yang nyaris ditabrak Sally. "Ini anak! Siang, panas, lari-lari, nggak liat lagi!"
"Ya! Yaya!" seru Sally terengah-engah. Keringatnya menetes. "Pulang, yok!"
"Yok!" sahut Yaya yang juga terengah-engah.
Sesaat kemudian keduanya berjalan beriringan.
"So, kapan Sonny mau dateng?"
"Ntar malem."
Mereka berjalan lagi. Tiba-tiba Yaya menghentikan langkahnya.
"Sal, bener ya keringat Sonny bau?"
Sally terbelalak mendengar pertanyaan Yaya.
***