TEMBAKAU HARAPAN

 

Tubuh renta Mbah Wiryo tampak berjongkok di teritis rumahnya yang reyot. Dadanya naik turun dengan cepat menunjukkan nafas yang tersengal-sengal. Peluh dan air tak lagi bisa dibedakan, mengalir diantara tulang-tulang dada yang menonjol tajam. Bibir hitam Mbah Wiryo gemetar dan giginya yang tak lagi lengkap gemeretuk menahan dingin. Diusapnya rambut yang memutih dan wajah yang telah penuh keriput itu dengan kaos lusuh dan basah yang tadi dikenakannya.

Berlahan hujan mulai menyurut, menyisakan lumpur dan kubangan di jalan berbatu. "Udan salah mangsa...." bisik Mbah Wiryo, entah pada siapa karena tak ada seorang pun disekitarnya. Hujan kali ini memang salah mangsa. Salah musim. Datangnyapun tiba-tiba. Tanpa didahului mendung tebal, tiba-tiba...bress begitu saja. Tubuh renta itupun sempat dibuat kalang kabut meraup daun tembakau yang sedang dijemur di pinggir jalan desa. Berpacu dengan hujan. Walau mencoba bergerak cepat, tak urung tembakau itu menjadi basah oleh hujan. Bahkan tikar lusuh yang tadi digunakan sebagai alas menjemur tembakau tak sempat diraihnya. Dibiarkan begitu saja bermandikan air hujan yang melumpur.

Mata tua itu menatap ke arah jalanan yang sarat dengan batu sekepalan.

Lamat-lamat, pendengarannya yang sudah berkurang itu mampu menangkap suara Pak Lurah yang tengah memarahi buruh-buruhnya. Tak jelas benar apa yang diucapkannya. Mata tuanya yang mulai lamur dapat melihat Pak Lurah tampak begitu kesal mengacung-acungkan tangannya. Pasti karena tembakaunya yang berkuintal-kuintal itupun tak luput dari percikan air hujan. Sama seperti dirinya, Pak Lurah tentu tak menyangka hujan akan turun tiba-tiba. Padahal pagi tadi ia menyuruh buruh-buruhnya mengeluarkan semua tembakau di gudang untuk dijemur begitu saja di halaman rumahnya yang telah dipadatkan dengan semen.

Sama seperti Pak Lurah, Mbah Wiryo dan petani tembakau lain tentu juga tak mengira bahwa mendung tipis yang menggantung sejak kemarin sore akan menumpahkan hujan selebat dan setiba-tiba hari ini.

*

Hujan tak lagi sederas tujuh hari lalu berturut-turut. Hanya tinggal titik-titik tipis bertebaran. Namun mendung masih menggantung dan menutup jalan masuk sinar matahari ke desa di kaki gunung Sindoro ini. Kabut tebal membungkus tubuh Sang Gunung hingga kebun tembakau di punggung gunung yang biasanya tampak menghijau, tak bisa terlihat jelas.

Tampak empat anak berseragam putih merah berjalan membentuk barisan ke belakang. Kedua tangannya menenteng tas plastik. Sebuah untuk membawa buku-buku dan sebuah lagi untuk membawa sepatu. Kaki-kaki kecil tanpa alas itu tampak kotor terpercik lumpur. Tetapi mereka tidak peduli. Asyik melompat dari satu batu ke batu lain sambil menjaga agar tubuh tetap berjalan di bawah teritis-teristis rumah. Sayang jika seragam yang hanya satu-satunya itu harus basah terkena gerimis hujan.

Seorang gadis berseragam putih biru keluar dari rumah Pak Lurah. Tangannya memegang payung biru bermotif kembang-kembang. Sama seperti yang lain, ia pun memilih menenteng sepatunya di dalam tas plastik dan membiarkan kakinya beralas sandal jepit. Ketika melihat anak-anak lain tampak tak berpayung, ia kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama muncul lagi dengan dua buah payung hitam di tangannya.

"Mau pinjam ini?" tanyanya setengah berteriak sambil tersenyum lebar.

"Mau!" serentak anak-anak itu menjawab dan menghambur berebut payung. Sejenak terdengar keributan kecil. Namun tak berlangsung lama karena secara adil mereka sepakat masing-masing payung dipegang dua anak. Mereka tampak bahagia bisa berjalan tanpa harus mlipir di teritis-teritis rumah lagi. Walau payung yang mereka gunakan tak lagi bisa mengembang sempurna karena beberapa jerujinya telah patah.

Beberapa wajah lesu melongok ke luar ke arah suara Ningsih dan anak-anak SD yang ramai berebut payung. Berbeda dengan wajah bocah-bocah yang berbaris tadi, wajah-wajah ini tampak begitu cemas memikirkan matahari yang tak jua mau menampakkan diri. Jika matahari tak juga muncul, berarti mereka tak bisa segera menjemur tembakau. Sementara orang-orang pabrik akan segera datang mengambil tembakau. Dan jika tembakau itu tak juga kering pada waktunya, dipastikan harganya akan turun drastis seperti tiga tahun lalu. Haaaah...haruskah mereka kembali dengan petaka lalu? Rasanya masih lekat di ingatan ketika harga tembakau hanya mencapai dua sampai tiga ribu lima ratus rupiah per kilogram. Bandingkan dengan harga tertinggi yang pernah mereka capai sebesar tiga belas hingga lima belas ribu. Padahal dalam tiga tahun ini juga harga tembakau tak sampai mencapai delapan ribu. Jika dihitung- hitung, hasilnya nyaris impas dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk berproduksi.

"Nderek langkung, Mbah!" teriak Ningsih menyapa Mbah Wiryo yang baru saja menampakkan wajahnya di pintu. Anak-anak lain mengikutinya memberi salam. Mbah Wiryo tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk.

Sepeninggal Ningsih dan teman-temannya, Mbah Wiryo ke luar dan duduk berjongkok di teritis rumahnya. Pantatnya diganjal kayu kecil. Kedua lututnya ditekuk di depan, menutup tubuhnya yang bertelanjang dada. Dipeluknya erat-erat kaki itu. Dagunya disandarkan tepat di pertemuan kedua lututnya. Sesekali ia menghisap klobot dan menghembuskannya pelan-pelan. Segera asap mengepung tubuh rentanya.

"Tidak dingin, Mbah?" sapa Jasman, anak Pak Lurah, yang melintas di depannya.

"Ha?" Mbah Wiryo mengangkat tangannya ke telinga seolah hendak menangkup suara Jasman.

"Tidak dingin?" ulang Jasman.

Mbah Wiryo mengernyitkan keningnya. Tampaknya ia masih belum jelas mendengar.

"Tidak dingin? Pagi-pagi sudah di luar. Nunggu siapa?"

"Oh," ia terkekeh. Lalu terbatuk-batuk. "Nunggu srengenge."

Jasman tersenyum lalu mendekati Mbah Wiryo. Ia mengambil kayu pengganjal pintu dan duduk di atasnya "Srengengene wegah metu." Katanya sambil menatap ke arah timur. Sambil melirik ke arah timur, ia mengeluarkan sebungkus rokok.

"Rokok, Mbah?"

"Rokok?"

"Ya, rokok pabrik. Lebih enak daripada itu." Jasman menunjuk rokok klobot Mbah Wiryo. "Lebih mahal. Ayo!"

Mbah Wiryo membuang klobotnya. Ceees...rokok klobot itu mati di kubangan air. Diambilnya sebatang rokok yang ditawarkan Jasman, lalu diselipkan diantara bibirnya yang hitam. Jasman menyalakannya. Sedetik kemudian keduanya tampak asyik menikmati rokok pabrik itu.

"Harga rokok lagi naik, Mbah," gumam Jasman.

"Ha?"

"Harga rokok sekarang naik."

"Oh."

"Cukainya naik. Jadi harganya juga naik. Regane mundhak"

"Regane mundhak? Lha kok mbakone mudhun?"

"Itu karena mbakone ora garing. Tembakaunya basah."

Jasman menghisap kuat-kuat rokok yang disebutnya rokok pabrik itu dan menghembuskan pelan-pelan. Matanya terlihat kelelahan. Semalam ia tak tidur karena harus menunggui bapaknya yang sakit tiba-tiba. Ibu bilang bapak hanya masuk angin. Tetapi ia tahu bahwa sakit bapaknya bukan sekedar masuk angin. Ada yang membebani pikirannya. Harga tembakau turun. Hujan yang terus menerus, matahari yang tak kunjung bersinar panas meretakkan kepala, sudah pasti akan membuat tembakau tak kering benar. Dan itu berarti orang-orang pabrik dengan leluasa dapat menentukan harga minimum pada tembakau mereka.

Sebagai lurah, keluarganya terhitung kaya dengan tanah warisan yang cukup luas. Mereka tidak dipusingkan dengan masalah sewa tanah seperti petani-petani lain. Malah, dua dari empat hektar tanah miliknya disewakan ke petani-petani lain, sementara sisanya digarap sendiri dengan mengerahkan buruh-buruh tani. Cukup banyak menyerap tenaga kerja, termasuk Mbah Wiryo.

Tahun ini tembakau yang mereka petik cukup banyak. Tak berlebihan jika Jasman dan keluarganya berharap akan untung besar. Lebih-lebih bapaknya tentu butuh modal untuk njago lurah lagi tahun depan. Belum lagi Ningsih yang sebentar lagi tamat SLTP dan ingin melanjutkan ke SMU di Yogyakarta. Masih ditambah semakin dekatnya masa pembayaran SPP Jasman. Kuliah di perguruan tinggi swasta dengan uang SKS yang begitu tinggi, begitu menggelisahkan Jasman setiap kali masa heregristasi tiba. Tak heran jika Jasman dan keluarganya sangat berharap panen tembakau kali ini bisa memompa perekonomian mereka. Tetapi hujan salah musim mengacaukan semua. Jika perekonomian keluarganya yang terhitung mampu saja tak jelas nasibnya, bagaimana dengan petani-petani lain?

Mata Jasman mengedar ke dalam rumah Mbah Wiryo yang tampak gelap tanpa jendela. Ia dapat merasakan betapa dinginnya lantai tanah itu. Tetapi Mbah Wiryo tak pernah menggunakan alas kaki. Satu-satunya alas kaki ia gunakan jika hendak sembahyang di mushala. Tiba-tiba mata Jasman tertuju pada seonggok tembakau yang dibiarkan begitu saja di meja kayu lebar.

"Lho, tembakaunya tidak diangkut to, Mbah?"

"Ora."

"Kenapa?"

"Nunggu panas. Dadi regane bisa mundhak."

Jasman menggeleng-gelengkan kepala. Ada kekaguman terselinap di hatinya pada lelaki tua di sisinya. Orang-orang yang mengaku sebagai orang pabrik sudah datang tiga hari lalu. Mereka telah menetapkan harga yang murah sekali untuk tembakau dari desa ini setelah melihat tembakau mereka tidak kering. Tembakau yang tidak sempurna dalam penjemuran, memang menjadikan kualitasnya menurun, betapapun semula dalam proses pembibitan dan penanaman begitu baik. Tampaknya orang-orang pabrik sengaja mengambil keuntungan dari situasi ini untuk menekan petani. Mereka hanya menghargai tak lebih dua ribu rupiah setiap kilonya. Terlebih batas waktu pengumpulan yang diberikan hanya tiga hari. Tak banyak yang bisa dilakukan para petani, kecuali segera melepas tembakaunya. Andai saja petani-petani itu mau bersabar sedikit untuk menahan tembakaunya, tentu dua-tiga lagi hari hujan salah musim ini akan berhenti. Itu berarti mereka bisa menjemur tembakau kembali dan berbesar harap agar harga tak terlampau jatuh. Tetapi mereka terpaksa melepas tembakau sekarang juga. jika tidak, orang-orang pabrik tak akan datang lagi untuk mengangkut tembakau. Apa gunanya menanam tembakau jika hasilnya tak diangkut ke pabrik. Mereka sangat tahu proses penanaman dan pengolahan tembakau, tetapi tidak cukup mengerti pemasaran. Mereka hanya tahu menyerahkan tembakau pada orang-orang pabrik. Begitu dari tahun ke tahun. Tak pernah berubah. Jasman merasa petani di desanya telah diperbodoh oleh mekanisme yang diciptakan entah sejak kapan oleh segolongan orang tertentu. Tetapi ia tidak bisa mengerti mengapa ini selalu terjadi. Ia pun tak mengerti mengapa hanya Mbah Wiryo seorang yang benar-benar tak mau ditekan oleh situasi. Hanya Mbah Wiryo seorang. Bahkan bapaknya yang lurah, berpangkat, dan lebih berpendidikan dibandingkan petani lainnya pun seolah begitu pasrah pada segala ketentuan yang ditetapkan oleh orang-orang pabrik.

Berarti dari sekian banyak petani tembakau di desa ini tinggal Mbah Wiryo yang tak mau melepas tembakaunya. Tampaknya pihak pabrik pun tak terlalu mengambil pusing karena jumlah tembakau Mbah Wiryo memang hanya sedikit, tak mencapai sepikul. Apalah artinya dibandingkan dengan berton-ton tembakau yang berhasil dikumpulkan orang-orang pabrik itu. Jasman tidak tahu apa Mbah Wiryo cukup paham bahwa tahun ini berarti ia sama sekali tak akan mendapatkan uang dari pabrik.

Diam-diam Jasman memandangi lelaki tua itu. Mbah Wiryo memang renta. Ia juga tak mengerti apa-apa selain tembakau karena dunianya adalah tembakau itu sendiri. Tetapi ia mempunyai prinsip yang sangat jelas, tak bisa dipermainkan oleh orang-orang pabrik. Banyak tetangga yang menyebutnya keras kepala. Menurut cerita orang, di masa mudanya ia sering bersitegang karena masalah harga tembakau. Betapapun hanya sepikul yang ia miliki sebagai hasil memburuh, tapi Mbah Wiryo berani tawar menawar harga. Tetapi Jasman melihat keras kepalanya Mbah Wiryo bukan karena bebal, ia hanya mencoba memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Hak untuk dilibatkan dalam proses tawar menawar. Hak untuk tak sekedar menerima jadi begitu saja harga mati dari orang-orang pabrik. Kini dikerentaannya, ia tak lagi bisa bersitegang urat syaraf. Tetapi ia masih bisa mempertahankan apa yang diyakininya. Dan onggokan tembakau di meja kayu lebar itu buktinya.

*

Jasman menyandarkan tubuhnya di kusen pintu rumahnya. Matanya mengedar melihat ke angkasa. Hujan tak henti-hentinya. Genap dua pekan desa itu dimandikan Tuhan dengan air hujan.

"Jadi Mas Jasman berangkat ke Semarang sore ini?"tanya Ningsih mengejutkannya. Di tangannya ada segelas kopi panas.

"Mungkin. Lusa Aku mulai ujian akhir."

Ningsih meletakkan gelas kopi di meja. "Kopinya, Mas!" ujarnya sembari mendekati kakaknya. Diperhatikannya Jasman yang tengah menatap lurus ke depan. Lalu dirunutnya arah pandangan Jasman.

"Tumben, Mbah Wiryo belum keluar," gumam Ningsih.

Jasman menatap adiknya. Ia heran Ningsih mengerti apa yang dipikirkannya. Memang agak mengherankan sudah sesiang ini Mbah Wiryo belum terlihat. Biasanya ia telah duduk mencangkung di depan rumahnya yang reyot itu. Kebiasaan baru yang dijalankan dua pekan ini, menunggu matahari.

"Jangan-jangan..." Ningsih tak melanjutkan gumamannya.

Jasman menatap adiknya kembali. Ia semakin heran, dua kali ini Ningsih dapat menangkap pikirannya.

"Coba Mas Jasman lihat!" ujar Ningsih.

Jasman beranjak ke dalam mengambil payung. Segera setelah payung mengembang, ia berlari kecil ke rumah reyot Mbah Wiryo.

Jasman mengetuk pintu berkali-kali sambil meneriakkan nama Mbah Wiryo. Tak ada sahutan. Bahkan batuk berat Mbah Wiryo pun tak terdengar. Ia mencoba memperlebar celah gedhek dan mengintip ke dalam. Tampak Mbah Wiryo duduk di bangku tua menghadap ke meja kayu lebar, tempat menghamparnya daun tembakau. Tangannya terlihat menggenggam tembakau.

Jasman menghela nafas lega. Ia bisa mengerti jika Mbah Wiryo mutung, sangat kecewa karena matahari yang diharapkannya tak juga memancarkan sinar panasnya. Mungkin karena itu ia jadi malas keluar. Malas menunggu matahari.

Sekali lagi ia mengintip melalui celah-celah anyaman bambu. Tetapi kali ini lebih lama. Mbah Wiryo masih dalam posisinya semula. Jasman lebih seksama memperhatikan. Dan ia dapat menangkap bahwa tubuh renta berbalut kaos lusuh berlobang-lobang itu tak lagi bergerak teratur.

Jasman melenguh gusar. Ia berjalan mendekati pintu. Dengan sekali tendangan, pintu rumah reyot Mbah Wiryo jebol. Beberapa wajah di kanan dan kiri rumah reyot itu melongok keluar mencari sumber keributan.

"Ada apa, Gus?"

"Mbah Wiryo, Pak…" seru Jasman sambil melangkah ke dalam.

Jasman mendekati tubuh Mbah Wiryo. Mendekatkan jarinya ke lobang hidung Mbah Wiryo. Benar. Mbah Wiryo telah tiada. Mungkin sudah cukup lama. Tubuhnya sudah mendingin. Tangannya sudah cukup kaku, tak bisa lagi dibuka, dengan segenggam tembakau harapannya di dalamnya. Dengan segenggam prinsip hidupnya.

***

Miftahun Ni'mah

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1