Dimuat di Anita Cemerlang 1997

 

TUHAN PASTI MENDENGAR, NO!

Nano nangis lagi. Suatu hal yang sesungguhnya nggak pantas dilakukannya. Dia kan cowok. Tetapi memang itulah Nano. Setiap kali menghadapi persoalan, sekalipun itu hanya persoalan kecil, ia hanya bisa membenamkan wajahnya di bantal dan melampiaskan kekesalannya dengan nangis. Itulah mengapa ia tidak pernah bisa menyelesaikan problemanya dengan pikiran yang jernih. Sebenarnya ia malu selalu nangis kayak gini. Tetapi setiap kali mencoba menahan tangis, setiap kali pula air mata semakin mengucur deras. Semakin mencoba menahan isakan, semakin keras pula isakan itu terdengar. Akh, Nano...

Saat ini Nano benar-benar ingin menumpahkan tangisnya, bahkan kalau perlu berteriak sekeras-kerasnya agar beban yang ada di hatinya bisa berkurang. Tetapi bagaimana mungkin? Bisa-bisa papa, mama, kak Nani, kak Nunu, dan Bik Yah akan menghambur semua ke kamar. Kacau 'kan? Malu kalau mereka melihatnya dalam keadaan begini.

Akhirnya, Nano hanya bisa menggigit ujung bantal untuk mengurangi isakan sampai-sampai ujung bantalnya basah dan bau.

Setelah kelelahan nangis, berlahan Nano menghapus air mata dan berjalan menuju cermin besar yang tergantung di dekat meja belajarnya. Ia dapat melihat dengan jelas bayangan wajahnya. Matanya masih merah. Juga hidungnya. Tetapi bukan merahnya mata dan hidung yang ingin dilihatnya. Bukan itu. Ia hanya ingin melihat seperti apa wajahnya yang sebenarnya.

Cukup lama ia menatapi bayangan di cermin. Wajah yang tampak tak menunjukkan ciri wajah seorang cowok. Tidak ada garis-garis tulang yang menampakkan kegarangan ataupun kekerasan. Anak-anak kumisnya begitu tipis, bahkan nyaris tak terlihat. Sejenak ia memainkan wajahnya untuk mencari mimik yang paling garang. Tetapi apa yang dicarinya tak kunjung terlihat.

Lama Nano terpekur. Sulit rasanya mempercayai pandangan matanya. Berulang kali ia mengerjap dan berharap akan melihat sesuatu yang lain. Tetapi wajah itu tetap saja berada di sana.

Berlahan pandangannya menurun. Dibukanya kancing baju. Berlahan. Setelah itu ditanggalkan. Nano berharap, jika wajahnya tidak dapat memenuhi keinginnya, barangkali tubuhnya dapat menggantikan kekecewaan. Tetapi ternyata tidak. Begitu baju terlepas, ia justru menemukan kekecewaan yang teramat sangat. Tubuhnya begitu kecil, ramping. Dirabanya lengannya. Tetapi ia gagal menemukan otot yang menonjol di sana-sini. Ia mengepalkan tangannya ke arah kiri, ke kanan, ke belakang, bergaya bak binaraga. Tetap aja nggak terlihat otot yang diidamkannya.

Pandangannya beralih pada kulit yang membungkus tubuhnya. Nano sangat ingin menemukan kulit yang sedikit kasar dan berbulu. Kalau perlu kering dan kusam. Tetapi apa yang ia temui? Kulitnya begitu halus, sehalus kulit cewek yang menjadi bintang iklan body lotion di televisi. Aduh, kenapa juga banyak yang repot mencukur anak-anak rambut di tangan dan kaki, sementara ia sangat merindukan rambut lebat di tangan dan kaki.

Sekilas matanya menangkap gambar Ade Ray di koran. Atlet binaraga itu tampak tengah mempertontonkan otot-ototnya. Bukan main! Duh, ia jadi merasa sangat kecil di hadapan gambar tersebut. Betapa tidak berartinya dirinya. Alangkah bahagianya Ade Ray. Pantas jika di PON kemaren banyak cewek histeris ketika ia berlaga. Uff!

Nano nangis lagi. Semakin deras rasanya air matanya. Bahkan ingusnya pun ikut keluar. Ia kecewa. Sangat kecewa.

Sekarang baru dapat Nano mengerti mengapa teman-temannya sering menyebutnya banci. Ia juga bisa memahami mengapa orang lebih suka memanggilnya Nona daripada memanggil dengan nama yang sebenarnya. Sakit sekali. Terkadang gurauan temannya begitu kelewatan. Seperti pagi tadi sehabis bermain basket di lapangan es-em-u-nya. Nano bermaksud mengganti kaosnya yang basah oleh keringat dengan baju seragam karena sebentar lagi jam olah raga akan segera berakhir. Dengan tenang ia berjalan ke kamar kecil. Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika di dalam tasnya ia tak menemukan celana panjang dan baju seragamnya. Justru be-ha dan ce-de cewek yang ditemukannya. Seketika ia berlari keluar dan berteriak histeris. Tak disangka Gugun, Ari, Bimbim, dan Yossi, sudah menunggu di depan pintu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tuh! Ambil sendiri, sana!" seru Gugun sambil menunjuk menara air.

Nano mendongakkan kepala. Dan dilihatnya baju seragamnya berada di puncak menara. Nano menunduk. Tak mungkin ia memanjat menara air yang cukup tinggi itu. Ia sangat phobi dengan ketinggian.

Gugun dan teman-temannya tertawa sambil mendorong-dorong tubuh Nano sampai ia terjerembab ke depan. Gugun terus memaksanya untuk memanjat.

"Banci, Lu! Manjat tangga aja takut, apalagi manjat gunung!" seru Bimbim.

Beberapa anak yang semula duduk-duduk di kantin datang mengerumuni mereka. Dan semakin banyaklah yang tersenyum. Senyum kegelian melihat kebancian Nano? Itulah perasaan Nano. Akhirnya, sambil memejamkan mata, ia menaiki tangga menara air satu per satu. Satu per satu. Dan hup! Tangannya berhasil meraih seragamnya. Sedikit ia membuka matanya. Seketika itu pula pandangannya menjadi nanar. Teman-teman yang menantinya di bawah seolah hanya sekumpulan warna hitam, hitam, hitam. Dan...akh...ia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Ia hanya tahu, ketika membuka matanya ada Anneke di sampingnya sibuk menyeka keringatnya. Pak Budi, guru yang bertampang paling kereng, tampak berdiri di samping tempat tidur di ruang UKS. Itu saja.

"Nano!"

Suara mamanya yang dilanjutkan dengan ketukan di pintu mengejutkan Nano. Dengan cepat ia menghapus air mata. Sebuah helaan nafas panjang sedikit menyegarkan dadanya.

"Ada Anneke, tuh!"

"Ya," jawab Nano singkat, itupun sulit sekali diucapkannya.

Baju yang tadi ditanggalkannya kini telah terpakai kembali. Disisirnya rambut dengan rapi. Lalu ia berjalan ke arah kamar mandi. Air dingin yang membasuh wajahnya terasa begitu menyegarkan. Perlahan ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang depan.

Anneke duduk dengan kaki kanan diangkat menindih kaki kirinya. Ia tampak asyik membalik-balik halaman majalah. "Lama sekali, No!" katanya tanpa melihat ke arah Nano. Tak berapa lama ia meletakkan majalah di meja. Pandangannya beralih ke arah Nano. Keningnya berkerut.

Bibirnya menyungut. "Lu nangis lagi, No?" tanyanya setengah berbisik.

Nano diam dan menunduk.

"Karena peristiwa tadi pagi?" masih dengan nada lirih Anneke bertanya lagi. "Sudahlah, buat apa Lu pikirin orang-orang buruk macam mereka! Biar aja mereka ngeledek kamu banci, terserah! Anggep angin lalu! Gue denger besok bokap-nyokap mereka dipanggil Be-Ka. Keterlaluan sekali, sih! Pak Budi bilang mereka terlibat banyak masalah, termasuk yang ikutan nglemparin es-te-em sebelah. Orang kok tahunya cuma maen, makan, ganggu orang, bikin onar, haaaah..." Anneke menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan kekesalanya. "No, jangan nangisan gitu, akh! Lu, kan cowok. Masa cowok nangis cuma karena diledekin gitu. Betapapun sakitnya, jangan sampai Lu

nangis! Kalau perlu Lu balas mereka! Sekali waktu membela diri itu perlu juga kok untuk menegakkan harga diri. Kalo perlu berkelahi! Satu lawan empat, nggak majalah! Remuk, cuek! Asal jangan mati aja! Yang penting harga diri!" katanya berapi-api tetapi masih tetap dengan nada lirih.

Tak lama Anneke terkekeh,"Ini sih namanya ngomporin! Jangan deh, No! Berkelahi dilarang pemerintah. Bisa-bisa Lu ditangkep. Yang penting jauhi mereka! Bergaul dengan mereka sama juga cuma cari penyakit. Bentar lagi kan kita udah kelas tiga. Kudu siap-siap ebtanas dan umpetan. Yang penting belajar. He,he, he, sok arif ya. Lu lihat nggak ada lingkaran suci di atas kepala gue! Lihat, tuh!" ia menunjuk ke atas.

Nano tersenyum mendengar Anneke.

"Nah, kalau Lu senyum kayak gitu, wuh Mel Gibson aja tetep lebih keren dari Lu. Ha, ha, ha!" kali ini suara Anneke terdengar keras. Apalagi tawanya.

Nano semakin memperlebar senyumnya.

"Eh, udah ngerjain pe-er Kimia?"

"Sudah," jawab Nano, masih dengan suara bergetar.

"Rajin bener! Gue paling seneng kalo lihat cowok rajin, lho. Bener! Bisa-bisa 'ntar Gue naksir Lu. Tapi nggak rugi kok ditaksir cewek cakep kayak Gue! Akh, udah deh, mana pe-ernya? Pinjam ya? Abis, Gue lagi pusing! Pinjam ya? Lu cakep deh!" desak Anneke.

Nano bersemu merah. Wajahnya terasa panas. Tetapi ia segera memalingkan wajahnya, takut kalau Anneke melihat perubahan di wajahnya. Segera ia bangkit. Tak berapa lama telah kembali dengan sebuah buku di tangannya.

"Makasih, No! Besok pagi Gue kembalikan di kelas aja ya!" Anneke merebut bukunya. Beberapa lama ia memelototi buku di tangannya. Mengangguk. Tercengang. Lalu tersenyum. "Gue bawa pegi dulu ya, No!"

Nano mengangguk.

Anneke bangkit, lalu berjalan ke ruang tengah. "Pulang dulu, Tante!" teriaknya pada Mama Nano. Setelah ber-bla-bla-bla sebentar dengan keluarga Nano, Anneke melangkah ke luar. Nano mengikuti dari belakang.

Gadis itu menstater motornya. Dikenakannya helm yang warnanya sangat norak. Ia menoleh ke arah Nano. "Lihat majalah Lu, halaman 94! Sekali waktu perlu juga Lu olah raga buat ngebentuk otot Lu. Biar nggak terlalu kerempeng. Kalaupun tetep kerempeng, tapi kuat." Anneke mengedipkan mata kirinya."Tapi segitu aja Gue juga udah bener-bener naksir ama Lu! Suer!" Ia membentuk tanda V dengan kedua jarinya. "Tuh, kalo nggak percaya tanya ama Yang Di Atas!"

Kembali Nano merasakan hawa panas di wajahnya. Pasti wajahnya sudah merah padam. Pasti. Dan Nano lebih malu lagi ketika ternyata Anneke turun dari motor dan datang menghampirinya. Nano takut wajahnya yang memerah akan benar-benar terlihat Anneke kali ini.

"Satu lagi, No," kata Anneke dengan bibir yang sangat dekat dengan telinganya,"Kalo ada tamu yang udah cukup lama, buatin minum donk! Biar nggak kehausan kayak gini!"

Nano terperangah.

Anneke tersenyum, mengusap kepala Nano, kemudianberlalu menuju motornya. Dan ia segera melajukan motornya.

Nano menatapi kepergian Anneke. Beberapa saat ia terpaku di tempatnya sambil mengusap pipinya yang panas tadi. Dirabanya kepala yang tadi diusap Anneke. Tak lama

ia berlari ke dalam dan menyambar majalah yang tadi dibuka-buka Anneke. Halaman 94. Akh, ini dia! Eh...mata Nano melotot...akh...lagi-lagi Ade Ray! Nano terduduk lesu. Kenapa ia tak memiliki badan seperti Ade Ray? Kenapa cewek sangat suka pada cowok yang macho? Tapi tak lama ia bangkit dan melenggang sambil tersenyum lebar menuju kamarnya. Kembali ia bercermin. Menangis? Enggak lah! Kali ini ia tersenyum. Senyum lebar malah. "Tapi segitu aja Gue juga udah bener-bener naksir ama Lu! Suer! Tuh, kalo nggak percaya tanya ama Yang Di Atas!" Terngiang lagi ucapan Anneke. Berkali malah.

Nano membanting tubuhnya di tempat tidur. Ia memejamkan matanya. Ade Ray boleh bangga karena banyak cewek yang mengaguminya. Tetapi Nano tak iri lagi dengannya karena yang terpenting adalah Anneke care pada dirinya sebagaimana ia pun sangat care pada Anneke.

"Tuhan, mudah-mudahan apa yang diucapkan Anneke tadi benar-benar keluar dari hati nuraninya..." bisiknya pada Tuhan. Dan ia tak perlu sangsi karena Tuhan pasti mendengar, No!

Jogja, November '96

Hosted by www.Geocities.ws

1