PERANG

 

Sejak jadi ketua OSIS, sejak sibuk rapat ini-itu, sejak sibuk hadir di kegiatan anu-anu, Sally mulai sering lepas kontrol. Seringkali ia harus absen karena mewakili sekolah untuk pelatihan, utntuk ke SMU laen dalam rangka action kegiatan bersama, menghadiri undangan, dan sebagainya. Beberapa kali ia kepaksa minta ulangan susulan. Hasilnya pun tak bisa dibilang hebat-hebat banget. Bahkan untuk ekstra marching pun ia bisa diitung berapa kali datang. Inilah yang bikin Yaya sedikit bete dengan Sally. Yaya bukannya nggak ngingetin. Sering banget. Sampe-sampe kayak aspri, alias asisten pribadi. Ya secara langsung, ya melalui telepon, ya melalui pager, ya melalui Sonny. Semua ia tempuh demi sayangnya pada Sally.

"Sal, Selasa ulangan Kimia, lho. Lo udah punya bahannya belom?"

"Aduh, mampus! Selasa Gue udah janjian sama anak-anak Merdeka. Jam berapa sih ulangannya?"

"Jam pertama."

"Kalo gitu masih bisa ikutan. Eh, ada bahan tambahan?"

"Iya, tapi udah Gue pesenin ke Uli. Satu kopi buat Gue, satu lagi buat Lo."

"Oke, makacih, Yaya!"

Atau

"Hallo, Sally. Sal, catetan Biologimu udah lengkap belom? Lusa ulangan lHo."

"Aduh gaswat. Gue sempet nggak masuk satu kali. Gue boleh pinjam ya, Ya. Tapi sore ini Gue mo ke sekolah. Anak-anak PMR kan mau berangkat lomba. Gue kudu nglepas nih. Lo punya waktu nggak? Tolong temuin Gue di sekolah ya."

Atau

Tididit…tididit…."Jangan lupa bawa kopian chapter IV buat Lab bahasa besok" (Yaya).

Atau

"Sal, Yaya bilang latihan marchingnya jangan lupa!"seru Sonny.

Tuh, kan banyak deh usaha Yaya. Makanya ia jadi uring-uringan karena Sally jarang banget dateng latihan marching. Padahal sebentar lagi marching band SMU mereka bakalan tampil di lomba se-Jawa Barat. Mas Rully, pelatih, bahkan udah memutuskan latihan diintensifkan menjadi dua kali seminggu. Kan tinggal dua minggu lagi. Tuh, mefet ‘kan?

*

"Formasinya, Ya, harus segera kita temukan!" seru Mas Rully yang tampak panik.

"Seperti yang kemaren aja, Mas," sahut Yaya yang sore itu jadi rada malas.

"Oke, Ren, kamu pegang posisi Yaya dulu! Yaya, kita bicara dulu soal pemain yang diturunkan!"

Yaya minggir dan ngikutin langkah-langkah lebar Mas Rully. Mereka duduk di depan ruang guru. Mas Rully mulai menulis sesuatu. Seringkali Yaya bicara. Lalu terlihat agak tegang. Tak lama nulis lagi.

*

"Sally kok nggak pernah kelihatan, Ya?" tanya Iir.

"Tahu! Emang Gue nyokapnya kudu tahu kemana dia!" ketus sahut Yaya.

"Idih, segitu amat jawabnya!" protes Iir.

Tapi Yaya diam aja sambil muter-muter tongkat.

Mas Rully terus teriak memberi aba-aba. Lalu sebelum latihan kelar, Mas Rully ngumumin para pemain yang akan diturunkan di lomba. "Oke, paham semua ya. Saya ingatkan, tinggal dua minggu lagi. Usahakan jaga kesehatan. Anggap setiap kali kita latihan sebagai perlombaan yang sebenarnya. Jadi kita betul-betul dalam situasi bertarung. Jangan ada yang becanda lagi. Tadi saya masih dengar ada yang ngobrol dan ketawa keras-keras. Saya harap besok itu nggak ada lagi. Yaya, kamu bertanggung jawab penuh pada formasi kita. Yang belum masuk formasi tetap siap-siap."

Sepeninggal Mas Rully, anak-anak nggak segera bubar. Mereka masih asyik mencermati susunan nama-nama yang disusun Yaya dan Mas Rully.

*

"Ya hallo!" jawab Yaya males.

"Ya, tadi abis dari Merdeka, Gue langsung ke marching. Udah sore banget sih. Tinggal Sari, Uli, sama anak-anak kelas satu. Trus, Gue dapet nama formasi yang tampil. Kok, nama Gue nggak ada, Ya?" suara Sally.

"Nggak ada ya?" Yaya balik nanya.

"Akh, masak Lo belom tahu. Yang nyusun kan Lo."

"Bukan Gue aja. Ada Mas Rully juga."

"Iya, tapi kan suara Lo pasti didenger Mas Rully. Masak Lo nggak masukin nama Gue."

"Aduh, Sal, Gue ngantuk nih. Besok aja ya. Gue capek."

"Iya deh. Dagh Yaya!"

Yaya ngletakin telpon. Asli, mukanya nggak kelihatan ngantuk.

*

"Lo gimana sih, Ya, ini ada Budi, lalu Nancy, terus Acil. Inikan anak-anak baru. Masak Lo masukin!" kata Sally sambil nunjuk ke kertas yang ada di tangannya.

"Stop, stop! Salah kalo Lo bilang Gue yang amsukin. Ini disusun bareng dengan Mas Rully."

"Iya, tapi inikan anak-anak baru."

"Anak-anak baru tapi mereka latihan terus."

"Kenapa Gue nggak Lo masukin?"

"Mau masuk gimana kalo Lo nggak pernah latihan."

"Gue kan sibuk."

"Justru karena Gue tahu Lo sibuk hingga nggak sempat latihan, maka kami memutuskan Lo nggak masuk!"

"Lo curang!"

"Justru Gue ngasih kesempatakan ke Lo buat ngurus kesibukan Lo itu."

"Lo kok jadi atos gini sih, Ya?"

"Nggak."

"Iya."

"Lo nggak fair."

"Justru Gue berusaha untuk fair banget, Yang latihan terus, disiplin tinggi, tentu bisa masuk. Tapi yang nggak latihan, kurang disiplin, ya mana mungkin bisa masuk."

"Gue bukannya nggak disiplin, gue sibuk."

"Justru itu, Sal, Lo terlalu sibuk hingga jadi tak disiplin pada diri sendiri. Gue nggak ngurusin Lo sering dapet dispensasi buat nggak masuk dan ikut ulangan susulan. Cuma masalah marching Gue emang jadi peduli banget karena ini ada di bawah tanggung jawab Gue. Cause ini tim, butuh konsolidasi yang baek. Kalo Lo jarang latihan, gimana mo konsolidasi. Itungannya tinggal hari, Sal."

"Gue jadi males ngomonginnya."

"Idem. Tapi perlu Lo catet, sebenarnya ini nggak perlu terjadi kalo Lo bisa kasih kepercayaan ke anak buah Lo. Pengurus OSIS nggak cuman Lo. Dengan berbagai Sie yang ada, hampir tujuh puluh anak terlibat di situ, Kasih kepercayaan pada mereka. So, Lo nggak perlu pontang-panting alone kayak gini, Lo doang yang capek. Tapi belum tentu anak buah Lo itu ngerasa senang dengan ketidakcapekan mereka dan kecapekan Lo. Bisa jadi mereka dongkol juga karena nggak Lo kasih kepercayaan. Seolah cuman nama mereka aja yang dipajang."

Mereka diam. Dan begitu bel berbunyi mereka buru-buru masuk kelas tanpa sempat maem apapun.

*

Sally menatap agendanya. Lama banget. Lalu muter nomor telepon Yaya. Tapi baru terdengar nada panggil dua kali udah ditutupnya. Masih dongkol juga Sally setelah rada ribut dengan Yaya seminggu lalu. Sejak itu praktis mereka jarang ngomong-ngomong cuman seperlunya.

Ia balik ke kamar. Lalu kembali membuka-buka agendanya. Penuh bener jadualnya. Bahkan untuk hari Minggu.

Tak lama ia keluar lagi dan memutar nomor telepon.

"Didik ada, Tante? Iya, Tante. Hallo, Didik? Dik, tolong ya Lo dateng ke acara diskusi panel. Iya, yang itu. Lo ajak juga pengurus laen. Nggak. Lo aja deh. Gue mo ke Lomba Marching. Nggak, Gue nggak tampil. Kasih support kan nggak apa. Oke, thanks ya."

Sally ngletakin horn telepon. Tak lama mencet tombol lagi.

"Hallo, Lia ya? Lia, tolong deh Lo kalo punya waktu ikutan acara retreat anak-anak Sie Kerohanian Katholik. Nggak usah nginep nggak apa. Lo tengok aja. Ditengokin juga mereka pasti senang. Yang penting ada pengurus harian yang nongol. Ho-oh, Gue mau ke Lomba Marching. Mau kasih support. Tolong ya. Salam buat teman-teman. Bye."

Lalu sekali lagi ia mencet tombol. "Hallo, Andra? Seragam buat basket udah beres? He-eh, tolong ya. Lo handle dah. Nanti bisa dibicarakan dengan Pak Wandi. Nggak. Kan udah ada catetannya. Iya. Makacih ya."

Kayak belom puas, ia mencet lagi. "Hallo, untuk ID 1128. Buat Tomi, Proposal yang diajukan udah benar, tolong diperbanyak dan Senin diajukan. Udah gitu aja. Dari Sally. Iya. Makacih, Mbak."

Setelah itu ia ngletakin horn dan duduk diam.

"Pagi-pagi nglamun! Hayo, nglamun jorok ya? Kasih tahu, donk!" seru Sisil, adiknya.

"Sil, Sonny udah pergi?" tanya Sally nggak nanggepin Sisil.

"Tumben nyari abangnya. Udah dari tadi."

"Papi ada?"

"Lo ngabsen apa mo sensus keluarga. Tuh, lagi sarapan."

Sally lari ke ruang tengah. Tak lama keluar lagi sambil memutar-mutar kunci mobil. Segera setelah itu kabur ke sekolah.

*

"Hallo!" sapanya ke teman-temannya yang udah siap dengan seragam marching.

"Hallo!" jawab beberapa anak.

Sally berjalan ke arah Mas Rully. "Pagi, Mas Rully, transportnya beres?"

"Eh, Sally, kemana aja?"

"Transport udah beres, Mas?" Sally balik nanya.

"Udah, tuh."

"Kalo masih butuh, bisa pake mobil saya, Mas."

"Boleh, boleh."

"Yaya!" Sally ngalihin perhatian ketika Yaya melintas. Ia berjalan mendekati Yaya. "Ya, sorry ya, Gue bikin Lo bete. Sikap Gue kelewatan."

Yaya tersenyum.

"Gue nggak ngerti kudu ngomong apa. But I’m really sorry. Lo bener, Gue jadi lepas kontrol dan nggak bisa percaya ma orang laen."

"Udeh, akh, namanya juga lagi lupa."

"Lo emang the best friend I have."

"Udeh, akh. Gue juga sorry, Lo pasti tersinggung."

"Ya sempet sih, dikit."

"Lo bawa mobil?"

"Ho-oh. Yok, ajak yang laen juga."

"Iya, lagian bisnya sesak banget tuh."

"Ngomong-ngomong, wig Lo baru ya, Ya?"

"Iya, cakep ya?"

"Iya, kapan beli?"

"Baru kemaren," sahut Yaya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.

"Kok nggak ngajak, Ya?"

"Lo kan lagi tersungging!"

***

Hosted by www.Geocities.ws

1