YANG MEMBUAT SALLY JATUH CINTA

Sonny melongokkan kepalanya ke dalam kamar Sally. Sally lagi duduk di tempat tidur sambil mengipasi rambutnya yang basah dengan kipas anyaman bambu. Kesannya udik bener. Ia duduk dengan posisi membelakangi pintu. Jadi yakin deh ia pasti nggak tahu kalau Sonny udah ada di belakangnya.

"Woi! Itu kepala apa sate?" seru Sonny sambil nguwel-uwel rambut Sally.

"Once again you touch my hair, I will kill you!" seru Sally. Matanya melotot. Asli, serem bener. "Masuk nggak pake permisi, maen pegang kepala lagi. Ketok pintu apa bilang salam kek!"

Merasa ia memang salah, Sonny buru-buru keluar. "Oke, I’m sorry, Non!" Tak lama ia mengetok pintu. "Assalamu’alaikum!"

"Masuk!" Sally masih ketus menjawab.

Sonny duduk di kursi. "Sore, Non! Itu rambut kenapa dikipasin?" tanya Sonny dengan mimik dibuat selugu mungkin. Padahal, asli, nggak ada manis-manisnya sama sekali.

"Hairdryer Gue rusak, Son. Betulin, donk! Please! Lo kan kakak Gue satu-satunya. Gue juga adik Lo, meski bukan satu-satunya. Kan masih ada si Tengil Sisil. Tapi dia sih masih SMP. Kalau kita kan udah sama-sama SMU. Kalau Lo nggak mau perbaiki ini hairdryer, Gue mau pengumumam ke Yaya, kalau Lo nggak naek kelas itu bukan karena typus tapi karena Lo emang bodo."

"Yeee, minta tolong pake ngancem!" seru Sonny. Diraihnya hairdryer Sally. Dilihat bentar tapi lalu diletakkan. "Sal, ntar malem nonton bertiga, ya. Terserah mau nonton film apa."

"Nggak, akh! Ntar Gue jadi kambing congek!"

"Nggak, deh, Gue janji!"

"Alah, ntar Gue cuma jadi obat nyamuk!"

"Idih, segitunya, kambing congek, obat nyamuk…"

"Sekali nggak tetap nggak! Akh, Gue ngerti, Lo sengaja bertiga biar boleh minjem mobil sama Papi! Iya ‘kan? Huh, pamrih!"

"Idih, nuduh, jahat bener!"

"Nggak!"

"Sama Gue aja, Son!" seru Sisil sambil melongokkan kepala ke kamar.

"Yee, anak kecil tahu apa?! Nguping lagi! Mending ngupil sana!"

"Ampuuun, punya kakak dua aja kayak hantu semua!" seru Sisil sambil berlalu.

"Gimana, Sal?" Sonny kembali ngerayu Sally.

"Aduh, kan Gue udah bilang nggak!"

Sonny menghela nafas. "Ya udah, pokoknya Gue udah ngajakin!" Sonny pun keluar. Tak lama masuk lagi buat ngambil hairdryer adiknya.

Sonny emang kadang jadi nggak happy jika sally diem di rumah. Dulu, sebelum ia jadian dengan yaya, yang notabene adalah sahabat adiknya, Sally lebih banyak punya waktu dan kesempatan buat pergi dengan Yaya. Mereka sering jalan bareng. Kemanapun. Kebetulan aktivitas dan hobby mereka sama.

Dan malem Minggu ini Sonny emang pingin jalan bertiga. Tentu mereka juga nggak bakalan keberatan, pikirnya. Buktinya tadi Yaya antusias banget. Konsekuensinya Sonny juga tahu justru ia yang bakalan jadi kambing congek karena jika Sally dan Yaya kumpul, wah nggak inget kiri dan kanan. Tapi kebalikan dari Yaya, Sally malah nggak antusias. Bahkan tegas menolak. Entah kenapa.

*

"Bener Lo nggak mau ikut?" tanya Yaya di seberang.

"He-eh!" sahut Sally sambil mengepit horn telepon dengan pundak kirinya. Tangannya masih sibuk mengipasi rambutnya yang belum juga kering. "Kan Gue udah bilang kemaren kalo malem Minggu ini Gue ada acara sendiri." Kali ini ia malah bicara setengah berbisik.

"Jadi Lo serius dengan yang Lo bilang kemaren?"

"Iya lagi. Udah deh, ntar Sonny tahu."

"Tapi Lo janji ya ntar cerita ke Gue."

"Iya, iya!"

Dan klik!

"Lho, kok ditutup. Gue belom sempat ngomong!" protes Sonny yang melintas di belakang Sally.

"Alah, ntar malem juga ketemu."

*

Yaya tersenyum ketika meletakkan telepon. Akh, akhirnya Sally mulai membuka hati buat cowok. Selama sohiban Yaya belum sekalipun lihat Sally ngomongin soal cowok secara serius. So, tempo hari ketika seharian Sally cerita soal cowok itu, Yaya jadi bisa ngerti bahwa itu maklumat Sally bahwa ia lagi naksir berat cowok itu. Pantesan udah sebulan ini Sally berubah, Bayangin, masuk sekolah juga dandanannya beda. Lebih bening. Dulu nyisir rambut juga jarang, alasannya rambutnya pendek hingga nyisir pake jari juga jadi. Sekarang, dia rajin nyisir rambut. Belum lagi parfumnya yang gile bener. Nggak norak, sih, tapi enak, lembut, harum. Wajahnya juga udah nggak mengkilap bener. Yaya tahu Sally mulai rajin pake bedak. Meski bedak baby. Itupun setelah seharian Yaya dibuat bingung milihin bedak. Yang nggak cocok dengan kulitlah, yang bikin kulit bersisik, yang terlalu kasar, akhirnya Sally menentukan sendiri menggunakan bedak baby. Eh, bibir Sally juga mulai disaput tipis lipstik yang sewarna dengan bibir lho. Itupun Yaya pula yang setengah memaksanya. "Yang ini sewarna dengan bibir Lo, jadi nggak bakalan menor. Tapi Lo juga butuh lipstik yang rada berani buat kegiatan atau acara di luar. Lo ngedate atau apa kek, atau siapa tahu dia mau ngajak candlelight dinner!"

Yaya sebenarnya menerima Sally apa adanya. Ia mau jorsek, terserah. Ia punya kebebasan buat nentuin nasib sendiri tanpa intervensi dari siapapun, termasuk Yaya. Justru asyik ngeliat Sally punya kepribadian sendiri. Nggak ngekor. Tapi bukankah perubahan yang sekarang ini bukan atas intervensi pihak luar, tapi dari dalam diri Sally sendiri. So, apapun Sally kini dengan pilihannya ya tetap akan diterima Yaya apa adanya.

Yaya tahu, bukan cuma dia yang menikmati perubahan pada diri Sally. Ryan dan Joko yang dulu naksir Yay mulai sering berdecak-decak melihat Sally. Anak kelas sebelah juga udah nitip-nitip salam. Anak kelas Sonny juga berusaha lewat jalur Sonny biar dikasih lampu ijo. Tapi di mata Yaya, semua terlambat. Baru ngeliat ketika berliar itu telah tergosok. Yaya justru sangat bersimpati pada cowok yang berhasil menggosok berlian itu. Kresno, akh, beruntung sekali cowok itu. Sangat jeli.

Kresno begitu pendiam. Yaya tahu persis giaman dia karena udlu waktu kelas satu mereka pernah satu kelas. Anaknya lumayan pinter. Tampang juga lumayan. Kalau nggak, mana mungkin Titin yang satu kelas dengan Sonny itu mau ngirim surat cinta terbuka yang dipampang di papan pengumuman. Untung Kresno tabah, nggak bete meski diledekin sebagai batang muda.

"Dari tadi Lo sneyum-senyum sendiri. Filmnya aja tegang. Ada apa sih?" tanya Sonny sambil menghidupkan mesin mobil.

"Sal…eh, nggak…nggak ada apa-apa," sahut Yaya gugup.

"Aha, pasti Lo tahu ada apa dengan Sally."

"Nggak, kok!"

"Nggak apa, Ya, Gue ngerti. Ada bidang-bidang tertentu yang tak bisa dimasukin oleh saudara atau pacar sekalipun tetapi hanya bisa dimasukin oleh sohib. Ya’kan?" Sonny mengedipkan sebelah matanya.

*

"Terus?" desak Yaya.

"Ya udah, nggak ada apa-apa lagi." Eh, pantes nggak?" Sally cuek dengan keingintahuan Yaya, Ia memperlihatkan hasil sapuan kuas cat kukunya.

Yaya mengangguk. "Pantes, bagus, udah bagus sapuannya. Eh, Sal, udah deh, Lo nggak usah tahan-tahan. Kalau mau nangis, nangis aja. Nggak apa! Nangis memang tidak menyelesaikan persoalan. Tapi setidaknya bikin plong, lega."

"Yee, siapa yang mau nangis!" protes Sally.

"Iya, tapi Lo kan pasti kecewa…"

"Lo sok tahu, akh. Bener Gue jatuh cinta sama Kresno, tapi soal Gue kecewa, Lo salah! Salah besar! Sejak semula janjiannya kemarrn bukan buat ngedate tapi buat belajar bersama kok."

Lalu keduanya diem. Sally kembali asyik ngecat kukunya. Yaya cuman ngeliatan Sally. Nggak biasanya Sally menghindari bertatap mata dengannya. Nah, bener’kan, tuh tubuh Sally bergoncang halus. Sally nangis.

"Minta tissue, Ya!" ujarnya.

Yaya mengulurkan tissue dan mendekap Sally.

"Emang itu yang terjadi kok. Gue nggak bohong. Bener Gue naksir Kresno. Kresno pun demikian. Tapi akhirnya Gue udah buat komitmen untuk mengubah rasa itu. Lo tahu, Ya, kresno punya cita-cita yang begitu agung. Selepas sekolah ia bakal ke ngalnjutin ke sekolah teologi. Ia mungkin akan menjadi pastor. Sejak awal emang Gue udah mikir bakal mentok karena perbedaan prinsip ini. Tapi soal ia punya cita-cita yang suci itu sungguh tak terduga. Karena itu ketika belakangan ia mulai ragu justru Gue yang terus mendorong dia untuk tetap dengan cita-citanya. Makanya malam Minggu kemaren kita lalui dengan belajar bersama disamping ngobrol juga soal itu. Gue pingin ia tenang dengan jalannya. Jadi nggak bener kalau malem Minggu kemaren kita punya keinginan untuk ngedate. Kita cuman pingin saling tukar pikiran. Dan inilah jalan yang kami pilih!" Sally menyusut air matanya. "Tapi Gue emang tegar kok, Ya, waktu itu. Nggak pake nangis kayak gini!"

*

Yaya nungguin Sally di kelas. Ia sengaja berangkat bareng Pak Sanib supaya Sonny bisa ngeboncengin Sally. Tapi tadi Sonny sudah dateng dan bilang kalau Sally bareng papinya. Nah, kalau bener Sally bareng papinya, mestinya ia udah nyampe. Aduh, ada apa ini?

"Woi! Celingukkan kayak maling!" seru Sally.

Sally membalikkan badannya. Ia ternganga melihat Sally. "Sal, Gue kira… Gue kira…."

"Lo kok jadi ketularan gagapnya Sonny sih?"

"Gue kira…Gue kira Lo bakal kembali ke yang dulu lagi…" Suer, ini pernyataan yang sungguh-sungguh dari Yaya. Ia memang mengira bakal melihat Sally yang kembali ke kebangsaan aslinya yang jorsek seperti dulu. Bukankah ia berubah karena jatuh cinta? Tentunya setelah kecewa, ops…Sally tidak mau disebut kecewa, setelah Sally dan Kresno berkomitmen untuk berteman aja, tentu ia bakal kembali seperti dulu. Tapi ini nggak. Sally tetap Sally yang satu bulan ini.

"Enakan juga gini, Ya, lebih rapi," bisik Sally. "Lagian, kolokan amat kalau nggak jadi terus loyo! Gimana-gimana ini udah pas buat Gue. Ngapain Gue enyahkan!"

"Good!" seru Yaya. "That’s my best friend!"

****

Hosted by www.Geocities.ws

1